SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 122. Merepotkan saja


__ADS_3

Hari ini adalah hari ketiga Yasmin pergi pemotretan ke kota 'B', dengan rekan kerjanya. Sore ini juga Yasmin pulang ke kotanya. Sebagai pengantin baru saja menikah, dan sudah harus berpisah karena masalah pekerjaan, tentu saja 3 hari tak bertemu rasanya seperti bertahun-tahun.


Ben sedang kerja menjadi tidak fokus untuk mengerjakan pekerjaan. Ia terus memandang ke jam tangan terus berjalan dan kini sudah menunjukkan pukul 15:45 sore.


Yamuna kebetulan datang ke Perusahaan, di temani oleh Cadman, terus memandang ke ruang kerja milik Ben. Terlihat Ben sedang mondar-mandir, menatap jam di pergelangan tangan kirinya.


" Ben sepertinya mulai bisa menerima Yasmin, " ucap Yamuna pelan, tatapannya mengarah ke ruangan Ben di sebrang ruangan miliknya.


" Emang kemana Yasmin? " tanya Cadman.


" Katanya mengambil job pemotongan di kota 'B' selama 3 hari, dan hari ini adalah hari 3. Ben juga mengatakan Yasmin akan pulang sore ini, tepat pukul 16:15, " sahut Yamuna, matanya melirik ke jam tangan di pergelangan tangan kanannya.


" Kenapa kamu tidak mengizinkan Ben pulang? Aku kasihan melihatnya dari tadi terlihat sangat gelisah, " usul Cadman.


" Aku sengaja, biar rasa rindu di antara mereka berdua semakin besar, dan saat sudah bertemu pastinya mereka akan ....hemmm...indahnya, " sahut Yamuna, pikirannya mulai terbang entah kemana.


"Kamu itu pasti sedang memikirkan hal aneh," gemes Cadman, mencubit hidung mancung Yamuna.


" Duh....sakit tau. Kalau aku jadi pesek gimana? " rengek Yamuna, tangannya mengelus hidung mancung memerah.


" Tidak masalah, aku tetap cinta kamu! " gombal Cadman.


" Malas ah dekat-dekat kamu! "


Cadman menarik Yamuna, membawa Yamuna duduk di atas pangkuannya, tanpa memperdulikan perut buncit Yamuna.


" I-ini kantor loh! "


" Aku tahu, " Cadman mengambil remote tirai, mau menekan tutup tirai, terdengar suara langkah kaki hak tinggi sepatu wanita mendekati ruang kantor Yamuna, dan Ben.


Yamuna turun dari pangkuan Cadman, duduk di sebelah Cadman, ingin bermesraan akhirnya terhenti. Yamuna dan Cadman menatap secara bersama lurus ke koridor depan ruangan Ben.


" Apa kamu menerima tamu? " tanya Cadman.


" Tidak, " sahut Yamuna, kepala menggeleng, pandangan masih lurus ke koridor depan.


Saat langkah semakin dekat, terlihat jelas siapa orang nya. Langkah itu ternyata adalah dari Yasmin.


" Darling.....aku pulang! " teriak Yasmin, mendekati koridor ruangan Ben, Yasmin berlari centil.


Ben terlihat keluar ruangan, raut wajah gelisah berubah menjadi senang saat melihat Istri tercinta berlari ke arahnya. Sampai-sampai Ben tidak menyadari, kedua tangannya sudah mengembang lebar.


Yamuna, dan Cadman hanya jadi penonton dari dalam ruang berdinding kaca.


" Ini kantor milik siapa rupanya? " tanya Cadman.


" Aku, Yamuna Yin, " sahut Yamuna polos.

__ADS_1


" Jadi, kenapa seperti mereka yang memiliki kantor ini? "


" Iya-ya, " Yamuna sudah sadar langsung berdiri, " Daripada kemesraan mereka mengganggu karyawan lain, lebih baik aku suruh pulang saja, " gumam Yamuna.


Yamuna berjalan mendekati pintu ruangan miliknya, mendekati Ben, dan Yasmin.


" Ehem, " dehem Yamuna menyadarkan Yasmin, dan Ben sedang berpelukan.


" Ini adalah kantor, bukan tempat berpacaran atau hotel kresek-kresek, " tegur Yamuna.


Ben mengurai pelukannya, senyum kaku terlihat jelas di wajah tampannya.


" Maaf, nona muda. Sangking rindunya saya dengan Yasmin, sampai-sampai saya lupa kalau ini adalah kantor, " sahut Ben polos.


" Kenapa kamu harus minta maaf! seharusnya sebagai seorang Bos yang baik, kamu harus mengizinkan Ben untuk pulang cepat, agar aku tak menjumpainya ke kantor, " omel Yasmin.


" Mau marah? " tanya Yamuna sinis.


" Nona muda, anu...."


" Ben, sudah sana pulang. Kasihan ulat bulu satu ini pasti sudah tidak tahan lagi, " sela Yamuna, tak lupa menyelipkan ejekan buat Yasmin.


" Jadi ulat bulu buat lakik sendiri 'kan nggak apa, daripada jadi ulat bulu buat lakik orang lain, " sahut Yasmin tak mau kalah.


" Yasmin, " panggil Ben menekan nada suaranya.


Perkataan Yamuna terhenti saat terdengar suara teriakan karyawan lelaki di sepanjang koridor menuju ruangannya.


" Nona muda ...nona muda...."


Mendengar teriakan karyawan lelaki cukup kuat, dan kuatir akan keselamatan Yamuna, Cadman berada di dalam ruangan langsung keluar, berdiri di samping Yamuna.


" Kenapa kamu? " tanya Yamuna kepada karyawan sedang membungkuk di hadapannya.


" Hosh....hosh...di parkiran, ada.....tuan Farran sedang mengamuk, " ucap karyawan lelaki tersebut di sela tarikan nafas lelahnya.


"Terimakasih, kalau gitu buat karyawan shift pagi, kalian boleh pulang, " ucap Yamuna memperbolehkan para karyawan untuk pulang.


Alasan Yamuna memperbolehkan karyawan untuk pulang cepat, padahal 1 jam lagi pulang, adalah Yamuna tidak ingin membuat banyak orang menonton perbuatan Farran.


" Terimakasih, nona muda. Saya pamit dulu, " pamit karyawan lelaki itu.


Karyawan lelaki balik badan, melangkah menuju lift, dan masuk ke dalam lift.


" Mau apa lagi pria itu datang ke sini? " gumam Cadman terdengar kesal.


" Sabar, kamu jangan marah dulu, " bujuk Yamuna lembut, menyejukkan hati Cadman.

__ADS_1


" Baiklah, " sahut Cadman tidak membantah.


" Nona muda. "


" Mari kita lihat! " ajak Yamuna lembut, tapi tegas.


Yamuna, Yasmin, Ben, dan Cadman berjalan bersama menuju lift untuk turun. 5 menit kemudian Yamuna, Ben, Yasmin, dan Cadman sudah berada di bawah.


Yamuna berjalan terlebih dahulu di dampingi Cadman. Baru berjalan beberapa langkah menjauh dari lift, terlihat para karyawan sedang berkumpul, wajah mereka terlihat ketakutan, memandang ke arah pintu masuk Perusahaan.


" Kenapa kalian belum pulang? " tanya Yamuna begitu sampai di dekat para karyawan sedang berkumpul.


" Anu ...nona...lihatlah! " tunjuk resepsionis ke pintu masuk.


Yamuna, Cadman, Ben, dan Yasmin, melihat bersama ke pintu masuk Perusahaan. Terlihat jelas Farran sedang berdiri di bawah teras Perusahaan menghadap pintu masuk. Kedua tangannya memegang pisau, wajahnya terlihat kesal.


" Oh...kalian tenang saja. Biar aku tanya kenapa dia datang ke mari, " ucap Yamuna tenang, seolah tak takut akan bahaya mengancamnya.


" Yamuna, apa kamu tidak melihat dia membawa apa di tangannya? " tanya Cadman cemas.


" Lihat, pisau 'kan? mungkin dia mau masuk masak-masak, " sahut Yamuna tenang.


Kuatir akan keselamatan Yamuna, Ben mulai memerintahkan ke resepsionis untuk menelepon pihak berwajib.


" Kalian tolong hubungi pihak berwajib, " perintah Ben kepada resepsionis.


" Ba-baik, " sahut resepsionis.


" Terimakasih Ben, " puji Yamuna.


" Sudah semestinya, nona muda, " sahut Ben.


Yamuna menggenggam tangan Cadman,


"Mari kita lihat bersama," ajak Yamuna, ia tak ingin melihat Suaminya itu cemas.


"Nona muda, biarkan saya yang mendatangi," ucap Ben tegas.


Tanpa menunggu jawaban Yamuna, Ben melangkahkan kakinya menuju pintu masuk, disusul Yasmin.


" Ben, jangan pergi sendirian, " teriak Yasmin kuatir.


" Yamuna, kamu sebaiknya tunggu di sini, biar aku yang ke sana, " perintah Cadman, lalu ia berlari mengejar Ben.


" Haah .. merepotkan saja, " gumam Yamuna lelah.


Tidak ingin diam saja, Yamuna ikut berjalan menuju ke pintu masuk Perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2