
Muranne dan Two, terdiam. Mereka saling menatap satu-sama lain, tak ingin di curigai oleh Yamuna, dan Ben. Muranne melonggarkan dasinya, lalu menatap wajah Yamuna dengan tenang.
“ Di sini saya mohon maaf atas ketidak sopanan tim kami memberikan informasi, ” Muranne menundukkan sedikit tubuhnya, memohon maaf kepada Yamuna.
“ Baiklah, aku akan memaafkan kamu. Tapi, apa kamu sudah tahu berapa bayaran memakai diri ku sebagai model di desain baju milik kamu? ” tanya Yamuna mengingatkan.
Muranne mengangguk.
“ Berapa? ”
“ He he he…tidak tahu, ” sahut Muranne, nyengir kuda.
“ Untuk memakai jasa pemilik tempat, sekaligus seorang wanita professional. Kamu harus membayar ku sebanyak 1 milliar untuk 1 kali pengambilan foto, dan 1 kali mengganti pakaian. Lain halnya dengan Yasmin, untuk dia sendiri aku memberikan harga….”
“ 2 milliar…ia..2 milliar, ” sela Yasmin terlalu bersemangat dan asal ngomong.
Ben berdiri di belakang sofa Yasmin, mencubit bahu Yasmin, dan berbisik, “ Apa kamu benar-benar kekurangan uang? ”
“ Diam lah Suami ku, ini lumayan tahu! ” sahut Yasmin berbisik.
Yamuna melirik tajam ke Yasmin, “ Emang kamu siapa? Itu tarif atau mau beli rumah baru, ” tegur Yamuna. Yamuna kembali mengalihkan pandangannya ke Muranne, “Begini saja, aku kasih harga spesial, karena sepetinya Anda tidak memiliki banyak uang. Jika tuan ingin memakai jasa dari Perusahaan ku, dan memakai model diriku sendiri, dan Yasmin. Biaya Endorsenya sebesar 4 milliar, itu sudah termasuk dengan pembuatan majalah khusus baju Ibu hamil. Dan beberapa foto milik kami. Gimana? ” usul Yamuna.
Muranne melirik ke Two, “ Gimana? ” tanya Muranne berbisik.
Two membungkukkan sedikit tubuhnya, “ Bos, menurut saya itu adalah harga yang pas di Atm. Dan tidak ada salahnya kita percaya dengan kemampuan mereka. Bos jangan lupa, banyak bisnis yang menjadi sangat laris setelah melakukan kontrak kerja sama dengan Perusahaan iklan, milik nona muda Yamuna. Termasuk, suaminya sendiri, Cadman Ren, dan mertuanya, Yoan Ren, ” bisik Two mengingatkan Muranne.
Muranne mengalihkan pandangannya ke Yamuna, “ Baiklah, saya terima. Dan jangan kecewakan saya, ” pinta Muranne serius.
“ Baik, ” Yamuna mengulurkan tangannya ke depan, “ Mana kontrak kerja sama kita, ” pinta Yamuna.
“ Dan mana kontrak kerja sama untuk penerbitan Majalah, ” pinta Muranne tak mau kalah.
__ADS_1
Ben segera mengambil kontrak khusus pembuatan majalah berada di dalam brankas, sudah selalu tersedia di ruang rapat. Setelah itu, Ben berjalan ke meja Muranne, begitu juga dengan Two, berjalan mendekati meja Yamuna. Masing-masing dari mereka memberikan kertas kontrak.
Yamuna, dan Muranne, sama-sama membaca isi surat kontrak. Karena isi kontrak bagus, dan masih di ambang batas wajar. Yamuna menandatangani, begitu juga dengan Muranne. Setelah itu mereka mengembalikan kembali, dan memberikan masing-masing salinan kontrak.
“ Jadi kapan bisa mulai? ” tanya Muranne semangat.
Yamuna melirik ke jam tangan di pergelangan tangan kanannya, “ Setelah makan siang, dan Anda boleh mempersiapkan barang-barangnya, ” sahut Yamuna.
“ Baiklah, kami permisi dulu, setelah makan siang semua barang Endorse pasti sampai dengan selamat, ” pamit Muranne, ia berdiri dari bangkunya, diikuti Yamuna, dan Yasmin.
“ Kalau gitu, akan kami tunggu. Tapi jangan lupa, berikan uang muka terlebih dahulu. Kalau tidak ada uang muka, tidak akan ada gambar, ” ancam Yamuna mengingatkan.
“ Two, cepat transfer, ” perintah Muranne.
Two segera mengambil tab miliknya, membuka M-banking, dan mentransfer uang sebesar 3 Milliar, sebagai uang muka.
“ Sudah masuk nona muda, ” Ben menunjukkan bukti transferan Muranne sudah masuk ke rekening Perusahaan milik Yamuna.
“ Sama-sama. Untuk kesalahpahaman tadi, saya mohon maaf, dan mohon jangan Cap saya sebagai pengusaha licik, ” Muranne menerima jabat tangan Yamuna, meminta maaf sekali lagi dengan tulus ke Yamuna.
“ Ha ha ha…buat apa aku menandai Anda sebagai pengusaha yang licik. Sedangkan Anda sendiri yang sudah memberi Label atas kepribadian Anda. Semua pengusaha juga sudah tahu, ” sahut Yamuna di sela tawa renyahnya.
Sejenak Muranne terdiam, lalu ia menghela nafas panjang, menggaruk kepala belakang tak gatal, “ He he…kalau gitu saya akan berubah, ” janji Muranne karena malu.
“ Baguslah kalau gitu, ” Yamuna kembali duduk ke kursi rodanya.
“ Saya permisi pergi. Soal barang-barang yang akan menjadi Endorse, sebenarnya sebagian sudah ada pada Bams. Sisanya akan saya kirimkan, ” jelas Muranne sebelum beranjak pergi.
“ Baik, akan di tunggu, ” sahut Yamuna singkat.
Muranne, dan Two, balik badan, mereka melangkah pergi meninggalkan ruang rapat. Yamuna, Yasmin, dan Ben masih berada di dalam. Ben memandang wajah senang Yasmin, kedua tangannya terlihat mengelus perut buncitnya. Yamuna tak sengaja memandang raut wajah murung Ben, memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
“ Ben, apa kamu baik-baik saja? ” tanya Yamuna, sedangkan Yasmin langsung menatap wajah murung Suaminya.
“ Saya kira uang yang saya berikan dan kumpulkan selama ini cukup untuk membutuhi kebutuhan Yasmin, dan biaya persalinannya. Ternyata tidak. Sampai-sampai Yasmin mengambil pekerjaan di sela kehamilannya, ” ucap Ben lirih.
Tak ingin membuat Suaminya merasa bersalah dan menjadi murung. Yasmin mendekati Ben, memegang tangan Ben, “Bukannya tidak cukup. Bukannya aku sudah berjanji untuk tidak meminta lebih dari apa yang sudah kamu berikan kepadaku. Aku melakukan ini hanya untuk demi masa depan anak kita. Selagi aku masih bisa bekerja, dan membantu kamu untuk mencari uang, dan mengumpulkan uang bersama. Selama itulah aku akan terus bekerja. Semua ini demi anak, dan masa depan anak kita yang cerah. Coba aku tanya, apa kamu mau anak kita nanti mengikuti jejak kita? apa kamu tidak mau jika anak kita lebih sukses dari kita? ”
“ Maafkan saya, karena sudah salah paham, ” ucap Ben lirih, merasa bersalah karena salah paham.
Yasmin mengangguk, menarik tubuh Ben, dan memeluknya.
“ Ehem…masih ada aku loh, ” dehem Yamuna.
Ben langsung mendorong pelan tubuh Yasmin, wajah Ben mendadak merah, menahan malu. Tangannya menggaruk rambut tak gatal.
“ Iri kamu, ‘kan? ” tuduh Yasmin.
“Idih…ngapain aku iri. Aku juga punya Suami.”
“ Buktinya kamu tadi berdehem, mencoba memisahkan kami saat berpelukan. ”
“ Kagak. Apa kalian tidak malu nanti di lihat orang? Kalau mau berpelukan, ciuman atau yang lainnya. Pulang sana, jangan di kantor ku! ”
“ Alah, kamu juga sering melakukan hal yang sama. Bilang aja kamu iri! ” tuduh Yasmin kembali.
“ Iya, aku iri. Puas kamu! ” sahut Yamuna mengalah.
“ Puas! ” ketus Yasmin, ia menyelipkan tangannya ke lengan kiri Ben, “ Suamiku, mari kita pergi makan! ” ajak Yasmin.
“ Iya, tapi jangan di pegang seperti ini. Nanti siapa yang dorong kursi roda milik nona muda, ” tolak Ben lembut, tangannya berusaha melepaskan tangan Yasmin, terselip di lengannya. Namun, Yasmin semakin mengeratkan genggamannya.
“ Aku nggak mau! ” Yasmin melirik ke Yamuna, “ Biar dia jalan sendiri. Kursi roda miliknya ‘kan canggih, bisa jalan sendiri! ” ejek Yasmin, lidahnya mengulur ke depan. Yasmin pun menarik Ben, membawa Ben keluar ruangan, meninggalkan Yamuna masih duduk di kursi roda.
__ADS_1
Yamuna hanya menggeleng gemas melihat sikap kekanak-kanakan Yasmin. Karena perutnya juga sudah lapar, Yamuna menekan tombol kursi rodanya, dan kursi roda tersebut berjalan.