
Mobil milik Chandra kini sudah sampai di depan rumah Geulis. Chandra, dan Geulis sudah turun dari mobil, mereka berdua jalan memasuki halaman rumah, dimana Bapak-ibu terlihat bersantai di rusbang depan rumah.
“ Loh, kok sudah pulang? ” tanya Bapak, bangkit dari tidurnya, dan duduk, menatap kedatangan Geulis, dan Chandra.
“ Wanita itu tidak ada di rumah Pak, ” sahut Geulis, ia duduk di rusbang. Chandra sendiri masih berdiri, karena ia ingin mencari penginapan untuk tidur beberapa malam sampai bisa menyelesaikan ulah Caden.
“ Oh iya, Ibu lupa. Biasanya wanita itu memang jarang di rumah jam segeni, ia selalu keliling Desa di temani anak buah rentenir. Dan akan pulang saat larut malam, ” sambung Ibu baru teringat.
“ Tidak masalah Bu, saya akan datang lagi nanti malam. Saya izin pamit dulu, soalnya saya harus mencari tempat menginap untuk malam ini, ” pamit Chandra, tubuhnya sedikit membungkuk di hadapan Bapak-Ibu.
“Di sini tidak ada tempat penginapan nak. Adapun sangat jauh, di kota. Jarak tempuh kota ke sini akan memakan waktu 2 atau 3 jam. Sebaiknya kamu tinggal di sini saja, Bapak masih punya 1 kamar kosong di dalam,” tawar Bapak.
“ Nggak perlu Pak, saya enggak enak sama warga di sini. Sebaiknya saya mencari tempat tinggal di tempat lain saja, ” tolak Chandra, kedua tangannya melambai, senyum canggung ia tampilkan di hadapan Bapak, dan Ibu.
“ Tidak perlu kuatir, kebetulan rumah ketua Desanya ada di sebelah. Ibu dan Bapak akan meminta izin kepada nya, ” sambung Ibu, tangannya mengarah ke rumah berwarna hijau dengan pagar hitam, berjarak 5 meter dari rumah nya.
‘ Apa sebaiknya saya terima saja tawaran dari Bapak dan ibu, daripada saya harus pulang-pergi, dan membuang waktu di jalan, ’ batin Chandra mulai memikirkan jarak tempuh, dan harus segera menyelesaikan misi.
“ Kalau gitu saya ikut meminta izin, ” Chandra juga ingin ikut, sekalian ia ingin mencari informasi lebih lanjut tentang perbuatan Caden.
“ Mari…mari, ” ajak Bapak, turun dari rusbang, dan berjalan terlebih dahulu, diikuti Chandra dan Ibu. Sementara Geulis sudah masuk ke dalam rumah.
Bapak-ibu masuk ke dalam rumah berpagar hitam, dan berdiri di depan rumah ketua Desa.
“ Assalamua’alaikum, ” panggil Bapak-ibu serentak.
__ADS_1
“ Wa’alaikumsalam, ” sahut seorang pria dari dalam rumah.
“ Maaf mengganggu Pak Joko, ” ucap Ibu, menatap seorang pria dengan perut buncit berusia 45 tahun, memakai sarung, dan kaos putih, berdiri di teras rumah.
“ Masuk-masuk dulu Bu, ” ajak Pak Joko, tangannya mengarah ke pintu.
“ Mari nak, masuk, ” ajak Bapak, tangannya menggenggam lengan kekar Chandra.
Ibu, Chandra, dan Bapak, masuk ke dalam rumah Pak Joko. Mereka bertiga juga duduk di kursi ruang tamu. Tak lama Chandra, Ibu, dan Bapak masuk ke dalam, dan duduk. Menit berikutnya datang seorang wanita muda, dan di susul wanita berusia 35 tahun, membawa minuman, dan makanan.
Setelah meletakkan minuman, dan makanan di atas meja, kedua wanita itu berdiri di samping kursi Pak Joko.
Chandra melirik ke wanita muda cantik, dan wanita berusia 35 tahun, ‘ Buset! Saya sangat yakin, pasti ini Istrinya. Produk wanita desa memang sangat bening, dan kinclong tanpa bahan merkuri, daripada wanita di kota. Gokil…gokil, ’ gumam Chandra dalam hati, mata melirik sejenak kedua wanita tersebut.
“ Kalau saya boleh tahu, ada apa ini Pak? Dan siapa pemuda tampan ini? ” tanya Pak Joko, pandangannya lurus ke Chandra, duduk di kursi lurus kursi Pak Joko.
“ Oh...jadi nak Chandra datang dari kota juga? Apa nak Chandra berteman dengan wanita itu? ” tanya Pak Joko.
“ Tidak, saya datang ke sini ada urusan pribadi dengan wanita itu, ” sahut Chandra tak memberitahu niatnya.
“ Sepetinya waktunya tidak tepat. Mbak yang tinggal di Vila ujung tadi nitip pesan, katanya dia sedang melakukan penyuluhan pekerjaan di Desa sebelah sampai 2 hari, dan kemungkina hari kedua akan kembali. Karena dia juga akan melakukan penyuluhan tentang pekerjaan di sini, sebelum membawa para pendaftar berangkat minggu depannya, ” sambung wanita muda, sedang berdiri di sisi kiri kursi Pak Joko.
“ 2 hari ya Bu? ” tanya Chandra, dahinya mengernyit memikirkan selama 2 hari menunggu kedatangan Caden di sini. Mau pulang ke kota, jarak rumahnya dengan Desa ini sangat jauh, bisa memakan waktu tempuh selama 1 hari atau bahkan bisa 2 hari.
“ Iya, tapi nggak bisa di pastikan juga sih. Siapa tahu wanita kota itu besok pulang ke sini, ” sambung wanita muda itu lagi.
__ADS_1
“ Baiklah, terimakasih atas informasinya. Tapi kalau saya boleh tahu, wanita itu datang ke sini sudah meminta izin kepada Bapak? ” tanya Chandra sopan.
“ Kalau tidak minta izin mana bisa bebas keluar masuk kampung sini atuh! ” sambung wanita berusia 35 tahun.
“ Oh…” Chandra mengangguk.
“ Jadi nak, gimana menurut nak Chandra. Mau menerima tawaran Bapak untuk tinggal di sini, atau nak Chandra mau pergi mencari penginapan yang jaraknya kurang lebih 2 atau 3 jam dari Desa ini? ” tanya Bapak, mengingatkan Chandra.
Sejenak Chandra melirik ke Bapak-ibu, dahinya mengernyit, berusaha berpikir, dan mempertimbangkan kembali. Setelah cukup lama berpikir, Chandra pun memutuskan untuk memilih menginap di rumah Geulis. Alasannya untuk bisa mengetahui lebih lanjut lagi tentang gerak-gerik Caden.
“ Kalau memang ingin segera bertemu dengan wanita kota itu, memang lebih baiknya nak Chandra tinggal di sini saja. Soalnya jarak kota ke Desa sangat jauh. Lagian kalau tinggal di sini, dan wanita kota itu sudah pulang, pasti nak Chandra bisa langsung menemuinya. Nggak perlu harus menunggu berlama-lama, takutnya nggak ketemu nanti, ” sambung Pak Joko.
“Iya, kalau memang urusan nya sangat penting lebih baik tinggal di rumah Geulis aja,” sambung wanita muda.
“ Terimakasih atas izinnya. Kalau gitu saya akan tinggal di rumah Geulis, ” ucap Chandra menerima tawaran. Chandra kembali menatap Pak Joko, “ Oh ya Pak, kalau saya boleh tahu. Wanita kota itu sering melakukan penyuluhan apa saja di sini? ” sambung Chandra kembali bertanya.
“ Penyuluhannya tentang bagaimana cara bekerja di kota, dan masih banyak lagi. Cuman sangat di sayangkan biaya pendaftarannya itu besar sekali, 3 juta. Saya sempat berpikir kasihan dengan warga sini. Tapi saya juga kembali berpikir, kalau tidak seperti itu, anak-anak di desa ini tidak akan maju. Masa depannya akan suram, dan masa iya terus-terusan menjadi buruh tani. Toh saya sudah banyak lihat anak-anak sini yang sudah bekerja ke kota, pas kembali pulang menjadi sukses. Saya sebagai ketua Desa, ikut bangga jadinya. Kalau saya punya anak, pastinya saya juga akan membuat anak saya bekerja di kota. Sayangnya sampai sekarang, dan walau saya sudah memiliki istri 2, saya belum diberi keturunan. Jadi, saya hanya bisa berbangga diri melihat anak-anak warga desa ini sukses, ” jelas Pak Joko.
‘ Apa warga Desa memang sepolos ini? pantas saja mereka gampang tertipu. Tapi biarkan saja lah, bukan urusan saya. Setelah ini saya harus menelepon tuan muda, saya harus memberitahu tentang keadaan di sini, ’ gumam Chandra dalam hati.
“ Kalau gitu terimakasih ya, Pak Joko, ” ucap Bapak, ia beranjak dari kursi.
“ Sama-sama, tapi ingat! Nak Chandra jangan macam-macam sama neng Geulis, selama tinggal di rumahnya! ” pesan Pak Joko mengingatkan.
“ He he he…sudah pasti. Tapi kalau bisa saya lebih bagus menyewa beberapa hari di rumah kosong daerah sini, ada tidak Pak? ”
__ADS_1
“ Wah…tidak ada. Tempat yang kosong hanya milik rentenir, tapi itu sudah di sewa sama wanita kota itu. Dan saya juga tidak mengizinkan nak Chandra tinggal berdua dengan wanita itu. Tidak ada pengawasan, jadi akan sangat bahaya. Kalau di rumah Geulis 'kan ada yang mengawasi. Dan dekat dengan rumah saya. Jadi sudah pasti tidak ada hal yang merugikan 2 pihak, serta satu kampung! ” Pak Joko memukul bahu Chandra, “ Sudah jangan sungkan. ”
“ Ba-baik Pak, ” sahut Chandra gugup.