SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 130. Kejahatan Caden


__ADS_3

“ Permisi, maaf mengganggu, ” sapa perawat berparas cantik, tubuh mungil, kulit putih bersih, dan bola mata hitam pekat. Perawat tersebut berjalan masuk ke dalam ruang rawat inap Yamuna, dan kini berdiri di samping ranjang.


Chandra langsung beranjak dari sofa, berjalan mendekati ranjang rawat inap Yamuna, dan berdiri di samping Cadman. Seolah tak ada rasa sopan, dan menganggap Cadman seperti seorang teman, Chandra mesikuti lengan Cadman, dan berkata, “ Tuan, cantik juga.”


“Aku rasa semua wanita di mata kamu cantik,” sindir Cadman.


“ Kali ini benar-benar beda, saya rasa perawat ini masih suci, ” bisik Chandra semangat.


Cadman tidak menjawab, ia menatap perawat sedang melepaskan selang infus Yamuna, dan berkata, “ Dek, apakah kamu sudah memiliki kekasih? ” tanya Cadman seolah mewakili perasaan Chandra.


Yamuna, Yasmin, dan Ben, mendengar pertanyaan Cadman terkejut.


“ Maaf Pak, saya sudah menikah dan memiliki satu orang anak, ” sahut perawat tersebut dengan sopan.


Cadman melirik ke wajah Chandra terlihat lesu, tak bersemangat setelah mendengar jawaban dari perawat, “ Apa kamu sudah dengar? ” jelas Cadman mengingatkan Chandra.


“ Sudah, ” Chandra balik badan, “ Ternyata tertipu, ” gumam Chandra, kakinya kembali melangkah menuju sofa dengan tubuh sedikit membungkuk.


Setelah selesai melepaskan selang infus, perawat menatap wajah Cadman, “ Sepertinya kesehatan Ibu sudah sangat stabil setelah melahirkan. Saya rasa besok pagi Ibu sudah bisa pulang, ” pesan perawat kepada Cadman, tangannya memegang selang infus, dan botol infus bersisa air infus 2 jengkal dari bawah.


“ Terimakasih, ” sahut Cadman, dan Yamuna.


“ Sama-sama, kalau begitu saya permisi, pamit pergi, ” pamit perawat sopan.


Perawat tersebut balik badan, saat ia berjalan menuju pintu, sejenak perawat tersebut melirik ke Chandra, sedang duduk, dengan kepala tertunduk. Lalu kembali menatap lurus ke depan, dan keluar dari ruangan rawat inap Yamuna.


Setelah perawat tersebut keluar ruangan, kepala Chandar tadi tertunduk, kini menegak, ia juga merapihkan jas miliknya, dan kembali merebahkan tubuhnya, dengan kedua kaki lurus naik ke tangan sofa. Yasmin, Yamuna, Ben, dan Cadman, hanya bisa menghela nafas panjang melihat karakter aneh Chandra.


“ Haa…ternyata wanita itu bukan hanya merepotkan saja, tapi wajah mereka juga pandai berbohong, ” kesal Chandra, kedua tangan ia lipat, dan diletakkan di belakang kepala.


Cadman mendekati Chandra, dan duduk di sofa kosong sebelah sofa Chandra, “ Kalau hanya numpang tidur, lebih baik kamu kembali ke kantor. Dan kamu berhentilah mengumpat tentang wanita, ” usir Cadman.

__ADS_1


“ Kedatangan saya ke sini bukan hanya sekedar datang saja tuan muda. Saya datang ke sini karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan, ” sahut Chandra santai.


“ Hal apa itu? ” tanya Cadman penasaran.


“ Apa tuan muda benar-benar tidak tahu? ” Chandra bertanda histeris.


“ Tentu saja. Cepat, katakan apa itu! ” desak Cadman lantang. Tersadar ia baru saja mengeluarkan suara lantang. Cadman melirik ke Yamuna, terlihat Yamuna memelototi Cadman, sambil menimang anak, mereka. Cadman berdiri, “ Ehem, sebaiknya kita bahas di luar saja, ” sambung Cadman mengajak keluar ruangan.


“ Baik, ” sahut Chandra patuh.


Chandra, dan Cadman, berjalan keluar ruang rawat inap Yamuna. Cadman, dan Chandra terus berjalan menyusuri koridor ruangan, menuju loby. Sesampainya di loby, Cadman, dan Chandra duduk santai, membaur dengan pengunjung rumah sakit lainnya.


“ Ada yang ingin kamu katakan? ” tanya Cadman pelan.


“ Tuan muda pasti sudah tahu tentang nyonya Caden, mantan mertua dari nona muda Yamuna. ”


“ Iya, kenapa dengan wanita itu? ” tanya Cadman kembali.


“Penipuan, lantas apa hubungan denganku?” sela Cadman tak sabaran.


“ Wanita tua itu datang ke Desa-desa, untuk mencari mangsa. Melakukan penipuan, tentang lowongan pekerjaan sebagai salah satu model, atau kru staf yang akan bekerja di Perusahaan nona muda. Dengan iming-iming gaji besar, 10 juta. Tapi sebelum masuk kerja, mereka harus membayar uang pendaftaran sebesar 3 juta rupiah, ” jelas Chandra memberitahu.


Cadman menghela nafas panjang, ia merasa muak dengan tingkah keluarga Farran, mantan Suami pertama Yamuna, tiada habisnya mengusik kehidupan Yamuna.


“ Tuan muda, ” panggil Chandra, kepala sedikit menunduk, melihat wajah jenuh Cadman, tertunduk.


“ Kamu tolong bereskan semuanya, dan jangan kasih kelonggaran buat siapa pun yang mengusik kehidupan Yamuna. Dan kamu juga aku perintahkan untuk membersihkan nama buruk Yamuna, dan perusahannya yang ada di Desa-desa secara langsung! ” tegas Cadman memberi perintah.


“Baik, Kalau gitu saya akan segera berangkat,” sahut Chandra semangat, mendapat misi baru dari Cadman. Dan darah psikopat nya langsung menggelegar.


“ Iya, tentang perusahaan biar aku saja yang ambil alih. Kamu pergilah, ” jelas Cadman sekali lagi memberi perintah.

__ADS_1


“ Baik tuan muda, kalau gitu saya pamit pergi. Saya harus mengemas barang-barang hari ini juga. Saya titip rindu dengan tuan muda junior, ” pamit Chandra, tak lupa menitipkan salam buat putra Cadman, belum di beri nama.


“ Hem, ” angguk Cadman.


Chandra balik badan, ia pun melangkah pergi meninggalkan Cadman, masih duduk di loby. Melihat Chandra sudah berada jauh di ujung koridor, Cadman ikutan berdiri, beranjak dari kursinya, dan kembali ke ruang rawat inap Yamuna.


.


.


Di desa kecil, sedikit penduduk, dan rata-rata para warga mendapatkan uang dengan hasil panen padi, dan ternak bebek. Terlihat Caden, memakai stelan baju rapih. Caden terlihat sedang duduk di tempat duduk terbuat dari papan, berteras lantai tanah. Di samping kanan, kiri, dan belakang, duduk Bapak, Ibu, dan anak gadis dengan wajah polos, anggun, dan cantik.


“ Siapa nama anak gadisnya, Pak? ” tanya Caden, tangan memegang pulpen, dan kertas, di kertas tersebut terlihat ada 5 daftar nama anak gadis, sudah di tipu oleh Caden.


“ Tapi neng, kami belum memiliki uang. Gimana kalau kami hutang dulu, ” mohon Bapak dari sih anak gadis.


“ Is..Bapak. Masa harus menunda pekerjaan anak kita. Ini mumpung ada lowongan pekerjaan di kota, dan ini adalah Perusahaan ternama. Biarkan Geulis masuk, Pak, ” bujuk Ibu dari anak gadis bernama Geulis.


“ Tapi Bu…”


“ Sudah Bu, Geulis nggak apa-apa kerja di kampung dulu. Entar kalau sudah ada uang baru cari kerja di kota, ” sela Geulis lembut, tangannya memegang tangan Ibunya.


“ Yakin nggak mau? ” tanya Caden sinis.


“ Saya sangat mau, tapi keuangan orang tua saya tidak memungkinkan, ” Geulis membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan Caden, “ Saya mohon maaf Bu, ” sambung Geulis minta maaf dengan tulus.


Caden berdiri, “ Bilang dari tadi kek, buang-buang waktu saja. Lihat sudah banyak yang mendaftar dengan saya, ” omel Caden menunjuk secarik kertas berisi 5 nama anak gadis.


“ Saya sangat memohon maaf, kami memang tidak punya uang. Adapun uang untuk biaya makan selama 1 Minggu, ” ucap Bapak, meminta maaf sekali lagi pada Caden.


Caden balik badan, ia pergi begitu saja dengan raut wajah marah. Sudah cukup jauh dari rumah Geulis, bibir Caden tersenyum jahat.

__ADS_1


__ADS_2