
Mobil di kendarai Yamuna, dan Cadman sudah terparkir di depan teras rumah. Dan benar saja, mobil milik Yoan sudah terparkir lebih dahulu di garasi mobil. Yamuna, dan Cadman segera turun dari mobil, berjalan memasuki rumah. Sesampainya di dalam betapa terkejutnya mereka saat melihat Yoan datang dengan membawa mainan bayi masih belum bisa di mainkan oleh Joryan.
“ Assalamu’alaikum, ” sapa salam Yamuna setelah memasuki ruang tamu.
Yoan sedang menyetel mainan mobil-mobilan tersentak. Segera menoleh ke belakang, dan membalas salam Yamuna, “ Walaikumsalam. Sudah pulang, Papa kemarin ‘kan baru dari KL. Papa lihat ada mainan bagus banget di sana, katanya mainan keluaran baru. Jadi Papa beli aja buat Joryan. Gimana, bagus? ” tanya Yoan menunjukkan mobil-mobilan kepada Yamuna.
“ Bagus Pa, tapi Joryan ‘kan masih bayi. Umurnya saja baru memasuki 2 bulan lebih. Gimana cara mainnya? ” Yamuna balik bertanya karena ia bingung melihat sikap mertuanya satu ini.
“ Caranya seperti ini, ” Yoan naik dan duduk ke dalam mobil-mobilan, kedua tangannya menepuk pahanya, “ Dan Joryan akan Papa pangku seperti ini. Kami keliling rumah, dan taman dengan cara seperti ini, ” sambung Yoan menjelaskan.
“ Pa, tapi Joryan masih belum bisa duduk, ” sambung Cadman kembali menjelaskan dengan menahan kesal.
“ Pakai kain gendong. Di gendong dong. Gimana sih kalian berdua jadi kedua orang tua bodoh banget! ” ome Yoan.
“ Papa kecepatan beli mainan seperti ini. Sudah simpan saja! ” ketus Cadman sembari melangkah pergi.
Rasa senang Yoan tersirat di wajahnya kini meredup, kepala tertunduk sedih. Yamuna melihat mertuanya menjadi sedih berjalan mendekat, dan berdiri di samping Yoan masih duduk di dalam mobil-mobilan.
“ Pa…jangan bersedih, Cadman tidak marah. Mungkin Cadman berpikir jika Papa membeli barang yang belum sesuai dengan usia Joryan, sayang nggak terpakai. Aku tahu Papa sangat ingin menyenangkan Joryan, tapi Joryan ‘kan masih bayi. Sedangkan barang Papa beli untuk usia 1 tahun ke atas. Bukannya itu akan sangat lama bisa di pakai oleh Joryan. Gimana kalau kita simpan saja di dalam gudang, entar kalau Joryan sudah pandai duduk, aku keluarin dan bermain bersama, ” Yamuna mengelus bahu Yoan, “Papa sudah makan?” sambung Yamuna mencoba melenturkan kesedihan Yoan.
“ Kamu benar juga, ” Yoan berdiri, “ Mungkin Papa terlalu berlebihan kepada Joryan. Maklum lah dulu Papa tidak sempat melakukan seperti ini kepada Cadman. Papa terlalu sibuk dengan bisnis Papa yang baru berkembang. Jadi, Papa ingin membalas semua waktu yang terbuang sia-sia itu dengan menyenangkan Joryan, ” Yoan mengelus puncak kepala Joryan memakai topi beruang, “ Bukankah begitu sang penguasa kecil. Calon penerus ku! ” sambung Yoan, senyum manis terpancar saat menatap wajah Joryan sedang tertidur lelap.
“ Iya, terimakasih ya Kakek, ” sahut Yamuna mewakili Joryan. Yamuna menatap wajah ceria Yoan, “ Papa sudah makan? ” tanya Yamuna sekali lagi.
“ Belum, kamu mau makan? Kalau mau makan biar Papa siapkan makanan buat kamu, dan Cadman, ” Yoan melirik ke jam tangan di pergelangan tangan kirinya, “Kebetulan sekali sudah jam 11:30 siang. Papa ke belakang dulu,” pamit Yoan.
Yoan melangkah pergi meninggalkan Yamuna, dan menuju ke dapur untuk membantu Bibi Ratna meracik makan buat makan siang. Baru saja ke dapur, Yoan kembali ke ruang tamu. Dimana Yamuna sedang duduk di ruang tamu, dengan Joryan diletakkan di dalam ayunan listrik.
“ Loh, kenapa Papa balik lagi? ” tanya Yamuna menatap kedatangan Yoan.
“ Rupanya Bibi sudah memasak semuanya, dan kini tinggal menyajikannya di ruang makan, ” sahut Yoan sembari duduk di sofa, sebelah Yamuna.
“ Seharusnya Papa juga tidak perlu memasak. Papa ‘kan habis pulang, pasti Papa capek. ”
“ Rasa lelah Papa sudah hilang setelah melihat Joryan, ” sahut Yoan sembari menyandarkan tubuhnya di badan kursi.
“ Papa tidur di sini? ” tanya Yamuna, biasa Yoan sering tidur di rumah mereka kalau libur atau tidak ada pekerjaan.
“ Tidak, soalnya jam 03:00 sore, Papa akan berangkat kembali ke luar kota. Jadi lain kali saja Papa menginap di sini, ” Yoan duduk tegak, menatap serius wajah Yamuna, “Gimana kabar dari pihak mantan mertua, berserta anak-menantunya?” sambung Yoan ketika mengingat kejadian buruk menimpa Yamuna 2 bulan lalu disebabkan oleh Farran, mantan suaminya.
“ Cadman meminta pihak berwajib mengirim mereka ke salah satu tempat dimana akan membuat mereka menyadari semua perbuatan mereka, dan jera. Soal Dara….kata Chandra dia sudah berakhir di Neraka karena sudah mencuri uang, dan tidak mampu membayar nya, ” jelas Yamuna.
“ Baguslah, Papa harap sudah tidak ada lagi orang yang mengusik ketenangan kamu! ”
__ADS_1
“ Kalau tentang hal itu kita tidak bisa menjamin Pa. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap bersikap biasa saja, dan baik kepada orang yang membutuhkan kita, ” sahut Yamuna tenang.
“ Kamu benar juga, ” angguk Yoan.
Tak berapa lama Bibi Ratna terlihat berjalan menuju ruang tamu, berdiri di samping Yamuna.
“ Non, makanannya sudah siap, ” ucap Bibi Ratna.
“ Kalau gitu mari kita makan. Tolong panggilkan Cadman di atas ya, Bi, ” pinta Yamuna lembut.
“ Baik non, ” sahut Bibi sembari balik badan, berjalan menuju kamar milik Yamuna berada di lantai 2.
Yamuna berdiri, “ Ayo Pa, ” ajak Yamuna kepada Yoan.
“ Joryan tidak di bawa? ” tanya Yoan, menatap Joryan masih tidur di dalam ayunan.
“ Bawa. Ayunan nya tinggal kita dorong saja,” sahut Yamuna, ia jongkok, tangannya membuka tuas pengganjal di roda dorong ayunan milik Joryan.
“ Biar Papa yang dorong, ” sambung Yoan mengambil alih pegangan tangan Yamuna di tiang besi ayunan.
Yoan dan Yamuna pun berjalan bersama menuju ruang makan. Tak lama Cadman dan Bibi Ratna datang.
“ Sini biar aku saja! ” ketus Cadman mengambil alih dorongan tangan Yoan. Meski ia sedang kesal dengan Yoan, tapi dirinya tetap tidak tega melihat Yoan.
Yoan, Yamuna, Cadman, dan Bibi Ratna, menikmati santap makan siang mereka di ruang tamu.
.
.
Chandra dan Geulis sedang menikmati santap makan siang. Namun, santap makan siang terganggu oleh bunyi bel rumah.
Ding dong!
“Ada tamu bang, sebaiknya Geulis buka dulu,” ucap Geulis, beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumah.
Geulis membuka pintu rumah, terlihat di depan pintu rumah seorang wanita cantik dengan semua lekuk tubuh dan dua gunung kembar terlihat jelas. Geulis baru pertama melihat wanita cantik seperti itu tercengang, terdiam di depan pintu rumah.
“ Ada apa lihat-lihat? Nggak pernah lihat wanita cantik apa?! ” ketus wanita itu, tangannya mendorong Geulis, “ Awas! Menghalangi saja! ” sambung wanita tersebut, kakinya berjalan masuk ke rumah.
Tak lama terdengar suara Chandra memasuki ruang tamu.
“ Dek…siapa yang datang? ” tanya Chandra lembut.
__ADS_1
Wanita cantik tadi sejenak terdiam, menatap sinis ke Geulis, ‘ Apa aku tidak salah dengar tadi Chandra memanggil wanita ini dengan sebutan adik. Siapa gadis lugu dan cupu ini? apa dia wanita tempat pelampiasan Chandra yang baru. Tapi kenapa memilih wanita lugu, dan kampungan seperti ini!’
“ View ,” panggil Chandra setelah sampai di ruang tamu.
“ Chandra…” View berlari kecil, kedua tangan mengembang, memeluk Chandra, dan menciumi wajah Chandra, “ Aku sangat merindukan kamu, baby. Apa kamu tidak merindukan aku? ” tanya View melepaskan pelukannya.
Geulis melihat itu hanya terdiam, tangannya menutup mulutnya, “Astaghfirullah al-adzim,” Geulis mendekati Chandra dan View, berdiri di samping Chandra, “ Ke-kenapa tadi abang membiarkan wanita ini menciumi abang? Itu tidak boleh, dosa bang! ” nasehat Geulis dengan polosnya.
Tak terima dengan ocehan Geulis, View mendorong Geulis, “ Hei, gadis kampung. Apa urusannya sama kamu! ” hardik View.
“ Tidak ada, tapi perbuatan tadi di larang oleh agama. Apa Kakak ini tidak takut masuk Neraka? ” tanya Geulis dengan polos.
Chandra melihat kepolosan Geulis hanya tersenyum.
“ Alah…bicara dosa kamu. Jangan sok suci lah, kamu juga pasti sudah sering tidur dengan Chandra ‘kan? Ngaku saja! ”
“ Geulis nggak pernah tidur dengan abang Chandra. Tapi kalau tidur di kamar ya, sering. Hampir setiap malam, ” sahut Geulis kembali membuat Chandra tertawa pelan.
“ Hem..nggak usah sok polos kamu! Sudah berapa lama kamu menjadi pemuas Chandra, dan sudah berapa banyak kamu di bayar oleh Chandra?! ”
Mendengar ucapan kasar dari View, Chandra sudah tidak bisa membiarkannya lagi. Chandra menggenggam pergelangan tangan View, dan membawanya masuk ke dalam kamar miliknya berada di lantai atas.
“ Kenapa mereka pergi? Maksudnya apa…tapi ya sudahlah, Geulis lanjut makan dulu. Soalnya sayang nasinya mubazir, ” gumam Geulis, ia kembali melangkahkan kedua kakinya menuju ruang makan.
Sementara di dalam kamar Chandra.
“ Apa maksud dari ucapan kamu. Geulis tidak serendah itu, saya dan dia juga tidak ada hubungan apa pun, ” celetuk Chandra, pandangannya menatap lurus ke View berada di depannya.
“ Aku tahu, kalau aku bukan wanita satu-satunya yang pernah tidur dengan kamu sampai saat ini. Tapi melihat kamu dengan wanita lain, membuat aku…”
Chandra segera menghentikan ucapan View dengan memberinya ciuman. Setelah itu melepaskannya.
“ Dan seharusnya kamu juga sadar. Wanita seperti kamu tidak berhak mengatur hidup seorang lelaki seperti saya! ” tegas Chandra dingin.
“ Chandra, aku tadi hanya….”
“ Hanya ingin mampir dan melepaskan hasrat. Itu maksud kamu? ” tanya Chandra, ia mendorong tubuh View, membuat View menyudut di lemari pendek.
Chandra pun mulai menciumi View, membuat ciuman itu semakin panas dan mereka juga saling membuka baju bagian atas. Saat Chandra masih memakai celana, dan ingin membuka gesper celana. Pintu kamar terbuka, terlihat Geulis berdiri dengan mulut menganga, kedua tangan menutup bola matanya. Begitu juga dengan Chandra dan View, menatap kaget ke Geulis.
“ Ya Allah, ampuni lah mataku, ” Geulis kembali menutup pintu, dan berteriak, “Abang, silahkan makan, dan bawa teman abang makan sebelum makanannya dingin," sambung Geulis, ia berlari dan menutup pintu kamar Chandra.
Chandra menggeleng, tangannya kembali memasang gesper, dan memakai baju kemejanya.
__ADS_1
“ Kenapa tidak jadi melakukannya? ” tanya View.
“ Di rumah ku ada Malaikat. Sebaiknya kita melakukannya di luar, sekarang kamu pakai baju dan pulanglah! ” tegas Chandra memberi perintah.