
Wajah Cadman panik saat melihat Yamuna memegang bingkai foto milik Yamuna. Cadman langsung berdiri, tangannya merampas bingkai foto, dan menyimpannya ke dalam koper.
“ Apakah kamu seorang penguntit? ” tanya Yamuna penuh selidik.
“ Ti-tidak, a-aku bisa jelaskan, ” jelas Cadman gugup, tangannya menggenggam pergelangan tangan Yamuna, dan menariknya kuat, sampai jatuh ke dalam pangkuannya. Membuat Yamuna, dan Cadman saling bertatap muka.
Deg!deg!
Jantung mereka saling berdegup kencang. Sorot mata penuh arti saling menatap ke masing-masing bibir. Membuat Cadman dan Yamuna mendekatkan wajah mereka perlahan. Bendungan hasrat Cadman untuk berjanji tak menyentuh bibir Yamuna terpaksa harus terbongkar. Tangannya memegang bagian tengkuk belakang Yamuna.
Cup!
Cadman mencium Yamuna.
Cadman dan Yamuna pun terhanyut dalam ciuman. Merasa oksigen mulai habis, Cadman melepaskan ciumannya. Nafas Yamuna dan Cadman terlihat menggebu-gebu, pipi mereka merona, kepalanya pun tertunduk malu.
“ Ma-maaf, ” ucap Cadman merasa bersalah karena tanpa izin mencium Yamuna.
“ A-aku juga minta maaf, ” sahut Yamuna ikut merasa bersalah karena tidak menolak ciuman Cadman.
Yamuna perlahan turun dari pangkuan Cadman, dan duduk di samping Cadman. Wajah Yamuna, dan Cadman masih saling menunduk malu, jantungnya mereka juga masih berdegup kencang mengingat ciuman lembut tadi.
“ Yamuna, aku ingin jelaskan kalau aku bukan penguntit. Bukannya dari awal aku sudah jujur kepada kamu kalau aku sudah jatuh cinta saat pandangan pertama kita bertemu saat mengadakan rapat. Gadis muda berusia 15 tahun, masih sangat polos dan cengeng dulu. Jika aku boleh jujur, dari pertemuan itu aku sering memantau kamu. Semua itu aku lakukan karena aku tidak mau kehilangan kamu, atau keduluan orang lain. Tapi, saat aku sedang mengurus bisnis ke Luar Negeri, dan aku pulang saat kamu sudah beranjak 19 tahun. Aku sudah mengumpulkan niat untuk mencoba melamar kamu. Namun, waktu itu aku mendengar kamu akan menikah dengan Farran. Aku pun mencoba ikhlas, meski hatiku tak bisa. Namun, takdir mempertemukan kita kembali. Dan saat kesempatan kedua itu datang lagi, aku tak ingin kehilangan kamu. Meski terlambat, aku tetap masih ingin memiliki kamu dan menjadikan kamu sebagai pendamping hidupku, ” jelas Cadman mengingat kejadian pahit saat harus merelakan Yamuna menikah dengan Farran.
“ Tapi kenapa kamu menerima perjodohan tuan Andreas? ” tanya Yamuna penasaran.
“Saat itu aku sedang kalut karena patah hati melihat kamu menikah, dan dimana aku masih baru merintis usaha sendiri. Tapi sekarang itu tidak penting. Aku tak ingin membahas masa lalu, aku hanya ingin membahas masa depan ku dengan kamu. Karena sekarang aku sedang bersama kamu,” ucap Cadman lembut, dan mengakhiri percakapan.
“ Cadman, ” panggil Yamuna, tangannya membantu Cadman memasukkan baju-baju terkahir ke dalam koper.
“ Iya, ada apa? ” tanya Cadman, tangannya mengancing koper.
“ Tapi aku sekarang adalah seorang janda, dan aku juga pernah hamil. Namun, keguguran karena kandungan ku lemah. Apa kamu masih ingin tetap menjadikan aku seorang Istri? ” jelas Yamuna mengenai status dirinya sendiri. Kepala tertunduk malu karena menikah dengan Cadman masih berstatus lajang, dan memiliki riwayat kandungan lemah.
__ADS_1
Cadman memutar arah duduk Yamuna menghadapnya, tangannya membelai puncak kepala Yamuna, “ Itu hanya masalah status. Dan aku tidak perduli, ” sahut Cadman lembut untuk membuat Yamuna tenang.
Yamuna tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Bibirnya hanya terdiam dengan senyum manis merasa puas akan jawaban Cadman di bibir merah mudanya.
“ Karena semua barang-barang ku sudah masuk ke dalam koper, sebaiknya kita harus segera pulang, ” ajak Cadman.
“ Iya, tapi sebelum pulang kita mampir ke warung dulu ya, ” Yamuna mengelus perut langsingnya, “ Perutku tiba-tiba terasa kosong, membuat cacing-cacing terasa menari-nari di dalamnya, ” sambung Yamuna merasa lapar akibat perjalanan jauh.
“ Iya, mari kita pergi, ” ajak Cadman, tangannya mengulur, ingin memberikan bantuan kepada Yamuna untuk berdiri.
Yamuna menerima uluran tangan Cadman. Yamuna dan Cadman beranjak pergi meninggalkan kamar. Sesampainya di ruang tamu, Cadman menghentikan langkahnya.
“ Yamuna, sepertinya aku masih memiliki stok makanan di lemari pendingin. Daripada kamu nanti kelaparan di jalan, lebih baik aku masakan sedikit buat mengganjal perut kamu, ya? ” tanya Cadman.
“ Emang kamu bisa masak? ” tanya Yamuna tidak yakin jika Cadman bisa masak.
“ Bisa. Semenjak meninggalnya Mama, dan aku mulai hidup mandiri di Negeri orang. Aku mau tak mau mulai belajar masak sendiri. Karena terkadang mencari makanan halal itu agak usah di Negeri orang. Jadi, kamu mau menunggu aku masak? ” jelas Cadman kembali bertanya.
“ Kalau gitu aku temani, ” sahut Yamuna ingin ikut melihat Cadman memasak.
Yamuna, dan Cadman pun berjalan menuju ruang dapur. Karena meja makan, dan dapur satu ruangan, Cadman menarik kursi makan. Cadman mempersilahkan Yamuna duduk, dan Cadman pun mulai memasak dengan persediaan bahan makanan yang ada.
‘ Melihat Cadman seperti ini aku jadi teringat mendiang Ayah. Saat itu aku juga sedang lapar sehabis menemani mendiang Ayah pergi rapat. Melihat perut aku yang terus berbunyi mendiang Ayah memutuskan untuk memasak sedikit makanan untuk pengganjal perut ku sebelum ke restauran. Ayah…semoga apakah kamu bisa melihat dari atas sana jika aku sepertinya sudah menemukan sosok seperti kamu. Meski pernikahan aneh ini terjadi begitu saja, tapi aku harapan Cadman adalah sosok pria dan Suami yang baik buat aku. Ayah…aku mohon restuilah pernikahan kami dari atas sana, ’ batin Yamuna, ia teringat dengan sosok mendiang Ayahnya, yaitu Jordan.
Merasa tidak enak karena duduk saja, Yamuna berdiri, berjalanan mendekati Cadman.
“ Izinkan aku membantu kamu, ” pinta Yamuna berdiri di sisi kiri Cadman.
“ Tidak usah, aku tidak ingin merusak tangan halus, dan mulus kamu, ” tolak Cadman, tangannya masih sibuk memotong sayuran.
“ Aku ini Istri kamu, jadi izinkan aku untuk membantu kamu! ” tegas Yamuna berusaha keras untuk membantu Cadman.
Cadman meletakkan pisaunya, ia berdiri menghadap Yamuna, “ Apa kamu pandai membalik ikan yang sedang aku goreng? ” tanya Cadman.
__ADS_1
“ Tidak, tapi aku akan berusaha membaliknya dengan benar, ” sahut Yamuna yakin.
“ Kalau gitu bantu aku membalik ikan nila itu,” tunjuk Cadman ke arah penggorengan.
“ Baik, ” sahut Yamuna. Kakinya berjalan mendekati tempat penggorengan, alisnya menyatu saat melihat minyak goreng mendidih, keringat dingin mengalir dari wajahnya.
“ Apa kamu bi….”
“ Akh…duh..duh..sakit,” rengek Yamuna saat tangannya terkena percikan minyak.
“ Tuh 'kan, sudah aku bilang kamu duduk saja di sana, dan biarkan aku yang memasak buat kamu! ” sentak Cadman kuatir.
“ Maaf, ” ucap Yamuna merasa bersalah karena dirinya keras kepala.
Cadman mematikan api penggorengan ikan agar ikannya tidak gosong. Setelah itu Cadman membawa Yamuna duduk di kursi makan. Lalu mengambil kotak P3K.
“ Lain kali kamu jangan keras kepala. Tugas kamu hanya cukup melayani aku di ranjang saja. Kalau soal memasak atau urusan rumah biar asisten rumah tangga, atau aku saja yang mengurusnya. Apa kamu paham?! ”
“ Eh…urusan ranjang? ” tanya Yamuna penasaran maksud dari ucapan Cadman.
“ Sudah lupakan saja, aku pun tidak akan meminta hal itu jika kamu belum mau memberikannya kepadaku, ” ucap Cadman mengalihkan pembicaraan, tangannya mengoles salep luka bakar ke tangan Yamuna terkena cipratan minyak.
“ Sehabis aku nifas, maukah kamu mengajari aku soal di atas ranjang? ” tanya Yamuna menundukkan kepalanya malu-malu.
“ Eh…berarti kamu! ”
Yamuna mengangguk.
“ Apa kamu sekarang sudah menerima aku sebagai Suami kamu? ” tanya Cadman penasaran, apakah Yamuna sudah bisa membuka hatinya untuk dirinya setelah kejadian buruk dalam rumah tangga atas perbuatan Farran.
“ Iya, ” sahut Yamuna.
“ Alhamdulillah ya Allah, ” ucap Cadman bersyukur.
__ADS_1
...Bersambung ...