
2 bulan kemudian, setelah pernikahan Yoan, dan Mia. Joryan juga sudah mulai bisa terlungkup, ngoceh-ngoceh dengan bahasa bayi. Namun ada hal aneh menimpa Yamuna selama kurang lebih 1 minggu ini. Yamuna setiap paginya sering terlihat mual-muntah. Nafsu makan berkurang, tubuhnya pun terasa lemas, dan wajahnya menjadi pucat.
Apakah Yamuna hamil?
Cadman cemas akan kesehatan Yamuna, memutuskan untuk mengajak Yamuna pergi ke rumah sakit, sementara Joryan di titipkan ke Bibi Ratna.
30 menit kemudian, mobil di naiki Cadman dan Yamuna sudah sampai di parkiran rumah sakit. Cadman membantu Yamuna untuk berjalan masuk ke dalam rumah sakit, karena kepalanya benar-benar sangat pusing, tubuh juga terasa lemah.
Kasihan dengan keadaan Yamuna, setelah masuk ke dalam rumah sakit, Cadman mengambil kursi roda tersedia di samping pintu masuk.
“ Sayang, duduk di sini, ” pinta Cadman lembut, tangannya menepuk bangku kursi roda.
“ Terimakasih, ” sahut Yamuna sembari mendudukkan dirinya di bangku kursi roda.
Cadman pun mendorong Yamuna menuju pendaftaran.
“ Permisi, apakah dokter sudah datang? ” tanya Cadman sopan.
“ Oh, sudah Pak. Karena pasien baru bapak, bapak bisa langsung masuk tanpa mendaftar. Ruangan pemeriksaan ada di ujung lorong, ” sahut perawat menjaga tempat pendaftaran, tangannya mengarah lurus ke sisi kiri lorong buntu.
“ Terimakasih mbak, ” sahut Cadman.
" Sama-sama, " sahut perawat penjaga tempat pendaftaran.
Cadman kembali mendorong kursi roda Yamuna, menuju ruang pemeriksaan. Langkah kaki mereka pun terhenti saat di depan ruang pemeriksaan. Cadman mengetuk pintu.
Tok tok
“ Masuk! ” sahut seorang wanita dari dalam ruangan.
Cadman pun membuka pintu, mendorong kembali kursi roda Yamuna masuk ke dalam ruangan, dan berhenti di depan meja bu Dokter.
“ Kenapa istrinya, Pak? ” tanya bu Dokter lembut, pandangan menatap lurus ke Yamuna duduk di kursi roda, tangannya terlihat memijat lembut pelipisnya.
“ Tidak tahu bu Dokter. Sudah ada 1 minggu istri ku, mual muntah, dan kadang merasa pusing teramat berat. Tolong di periksa ya, bu Dokter, aku takut istri ku kenapa-kenapa nantinya, ” pinta Cadman sopan.
“ Kalau gitu mari berbaring di ranjang sana, ” ajak Bu Dokter tangannya mengarah ke ranjang, sembari berdiri berjalan mengarah ke ranjang terletak di sisi kiri dari meja.
“ Aku bantu, ” Cadman membantu Yamuna untuk berdiri, berjalan menuju ranjang pemeriksaan, dan merebahkan tubuh Yamuna.
“Bapak silahkan duduk kembali, ” pinta bu Dokter, tangannya menutup tirai ranjang pemeriksaan.
“ Baik bu Dokter, ” sahut Cadman patuh, ia balik badan, berjalan menuju kursi di depan meja bu Dokter dan duduk kembali ke kursinya.
10 menit kemudian tirai di buka, Yamuna di bantu turun perlahan oleh bu Dokter. Melihat Yamuna seperti kesulitan berjalan, Cadman langsung bergerak cepat untuk membantu Yamuna.
“ Kamu seharusnya tunggu aku, " omel Cadman lembut, tangannya memegang kedua lengan Yamuna, membantunya duduk kembali ke kursi roda.
Bu Dokter mengulas senyum tipis, pandangannya pun tertuju pada Cadman terlihat tulus merawat dan membantu Yamuna.
__ADS_1
“ Bu Dokter, istri ku sakit apa? ” tanya Cadman cemas.
“ Tidak sakit, istri bapak malah kini sedang hamil. Usia kandungannya sudah memasuki minggu keempat, jadi wajar saja bawaannya seperti itu, ” sahut bu Dokter.
Yamuna dan Cadman spontan terkejut, kedua bola mata mereka membulat sempurna menatap wajah tenang bu Dokter.
“ Apa? Bu dokter tidak salah? ” tanya Cadman tak percaya.
" Bagaimana bisa, kami melakukan nya sedang tidak masa subur. Da..dan aku juga masih memiliki bayi 4 bulan, masih menyusu pula. Bu..ibu dokter pasti salah mengecek. Co-coba cek kembali, ” sambung Yamuna gugup dan cemas.
“ Hal itu sudah tidak tahu lagi, dan kenapa saya yang salah. Itu jelas-jelas benar, jika bapak-ibu tidak percaya bisa kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan USG. Gimana? ” saran bu dokter.
“ Mari, ” sahut Cadman dengan cepat.
Cadman, Yamuna, dan bu Dokter, keluar dari ruang pemeriksaan menuju ruang USG. Mereka pun masuk ke dalam, memeriksa kandungan Yamuna.
30 menit kemudian, Yamuna, Cadman, bu Dokter keluar dari ruang USG. Wajah Cadman terlihat sendu, begitu juga dengan Yamuna.
Bu Dokter, Yamuna, dan Cadman, berjalan kembali ke ruang pemeriksaan untuk mengambil resep vitamin buat Yamuna, dan bayi di dalam kandungannya.
Setelah mengambil kertas berisi resep di buat oleh bu Dokter. Cadman dan Yamuna pamit pulang, wajah mereka masih terlihat sangat lesu. Rasa tidak percaya jika Yamuna hamil lagi, membuat Cadman sedikit pusing.
Rasa pusing, lemas, dan mual, terjadi pada Yamuna untuk sementara waktu hilang. Yamuna berjalan dengan cepat keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobil.
“ Yamuna…Yamuna, ” panggil Cadman, cemas melihat Yamuna jalan dengan cepat.
“ Aku juga sudah mengusahakan agar tidak kebobolan. Tapi kalau sudah rezeki, mau gimana lagi! "
Langkah kaki Cadman dan Yamuna terhenti di samping mobil mereka. Cadman berdiri di hadapan Yamuna, menatap wajah pucat Yamuna terlihat lemah.
“ Maafkan aku, ” Cadman mengambil tangan Yamuna, menatap penuh cinta wajah Yamuna terlihat pucat, sedikit berkeringat, “ Sudah jangan marah lagi. Aku janji akan menemani, dan membantu kamu untuk merawat Joryan, ” Cadman membuka pintu, “ Masuk dulu, wajah kamu terlihat sangat pucat, ” sambung Cadman menyuruh Yamuna masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang samping kursi kemudi.
Amarah Yamuna pun terhenti begitu saja, Yamuna menurut, ia duduk di kursi kemudi, menyandarkan tubuhnya ke badan kursi, sudah di buat sedikit mundur ke belakang oleh Cadman.
“ Kamu pasti sangat pusing, setelah kita tebus resep obat. Kita langsung pulang ke rumah. Kamu bisa tahan duduk sampai ke apotek dan kembali pulang ke rumah 'kan? ” tanya Cadman cemas.
Yamuna menjawab Cadman hanya dengan menggeleng.
Cadman pun segera menutup pintu mobil mereka, berjalan menuju pintu kursi kemudi. Namun, langkah Cadman terhenti di samping pintu. Pandangannya menatap lurus ke mobil berwarna putih terparkir di samping mobilnya. Mobil putih mirip dengan mobil Papanya, Yoan.
“ Apa aku tidak salah lihat? Bukannya ini mobil Papa? ” gumam Cadman, pandangannya masih terus mengarah ke pintu mobil.
Benar saja, saat pintu mobil kemudi terbuka, terlihat Yoan keluar, berjalan dengan terburu-buru menuju pintu penumpang. Membuka pintu buat Mia. Cadman penasaran pun menegur Yoan.
“ Papa! ” panggil Cadman.
Yoan tadi hendak berjalan dengan merangkul Mia, kini terhenti. Wajah Yoan terlihat terkejut melihat Cadman ada di rumah sakit.
Penasaran apa yang terjadi dengan Mia, Cadman memutuskan untuk mendekat, berdiri di samping Yoan.
__ADS_1
“ Mia kenapa, Pa? ” tanya Cadman kuatir dengan ibu sambungnya terlihat pucat.
“ Papa nggak tahu, sebaiknya Papa periksa dulu Mia ke dalam. Kamu tunggu lah Papa di sini! ” pinta Yoan terburu-buru.
Yoan pun membantu Mia, berjalan menuju rumah sakit. Cadman pun memutuskan untuk kembali ke mobil, menunggu Yoan di dalam mobil.
“ Kamu tadi lihat Papa dan Mia masuk ke dalam ‘kan? ” tanya Cadman memastikan penglihatannya.
“ Iya, kenapa dengan tante Mia? ” Yamuna balik bertanya karena ikut cemas setelah tadi ia memperhatikan wajah pucat Mia dari dalam mobil.
“ Tidak tahu, kita tunggu sampai Papa keluar, ” sahut Cadman, pandangan masih lurus ke pintu masuk rumah sakit.
“ Jangan bilang kalau tante Mia hamil, ” ceplos Yamuna.
“ Tidak mungkin! ” celetuk Cadman.
“ Kita lihat saja, ” ucap Yamuna santai.
30 menit sudah menunggu, Yoan dan Mia, terlihat keluar dari pintu rumah sakit. Wajah Yoan terlihat beseri-seri, tidak seperti awal datang ke rumah sakit. Hal itu membuat Cadman menegakan duduknya, pandangan terus mengarah pada Yoan dan Mia berjalan menuju parkiran mobil mereka.
Setelah Yoan sudah sampai di parkiran mobil, dan membantu Mia masuk ke dalam mobil. Cadman dengan cepat keluar dari dalam mobil, menunggu Yoan di samping mobilnya. Tak lama kemudian Yoan berjalan menuju pintu mobil kemudi, di mana Cadman sedang berdiri, menunggu Yoan.
“ Pa, apa hasilnya? ” tanya Cadman cemas.
Yoan hanya mengulas senyum tipis, tangannya menepuk bahu Cadman, “ Selamat, kamu akan mendapatkan adik baru, ” ucap Yoan memberitahu hasil dari pemeriksaan.
“ Apa?! Ba-bagaimana mungkin Papa bisa memiliki anak lagi? ”
" Kenapa tidak mungkin. Kamu juga ngapain ke rumah sakit? " Yoan balik bertanya.
" Ya...Yamuna hamil lagi, " sahut Cadman pelan, kepala tertunduk malu.
" Ha ha ha...memang musim berarti. Kalau gitu hati-hati di jalan, Papa mau langsung pulang karena Mia tidak tahan duduk lama, " pamit Yoan.
" Hem, " angguk Cadman.
Yoan kembali masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit, dan Cadman setelah membunyikan klakson mobilnya.
Tak lama Cadman juga masuk, duduk di bangku kursi kemudi. Cadman terus meraup wajahnya seakan masih tidak percaya.
" Kenapa? " tanya Yamuna penasaran.
" Mia hamil, " sahut Cadman pelan.
" Tuh kan benar. Kalau gitu bagus dong, berarti kamu akan memiliki adek, " ucap Yamuna.
" Hem. Sebaiknya kita langsung ke apotek dulu. "
Cadman menghidupkan mesin mobilnya, melajukan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit menuju apotek untuk menebus obat Yamuna.
__ADS_1