
Mendapatakan kunci Apartemen mewah, dan mobil mewah. Yasmin segera mendekati Andreas. Dan berdiri di sisi kirinya.
“ Pa, pria tadi siapa? Dan kenapa dia memberikan aku hadiah sangat besar seperti ini? ” tanya Yasmin bingung, pandangannya mengarah ke bawah, ke telapak tangan masih memegang kunci Apartemen dan mobil.
“ Terima saja. Anggap saja ke beruntungan kamu setelah menikah dengan Ben, ” sahut Andreas tanpa menjelaskan apa pun lagi.
“ Tapi ini hadiah ini sangat besar untuk kami, ” sambung Ben, ia baru saja tiba di belakang Yasmin.
“ Benarkah? Aku dan Cadman juga sudah membelikan kamu sebuah rumah mewah yang ada di dekat pinggiran kota ini, agar tak jauh dari kantor, ” sambung Yamuna, tangannya menunjukkan kunci sekaligus sertifikat rumah mewah.
“ Nona muda, apa yang….”
“Sudahlah, sebagai pengantin kamu tidak boleh menolak semua hadiah yang kami berikan. Kamu terima saja, dan bawa Istri kamu ke rumah baru. Bukannya sangat enak jika melakukan bulan madu di rumah sendiri?” sela Cadman, tangannya merangkul bahu Ben, dan menggoda Ben.
Ben melirik ke Emak-Bapak nya sedang berdiri tepat dihadapannya. Emak-Bapak nya hanya mengulas senyum tipis, dan mengangguk. Menandakan terima saja hadiah dari orang-orang sudah ikhlas memberikannya untuk kamu.
“ Maaf tuan muda, bisa tidak lepaskan rangkulan Anda. Saya ingin menemui Emak-Bapak di sana, ” pinta Ben sopan.
“ Oh, tentu, ” sahut Cadman melepaskan rangkulan tangannya.
Melihat Ben berjalan mendekati Emak-Bapak nya. Yasmin berjalan kecil, mengejar Ben, dan menggandeng tangan Ben. Yasmin dan Ben pun berjalan bersama mendekati Emak-Bapak, dan sudah berdiri di hadapan Emak-Bapak.
“ Emak…Bapak, terimakasih sudah mau datang jauh-jauh dari kampung. Dan terimakasih banyak sudah merestui pernikahan kami berdua, ” ucap Ben, memeluk Emak-Bapak nya.
“ Sama-sama nak, Emak…dan Bapak juga senang sekali melihat kamu akhirnya bisa menikah dengan wanita yang cantik. Model pula, ” sahut Emak, tangannya membelai pipi kanan Yasmin, “ Nak, kamu sudah tahukan kalau Ben ini adalah anak orang biasa. Tidak memiliki apa pun. Setelah hari ini, apakah kamu tidak menyesal menikah dengan Ben? ”
__ADS_1
Yasmin melirik ke Ben, “ Tentu saja tidak. Bagiku itu semua tidak masalah, ” Yasmin mengambil tangan kanan Emak, mencium punggung tangan lalu bergantian mencium punggung tangan kanan Bapak. Yasmin menatap ke Emak-Bapak, “ Terimakasih Emak…Bapak, ” ucap Yasmin berterimakasih dengan tulus.
“ Sama-sama nak. Jaga Ben untuk kami, ya. Dan kamu harus hati-hati, Ben ini diam-diam tukang ngambek, ” ucap Bapak membocorkan sifat Ben.
“ Ih…Bapak. Apaan sih, Pak, ” sikut Ben malu.
“ Tuh…lihat, dia langsung malu, ” goda Bapak kembali.
“ Benarkah kalau kamu itu adalah seorang ambekan? ” tanya Yasmin, tatapan serius memandang wajah Ben terlihat merona karena malu.
“Nggak tahu ah. Saya lapar, mau makan dulu,” ucap Ben menutupi rasa malunya.
Ben balik badan, ia melangkah pergi menuju meja hidangan. Di susul Yasmin terus menggoda Ben tanpa henti.
Waktu pun terus berlalu. Sekarang jam sudah menunjukkan Pukul 18:00 sore. Para tamu undangan sudah pulang, tinggal Yoan, Cadman, Yamuna, Bibi Ratna, Emak-Bapak duduk di ruang tamu bersama dengan Andreas. Sedangkan di luar ruang tamu, para WO, dan beberapa petugas membersihkan sisa dari pernikahan.
“ Kenapa Emak dan Bapak tidak tinggal bersama di sini saja. Bukan kah akan lebih muda bertemu dengan Ben, kalau Emak dan Bapak tinggal di sini bersama dengan mereka? ” usul Andreas.
Emak melirik ke Ben, dan Yasmin tersenyum tulus kepada Emak-Bapak. Emak kembali memandang wajah serius Andreas, dan berkata, “ Maaf, bukannya kami tidak mau. Tapi Emak sama Bapak sudah terlanjur nyaman tinggal di kampung. Lagian pantang bagi kami merusuh, atau menetap di rumah anak yang sudah menikah. Meski Ben adalah anak kami satu-satunya, tapi kami sebagai orang tua tidak ingin ikut hadir di dalam rumah tangga anak-anak. Biarlah Emak sama Bapak tetap tinggal di kampung, sedangkan Ben, dan Nak Yasmin tinggal di sini. Jika mereka berdua merindukan kami, maka segeralah pulang. Dan jika kami merindukan mereka, maka kami akan berkunjung ke sini, ” jelas Emak, di angguk Bapak.
Yasmin beranjak dari sofa, ia duduk di bawah kaki Emak, tangannya memegang kedua tangan Emak. Kedua mata berkaca-kaca menatap wajah bingung Emak, “ Emak, apa Emak yakin tidak ingin ikut tidak bersama kami. Kami sudah memiliki selaganya, tempat tinggal kami juga bisa di bilang lebih dari mewah. Untuk kami tinggal berdua saja, aku rasa sangat besar. Emak….” Yasmin menggantung ucapannya, melirik ke Bapak, dan melanjutkan ucapannya, “ Bapak, ikut kami, ya? ”
Bapak membelai puncak kepala Yasmin, “Maaf Nak Yasmin. Emak sama Bapak tidak bisa ikut tinggal bersama dengan kalian, jawaban Bapak sama seperti Emak. Kami berdua akan sangat nyaman tinggal di kampung daripada di rumah anaknya, jadi jangan bersedih kalau kami tidak bisa ikut tinggal bersama dengan kalian berdua.”
Yasmin hanya tertunduk sedih, bibirnya manyun ke depan, dengan tatapan sedih.
__ADS_1
Ben mendekati Yasmin, memegang kedua bahu Yasmin, membantu Yasmin untuk berdiri, “ Sudah jangan bersedih lagi. Lagian kita bisa ke kampung kalau sedang liburan. Dan di kampung juga ada tempat pemotretan yang bagus buat kamu, itu pun kalau kamu ingin berfoto dengan pemandangan alam, ” bujuk Ben.
“ Benarkah?! Aku mau kalau gitu, ” sahut Yasmin terdengar semangat.
“ Yasmin. Berhentilah bersikap manja kepada orang lain! ” bentak Andreas, ia cemburu melihat Yasmin sangat dekat dan manja dengan orang tua Ben, daripada dirinya sendiri.
“ Biarkan saja. Namanya aku sekarang sudah memiliki mertua, jadi biarkan saja aku bersikap manja dengan mertua baru ku. Emangnya kayak Papa, selalu memaksa kehendak Papa sendiri kepadaku! ” sahut Yasmin terdengar tidak suka.
“ Oh…sekarang kamu sudah bisa membandingkan Papa kamu dengan mertua kamu. Kamu harus ingat! Kalau karena kamu tidak menangis dan merengek ingin minta aku restui menikah dengan Ben. Mungkin sekarang kamu tidak memiliki mertua. Ck…dasar anak tak tahu berterima kasih, ” gerutu Andreas.
Perdebatan antara Papa dan Anak pun terjadi. Cadman, Yamuna, Bibi Ratna, Emak-Bapak, dan Ben hanya bisa tertawa melihat perdebatan lucu antara Yasmin, dan Andreas. Setelah lelah berdebat, Andreas, dan Yasmin duduk, saling diam.
Emak-Bapak beranjak dari sofa.
“ Mohon maaf, tuan, dan nona. Emak sama Bapak harus balik ke kampung. Karena besok ada orang yang mau mengambil beberapa ternak, ” pamit Bapak.
“ Loh, seriusan nih mau pulang. Lebih baik di sini dulu, menginap satu malam, dan besok pagi akan kami antar, ” ucap Andreas.
“ Maaf tidak bisa tuan, ” sahut Bapak menolak halus.
“ Baiklah, kami tidak akan memaksa. Biarkan supir yang mengantar Emak-Bapak kembali ke kampung, ” tawar Andreas.
“ Terimakasih tuan, ” sahut Bapak-Emak serentak.
“ Emak tunggu di sini. Biar saya yang mengambilkan tas milik Emak- Bapak di kamar tamu, ” ucap Ben.
__ADS_1
Ben pun segera berlari kecil menuju kamar tamu tak jauh dari ruang tamu. 5 menit kemudian Ben terlihat berlari membawa 2 tas besar, dan berhenti di ruang tamu. Tak ingin menunda waktu lagi, dan hari mulai gelap, Andreas menyuruh supirnya untuk mengantar Emak-Bapak ke kampung halaman. Setelah itu Cadman, Yamuna, dan Yoan pamit pulang. Sedangkan Yasmin, dan Ben pindah ke rumah baru mereka, rumah baru pemberian Yamuna.