
Setelah selesai sholat Isya, Yamuna menidurkan Joryan di dalam kamarnya sendiri, kamar Baby bersebelahan dengan kamar Yamuna, dan Cadman. Ruang kamar sudah di rancang, dan di desain untuk bayi, semua dinding ada gambar binatang, pepohonan, serta lampu tidur redup dengan bintang dan bulan menghiasi seisi ruangan.
Setelah selesai menidurkan Joryan di tempat tidur box. Yamuna keluar, dan masuk ke dalam kamarnya, dimana Cadman sedang duduk, menyandarkan tubuhnya di badang kepala ranjang, dan sedang membaca novel berjudul ‘AZKA&ANNA’.
“ Kamu masih belum tidur? ” tanya Yamuna, langkahnya terus berjalan ke ranjang, naik, dan duduk di sebelah Cadman.
“ Aku menunggu kamu, tapi. Sesuai janji kamu, ” Cadman menurunkan pandangannya ke bawah selimut, “ Yang di dalam sudah minta di sentuh, ” sambung Cadman mulai membahas hal aneh.
“ Capek, besok aja, ” sahut Yamuna, membaringkan tubuhnya, menarik selimut dan membelakangi Cadman.
Karena sudah lama sekali peralatan tempur nya tidak di sentuh oleh Yamuna. Cadman meletakkan novel miliknya di atas lemari lampu, Cadman juga mematikan lampu kamar, dan menggantinya dengan lampu tidur.
“ Yamuna…ayo dong! Sudah ada 5 bulan alat tempur ku tidak menyapa milik kamu! ” rayu Cadman menarik tubuh Yamuna dari belakang. Tangannya juga perlahan masuk ke dalam baju piyama sutra milik Yamuna.
Merasa tangan Cadman sudah mulai ramah, Yamuna langsung berbalik badan. Merubah posisi tidurnya menghadap Cadman.
“ Mau berapa ronde? ” tanya Yamuna menggoda.
“ Serius nih boleh berapa ronde?! ” Cadman bertanya dengan semangat.
“ Mau atau tidak? Kalau tidak aku tarek lagi perkataan ku, ” cetus Yamuna sembari ingin balik badan. Namun, Cadman dengan cepat menarik selimut, dan menindih tubuh Yamuna.
“ Kamu licik, ” terdengar suara Yamuna dari balik selimut.
Pertempuran antar suami-istri itu pun terjadi. Selimut tebal dan lembut terus bergoyang, seperti ada angin kencang meniupnya. Serta ada erangan saling bertaut di dalam balutan selimut. Sudah puas untuk melakukan ronde secara bertahap sampai 3 kali. Cadman merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuh bermandi keringat, napas juga terlihat terengah-engah.
Cadman menarik Yamuna, membawanya terbaring di dalam pelukannya, “ Terimakasih sudah menuntaskannya, dan membiarkan calon anak baru kita menggenang di dalam, ” ucap Cadman ke Yamuna.
“ Sama-sama, kalau gitu aku pasang KB ya. Agar tidak kebobolan, ” bujuk Yamuna.
“ Ja-jangan, lagian kita ‘kan jarang-jarang melakukannya. Dan aku juga tidak melakukan hal itu dalam kondisi kamu sedang masa subur, ” tolak Yamuna.
Cadman melarang Yamuna untuk ber-KB, karena memang dirinya sedang menginginkan memiliki anak dengan cepat. Agar memiliki anak lebih dari 1, dan rumah mereka menjadi ramai, tidak seperti mereka berdua, masing-masing anak tunggal tak memiliki saudara.
“ Kamu benar juga, ” sahut Yamuna dengan polos.
“ Karena sudah hampir pagi, sebaiknya kamu tidur dulu. Kamu pasti sangat lelah ‘kan? ” bujuk Cadman.
Yamuna hanya mengangguk.
“ Kalau gitu aku mandi dulu, ” pamit Cadman.
Cadman pun melepaskan pelukannya dari Yamuna, merebahkan tubuh Yamuna, lalu menyelimutinya. Menit selanjutnya Cadman berjalan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya dari najis.
Selesai membersihkan diri dari najis setelah melakukan hubungan suami-istri. Cadman memakai baju piyama, lalu mengeringkan rambut basahnya.
__ADS_1
Wung…wungg!!
Di tengah bisingnya suara pengering rambut, terdengar suara Joryan menangis dari dalam kamar sebelah. Tangisan lembut dari putra pertama, membuat Yamuna spontan duduk dari tidurnya, dengan cepat ia memakai baju, dan berlari ke kamar Joryan, di susul oleh Cadman, dengan rambut setengah basah.
Saat Yamuna hendak mengangkat Joryan dari tidurnya. Yamuna di tahan oleh Cadman, kepalanya menggeleng.
“ Kenapa? ” tanya Yamuna bingung.
“ Kamu belum mandi, seluruh badan kamu masih kotor, dan tadi kami juga sudah melakukan hal apa denganku. Aku tidak ingin tubuh Joryan kotor dan berbau khas itu, ” Cadman pun mengambil Joryan masih menangis, “ Kamu pergi mandi dulu, biar aku yang menenangkannya. Asi kamu di kulkas masih ada ‘kan? ”
“ Masih, kalau gitu aku mandi dulu, dan aku titip Joryan dulu sama kamu. Jangan lupa panasi susunya sebelum memberikan ke Joryan, ” pinta Yamuna.
Yamuna pun dengan cepat kembali ke kamarnya dan mandi. Cadman sendiri sedang menimang Joryan, membawa Joryan turun ke dapur. Sesampainya di dapur, Cadman memasukkan asi berada di dalam kantung ke botol bayi, memanaskan asi dingin tersebut ke microwave.
Merasa sudah cukup hangat, Cadman mengambil botol susu berisi asi tersebut, dan membawanya ke ruang tamu, sambil terus menenangkan Joryan sudah perlahan berhenti menangis.
Langkah kaki Cadman berhenti di ruang tamu, duduk di sofa, memasukkan Joryan di dalam ayunan listrik. Asi sudah cukup hangat dan sudah bisa di minumkan ke Joryan. Cadman pun memberikan botol dot berisi air asi Yamuna ke Joryan.
“ Akhirnya kamu tidur juga, ” gumam Cadman, pandangannya lurus ke Joryan sudah terlelap di dalam ayunan listrik. Dan asi di dalam botol dot bayi juga sudah habis.
Camdan masih mengantuk akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Menit selanjutnya Yamuna turun, berjalan ke ruang tamu. Senyum manis terukir di raut wajah Yamuna saat melihat Cadman dan Joryan sudah tertidur, dengan posisi tidur yang sama.
“ Tidur kalian memang sangat mirip ,” gumam Yamuna.
“ Nona, kenapa sepagi ini di sini? ” tanya Bibi Ratna mengejutkan Yamuna.
“ He he he…maaf nona muda. Habisnya tadi suara tuan muda Joryan terdengar sangat merdu saat menangis. Sampai-sampai saya terbangun, dan ingin cepat melihat keadaan tuan muda Joryan. Begitu sampai di ruang tamu, ternyata kedua tuan muda kita sudah tertidur lelap, ” ucap Bibi Ratna.
“Iya, mereka sangat mirip kalau sedang tidur,” sambung Yamuna, pandanganya masih terus tertuju pada Cadman dan Joryan.
“ Kalau gitu saya pamit ke belakang dulu non, saya mau menyiapkan bahan makanan untuk sarapan. Soalnya tadi tuan besar bilang dia akan pulang pagi, dan numpang makan di sini, ” jelas Bibi Ratna mengingat pesan Yoan dari sambungan telepon rumah.
“ Papa mau datang? Kalau gitu aku bantu ya, Bi. Biarkan saja mereka tidur di sini, ” pinta Yamuna.
“Ti-tidak usah repot-rapot non, saya bisa sendiri. Lebih baik nona muda istirahat saja, dan biarkan saya yang menyelesaikan tugas saya, ” tolak Bibi Ratna.
“ Aku sudah tidak mengantuk Bi. Jadi nggak apa-apa aku ikut bantu, ya? ” bujuk Yamuna, tangannya menarik manja lengan bibi Ratna.
“ Baiklah, mari ikut Bibi, ” sahut Bibi menyerah dengan rayuan Yamuna.
Yamuna, dan Bibi Ratna pun berjalan ke dapur. Yamuna membantu Bibi Ratna untuk membuat masakan sarapan pagi.
.
.
__ADS_1
💫Di sisi lain💫
Sudah kebiasaan Geulis selalu bangun pagi di Desa, dan hal itu terbawa sampai bekerja di rumah Chandra . Setelah selesai membersihkan rumah besar milik Chandra, Geulis terlihat sedang berdiri di depan pintu rumah.
“ Kok abang Chandra belum pulang, ” gerutu Geulis cemas.
Setelah View datang kemarin, Chandra berpamitan ke Geulis untuk mengantar View. Namun, sampai sekarang Chandra belum pulang. Geulis terus menatap ke arah jarum jam dinding terus berdetak, menunjukkan pukul 04:30 pagi.
Kecemasan Geulis pun terhenti, saat mendengar suara ketukan pintu rumah.
Tok tok!
“ Ya, tunggu sebentar, ” sahut Geulis segera membuka pintu.
Saat pintu terbuka terlihat Chandra dengan baju berantakan, bekas noda lipstick di mana-mana, dan tubuh berbau alkohol.
“ Eh…ada bidadari cantik membuka pintu rumah ku, ” ucap Chandra dalam kondisi mabuk.
“ Abang mabuk, ya? ” tanya Geulis, ia segera membantu merangkul tubuh Chandra dengan berdiri tidak seimbang.
Setelah membawa masuk Chandra, Geulis mengunci pintu rumah, dan kembali merangkul tubuh Chandra.
“Apa abang selalu melakukan hal seperti ini?" tanya Geulis sembari membantu Chandra untuk bejalan menuju kamar miliknya berada di lantai atas.
“ Hem, ” angguk Chandra.
“ Jika abang suka minum seperti ini, tubuh abang akan rusak lama kelamaan. Apa abang mau meninggal di usia muda dan belum bertaubat? ”
“ Tadinya mau bertaubat, tapi kok aku lupa, ” sahut Chandra dalam kondisi mabuk.
Langkah kaki Geulis, dan Chandra terhenti di depan pintu kamar Chandra. Geulis membuka pintu kamar, membawa Chandra masuk ke dalam kamarnya, dan membaringkannya. Tak lupa Geulis melepaskan sepatu sport milik Chandra.
“ Geulis ambil air hangat dulu ya, bang, ” pamit Geulis, ia berdiri di samping ranjang.
Bukannya menjawab, Chandra menarik tangan Geulis, membuat Geulis terbaring di atas ranjang.
“ Bang…”
Chandra dengan cepat menindih tubuh Geulis, memandang lekat wajah Geulis.
“ Ternyata kamu sangat cantik, ” Chandra membelai pipi Geulis, “ Kulit kamu juga sangat halus, dan lembut. Bibir kamu juga terlihat sangat bagus. Apa sudah ada yang mencicipinya? ”
Melihat sikap tak biasa Chandra, Geulis mendadak takut, tubuhnya gemetar, bulir air mata pun perlahan menetas.
“ Ka-kamu menangis? ” Chandra mengusap lembut air mata menetes dan hampir masuk ke telinga Geulis, “ Kamu jangan menangis. Saya hanya memuji kamu, dan bagaimana mungkin saya melakukan hal itu kepada a…”
__ADS_1
Blam!
Tubuh Chandra terjatuh, dan tertidur begitu saja.