
Sesuai dengan perjanjian Cadman, tepat pukul 17:00 sore, mobil Cadman sudah terparkir di depan teras perusahaan. Cadman berdiri di samping mobil, menyandarkan tubuhnya di badan mobil, menunggu Istri tercinta belum juga keluar dari dalam. Membuat Cadman menjadi bahan pusat perhatian. 5 menit kemudian, terlihatlah Yamuna keluar bersama denan Ben dari pintu Perusahaan.
Cadman langsung menegakkan tubuhnya, tangannya segera membuka pintu penumpang bagian depan. Bibirnya tersenyum saat melihat Yamuna berlari kecil ke arahnya.
“ Kamu sudah menunggu lama? ” tanya Yamuna, berdiri di depan Cadman.
“ Tidak, aku baru saja datang, ” sahut Cadman berbohong. Tangannya mengulur ke dalam, “Cepat masuk, kali ini aku akan membuat makanan spesial buat kamu,” sambung Cadman mengajak Yamuna segera masuk ke dalam.
“ Kalau gitu pas sekali, perut ku juga sepertinya sedang terasa lapar, ” ucap Yamuna, tangannya mengelus perutnya. Detik kemudian Yamuna naik, dan sudah duduk di bangku penumpang bagian depan.
Setelah membantu Yamuna memasang seatbelt, Cadman menutup pintu, kakinya berlari kecil, masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi kemudi.
“ Barang-barang kamu tidak ada yang ketinggalan lagi, ‘kan? ” tanya Cadman mengingatkan Yamuna sebelum mobil mereka bergerak meninggalkan perusahaan. Yamuna.
“ Tidak, ” sahut Yamuna menggeleng.
“ Baiklah, aku akan melajukan mobil ini, ” ucap Cadman, ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan Perusahaan Yamuna.
Mobil dikendarai Yamuna, dan Cadman masih terus melaju. Karena jarak rumah dan Perusahaan tidak terlalu jauh, akhirnya mobil Yamuna, dan Cadman sudah tiba di garasi mobil. Cadman segera turun, lalu ia berlari kecil membuka pintu Yamuna.
“ Nanti aku temani kamu masak ya, ” pinta Yamuna saat sudah turun dari mobil.
“ Tidak perlu, biarkan aku yang melayani kamu. Dan tugas kamu hanya melayani aku di atas ranjang, ” tolak Cadman, sedikit menggoda Yamuna.
Yamuna tertunduk, kedua tangannya diletakkan di depan perutnya, dan menggenggam erat bajunya, lalu bertanya, “Apa kamu serius ingin melakukan hal itu kepadaku? bukannya aku pernah di…” ucapan Yamuna terhenti saat Cadman meletakkan jari telunjuknya di bibir Yamuna.
“ Jangan katakan itu lagi. Itu hanya sebuah mimpi buruk, dan aku adalah mimpi yang nyata bagi-mu. Istriku, biarkan aku membersihkan miliknya yang pernah menempel di tubuh kamu. Sehingga kamu lupa bagaimana kejadian waktu itu, ” ucap Cadman terdengar tulus.
Mendengar perkataan tulus dari Cadman, air mata kekecewaan sukses menetes jatuh membasahi kedua pipi Yamuna. Lalu Cadman dengan cepat menghapus air mata dari kedua pipi indah Yamuna, dan memberikan kecupan di dahi Yamuna.
__ADS_1
“ Yamuna, mari kita masuk, ” ajak Cadman, ia menggenggam erat tangan kanan Yamuna, tak lupa senyum tulus ia berikan untuk Istrinya.
Yamuna mengangguk, “ Mari, ” ucap Yamuna menerima ajakan Cadman.
Cadman dan Yamuna kini berjalan meninggalkan garasi mobil, menuju rumah, dan masuk ke dalam rumah. Kini langkah kaki Yamuna, dan Cadman terhenti di ruang dapur
.
“ Yamuna, kamu duduk dulu di sini, ” pinta Cadman, menarik kursi makan kecil berada di dapur.
“ Terimakasih, ” ucap Yamuna, ia duduk di kursi sudah disediakan Cadman.
Cadman berbalik badan, kakinya melangkah mendekati lemari kulkas, mengambil tempe, teri, kangkung, dan beberapa bahan pelengkap lainnya. Tak ingin mengotori baju kerjanya, Cadman mengambil celemek, dan memasangkannya ke tubuhnya.
‘ Entah kenapa, setiap kali aku memandang Cadman, kedua mataku rasanya tidak ingin berpaling darinya. Aku seperti terkena sihir cinta, dan perlakuan lembut yang selalu dia berikan kepadaku. Dulu, setelah kepergian Ayah, dan aku menikah dengan pria yang salah, aku pikir kehidupan bahagia di Dunia ini sudah tidak ada lagi. Aku pikir kehidupan bahagia itu sudah pergi bersama terkuburnya jasad Ayah. Ternyata, aku salah. Kehidupan bahagia itu masih ada, dan kini sedang aku rasakan bersama dengan orang yang tepat, ’ batin Yamuna, bola mata indahnya masih memandang lurus ke Cadman sedang menggoreng tempe.
“ Heem…aromanya sangat nikmat, ” puji Yamuna, tangannya menarik asap masakan untuk ia hirup.
“Kamu suka masakan sederhana seperti ini?” tanya Cadman.
“ Bagiku tidak ada masakan yang sederhana. Semua masakan itu Istimewa, apalagi saat melihat orang yang memasaknya terlihat tulus, ” sahut Yamuna memuji.
“ Kamu bisa aja. Sudah hentikan pujian kamu, sekarang mari kita makan, ” ucap Cadman, tangannya menyendok nasi, dan meletakkannya di piring Yamuna, lalu Cadman juga meletakkan 1 sendok tempe sambel teri cabai ijo, dan memberikan 1 mangkuk kecil sayur bening, dengan irisan daging sapi, untuk Yamuna.
“ Kenapa kamu melayani aku? ” tanya Yamuna heran.
Biasanya seorang Suami itu minta di ladeni, baik kebutuhan baju, makan, dan lainnya. Tapi, Cadman malah bertolak belakang. Cadman selalu menyiapkan kebutuhan Yamuna, bahkan Cadman juga melarang Yamuna untuk melakukan pekerjaan rumah. Kecuali, melayani Cadman di atas ranjang, mengurus Perusahaan milik Yamuna sendiri, dan menemani kemanapun Cadman minta.
“ Karena tugas kamu nanti akan sangat capek aku buat. Jadi kamu harus mengumpulkan banyak tenaga. Kamu pikir main kuda-kudaan itu tidak butuh tenaga ekstra? Butuh, makanya tenaga kamu, cukup kamu simpan untuk hal itu. Selainnya tidak perlu kamu keluarkan, ” sahut Cadman, ia kembali menggoda Yamuna, membuat Yamuna senyum-senyum sendiri dengan pikiran anehnya.
__ADS_1
“ Sudah, jangan terus tersenyum. Cepat makan, agar bisa mandi sebelum adzan magrib, ” ucap Cadman memecah pikiran Yamuna.
Sebelum makan Cadman memimpin doa, setelah selesai berdoa, Cadman dan Yamuna langsung melahap makanan sudah tersedia di dalam piring mereka. Karena perut terasa teramat lapar, dan masakan Cadman terlampau enak. Yamuna dan Cadman langsung membersihkan semua makanan di atas meja, membuat perut Yamuna dan Cadman terlihat membuncit.
“ Alhamdulillah, ” ucap Cadman bersyukur.
Yamuna berdiri, ia mengambil piring, mangkuk, dan gelas kotor. Lalu membawanya ke tempat pencuci piring.
“ Kamu jangan cuci piring, ” tegas Cadman melarang Yamuna untuk membersihkan piring kotor tersebut.
“ Ini hanya piring kotor. Kamu sudah capek memasak, jadi biarkan aku membantu kamu mencucinya, ” pinta Yamuna terlihat tulus.
“ Baiklah, ” sahut Cadman pasrah saat melihat raut wajah tulus dari Yamuna.
Yamuna pun segera berbalik, menghadap tempat pencuci piring. Yamuna langsung menghidupkan kran, dan membilas piring, mangkuk, dan gelas kotor, tanpa mencucinya dengan sabun. Membuat Cadman sedari tadi memperhatikan Yamuna, hanya bisa menepuk dahinya.
“ Yamuna, apa kamu pernah mencuci piring? ” tanya Cadman, ia bangkit dari kursinya, dan mendekati Yamuna.
“ Tidak. Semenjak Ayah meninggal, aku sering makan di luar. Dan saat Ayah masih hidup dulu, Ayah yang selalu membasuh piring, ” sahut Yamuna dengan polos.
“ Sini perhatikan aku, ” perintah Cadman, ia mengambil alih posisi berdiri Yamuna. Cadman mengambil sabun, dan meletakkannya di dalam mangkuk kecil berisi spon cuci piring, “ Jika sudah diletakkan sabun seperti ini, kamu harus meremas. Setelah busa keluar kamu sapukan ke piring. Lalu bilas sampai bersih, ” sambung Cadman memberi contoh cara mencuci piring.
“ Oh, jadi seperti itu. Kalau gitu aku bisa, ” ucap Yamuna penuh keyakinan.
“ Sudah mengerti kan? ” tanya Cadman lembut.
“ Hem, ” angguk Yamuna terlihat imut, membuat Cadman ingin melahap habis Yamuna
...Bersambung...
__ADS_1