SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 139. Saya ke sini untuk bekerja


__ADS_3

Setelah Caden sudah di tahan, dan anak buah rentenir juga di tahan atas tuduhan palsu di buat oleh Chandra. Semua para warga dan ketua Desa sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Tinggallah Chandra, ingin berpamitan kepada Bapak-ibu, Geulis.


Chandra berdiri menghadap Bapak-ibu, berdiri di samping rusbang. “ Pak…Bu, saya ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih, sudah menerima, dan memperlakukan saya dengan baik. Saya ingin pamit, kembali ke Kota, ” pamit dan ucapan terimakasih Chandra ke Bapak-ibu.


“ Tidak sebaiknya nak Chandra tidur semalam di sini, dan besok pagi perginya, ” tawar Bapak cemas.


“Maaf, saya tidak bisa. Jika saya letih, saya akan menghentikan kendaraan saya di tepi jalan, ” Chandra kembali menunduk sedikit, “Sekali lagi saya ucapkan terimakasih,” sambung Chandra mengucapkan terimakasih sekali lagi. Chandra menegakkan tubuhnya, bola matanya mendadak liar saat tak melihat Geulis, “ Dek Geulis kemana Pak? ” sambung Chandra bertanya.


Tak lama kemudian terlihat Geulis keluar dari dalam kamarnya, kedua tangannya menjinjing tas besar di depan perut, berjalan menuju pintu.


Dahi Chandra mengernyit, apa gadis ini seriusan ingin ikut dan tinggal bersama Chandra?


“ Pak, bu, ” panggil Geulis ketika ia sudah berdiri di samping Chandra, menatap Ibu-bapak.


“ Neng, kamu mau kemana? ” tanya Ibu bingung melihat tas besar sedang di pegang oleh Geulis.


“ Geulis ingin pamit bekerja di tempat abang Chandra. Boleh ya, Bu…Pak, ” jelas Geulis setengah memohon.


Mendengar ucapan Geulis, Chandra terkejut, ia memandang Geulis dari atas sampai bawah.


‘Eh…beneran nih gadis ingin bekerja di rumah ku? padahal tadi hanya asal bicara saja. Gawat ini, kalau gadis ini sampai tinggal di rumahku,’ batin Chandra bingung.


“ Kenapa mendadak neng? ” tanya Bapak.


“ Karena abang Chandra pulangnya juga mendadak. Jadi, izinkan Geulis ikut bang Chandra, ya…Pak..Bu. Geulis yakin sekali kalau bang Chandra ini adalah orang yang baik, jadi Bapak..ibu tidak usah kuatir, ” pinta Geulis menyakinkan Bapak-ibu.


‘ Apa wajah ini seperti Malaikat, sampai-sampai mereka tidak tahu kalau saya ini adalah orang yang tidak baik. Hai…mana wajah Geulis penuh harap lagi. Seperti anak TK ingin meminta dibelikan permen, hatiku mendadak tidak tega menolaknya untuk tidak ikut bersamaku, ’ gerutu Chandra di dalam hati.


“ Ya sudah, kalau memang Geulis ingin ikut ke Kota dan bekerja di sana, ” Ibu mendekat, tangannya mengelus lengan kiri Geulis, “Yang penting harus pandai-pandai jaga diri,” sambung Ibu memberi pesan.


Chandra melihat itu hanya terdiam, membuang nafas kasarnya.


“ Jadi Ibu izinkan Geulis pergi kerja ke Kota? ” tanya Geulis semangat.


“ Iya, yang penting harus pandai-pandai jaga diri, ” sambung Bapak, pandangan Bapak mengarah pada Chandra sedang tertunduk, “Nak Chandra,” suara Bapak mengagetkan Chandra, tubuh Chandra berdiri tegak seketika.


“ Iya Pak, ” sahut Chandra layaknya seorang abdi Negara.


“ Jika sampai nak Chandra melakukan hal buruk ke Geulis, maka nak Chandra harus tanggung jawab! ” pesan Bapak tegas.


“ Siap…eh…ta-tanggung jawab? ” Chandra bingung, harus tanggung jawab apa? Perasaan dia tidak menghamili Geulis.


“ Kalau Geulis pergi bersama nak Chandra itu artinya Geulis menjadi tanggung jawab buat Geulis, ” sahut Bapak tegas.


“ Iya, saya akan menanggung semuanya, ” sahut Chandra pasrah.


“ Neng, hati-hati. Semoga neng bisa menjadi anak yang sukses, dan selalu dijauhkan dari marah bahaya, ” doa Ibu untuk Geulis, tangannya mengusap wajah sendu Geulis.


“ Bapak dan Ibu akan terus memberikan doa yang terbaik buat neng. Sekarang pergilah, dan hati-hati di jalan, ” sambung Bapak, tangannya memukul punggung Chandra.


Geulis pun mengambil punggung tangan Bapak-ibu, menciumnya secara bergantian. Chandra pun mengikutinya, lalu mereka melangkah masuk ke dalam mobil. Menit selanjutnya mobil Chandra melaju kea rah kota.


Mulai dari keluar Desa, sampai kini mobil sudah melaju separuh jalan menuju kota, tempat tinggal Chandra. Geulis terus menangis, membuat Chandra bingung. Terpaksa Chandra menepikan mobilnya, dan berhenti.

__ADS_1


“ Dek, kenapa terus menangis? Kalau memang tidak mau pergi ke Kota, kenapa harus memaksakan diri. Mumpung kita belum jauh, saya antar pulang adek, ya? ” usul Chandra.


Geulis terdiam, menggeleng, kedua tangan menyeka kasar bulir air mata di sekitar pipinya.


“ Tapi adek terus menangis. Saya jadi bingung, entar orang pikir saya menculik, dan memperkosa anak gadis orang. ”


“ Geulis hanya terharu, akhirnya Geulis kesampaian juga kerja di kota. Geulis bisa menyenangkan Bapak-ibu di kampung, ” Geulis membuka suara dengan suara serak akibat menangis.


“ Kerja di kota tidak seenak yang adek pikirkan. Tapi ya sudahlah, mulai sekarang adek kerja di rumah saya aja. Kalau gitu janji jangan nangis lagi? ”


“Janji, ” angguk Geulis.


Chandra kembali menghidupkan mesin mobilnya. Melaju menuju kota tempat tinggal ia berada. Mobil terus melaju sampai 5 jam lamanya, keluar masuk jalan tol untuk mempersingkat waktu. Namun rasa kantuk melanda Chandra, kedua kelopak matanya terasa sangat berat, dan dirinya juga hampir kehilangan kendali untuk fokus di jalan. Begitu sampai keluar dari jalan tol terakhir, Chandra memutuskan untuk beristirahat. Mobil pun kini terparkir di pinggir jalan, kursi ia mundurkan perlahan ke belakang. Karena Geulis juga masih tidur, Chandra membuka sedikit jendela mobil, lalu ia memejamkan kedua matanya.


Waktu pun terus berjalan, matahari pagi sudah terlihat menampakkan cahayanya. Chandra masih terus tertidur, sedangkan Geulis sudah bangun, dan kini sedang memandang wajah tampan Chandra terlihat sangat polos.


Greuuk!!


Gemuruh suara perut Geulis terus berbunyi, membuat Chandra terbangun.


“ Ya ampun, sudah pagi aja, ” ucap Chandra saat matahari sudah setengah menampakkan cahayanya.


“ Pasti abang sangat lelah. ”


“ He he he….iya, ” sahut Chandra di sela tawa sumbang.


“ Rumah abang masih jauh? ” tanya Geulis, matanya memandang luas jalan raya masih sunyi.


“ Abang tidak lapar? ” tanya Geulis memberi kode.


“ Tidak, adek lapar? ” Chandra balik bertanya.


“ Iya, soalnya dari semalam Geulis belum ada makan sama sekali, ” angguk Geulis malu-malu.


“Kalau gitu mari kita cari Restauran terdekat,” Chandra menghidupkan mesin mobilnya.


Mobil Chandra pun kini melaju menuju Restauran terdekat. Setelah menemu restauran enak, Chandra dan Geulis masuk ke dalam. 1 jam sudah berlalu, Geulis dan Chandra sudah selesai makan. Kini mereka kembali ke mobil, dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Restauran.


Sudah 3 jam mobil terus melaju, dan kini mobil itu sudah terparkir di depan rumah Yamuna.


“ Bang, ini rumah abang? ” tanya Geulis, melihat bagian rumah begitu besar, dengan halaman sangat luas, dan parkiran juga cukup luas.


“ Tidak, ini adalah rumah tuan muda. Bos tempat saya bekerja, ” sahut Chandra, sembari membuak seatbelt, “ Kita singgah dulu ke sini, karena ada laporan yang harus saya sampaikan, ” sambung Chandra, tangannya membuka pintu mobil Geulis.


“ Oh..pantes rumahnya sangat besar, ” sahut Geulis pelan, kakinya perlahan turun dari mobil.


“ Mari, masuk dulu, ” ajak Chandra.


Chandra dan Geulis pun melangkahkan kedua kakinya menaiki tangga teras.


“ Assalamualaikum, ” ucap salam Geulis memasuki rumah, dan terdengar sambutan dari Yamuna.


“ Wa’alaikumsalam, ” sahut Yamuna, kedua bola mata Yamuna membulat sempurana, melihat Chandra datang dengan seorang wanita, begitu juga dengan Cadman ikut terkejut.

__ADS_1


“ Chandra…” panggil Cadman meninggikan nada suaranya.


“Kayaknya tidak perlu berteriak memanggil nama saya, tuan. Ada apa sih, tiba-tiba marah.”


“ Segera ke ruangan ku! ” perintah Cadman tegas.


“ Dek, duduk dulu. ”


Ucapan lembut Chandra sontak membuat Yamuna, dan Cadman, terkejut. Cadman segera balik badan, kedua kakinya perlahan melangkah menuju ruang kerja, diikuti Chandra.


“ Maaf dek, namanya siapa ya? ” tanya Yamuna, ikutan memanggil adek.


“ Perkenalkan nama saya Geulis, ” sahut Geulis, tangannya mengulur.


“ Oh…maaf Geulis, aku tidak bisa menerima jabat tangan kamu, soalnya aku sedang menggendong putra ku. ”


“ I-iya, tidak apa-apa, ” sahut Geulis.


“ Mari duduk dulu, ” ajak Yamuna, berjalan menuju sofa ruang tamu.


Yamuna, dan Geulis kini duduk di sofa. Yamuna terus memandang Geulis, gadis cantik dengan kulit putih bersih. Namun kecantikannya tertutup oleh setelan baju desa miliknya.


“ Kenapa kamu bersama dengan Chandra? apa Chandra sudah melakukan hal yang tidak-tidak kepada kamu? ” tanya Yamuna menyelidik.


“ Emang abang Chandra akan melakukan apa kepada Geulis? ” Geulis balik bertanya dengan wajah bingung.


“ Ya, siapa tahu Chandra mengajak Geulis tidur, dan Geulis saat ini sedang hamil. Soalnya Chandra itu seorang playboy, dan sudah banyak wanita yang tidur dengannya, ” jelas Yamuna dengan polosnya membongkar aib Chandra.


“ Ah..masa sih. Tapi abang Chandra tidak melakukan apa pun kepada Geulis, ” bela Geulis, belum tahu siapa Chandra.


“ Kalau gitu bagus lah, ” hela Yamuna lega.


Tak lama Bibi Ratna datang membawa nampan berisi teh hangat. Meletakkan gelas teh hangat di hadapan Geulis.


" Silahkan di minum neng, " ucap Bibi Ratna mempersilahkan.


“ Terimakasih, Bi, ” ucap Yamuna.


Geulis terus memamdang Yamuna, ia merasa pernah melihat Yamuna sekilas. Tapi dimana? Geulis pun terus berpikir sampai ia teringat malam itu, saat Chandra melakukan vidio call.


“ Maaf, kalau Geulis boleh tahu, bukannya anda wanita di dalam panggilan vidio yang malam itu? Sewaktu abang Chandra sudah menangkap wanita kota? ” tanya Geulis lembut.


“ Iya, aku adalah pemilik PT. MUNA. Apa Geulis adalah salah satu korbannya? ” Yamuna bali bertanya karena penasaran.


“ Alhamdulillah, untungnya tidak, ” sahut Geulis sembari melempar senyum manis.


“ Syukurlah, ” lega Yamuna.


“ Anaknya sangat tampan, ” puji Geulis, menatap Joryan.


“ Terimakasih kakak, ” sahut Yamuna membalas pujian Geulis. Yamuna menatap Geulis dengan tas besar di atas pangkuannya, dan kembali bertanya, “ Geulis, kenapa kamu membawa tas besar? ”


“ Geulis di sini untuk bekerja di rumah abang Chandra, ” sahut Geulis mengejutkan Yamuna, seketika pikiran anehnya terus muncul.

__ADS_1


__ADS_2