
Cadman keluar kamar mengejar Yamuna, dan Yoan, sudah berada di lantai.
“ Pa..Yamuna…kalian kenapa berduaan naik ke atas? ” tanya Cadman curiga.
“ Mau bulan madu. Kenapa? ” tanya Yoan balik, bergurau dengan anaknya.
Cadman langsung melangkah cepat menaiki anak tangga. Sesampainya di atas, Cadman berdiri di samping Yamuna, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Yamuna. Tatapan sinis mengarah pada Yoan, “ Pa..dia ini Istriku. Jangan macam-macam Papa, ya! ” hardik Cadman terdengar lucu saat cemburu kepada Papanya sendiri.
Yamuna hanya diam dan bingung melihat tingkah laku Papa dan anak. Ternyata di balik sikap dingin, dan datar mereka kepada orang lain. Yoan dan Cadman memiliki pribadi lembut dan suka bercanda satu-sama lain.
Yoan berbalik, “ Iya deh, jangan lupa kasih Papa, cucu ya. Soalnya Papa bosan nggak ada mainan di rumah, ” goda Yoan, wajah melirik ke belakang, matanya sebelah menyipit kepada Cadman.
Cadman langsung menutup kedua telinga Yamuna, dan memutar badan Yamuna, “Nggak usah dengar. Papa memang seperti itu. Sekarang mari kita masuk ke kamar…eh! Tunggu dulu. Kenapa kita harus masuk kamar. Aku, dan kamu ‘kan mau kerja, lagian mau ngapain juga kita di kamar saat kamu masih dalam nifas,” ucap Cadman keceplosan.
“ Aku nggak mau pergi ke kantor ah, apa kamu lupa tadi banya wartawan memenuhi halaman Perusahaanku. Malas banget aku menghadapi wartawan-wartawan seperti itu, ” sahut Yamuna mengingatkan Cadman kembali tentang wartawan memenuhi halaman Perusahaannya tadi pagi.
“ Tenang saja, Papa sudah membereskan semuanya. Kalau kamu mau ke kantor, pergi saja. Jika ada wartawan yang bertanya tentang status kamu dengan Cadman, bilang saja kalian sudah menikah. Tunjukkan buku nikah kalian, ” saran Yoan, kedua tangannya menunjukan buku nikah milik Yamuna, dan Cadman.
“ Benar juga, kalau gitu aku harus kembali ke kantor. Soalnya Ben sedang berlibur, dan sudah pasti banyak pekerjaan yang sedang menumpuk harus segera aku selesaikan sebelum akhir tahun, ” jelas Yamuna teringat dengan dokumen akhir tahun harus segera selesai secepatnya
.
“ Aku antar ya? ” tawar Cadman.
__ADS_1
“ Iya, ” sahut Yamuna. Yamuna berajalan ke arah Yoan, tangannya mengambil tangan kanan Yoan, dan mencium punggung tangannya, “ Pa, kami berangkat dulu. Tapi aku tidak janji akan pulang ke rumah ini, karena aku punya rumah sendiri, dan itu adalah peninggalan mendiang almarhum Ayah, ” jelas Yamuna tak ingin meninggalkan kediaman rumah mendiang Ayah, Jordan karena banyak kenangan indah terukir bersamanya di dalam.
“ Kamu tidak perlu kuatir, aku sudah mengerti tentang hal itu, ” sahut Yoan, bola matanya beralih pada Cadman, “ Yang perlu mengalah itu adalah Cadman, ” sambung Yoan menyindir Cadman.
“ Iya, rencana aku memang akan pindah dari Apartemen ke rumah Yamuna, ” sahut Cadman langsung mengerti tujuan Yoan.
Lagian sekarang mereka sudah menikah, dan sudah memang seharusnya tinggal bersama.
Melihat Yamuan mencium tangan Yoan, Cadman juga ikut mengambil dan mencium tangan Yoan. Hal itu membuat Yoan membulatkan kedua bola matanya, semenjak Cadman memulai menjalani hidup mandiri, Cadman tidak pernah lagi mencium tangan Yoan.
“ Pa, aku pergi dulu. Papa hati-hati di rumah, ya. Kalau tuan Andreas datang kembali dengan menuntut ini dan itu, Papa segera hubungi aku! ” tegas Cadman memberi pesan untuk waspada kepada Andreas, dan Yasmin.
“ Kamu tenang saja, lagian kamu tadi sudah membantu Papa untuk membayarkan hutang-hutang itu kepada Andreas. Sekarang, Papa berhutang kepada kamu, Papa janji. Kalau Perusahaan Papa sudah stabil Papa akan mengembalikan uang kamu, ” ucap Yoan berterimakasih kepada Cadman karena sudah melunasi hutangnya.
“ Apaan sih Pa. Papa itu adalah orang tua ku, bukan orang lain. Lagian bisnis makanan kucing belakangan ini berkembang pesat. Jadi uang segitu bagiku sangatlah kecil, ” Cadman melirik ke Yamuna, “ Tapi, di balik itu semua ada campur tangan Yamuna. Gara-gara Yamuna mempromosikan prodak makanan kucing ku, jadi banyak Cat Lover's beralih ke prodak kami, ” sambung Cadman memuji hasil iklan bagus dari Perusahaan Yamuna.
“ Ha ha ha…kalian ini malah saling melempar pujian. Sudah-sudah, sebaiknya kalian kembali bekerja, ” usir Yoan, matanya melirik ke jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 10:30 pagi.
“ Kalau gitu kami pergi dulu, Pa, ” pamit Yamuna, dan Cadman serentak.
“ Ya, hati-hati di jalan. Selalu rukun di dalam rumah tangga, dan jangan saling menyembunyikan di belakang. Lebih baik saling jujur, meski jujur itu adalah hal yang paling menyakitkan. Jika ada perdebatan jangan langsung minta berpisah, ingat perjuangan kalian saat ingin menikah dan bersatu tidaklah semuda mengatakan kata ‘pisah’, ” jelas Yoan mengingatkan Yamuna, dan Cadman tentang menjalani rumah tangga.
“ Baik Pa, terimakasih atas sarannya, ” sahut Yamuna.
__ADS_1
“ Pa, kami berangkat dulu, ” ucap Cadman berpamitan sekali lagi.
“ Hati-hati, ” sahut Yoan.
Cadman dan Yamuna melangkah bersamaan menuruni anak tangga. Sedangkan Yoan menatap kepergian menantu, dan putra kesayangannya. Tak terasa air matanya menitik saat melihat sifat, dan sikap Cadman berubah drastic dengan cepat saat bersama Yamuna. Jika diingat-ingat sewaktu Cadman akan di jodohkan dengan Yasmin karena masalah hutang. Sikap dan sifat Cadman berubah drastis menjadi kasar, dan tidak perduli kepada Yoan. Namun, Cadman tidak bisa menolak perjodohan itu, karena dirinya dulu belum memiliki uang jaminan untuk membayar hutang kepada Andreas. Jadi mau tidak mau Cadman menerima perjodohan itu.
Yoan menarik nafas lega, tangannya menyeka kasar air mata di pipinya, “ Akhirnya aku bisa melihat Cadman bahagia kembali, setelah kepergian kamu, Istriku, ” gumam Yoan.
.
.
💫Di dalam dalam💫
“ Yamuna, kenapa kamu di belakang? Aku bukan supir kamu! ” ucap Cadman menegur Yamuna karena duduk di bangku penumpang.
“ Maaf, aku belum terbiasa duduk dengan pria lain, selain mendiang Ayah, ” sahut Yamuna santai.
“ Pindah! Atau kamu mau aku hukum? ” tekan Cadman.
“ Kenapa kamu harus menghukum aku. Aku ‘kan bukan anak kecil? ” tanya Yamuna polos.
“ Sudahlah terserah kamu saja, payah jika berdebat dengan wanita, ” gerutu Cadman pelan. Tangannya memutar setir kemudi keluar dari pekarangan rumah Yoan.
__ADS_1
Mobil Cadman dan Yamuna kini sudah melaju meninggalkan lingkungan rumah Yoan. Sesekali Cadman melirik Yamuna dari belakang, segaris senyum terukir di wajah tampannya, saat mengingat jika wanita yang ia inginkan sudah menjadi miliknya seutuhnya. Meski saat mendapatkan Yamuna, Yamuna dalam kondisi janda. Bukan gadis lugu, polos, dan cengeng seperti 4 tahun lalu. Waktu pertama kali ia bertemu dengan Yamuna.
...Bersambung ...