SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 71. Jejak merah


__ADS_3

Tak sampai 1 jam pesanan baju milik Yamuna sudah datang. Baju, dan bagian dalam buat Yamuna sudah berada di tangan Yoan. Yoan masih merasa bersalah kepada menantunya memutuskan untuk naik ke lantai 2, menemui Yamuna dan Cadman tak kunjung turun.


Yoan menarik nafas panjang, lalu mengetuk pintu kamar.


Tok!tok!


“ Yamuna... apa kamu sedang marah dengan Papa sehingga kamu, dan Cadman tidak kunjung turun hampir 1 jam? ” tanya Yoan dari depan pintu kamar.


Pintu kamar terbuka, terlihat Cadman berdiri dengan rambut basah masih belum di sisir, dan di keringkan. Di jenjang leher Cadman juga terlihat ada beberapa bercak merah, membuat alis Yoan mengernyit.


“ Tidak Pa, ” sahut Cadman berdiri di depan pintu kamar setengah terbuka, ia menahan setengah pintu kamar, karena Yamuna masih mengenakan pakaian pemberian Yoan.


“ Yamuna mana? ” tanya Yoan pura-pura tidak mengetahui perbuatan Cadman dan menantunya. Yoan ingin mengintip ke dalam, tapi Cadman langsung keluar dan menutup pintu.


“ Ya-Yamuna masih mandi. Kenapa? ” tanya Cadman berusaha tenang, padahal dalam hatinya sangat gugup.


“ Oh, kalau gitu berikan baju baru ini untuk Yamuna, ” perintah Yoan memberikan bungkusan baju, dan bagian dalam untuk Yamuna.


“ Baik Pa, ” sahut Cadman menerima bungkusan baju dari Yoan, dan kembali masuk ke dalam kamar.


Yoan berbalik badan, kedua tangannya ia usap-usap, bibirnya tersenyum, “ Sebentar lagi aku akan memiliki cucu, ” gumam Yoan pelan, kedua kakinya melangkah meninggalkan kamar Cadman.


Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, Yoan mendapat panggilan telepon dari Jacki. Dengan cepat Yoan menuruni anak tangga, dan mengangkat panggilan telepon dari Jacki.


📞[ “ Ada apa? Ganggu saja kamu! ” ] ucap Yoan marah karena pikirannya di ganggu oleh panggilan telepon Jacki.


📞[ “Kamu tuh yang ganggu aku tadi malam. Gara-gara kamu, aku jadi mengulang ronde.” ] sahut Jacki mengingat tadi malam saat bergumul dengan wanita muda, Yoan malah mengganggunya.

__ADS_1


📞[ “ Sekarang ada apa? Apa ada kabar baik yang akan kamu berikan kepadaku? ” ] tanya Yoan langsung ke inti mengenai Zahfar.


📞[ “ Ternyata Zahfar dan Yamuna sudah melakukan kontrak kerja-sama pekerjaan. Perusahaan Parfumnya sedang launching prodak baru, dan Perusahaan Yamuna yang akan menjadi tempat terbit Iklannya. Aku juga mendapat informasi dari beberapa anak buahku, mereka mengatakan jika awalnya memang ada seorang wanita muda yang bernama 'Yasmin' menawarkan uang dengan jumlah besar untuk menghabisi Yamuna. Tapi, setelah melihat foto Yamuna. Zahfar menolak keras tawaran Yasmin. Alasannya karena Zahfar tertarik dengan wajah polos, dan cantik milik Yamuna. Jadi, kita mau berbuat apa nih? ” ] tanya Jacki meminta perintah sebelum melakukan tugasnya.


📞[ “ Aku ingin kamu menghabisi Zahfar. Karena aku tidak ingin tangan Iblis itu menyentuh menantu ku! ” ] tegas Yoan.


📞[ “ Jadi kita siap mati nih ceritanya? Kau tahu ‘kan siapa Zahfar, dan jika aku yang melakukan sendiri mungkin aku akan kesulitan. Apa lagi aku sudah sempat bertaubat, dan beberapa anak buahku juga sudah entah kemana. Jadi aku minta, kirimkan beberapa anak buah kamu yang paling hebat untuk membantuku. ” ]


📞[ “ Baik…aku akan kirimkan segera. Cadman dan Yamuna sudah turun, sebaiknya aku akhiri panggilan telepon ini. ” ] ucap Yoan berbisik, lalu memutus panggilan teleponnya.


“ Pa..baju dress milik mendiang Mama sangat cantik, dan cocok buat di pakai ke kantor. Terimakasih, ya! ” ucap Yamuna menghampiri Yoan, dan berdiri di hadapannya.


“ Sangat mirip, ” gumam Yoan saat melihat tinggi, senyum, dan rambut di gerai Yamuna mengingatkan Yoan dengan mendiang Sisil. Namun, lagi-lagi dahi Yoan mengernyit saat melihat ada beberapa jejak merah membekas di bagian bawah telinga Yamuna, dan bagian tengkuk walau ke tutupan sama rambut panjangnya tapi tetap terlihat. Membuat Yoan mengulas senyum bahagia di wajah karismanya.


“ Kenapa senyum-senyum sendiri, Pa? ” tanya Yamuna bingung saat melihat Yoan tersenyum sendiri.


Cadman dan Yamuna langsung saling pandang. Kedua mata mereka membulat sempurna saat melihat ada beberapa jejak merah di masing-masing jenjang leher mereka.


“ Ya ampun, pantes saja tadi Papa senyum-senyum sendiri. Ternyata ada jejak merah di jenjang leher kamu! ” Yamuna mendekati Cadman, tangannya mengusap jejak merah di jenjang leher Cadman, “ Duh…maaf ya, aku kelepasan. Mana nggak bisa hilang lagi, ” sambung Yamuna berusaha menghapus jejak merah di jenjang leher Cadman.


“ Aku juga minta maaf karena sudah meninggalkan jejak merah di bagian bawah telinga dan tengkuk kamu! ” sambung Cadman ikutan merasa bersalah.


“ Gimana nih. Nanti semua orang pasti menertawai aku deh, ” keluh Yamuna merasa malu.


“ Kamu pakai syal saja, kamu punya ‘kan? ” usul Cadman, tangannya membelai puncak kepala Yamuna.


Yamuna mengangguk, wajah manja terlihat jelas memandang wajah datar Cadman.

__ADS_1


“ Kalau gitu, mari kita sarapan, ” ajak Cadman menggandeng tangan Yamuna.


“ Jangan sok romantis deh, aku nggak suka di gandeng seperti anak kecil, ” keluh Yamuna, ia melepaskan gandengan tangan Cadman, lalu berjalan terlebih dahulu menuju ruang makan.


Cadman hanya menggeleng, bibirnya mengulas senyum tipis melihat tingkah Yamuna seperti anak kecil. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 07:45 pagi, dan Cadman juga akan melakukan pertemuan dengan distributor, ia langsung melangkah menuju ruang makan.


Cadman, Yamuna, dan Yoan pun menikmati sarapan nasi goreng sudah dingin buatan Cadman. Mereka bertiga tidak bisa berkomentar apa pun tentang nasi goreng sudah dingin, karena mereka sudah tahu apa penyebab membuat nasi goreng menjadi dingin, dan kurang enak di makan. Semua itu karena ulah Cadman sudah tidak tahan menahan hasrat di dalam tubuhnya untuk tak bergumul dengan istrinya, Yamuna.


Tepat pukul 08:15 menit, Cadman, dan Yamuna beranjak dari kursi mereka. Cadman, dan Yamuna berpamitan kepada Yoan, setelah itu Cadman mengantarkan Yamuna ke Perusahaannya. 30 menit kemudian mobil sampai di depan teras Peusahaan. Cadman segera turun, membuka pintu mobil Yamuna.


“ Nanti aku akan menjemput kamu, kamu hati-hati ya, ” pesan Cadman, ia juga memberi ciuman di dahi mulus Yamuna, membuat semua karyawan dan kru merasa iri.


“ Ka-kamu… ” gumam Yamuna malu, ia langsung berbalik, dan berjalan cepat masuk ke dalam Perusahaan tanpa memberi jawaban apa pun kepada Cadman.


“ Dasar, ” gumam Cadman gemes melihat tingkah Istrinya.


Cadman masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya meninggalkan Perusahaan menuju Perusahaan miliknya. Sepanjang perjalanan menuju Perusahannya, Cadman terus teringat dengan perbuatannya dengan Yamuna tadi pagi. Cadman masih tidak menyangka jika Yamuna benar-benar sudah bisa menerimanya, dan mau melakukan hal itu bersama-sama. Cadman juga terus berjanji kepada hati, dan dirinya sendiri untuk menjadi pria sekaligus Suami terbaik buat Yamuna. Cadman juga berjanji pada dirinya akan selalu melindungi Yamuna, meski nyawa jadi taruhannya.


1 jam, Cadman sudah berada di parkiran Perusahaan miliknya. Terlihat Chandra sedang berdiri di samping pintu mobil Cadman dengan tatapan serius memandang Cadman.


“Ada apa kamu memandang aku seperti itu?” tanya Cadman datar.


“ Gawat tuan muda, ” ucap Chandra sedikit menggantung.


“ Gawat kenapa? Mari kita ke ruanganku dan bahas di sana, ” ajak Cadman, kakinya melangkah terlebih dahulu baru di susul oleh Chandra.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2