
Bapak dan Geulis, mengantar Chandra masuk ke dalam rumah. Langkah mereka terhenti di koridor kecil, dan sempit. Terdapat 2 pintu kamar sejajar di sisi kiri koridor.
“ Ini kamar buat nak Chandra, ” tunjuk Bapak menyingkap tirai pintu kamar nomor 2. Bapak juga menyingkap tirai pintu kamar nomor 1, “Kalau di sebelah sini adalah kamar Geulis,” sambung Bapak memberitahu.
“ Terimakasih atas tumpangannya Pak, ” ucap Chandra mengucap terimakasih. Lalu ia menatap Bapak, sedang tersenyum manis kepada nya, “ Kenapa Bapak mengizinkan saya tinggal di sini? Apa Bapak tidak takut kalau saya berbuat jahat kepada keluarga Bapak dan….” Chandra melirik ke Geulis, tertunduk malu, “ Dan Geulis? ” sambung Chandra serius. Karena ia tahu siapa dirinya, dan tidak sepantasnya ia mendapatkan perlakuan baik seperti orang tua Geulis perbuat olehnya.
“ Nak Chandra berbicara apa sih! ” Bapak menepuk bahu Chandra, “ Sudah…silahkan istirahat dulu. Bapak dan Ibu mau lanjut kerja lagi ke sawah, ” sambung Bapak menyuruh Chandra beristirahat.
“ Terimakasih Pak, ” Chandra menundukkan lagi sedikit tubuhnya, dan mengucap terimakasih kepada Bapak.
“ Ha ha ha…kenapa harus terus-menerus berkata terimakasih. Sudah-sudah, silahkan istirahat. Kalau nak Chandra nanti mau berkeliling kampung, ajak Geulis aja, ” Bapak balik badan, “ Bapak pergi dulu, ” sambung Bapak berpamitan sekali lagi.
“ Kami berangkat dulu, nak Chandra, dan Geulis, ” sambung Ibu berpamitan dari depan pintu rumah menembus dengan koridor sempit kamar Geulis, dan Chandra.
“ Iya, ” sahut Chandra, dan Geulis serentak.
Seolah merasa percaya dan tidak memiliki pikiran was-was kepada Chandra. Bapak-ibu, meninggikan Geulis bersama dengan Chandra di rumah.
Chandra dan Geulis, kini hanya berdiri di depan pintu kamar mereka masing-masing dengan wajah canggung.
“ Bang, Geulis permisi dulu, mau angkat jemuran, ” pamit Geulis, balik badan, melangkah pergi keluar rumah meninggalkan Chandra.
Chandra hanya diam, menatap kepergian Geulis, “ Kok kalian bisa percaya kepada saya. Saya ini adalah makhluk yang jahat. Saya bisa membunuh kalian satu keluarga, atau saya bisa menerkam Geulis dengan mudah. Haa…apa ini, apa saya harus segera bertaubat, ” gumam Chandra, tangannya memijat keningnya.
Tersadar akan tugasnya, Chandra memeriksa keadaan setempat. Merasa rumah sudah cukup sunyi, tidak ada Bapak, ibu, dan Geulis, Chandra merogoh ponsel miliknya dari dalam saku celana jeans miliknya. Menekan nomor kontak Cadman.
__ADS_1
Tut!!!!
📞[ “Halo, Assalamua’laikum. Ada apa Chandra?” ] tanya Cadman dari sebrang sana setelah menerima panggilan telepon dari Chandra.
📞[ “Wa’alaikumsalam. Tuan muda, saya sudah mendapatkan Alamat tempat Caden tinggal. Tapi, Caden saat ini tidak ada di Desa ini, dia sedang melakukan penyuluhan ke Desa sebelah, dan kemungkinan akan kembali besok, atau besok lusa. Jadi saya memutuskan untuk menunggunya, dan tinggal di rumah salah satu warga Desa ini, daripada saya mengejarnya ke Desa sebelah, takutnya saya tidak ketemu dengannya.” ]
📞[ “Keputusan yang bagus. Tapi kenapa kamu malah memilih tinggal di rumah warga? Kamu tidak membongkar penyamaran kamu, dan siapa kamu di sana ‘kan?” ] tanya Cadman terdengar cemas.
📞[ “Tadinya saya ingin mencari hotel atau tempat tinggal terdekat. Namun, di sini tidak ada rumah kosong. Mau cari hotel, jarak hotel dan Desa ini sangat jauh, bisa-bisa saya tidak ketemu dengan Caden, atau bahkan bisa kehilangan jejak Caden, kalau saya pulang balik mengunjungi ke Desa. Oh....ya, saya tinggal di rumah warga bukan permintaan saya sendiri, ketua Desa, dan pemilik rumah lah yang menyodorkannya kepada saya. Baik ‘kan? Mana anak gadisnya cantik.” ]
📞[ “Jangan bilang kamu sedang memikirkan hal aneh?” ] tuduh Cadman.
📞[ “Rencananya. Tapi itu tidak mungkinlah, saya juga masih mikir mau memperawa…..” ]
Ucapan Chandra terhenti saat melihat ada bayangan seorang wanita di sampingnya. Chandra langsung menutup teleponnya, dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana jeans miliknya. Lalu ia menatap Geulis, berdiri di sampingnya, kedua tangan terlihat penuh dengan kain kering.
Gawat! Apakah Geulis mendengar percakapan Chandra, dan Cadman? jika memang iya, maka penyamarannya pasti akan terbongkar. Sekarang Chandra hanya bisa mencoba tenang, dan berusaha mengalihkan rasa tegang di dalam dirinya.
“ Siapa abang ini sebenarnya? Dan kenapa terdengar cukup serius di telepon tadi? ” Geulis balik bertanya.
‘Kalau sudah seperti ini, lebih baik jujur saja,’ gumam Chandra di dalam hati.
“ Pembicaraan apa saja yang tadi adek dengar? ” Chandra balik bertanya dengan wajah tenang, seolah tak takut dengan apa pun.
“ Tadi percakapan abang yang terakhir, yang mengatakan, ‘rencananya. Tapi itu tidak mungkinlah, saya juga masih mikir mau memperawa…’. Rencana apa dan abang mau memperawa apa? ” tanya Geulis mengulang kalimat di panggilan telepon terakhir Chandra.
__ADS_1
Chandra mendengar hal itu hanya terdiam, menahan tawa, dan rasa lega karena Geulis tidak mendengar semuanya. Chandra mendekati Geulis, tangannya mengambil kain kering dari genggaman Geulis.
“ Ini mau di letak di mana? ” tanya Chandra mengalihkan pembicaraan.
“ Mau Geulis lipat di depan bang, ” sahut Geulis, tangannya mengarah ke ruang tamu sekaligus ruang tv.
“ Mari, ” ajak Chandra, ia melangkah terlebih dahulu menuju ruang tamu sekaligus ruang Tv.
“ Sebenarnya tadi Geulis mendengar semuanya. Apa abang Chandra ini adalah orang jahat. Tapi kenapa dia tidak terlihat jahat? ” gumam Geulis, ia menggeleng, “Geulis…kamu harus berpikir positif,” sambung Geulis berusaha menetralkan pikiran buruknya kepada Chandra. Lalu ia melangkah pergi menuju ruang tamu sekaligus ruang tv.
.
.
💫Di rumah Yamuna💫
Cadman sedang berdiri menghadap keluar jendela kamar, menggaruk kepala tak gatal, pandangannya masih tertuju pada layar ponsel miliknya sudah mati. Yamuna sendiri sedang duduk di tepian ranjang berukuran king size, menimang Joryan.
“ Memang Sekretaris yang aneh. Bisa-bisanya dia mematikan panggilan telepon begitu saja, ” gerutu Cadman kesal.
“ Chandra sudah menemukan Caden? ” tanya Yamuna, ternyata mendengar percakapan Cadman dan Chandra saat di telepon tadi.
“ Iya, tapi Caden saat ini sedang ke Desa sebelah. Begitu kata Chandra tadi, ” sahut Cadman sembari berjalan mendekati ranjang, dan duduk di sebelah Yamuna.
“ Yang masih tidak habis pikir, darimana Chandra mengetahui perbuatan Caden? Padahal perbuatannya masih belum naik ke publik, ” tanya Yamuna penuh selidik, kenapa Chandra selalu cepat mengetahui berita buruk baik perusahaan miliknya, ataupun milik Cadman, dan Yoan. Dimana berita itu belum terpublikasi, dan bahkan karyawannya saja belum mengetahui nya.
__ADS_1
“ Chandra itu adalah Sekretaris serba bisa. Hidung, dan telinganya tajam. Jadi harap maklum saja jika Chandra cepat mengetahui informasi seperti itu, ” Cadman memijat lembut bahu Yamuna, “ Sekarang yang terpenting kamu tidak perlu memikirkan hal apa pun. Untuk urusan seperti itu biarkan aku, Chandra, atau para lelaki saja yang mengurusnya, ” sambung Cadman mencoba menenangkan rasa panik, dan cemas di hati Yamuna.
“ Tapi aku masih tidak habis pikir. Kenapa mereka sangat jahat padaku? Kalau sampai mereka ingin menjatuhkan nama Perusahaan milik mendiang Ayah, maka aku tidak akan memaafkan mereka semua! ”