
Keesokan paginya, tepat pukul 09:30 pagi. Yamuna, dan Cadman sudah pulang dari rumah sakit dan kembali ke rumah Yamuna. Sesampainya di rumah, Yamuna, dan Cadman di beri sambutan hangat oleh Yoan, dan Bibi Ratna. Terlihat banyak barang bayi di sekeliling ruang tamu, dan ada beberapa makanan ringan tersaji di atas meja.
“ Selamat datang tuan muda junior, ” sambut Yoan dari ruang tamu, di angguk Bibi Ratna, berdiri di sisi kiri Yoan.
“Pa…katanya Papa sedang pergi ke Bandung? tapi kok sekarang ada di rumah kami? ” tanya Cadman, mengingat ucapan Yoan saat di telepon tadi malam.
“ Memang iya. Tapi pekerjaan Papa sudah siap tadi subuh, dan langsung gerak ke mari, ” sahut Yoan, ia berjalan mendekati Yamuna, dan berdiri di hadapan Yamuna, “ Tampan sekali, ” puji Yoan, setelah melihat wajah cucu nya di dalam gendongan Yamuna.
“ Macam aku ‘kan, Pa! ” sambung Cadman kepedean.
Yoan melirik Cadman sekilas, “ Jelas-jelas mirip Kakek nya! ” ucap Yoan tegas, membuat Cadman terkejut.
“ Kok bisa mirip Papa? ‘kan aku yang buat. ”
“ Kenapa rupanya kalau kamu yang buat. ‘Kan aku juga Kakeknya, dia ini cucu ku, darah daging ku juga! ”
Yoan tak mau mengalah, dan terus mengaku jika wajah anak Yamuna, dan Cadman mirip wajahnya. Padahal jika di lihat lebih jelas, wajah anak Yamuna, dan Cadman sangat mirip dengan mendiang Jordan, Ayah Yamuna.
Penasaran dengan wajah putra Yamuna, dan Cadman, Bibi Ratna mendekat, berdiri di samping Yamuna. Dahi Bibi Ratna mengernyit saat menatap wajah putra Yamuna, mengingat wajah terlihat begitu familiar. Setelah dapat mengetahui wajah putra Yamuna mirip siapa. Bibi Ratna mengeluarkan suaranya, dan membuat Yamuna, Cadman, dan Yoan, terkejut.
“ Ya ampun, wajah ini jelas-jelas mirip dengan mendiang Presdir Jordan. Wajah tegas, gagah, dan rupawan. Iya, Bibi sangat ingat jelas wajah masih muda mendiang. Sangat-sangat mirip, ” ucap Bibi Ratna histeris.
“ Aku pikir, aku saja yang berpikir seperti itu. Ternyata Bibi menyadari itu juga, ” sahut Yamuna.
“ Kenapa mencuri wajah yang sudah meninggal dunia, sih! ” gerutu Yoan gemas, tangannya gatal ingin mencubit pipi tembem cucunya.
“ Pa, nggak mau berikan nama buat cucu Papa? ” tawar Yamuna, menatap wajah senang Yoan.
__ADS_1
“ Benar, Pa. Tolong berikan nama buat anak kami, ” sambung Cadman.
Sejenak Yoan menghela nafas, segaris senyum sempat terukir di wajah tampannya. Lalu tangannya membelai puncak kepala cucunya dalam gendongan Yamuna, dan berkata, “ Joryan Ren, singkatan antara nama Kakek Yoan, dan mendiang Kakek Jordan. ”
“ Kalau gitu, sekarang kamu sudah memiliki nama, nak. Nama kamu adalah Joryan Ren, ” ucap Yamuna memberitahu putra mungilnya.
Seolah mengetahui jika Joryan sudah di beri nama. Bayi tampan itu pun tersenyum, membuat Yamuna, Yoan, Cadman, dan Bibi Ratna, semakin gemes.
“ Duh gemes banget, ” gemas Bibi Ratna, kedua tangannya mencubit pipinya sendiri.
“ Aku juga Bi. Nggak nyangka aku bisa memiliki anak segemas ini, ” sambung Yamuna ikutan gemas.
“ Yamuna, sebaiknya kamu istirahat dulu. Aku antar kamu ke atas, ya, ” bujuk Cadman, mengingat Yamuna kurang istirahat.
“ Kalau Bibi mau ke dapur dulu, menyiapkan makanan buat makan siang, ” pamit Bibi Ratna, ia balik badan, melangkah pergi menuju dapur.
“ Benar kata Cadman, sebaiknya kamu istirahat dulu, ” Yoan membelai puncak kepala Joryan, “ Kamu juga harus istirahat dulu, entar kita main lagi, ” ucap Yoan kepada Joryan.
“ Aku antar Yamuna ke atas dulu, Pa, ” pamit Cadman.
Cadman dan Yamuna melangkah meninggalkan Yoan di ruang tamu. Yoan sendiri, balik badan, duduk di sofa. 10 menit setelah mengantar Yamuna ke kamar. Cadman terlihat berjalan, menuruni anak tangga, dan menuju ruang tamu. Dimana Yoan masih duduk tenang, membaca Koran hangat di pagi hari.
“ Pa, ” panggil Cadman, duduk di sofa sebelah kiri Yoan.
“ Katakan apa yang ingin kamu katakan, ” sahut Yoan seolah mengetahui isi hati Cadman.
“ Apa Papa juga sudah tahu tentang perbuatan Caden, mantan mertua Yamuna? ”
__ADS_1
Yoan melipat koran, meletakkannya di atas meja, lalu menatap wajah Cadman, “ Sudah. Bukannya Chandra sudah pergi ke sana, untuk membereskan kenakalan wanita tua itu? ”
“ Aku harap Chandra bisa menemukan Caden. Aku masih tidak habis pikir kenapa Farran, Ibu, dan mantan menantunya, Dara, bisa menjadi sejahat itu. Mereka bertiga sangat beda dengan Garda, ” gerutu Cadman kesal mengingat kejahatan Caden, Farran, dan Dara, kepada Yamuna.
“ Garda memang berbeda, karena dia dulu terlahir dan didik dengan seorang pria yang bagus. Dan untungnya Garda memiliki sifat seperti mendiang Ayahnya. Bukan Caden, Ibunya yang serahkan itu. ”
“ Iya Pa. Tapi aku masih tetap tidak habis pikir kenapa mereka terus mengincar Yamuna. Padahal Yamuna tidak melakukan apa pun pada mereka, dan Yamuna juga dulunya sudah sangat sabar menghadapi kelicikan mereka, ” Cadman meluapkan kekesalannya.
“ Mereka mengincar Yamuna, karena mereka berpikir Yamuna adalah gadis yang polos, dan bodoh. Bukan itu saja, mereka juga mengincar Yamuna, karena Yamuna adalah ahli waris yang sangat kaya dari nomor urut dua di Negeri kita ini, setelah kamu. Jadi wajar saja jika mereka terus mengincar Yamuna. Dan perusahaan mereka juga terdengar sudah bangkrut, karena tak bisa membayar hutang, ” jelas Yoan tenang.
“ Padahal dulu sewaktu Suaminya yang pegang Perusahaan itu, Perusahaan itu sangat jaya. Aku harap mereka semua bisa segera di tangkap, dan Chandra segera membereskan ulah Caden, ” ucap Cadman, ia ingin segera semua masalah menerjang Yamuna segera selesai, dan membuat hidup Yamuna benar-benar tenang, dan nyaman.
Di tengah-tengah perbincangan Cadman, dan Yoan, terdengar suara Yamuna, mengejutkan Cadman, dan Yoan.
“ Apa benar Caden sedang melakukan penipuan dari Desa ke Desa, mengatas namakan Perusahaan ku? ” tanya Yamuna, lalu ia duduk di samping Yoan.
Yoan dan Cadman sejenak saling pandang. Mereka berdua menghela nafas, lalu mengangguk.
“ Kenapa Papa dan kamu, tidak memberitahu aku? ” tanya Yamuna mulai marah.
“ Karena kamu sedang seperti itu kemarin. Aku juga baru tahu semalam, waktu Chandra datang. Kalau tidak, aku tidak tahu, ” sahut Cadman.
“ Tapi kalian ‘kan bisa kasih tahu aku, atau Ben. Itu ‘kan perusahaan ku, aku juga berhak tahu! ” omel Yamuna.
“ Nak, tidak bagus memberitahu berita buruk saat kamu baru saja siap melahirkan. Jika kami kasih tahu saat kamu sedang berjuang melahirkan Joryan, kamu pasti kepikiran terus, dan pastinya akan mengalami pendarahan, atau bahkan lebih buruk lagi. Dan mungkin saat ini kamu masih di rumah sakit, bukan di rumah, ” Yoan membelai rambut belakang Yamuna, “ Kamu bukan hanya sebagai menantu ku. Kamu juga sudah aku anggap sebagai putri kandung ku, jadi aku tidak menginginkan putri ku terbebani dengan berita ini. Papa takut, kamu akan menjadi drop. Dan itu sudah pasti berpengaruh pada Joryan. Jadi biarkan Chandra dan Cadman, yang membereskannya. Tugas kamu hanya duduk santai, dan mengurus Joryan dengan penuh cinta. Papa harap kamu bisa mengerti maksud ucapan Papa, ” jelas Yoan, ingin meredakan amarah di hati Yamuna.
“ Baik Pa, ” sahut Yamuna patuh.
__ADS_1
“ Jadi jangan marah lagi, ya? ” bujuk Yoan.
Yamuna hanya mengangguk.