SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 136. Misi 6 (Mau menyusul Caden)


__ADS_3

Selesai menemani Geulis melipat pakaiannya, Chandra membujuk Geulis untuk menemaninya berkeliling Desa, sekaligus ingin mengetahui, anak siapa saja sudah mendaftar pada Caden. Awalnya Geulis tidak ingin menemani Chandra untuk berkeliling Desa dengan mobil miliknya. Melihat ada sepeda ontel tua terparkir di samping rumah, Chandra membujuk Geulis untuk berkeliling dengan memakai sepeda ontel tersebut.


“ Dek, temani saya naik ini saja mau? ” tanya Chandra memasang raut wajah memelas.


Tak kuat melihat wajah tampan Chandra memelas penuh harap, Geulis mengangguk. Chandra pun senang, dengan cepat ia membawa sepeda ontel tersebut ke depan rumah. Chandra juga sudah naik.


Kring!kring!


Chandra memainkan kerincing sepeda ontel, tangannya memukul tempat duduk di belakang, “ Dek, naik. Temani saya berkeliling sebelum sore, ” ajak Chandra lembut.


Geulis menurut, ia jalan, dan duduk miring di belakang, kedua tangan ia letakkan di atas pangkuannya, “ Geulis sudah naik bang, ” ucap Geulis memberitahu.


“Loh, kok nggak pegangan sama abang, dek?” tanya Chandra, ia menoleh kebelakang, tatapannya mengarah pada kedua tangan Geulis di letakkan di atas rok.


“ Nggak enak sama warga nanti. Abang ‘kan bukan Suami, atau pacar Geulis, ” sahut Geulis polos.


“ Oh…jadi kalau mau pegangan harus jadi Suami, adek dulu. Ya sudah, mari kita menikah! ” canda Chandra tanpa pikir panjang.


“ Ih…apaan sih abang ini. Nggak lucu tahu! ” ucap Geulis malu-malu.


“ Maaf…maaf, abang cuman bercanda. Sekarang kita berangkat, ya? ”


“ Hem.. ” angguk Geulis.


Chandra mulai mengayun sepedanya ke sisi kanan.


Nyit…nyit…!


Suara ayunan sepeda ontel terdengar.


Chandra mengayun sepeda ontel melewati sawah, dimana terlihat beberapa warga sedang berada di dalam sawah, termasuk, Bapak-ibu, Geulis. Melihat Bapak-ibu memandang ke arah Chandra, Chandra melambaikan tangannya.


“ Pak…saya izin bawa anak Bapak berkeliling Desa! ” teriak Chandra meminta izin.


“ Ya…hati-hati nak Chandra, ” sahut Bapak ikut berteriak.


Tubuh tinggi, kulit putih bersih, hidung mancung, alis hitam, dan bibir seksi, membuat Chandra menjadi bahan pusat perhatian warga Desa. Mulai dari Ibu, anak gadis, dan Bapak-bapak, memandang ke arah Chandra. Membuat anak gadis dan ibu-ibu menjadi satu, berkumpul membicarakan Chandra.


“ Lihat, desa kita kedatangan artis. ”


“ Ihhh…tampan sekali. Aku harus mendekati pria yang bersama Geulis, ” sambung anak gadis berkepang 2.


“ Beruntung banget jadi Geulis, aku harus mendekatinya. Mari cepat kita ikutin mereka naik sepeda! ” ajak gadis lainnya.


“ Nggak ah, lebih bagus kita berkumpul di rumah Geulis saja. ”


“ Benar juga. Ayo, kita tunggu di sana! ” ajak gadis lainnya.

__ADS_1


Ibu-ibu, dan anak gadis berbondong-bondong menuju ke rumah Geulis. Sedangkan Chandra dan Geulis masih jalan-jalan sore di sekitaran Desa, dengan menaiki sepeda ontel. Karena lelah mendayung di jalan belubang, dan berbatu. Chandra memutuskan untuk berhenti di irigasi.


“ Dek, duduk di sini dulu. Soalnya kedua betis saya pegal, ” pinta Chandra, tangannya mengibaskan baju kaosnya basah karena keringat.


“Iya, lagian kita sudah jauh sekali dari rumah. Kalau sudah tidak capek kita pulang aja bang,” sahut Geulis memberi saran.


“ Oh ya, kalau saya boleh tahu, Geulis tamatan apa? ” tanya Chandra.


“ Geulis hanya tamatan SMA, bang, ” sahut Geulis.


“ Tamat SMA? Terus anak desa yang mendaftar kerja dengan wanita kota itu, rata-rata tamatan apa? ” tanya Chandra kembali menyelidik.


“ Rata-rata cuman tamat SMP, bang. ”


“ Tamat SMP?! ”


“ Kenapa bang? ” tanya Geulis, menatap wajah Chandra terlihat suram.


“ Oh…tidak apa-apa. Kalau pergi ke Desa sebelah membutuhkan waktu berapa jam dek? ” tanya Chandra, ia tak sabar ingin menangkap Caden, dan membuatnya membayar mahal atas penipuan ini.


“ Lumayan lama sih bang. Soalnya jalan Desa sebelah sama Desa di sini beda. Di desa sebelah masih banyak pepohonan sawit, dan pohon lainnya. Jalannya juga sangat bergelombang, kalau sudah hujan pasti becek, dan licin. Tidak seperti Desa ini, dan kalau masuk ke Desa itu, membutuhkan waktu selama kurang lebih 3 jam naik sepeda motor. Kalau naik mobil agak sulit karena jalannya sedikit kecil, ” jelas Geulis.


“Jadi, wanita kota itu pergi ke sana naik apa?” tanya Chandra menyakinkan.


“ Di antar anak buah Rentenir yang memiliki Vila di ujung. Kenapa rupanya bang? ” Geulis balik bertanya.


“ 10 orang kata Ibu, tadi. ”


“ Oh…” angguk Chandra.


“ Kenapa bang? ” tanya Geulis penasaran.


“ Ti-tidak apa-apa. Adek bisa menuntun abang ke Desa sebelah tidak? ” tanya Chandra semakin tak sabar.


“ Hem….maaf bang. Geulis tidak bisa…” tatapan menyelidik menatap Chandra dari atas sampai bawah, “ Soalnya tampang abang…”


“ Saya nggak jahat, saya berani bersumpah. Saya hanya ingin segera cepat ketemu dengan wanita kota itu agar saya bisa balik lagi ke kota. Karena pekerjaan saya masih banyak lagi, ” jelas Chandra jujur.


“ Kalau abang balik ke kota berarti abang nggak bakal ke sini lagi? ” tanya Geulis sendu, kepala tertunduk.


“ Ya tentu, tugas abang ke sini karena ingin bertemu dengan wanita kota itu! ” sahut Chandra tidak peka.


“ Oh…apa wanita kota itu istri abang? ”


“ Apaan sih! ” Chandra mendekati sepeda ontel, memutar arah jalan sepeda menuju ke rumah, “ Sudah naik. Keburu malam. Soalnya abang mau pamit sebentar sama Bapak untuk melihat-lihat ke Desa sebelah! ” sambung Chandra, ia sudah naik ke atas sepeda ontel.


Geulis pun naik, dan duduk menyamping di belakang. Karena tenaga sudah pulih, dan ingin segera bertemu dengan Caden, Chandra mengayun sepeda ontel dengan penuh semangat, menepis semua gelombang jalan Desa, membuat Chandra dan Geulis seperti sedang menaiki kuda, meski bokong terasa sakit, dan panas karena tempat duduk terbuat dari besi.

__ADS_1


Tak sampai 30 menit, Chandra, dan Geulis sudah berhenti di depan pekarangan rumah Geulis. Dahi Geulis, dan Chandra berkerut, mereka juga saling menatap satu-sama lain saat melihat sekumpulan warga sedang berdiri di depan teras rumah Geulis.


Penasaran dengan keramaian di depan rumah Geulis. Chandra mengayun sepeda ontel memasuki pekarangan rumah, dan kemudian terdengar suara sorak-menyorak.


“ Wah…ternyata benar-benar tampan sekali, ” ucap ibu-ibu memakai baju daster robek.


“ Kang, apa kakang sudah memiliki istri? ” tanya gadis memakai rok batik.


“ Mas, aku janda anak 10. Tapi tubuhku masih cantik, seksi, dan singset. Mas mau menjadi suami ku? aku jamin tiap malam akan melayani Mas dengan baik, ” goda wanita dengan tubuh montok.


Bapak-ibu baru saja pulang dari sawah, melihat rumah dipenuhi ibu-ibu dan anak gadis. Bapak segera berlari mendekati Chandra, dan berkata, “ Hei….hei, ada apa ini? kenapa kalian demo di depan rumah saya? ”


“ Siapa pria ini Pak? Apa dia keponakan Bapak? Atau dia artis yang ke sasar? ” tanya seorang wanita seperti mewakili para ibu-ibu lainnya.


Mendengar pertanyaan wanita barusan, membuat Chandra tersadar. Ternyata mereka berkumpul di depan rumah Geulis karena mereka berpikir jika Chandra adalah artis. Tak ingin membuang waktu lebih lama untuk membahas hal tak penting. Chandra segera meluruskan pikiran warga.


“ Maaf ibu-ibu, saya bukan artis. Saya hanya seorang bawahan. Saya ke sini untuk bertemu dengan wanita kota yang katanya Staf dari PT. MUNA…”


“ Oh…wanita kota yang sedikit memaksa anak-anak untuk bekerja ke kota? ” sambung Ibu dengan tubuh gempal.


“ Memaksa? Maksudnya? ” tanya Chandra sedikit menyelidik.


“ Iya, sedikit memaksa. Masak kami minta untuk masukkan anak kami tanpa uang pendaftaran wanita kota itu marah-marah. Karena anak kami bersikeras untuk bekerja ke kota, dan sampai mogok makan, kami jadinya mau tidak mau meminjam uang pada Rentenir. ”


“ Untuk menggenapkan orang yang akan ia bawa minggu ini. Katanya ia pergi ke desa sebelah. Ya mudah-mudahan wanita kota itu tidak menipu kami, ” sambung ibu lainnya.


“ Emang Mas-mas yang tampan ini siapanya wanita kota itu? ”


“ Saya hanya seorang bawahan yang bertugas untuk …eh…maksud saya. Saya hanya seorang bawahan yang di suruh tuan saya untuk bertemu dengan wanita kota itu, ” jelas Chandra hampir keceplosan.


“ Oh…kami kira! ”


" Kalau mau ketemu besok saja. Soalnya tadi saya dengar dari salah satu anak buah Rentenir yang ada di sini, wanita kota itu dan anak buah yang mengantar wanita kota itu sedang menginap di hotel terdekat, " ucap janda anak 10.


' Gawat, apa dia mau kabur. Kalau gitu saya harus segera mengejarnya, ' batin Chandra. Tangannya tanpa sadar menggenggam tangan Geulis.


" Pak...Bu, saya permisi dulu, " pamit Chandra ke Bapak-ibu, Geulis, lalu dengan cepat ia berlari menuju mobilnya.


" Nak ..Geulis kenapa di bawak? " teriak Bapak.


Chandra menghentikan langkahnya di samping mobil, menoleh kebelakang, menatap wajah bingung Geulis, " Maaf, kalau gitu abang tinggal adek di...."


Ucapan Chandra terhenti saat melihat Geulis menggenggam erat tangan Chandra. Dengan terpaksa ia kembali berlari mendekati Bapak-ibu.


" Izin bawa Geulis, Pak! " Chandra balik badan, kedua kaki kembali berlari dan masuk ke dalam mobil.


" Hati-hati nak! " teriak Bapak-ibu, melihat mobil Chandra sudah melaju kencang menuju kota.

__ADS_1


Melihat Geulis pergi bersama dengan Chandra, para ibu-ibu dan anak gadis langsung bubar dengan wajah cemberut.


__ADS_2