
1 minggu sudah berlalu setelah Yoan memperkenalkan Mia, sebagai calon ibu sambung buat Cadman, dan Yamuna. Tepat hari ini, minggu. Yoan, Mia, Cadman, dan Yamuna, sedang memilih gaun buat acara pernikahan Yoan dan Mia, tepat 3 minggu dari sekarang.
Setelah selesai memilih gaun buat Cadman, Mia, Yamuna, dan Yoan, memutuskan untuk makan siang di sebuah restauran tak jauh dari butik. Cadman, Mia, Yamuna, dan Yoan, sudah masuk ke dalam restauran. Cadman, Mia, Yamuna, dan Yoan, sudah memesan makanan, dan duduk di meja paling sudut, menunggu pesanan datang.
“ Ekh..ekh.. ”
Joryan merasa haus pun mendadak rewel.
“ Kamu susui di sudut saja, pakai kain gendongan untuk menutupinya, ” usul Cadman, sembari merekatkan kain khusus untuk menutupi kita menyusui di tempat umum.
Tak sampai 30 menit, 3 orang pelayan datang membawa pesanan makanan, dan minuman. Meletakkan pesanan mereka di atas meja.
“ Silahkan dinikmati, ” ucap pelayan pria mewakili 2 temannya, sembari melangkah mundur ke belakang, dan pergi.
“ Papa, dan Mia. Kalian berdua makanlah terlebih dahulu, aku akan menunggu Yamuna selesai memberi asi kepada Joryan, ” ucap Cadman mempersilahkan Yoan, dan Mia untuk makan terlebih dahulu.
“ Saya akan menunggu. Tidak enak kalau makan duluan, rasanya kurang hangat, ” tolak Mia lembut.
Yoan mendengar penolakan lembut dari Mia, hatinya mendadak luluh. Gejolak muda sudah lama terkubur di dalam hati, kini kembali hidup. Jantung Yoan tiba-tiba merasa berdebar-debar, menatap Mia terlihat tulus saat berbicara. Alunan suara lembut Mia terus terekam dan tersimpan di otak kecil Yoan. Karena terus memikirkan hal itu, wajah Yoan sampai-sampai memerah, membuat Cadman dan Yamuna, sedari tadi terus melihat, saling menyikut.
“ Lihat, kedua pipi Papa Yoan memerah. Apa yang sedang ia pikirkan, jangan bilang sedang memikirkan hal aneh, ” bisik Yamuna.
“ Iya, aku pikir juga seperti itu. Atau Papa kembali menjadi ABG, ” sahut Cadman ikutan berbisik.
Menyadari jika Yoan terus memandang nya, Mia menolehkan wajahnya, menatap wajah Yoan semakin memerah.
“ Kenapa tuan Yoan terus memandangi saya seperti itu? apa ada kotoran di wajah saya? ” tanya Mia, tangannya mengambil ponsel, menatap wajahnya dari layar kaca ponsel miliknya.
“ Tidak ada kotoran di wajah tante Mia, Papa hanya sedang memandang wajah tante, ” jelas Cadman.
Yoan mendengar hal itu, seluruh wajahnya langsung merah padam seperti kepiting rebus.
“ Cadman, ” panggil Yoan menekan nada suaranya.
“ Iya, apa Papa mau marah? coba saja, kalau marah aku akan membatalkannya, ” ancam Cadman santai.
__ADS_1
“ Tidak marah kok, ” ucap Yoan melunak.
Selesai memberi asi kepada Joryan, Yamuna meletakkan Joryan di tempat tidur dorongan bayi, berada di sisi Cadman.
“ Mari kita makan, ” ajak Yamuna.
“ Iya, kelihatannya makanannya enak, ” sambung Cadman.
"Jangan lupa baca doa dulu sebelum makan,” usul Mia mengingatkan.
Lagi dan lagi, ucapan Mia membuat jantung Yoan berdebar.
Yoan, Cadman, Yamuna, dan Mia pun, membaca doa dalam hati. Setelah itu, mereka menyantap makanan sudah tersaji dan mulai dingin. 1 jam kemudian, Yoan, Mia, Yamuna, dan Cadman, sudah selesai makan. Yoan, Mia, Yamuna, dan Cadman pun beranjak dari kursi mereka, berjalan keluar restauran.
Langkah Yoan, Cadman, Yamuna, dan Mia, terhenti, saat ada seorang wanita menghadang jalan mereka. Wanita itu adalah Subandari.
“ Kalau jodoh itu pasti akan bertemu kembali. Contohnya saat ini, setelah cukup lama dari kejadian itu, kita bertemu kembali. Dan wajah kamu terlihat semakin tampan, dan berkharisma, Cadman, ” ucap Sundari tenang.
Cadman menggenggam tangan kanan Yamuna, “ Abaikan setan yang ada di depan, dan mari kita lanjut jalan, ” ajak Cadman.
Namun, sebelum sampai ke parkiran mobil. Sebelah tangan Yamuna di tahan oleh Subandari dar belakang.
“ Jangan merasa bangga dulu karena kamu bisa memberikan seorang keturuan untuk Cadman. Dan jangan merasa bangga dulu saat ini, karena kamu menjadi satu-satunya wanita yang di miliki Cadman. Kamu harus terus memandang luas ke luar, sadari lah, jika banyak wanita menginginkan Cadman. Wanita muda yang jauh lebih seksi daripada kamu! ” ucap Subandari seperti menyepelekan dandanan Yamuna serba sopan dan tidak pernah terbuka.
Yamuna menghempaskan genggaman tangan Subandari. Yamuna juga melepaskan perlahan genggamana tangan Cadman. Muak mendengar perkataan Subandari, Yamuna berdiri tempat di hadapan Subandari, pandangan liar memandang Subandari dari ujung rambut sampai ujung kuku berhias kutek berwana ungu gelap.
“ Oh, wanita yang ingin mendekati suami ku cirri-cirinya mungkin seperti kamu ya? ” Yamuna mundur satu langkah, tangan dilipat diletakkan di depan dada, “ Aku jadi tidak sabar melihat hal itu. Dan kalau kamu mau mengambil suami ku, ambil saja. Tapi jangan mengambilnya secara diam-diam, ambil langsung di depan mataku, ” sambung Yamuna menantang.
Subandari menjadi kesal, sudut bibir atas menaik, menatap sinis ke Yamuna.
“ Kenapa menatap ku sini seperti itu? tidak terima aku bilang seperti itu. Aku sudah memberi izin loh, tidak mau, mumpung ada kesempatan ini? ” tawar Yamuna terdengar seram.
Merasa Yamuan seperti ingin berkelahi dengan Subandari, Cadman buru-buru memasukkan Joryan ke dalam mobil, dan meletakkannya di car seat, lalu berlari kecil mendekati Yamuna.
“ Yamuna, sudah abaikan saja ucapan wanita ini, ” pinta Cadman lembut, tangannya juga menggenggam tangan Yamuna.
__ADS_1
“ Jika aku terus mengabaikan ucapan wanita ini, maka dirinya akan terus ngelunjak. Dan aku juga belum selesai, katanya wanita ini dia ingin merebut kamu dari ku, maka aku akan mengizinkannya. Silahkan ambil! ” desak Yamuna, tatapan ingin membunuh terus memandang wajah panik Subandari.
Mia menatap dari kejauahan bergidik ngeri melihat tatapan, dan ucapan Yamuna sangat dingin. Mia tidak menyangka jika Yamuna marah bisa seseram ini.
“ Dasar tidak waras! ” gerutu Subandari sembari berbalik badan. Wajah tadi seolah tegar tak takut apa pun berubah menjadi pucat, kedua lututnya menjadi lemas, seolah tidak bisa di gerakkan untuk berjalan. Namun, karena tidak mau berurusan lebih lama lagi dengan Yamuna, Subandari terus berjalan menuju mobil miliknya terparkir tak jauh dari mobil milik Cadman.
“ Sudah, jangan di lawani kalau ada wanita berbicara seperti itu. Sekarang mari kita masuk, ” bujuk Cadman kembali, tangannya menggenggam pergelangan tangan Yamuna.
Yamuna pun menurut, namun, wajah sangarnya berubah menjadi kecut. Yamuna, dan Cadman kini sudah berdiri di samping mobil mereka, tangan Cadman membuka pintu penumpang bagian depan.
“ Pa, dan Mia, kami permisi pamit langsung ke rumah. Kasihan Joryan, terus di bawa keluar dan bertemu dengan orang-orang aneh, ” pamit Cadman.
“ Kami pamit pulang dulu, Ma..Pa, ” pamit Yamuna singkat, lalu masuk ke dalam mobil.
“ Iya, kalian berdua hati-hati. Yamuna sepertinya masih kesal, sebaiknya kamu hibur dia. Dan Papa ingin pesankan kepada kamu, untuk tidak menduakan Yamuna, dan tertarik dengan wanita seperti Subandari, ” pesan Yoan kepada putranya, Cadman.
“ Papa tenang aja, lagian aku juga tidak pernah tertarik dengan wanita seperti itu. Sekarang yang harus di waspadai itu Papa. Awas saja kalau Papa macam-mcam kepada Mia sebelum menikah. Aku tidak akan merestui Papa, dan akan membatalkan pernikahan Papa saat acara sedang berlangsung, ” ancam Cadman kembali.
“ Apaan sih. Tentu saja Papa tidak akan melakukan apa pun kepada Mia. Sekarang Papa mau mengantarnya pulang ke rumah, soalnya ada pertemuan keluar untuk membahas pernikahan kami, ” sahut Yoan beralasan, dan takut akan ancaman Cadman.
“ Terima kasih atas restunya, kamu dan Yamuna, hati-hati di jalan ya, ” sambung Mia lembut.
“ Sama-sama, aku pamit dulu, ” putus Cadman.
Cadman berlari kkecil memutar mobilnya, dan masuk ke dalam mobil. Melihat Yamuna terus memasang wajah cemberut, Cadman mendekatkan wajahnya dan memberi kecupan rinan di pipi Yamuna.
“ Ih…kamu kenapa sih?! ”
“ Nah gini kenapa, dari tadi wajahnya cemberut terus. Membuat aku ingin melahap kamu di sini, ” ucap Cadman sukses membuat Yamuna kembali tersenyum.
“ Habisnya wanita itu menyebalkan, ” gerutu Yamuna.
“ Kamu jangan sebal-sebal, aku tidak mungkin seperti itu. Kamu tenang saja, ” ucap Cadman menyakinkan Yamuna.
Cadman pun menghidupkan mesin mobilnya, memutar arah jalan mereka menuju rumah.
__ADS_1