SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 94. Numpang masak


__ADS_3

Srek!srek!


Terdengar suara pisau memotong sayur di dapur Apartemen milik Ben.


Yasmin sedang duduk di meja makan mini di depan meja masak, ia terus memandang wajah serius Ben terlihat sangat maskulin. Membuat pikiran Yasmin terus menerawang jauh.


Jika di lihat-lihat Ben dan Cadman ternyata sama-sama memiliki ketampanan yang sama. Bedanya, Cadman adalah seorang anak dari kelas atas, sedangkan Ben dari orang biasa. Namun, rasa cinta Yasmin tidak terhalang dengan status keluarga Ben. Baginya asal hidup bersama bisa menjadi nyaman, tanpa paksaan, itu sudah lebih dari cukup. Tentang materi, masih bisa di cari sama-sama.


“ Kenapa kamu terus memandangku seperti itu? ” tanya Ben dingin.


“ Sangat sempurna,” sahut Yasmin, bibir tersenyum penuh arti.


“ Jangan mikir yang aneh-aneh kamu! ” sekak Ben.


“ Sekarang kita sepertinya terlihat lebih akrab. Kamu saja sudah memanggil aku, jadi ‘kamu’, bukan nona muda Yasmin lagi! ” ucap Yasmin mengalihkan pembicaraan. Yasmin mengangkat kedua lengan kemeja milik Ben, ia pakai kedodorannya, “ Ternyata seperti ini rasanya memakai baju kemeja dari orang yang kita cintai. Terasa hangat, dan lembut, ” sambung Yasmin memuji baju kemeja kedodoran milik Ben.


“ Daripada kamu tidak memakai baju. Lagian, jadi wanita kok jorok sekali. Apa selama kamu di Belanda tidak pernah mencuci baju?! ” tanya Ben saat mengingat semua baju di dalam koper ternyata adalah baju kotor milik Yasmin belum di cuci hampir 1 bulan.


“ Tidak, sekali pakai langsung buang. Tapi karena aku sadar jika baju-baju yang aku beli sangat mahal, aku jadi membawa semua pulang, dan berniat mencucinya di tukang laundry, ” jelas Yasmin sudah terbiasa hidup mewah, dan tak pernah mencuci pakaian.


“ Jorok! ” gumam Ben jijik.


“ Aku juga jarang mandi loh! ” ucap Yasmin tanpa di tanya.


“ Sangat jorok! Apa kamu tidak takut penyakit bersarang di tubuh kamu. Dan gimana kamu menjaga kebersihan diri kamu, dan bagian penting lainnya kalau kamu tidak pernah mandi? ” tanya Ben histeris.


“ Kalau soal merawat diri aku tinggal pergi saja ke klinik perawatan. Mereka lah yang merawat semua yang ada di tubuhku, dan tentang bulu yang pernah tumbuh di daerah tertentu, aku tinggal suntik, atau berikan obat penghenti… ”


“ Jorok…jorok…jorok! ” teriak Ben menyela ucapan Yasmin terdengar santai tanpa beban.


“ Kok jorok sih? ” tanya Yasmin tenang.


“ Kamu apa tidak pernah berpikir panjang dengan kehidupan kamu di masa depan. Apa kamu tahu tentang masa depan yang kamu pikir akan terus bergelimang kemewahan, dan dilayani oleh orang lain? Pasti tidak pernah terpikir 'kan! ” omel Ben, tatapan terlihat suram memandang wajah tak bersalah Yasmin.


“ Maka dari itu aku ingin kamu mengajari aku hidup sederhana, ” ucap Yasmin tanpa beban.


“ Saya tidak sudi memiliki kekasih ataupun Istri jorok seperti kamu! ” hardik Ben.


Ben kembali memotong sayuran dengan cepat, wajahnya masih terlihat suram, karena geram mendengar ada wanita secantik Yasmin ternyata bisa sangat jorok. Dan tak tahu malu membicarakan bagian miliknya.


Ding dong!


Pintu bel Apartemen Ben berbunyi.


“ Siapa yang datang hari minggu sepagi ini? ” tanya Yasmin.

__ADS_1


“ Nggak tahu! ” sahut Ben ketus. Ia segera membasuh kedua tangannya, lalu melangkah pergi menuju pintu, diikuti Yasmin.


Sesampainya di depan pintu Ben menekan kode, lalu menarik handle pintu.


Blam!


Ben kembali menutup pintunya saat melihat ternyata tamunya adalah Yasmin, dan Cadman.


“ Bukannya itu Yasmin, dan Cadman? ” tanya Yasmin memperjelas penglihatan sekilasnya tadi.


“ Diam! ” Ben memegang kedua bahu Yasmin, memutar tubuhnya, “ Kamu cepat sembunyi di dalam kamar! ” sambung Ben mendorong pelan tubuh Yasmin dari belakang.


“ Hei, kenapa aku tidak boleh melihat mereka. Biarkan aku ikut gabung, ” ucap Yasmin berusaha menekan kedua tumitnya untuk berhenti. Namun, tenaga Ben jauh lebih kuat daripadanya.


Ben dan Yasmin kini sudah berada di dalam kamar. Ben membuka lemari pakaiannya.


“ Sini, kamu masuk ke sini, ” pinta Ben, tangannya menarik lengan Yasmin, dan mendorong lembut sampai Yasmin masuk ke dalam lemari gantungnya.


“ Hei, aku nggak suka tempat sempit. Jadi jangan suruh aku masuk ke dalam lemari kamu yang sempit ini, ” berontak Yasmin.


“ Kamu diamlah, saya tidak mau nona muda Yamuna tahu jika ada kamu berada di dalam Apartemen milikku. Bisa-bisa nona muda nanti berpikir aneh tentang kehadiran kamu. Jadi saya perintah kamu diam lah di dalam sini, saya mau keluar dulu! ” tegas Ben memberi perintah kepada Yasmin untuk tidak keluar lemari.


“ Iya deh, ” sahut Yasmin setengah memaksa.


“ No-nona, ada apa? ” tanya Ben kaku.


“ Tadi perasaan aku ada melihat wanita berdiri di belakang kamu. Tapi kemana wanita itu? ” tanya Yamuna, bola matanya terus melirik ke dalam ruang Apartemen Ben. Namun, tidak bisa melihat sosok wanita tersebut.


“ Ti-tidak mungkin ada wanita lain lah di dalam Apartemen saya. Gini-gini saya masih waras untuk membawa anak perawan orang masuk ke dalam Apartemen, ” sangkal Ben gugup.


“ Apa kamu sedang masak? ” tanya Cadman, ia menatap celemek masih menempel di tubuh Ben.


“ Oh, iya tuan muda. Saya ingin memasak buat sarapan, ” sahut Ben cepat, ia bersyukur jika Cadman mengalihkan pertanyaan ragu Yamuna.


“ Aku bantu. Ketepatan tadi kami juga dari mini market yang sudah buka. Jadi bisa numpang buatkan sarapan buat Yamuna, ” ucap Cadman ingin menumpang masak.


“ Silahkan masuk tuan, ” sambut Ben mempersilahkan masuk.


Yamuna, dan Cadman masuk ke dalam, tak lupa mengucap salam, dan menggantik sepatu sport mereka dengan sandal rumah sudah tersedia di depan pintu Apartemen. Ben berpikir jika tidakan merondokkan Yasmin di dalam lemari adalah paling tepat, dan mungkin tidak akan ketahuan. Tapi Ben lupa jika sepatu hak tinggi milik Yasmin masih tersusun rapih di rak sepatu, dan di sebelah sepatu pansus milik Ben.


Yamuna mendekati Ben, sebelah alisnya menaik, dan bibir tersenyum penuh makna saat menatap wajah Ben bertambah panik.


“ No-nona muda kenapa memandang saya seperti itu? ” tanya Ben gugup.


“ Aku numpang kamar mandi kamu boleh? ” tanya Yamuna berusaha pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


“ Boleh, tapi kamar mandi yang ada di dapur saja. Kalau kamar mandi yang ada di dalam kamar Apartemen, sedang rusak, dan besok akan diper….”


Baru saja ingin menjelaskan kebohongannya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Yasmin.


“ Haaaaa…ada kecoak! ”


Sangking takutnya dengan kecoak, Yasmin sampai lari keluar kamar, dan ia juga melompat ke dalam pelukan Ben. Kedua tangan Ben juga dengan refleks, langsung menerima tubuh Yasmin. Hal itu membuat Yamuna, dan Cadman saling pandang.


“ Ternyata! ” ucap Cadman, dan Yamuna serentak.


“ I-ini tidak seperti yang tuan, dan nona muda pikirkan. Saya dan Yasmin tidak ada hubungan apa pun. Saya menerimanya karena ia malas pulang ke rumah, ” jelas Ben gugup.


“ Benarkah itu? ” tanya Yamuna kepada Yasmin.


Yasmin perlahan turun dari gendongan Ben. Ia berdiri menghadap Yamuna, lalu mengangguk malu.


“ Apa kamu tahu resikonya menerima kamu ada di sini? ” tanya Yamuna datar.


“ Tahu. Tapi aku tidak perduli, aku hanya ingin bersama dengan Ben, ” sahut Yasmin sadar akan tindakannya akan mencelaiki Ben, kalau sampai Andreas mengetahui kepulangannya.


“ Kamu sungguh egois Yasmin. Kamu sudah tahukan, saat kamu datang ke Perusahaan ku, dan melihat kamu ada di dalam ruanganku. Tuan Andreas berpikir Ben ada seorang pria buruk yang ingin merusak putrinya. Padahal kamu sendiri yang datang mengejar Ben. Dan kamu tidak kasihan jika Ben harus terluka karena ulah kamu? ” tanya Yamuna mengingatkan Yasmin.


“ Aku akan memohon sama Papa untuk tidak menyakiti Ben, ” sahut Yasmin dengan nada sedikit bersalah.


“ Jika tuan Andreas meminta kamu untuk menjauhi Ben. Gimana?” tanya Yamuna tanpa ampun.


“ Aku tetap akan terus mengejar Ben. Aku juga ingin hamil anaknya Ben, dan hidup berumah tangga dengan bahagia,” sahut Yasmin santai.


“ Apa kamu pikir berumah tangga itu mudah? Seperti membalikkan gorengan yang ada di dalam minyak panas? ”


“ Tentu saja tidak, tapi aku sudah membulatkan tekad untuk bisa….”


Merasa Yamuna akan terus bertanya tanpa ampun. Cadman memotong pembicaraan.


“ Yamuna, aku sangat lapar. Gimana kita lanjut mengobrol nya setelah kita makan saja,” bujuk Cadman.


“ Baiklah, ” sahut Yamuna menurut.


“ Kalau gitu, nona muda, dan kamu, Yasmin. Duduk dulu di ruang Tv. Saya dan tuan muda Cadman akan menyiapkan sarapan pagi, ” ucap Ben mempersilahkan untuk pergi menuju ruang tamu.


Yamuna, dan Yasmin menurut, mereka berjalan menuju ruang tamu. Setelah Yamuna, dan Yasmin terlihat sudah terlihat menghilang dari pandangan. Ben, dan Cadman serentak mengelus dada mereka.


“ Akhirnya perdebatan tak terelak berhenti juga, ” ucap Cadman dan Ben serentak.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2