
Yoan duduk menghadap lurus ke Farran, pandangan menusuk, memandang wajah panik Farran.
" Ke-kenapa kamu menatap ku seperti itu? " tanya Farran gugup, bulir-bulir keringat perlahan turun ke wajahnya.
" Kenapa kau ingin membunuh Yamuna? " Yoan balik bertanya dengan nada dingin.
" Oh....jadi kamu ke sini hanya ingin menanyakan hal itu. Tentu saja karena wanita itu tidak mengembalikan mahar yang sudah aku berikan padanya dulu! " sahut Farran tenang.
Wajah Farran tadi takut, kini berubah menjadi tenang, dan sombong. Kedua tangannya juga di lipat di depan dada.
" Apakah kamu dulu pernah bersekolah? " tanya Yoan dingin.
" Apa maksud dari pertanyaan kamu?! Apa kau sedang menghina ku? "
" Tidak, aku hanya ingin bertanya. "
Brak!!!
Farran menggebrak meja, tatapan suram memandang wajah datar Yoan.
" Hei, " teriak pihak berwajib, menekan kedua bahu Farran, membuat Farran duduk kembali.
Yoan berdiri, " Tadinya aku ke sini untuk memberi perhitungan kepada kamu. Karena mengingat Yamuna kini sedang mengandung cucu ku. Pertemuan kita sampai di sini saja, " Yoan menatap pihak berwajib, " Pak, tolong berikan ia tempat yang paling busuk. Agar pria ini bisa mencium aroma kebusukannya sendiri, " pesan Yoan memberi perintah ke pihak berwajib.
" Baik, Pak, " sahut pihak berwajib.
" Hei, apa maksud kamu Presdir jahat? " teriak Farran di sela ketakutan nya.
Yoan tidak menjawab, ia berjalan santai ke pintu, diikuti Ben.
" Yoan...apa maksud dari perkataan mu...." teriak Farran, diabaikan oleh Yoan.
Yoan dan Ben kini sudah berada di luar ruangan. Berjalan dengan wajah datar.
.
.
Di ruangan rawat inap VVIP milik Cadman. Yamuna, Yasmin, dan Chandra berdiri di samping ranjang Cadman.
" Siapa yang menyuruh kamu datang ke sini? " tanya Cadman datar.
" Presdir yang memberitahu saya, dan saya datang ke sini karena saya kuatir, " sahut Chandra jujur.
__ADS_1
" Alasan lainnya? " tanya Cadman tak percaya.
" Tidak ada, " sahut Chandra singkat.
" Kenapa aku tidak percaya. Pasti kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan itu apa? " tanya Cadman menekan nada bicaranya.
" Saya tidak meminta tuan untuk percaya. Saya mengatakan yang sebenarnya, " sahut Chandra tenang.
" Sekarang pulanglah, aku tak butuh kamu di sini! " usir Cadman, ia balik badan membelakangi Chandra.
" Tuan, izinkan saya istirahat di sini dulu, sampai Presdir dan pria cantik itu kembali, " pinta Chandra sedikit memohon.
" Kalau gitu, kamu istirahat di sana saja, " ajak Yamuna sopan, tangannya mengulur ke sofa.
" Nona muda memang sangat baik, tuan muda memang tidak salah pilih, " puji Chandra, ia balik badan, berjalan mendekati sofa panjang, dan merebahkan tubuhnya tanpa rasa malu.
" Yamuna, kalau pria itu tidur di sana, aku jadinya tidur di mana? " tanya Yasmin, wajahnya terlihat kesal. Tempat istirahat ternyaman sudah di ambil alih Chandra.
" Loh, aku pikir kamu tidak ingin tidur. Kalau gitu kamu meringkuk di sofa itu saja, " tunjuk Yamuna ke sofa kecil di sebelah sofa panjang Chandra.
Tak nyaman mendengar perdebatan Yasmin, hanya karena ingin istirahat. Cadman perlahan duduk, tatapan suram memandang Yasmin berdiri di samping Yamuna, dan Chandra terlihat tidur lelap di atas sofa.
" Daripada kalian berdua berdebat, lebih baik kamu tidur di sini, " tegas Cadman, ia turun dari ranjang. Langkah tertatih di bantu Yamuna untuk duduk di sofa dekat Chandra.
" Cadman, bukan maksud ...." ucapan Yasmin terhenti saat Cadman memalingkan wajahnya dengan tatapan menusuk.
" Baiklah, " sahut Yasmin bersalah.
Yasmin sedari tadi sudah mengantuk, dan sangat lelah akibat perjalanan jauh, akhirnya terpaksa merebahkan tubuhnya di ranjang rawat Cadman. Cadman sendiri mengalah, duduk di sofa bersama dengan Yamuna duduk di atas pangkuannya.
" Apa kamu tidak merasa sakit duduk di sini? " tanya Yamuna kuatir, ia menatap wajah Cadman sedang memangku dirinya.
Cadman menyandarkan wajahnya ke lengan Yamuna, " Tidak, selagi ada kamu, rasa sakit yang aku alami itu menjadi hilang. Kamulah penawar ku. Dan kamulah penyemangat ku, " sahut Cadman lembut.
" Terimakasih sudah menjadi pelindung ku, " ucap Yamuna lembut, memeluk tubuh Cadman, dan membelai rambut belakang.
Chandra mendengar kemesraan Yamuna, dan Cadman, langsung duduk. Wajahnya terlihat suntuk memandang Cadman dan Yamuna sedang berpelukan dalam pangkuan.
" Tuan muda, apakah Anda tidak melihat saya ada di sini? "
" Tidak, kamu siapa! " ejek Cadman.
" Oh ya, pria cantik yang kamu sebut itu siapa? " tanya Yamuna penasaran.
__ADS_1
" Pria itu adalah.... " Chandra mengarahkan jari telunjuknya ke Yasmin, berbaring di atas ranjang, " Suami dari wanita aneh yang sedang berbaring di atas ranjang, " sambung Chandra tenang.
Yasmin mendengar hal tersebut kaget, ia duduk, menatap suram Chandra, masih terbaring di atas sofa.
" Apa kamu bilang Suami ku tadi? "
" Pria cantik, " sahut Chandra santai.
Tak senang mendengar ucapan Chandra menyebut Ben sebagai pria cantik. Yasmin turun, berjalan cepat mendekati Chandra, menarik baju bagian depan Chandra, sampai ia terduduk.
" Kenapa kau bisa berkata seperti itu? " tanya Yasmin dingin.
" Karena asal bertemu dengan saya, wajah Ben selalu panik, dan gugup. Wajah itu membuat saya ingin..."
" Berani sekali kau memikirkan hal mesum saat menatap wajah Suamiku! " teriak Yasmin, ia mengguncang tubuh Chandra.
Di tengah pertengkaran Yasmin, dan Chandra, pintu ruangan terbuka, terlihat Ben, dan Yoan berdiri di depan pintu ruangan.
' Apa yang sedang Yasmin lakukan kepada pria psikopat itu? aku harus segera menjauhkannya sebelum Yasmin di bunuh olehnya, ' gumam Ben dalam hati, saat ia melihat Yasmin bergelut dengan Chandra.
Tak ingin Istrinya terluka, Ben melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti Yoan.
" Yasmin, " panggil Ben, tangannya menahan bahu Yasmin dari belakang.
" Ben, " Yasmin melepaskan tangannya dari Chandra.
" Ada apa ini? dan kenapa menantu dan putra ku duduk berpangku seperti ini? " tanya Yoan, menghentikan langkah kakinya di samping sofa milik Cadman.
" Yamuna dan Chandra ingin beristirahat, jadi aku mengalah, " sahut Cadman jujur.
" Dan kamu, kenapa kamu mengguncang tubuh Chandra seperti itu? " tanya Yoan ke Yasmin.
" Tadi Sekretaris aneh ini mengatakan jika Ben adalah pria cantik. Aku tidak terima dong. Masa suamiku di bilang pria cantik. Bodoh atau bego sih, dia! " ketus Yasmin.
" Chandra, kenapa kamu bilang Ben pria cantik? " tanya Yoan datar.
" Presdir lihat saja wajahnya, " tunjuk Chandra ke wajah pucat Ben.
Dahi Yoan, Yamuna, Cadman, dan Yasmin mengernyit saat melihat wajah Ben terlihat pucat, dan gugup.
" Ben, kamu kenapa? " tanya Yamuna heran, melihat wajah tak biasa Ben.
" Iya, kamu kenapa, Darling? " sambung Yasmin.
__ADS_1
" Ti-tidak ada, saya hanya gugup saja melihat Chandra. Wajahnya itu terlihat suram, dan sangat mengerikan, " sahut Ben jujur.
Sejenak Yamuna, Yasmin, Yoan, Cadman, dan Chandra terdiam. Menit selanjutnya mereka tertawa terbahak-bahak.