
Keesokan paginya, tepat pukul 06:45 pagi. Cadman pulang ke rumah Yoan. Ia terus berjalan memasuki ruang tamu, wajah tampak terlihat pucat, kantung mata terlihat jelas, rambut berantakan, dan baju kemeja berantakan.
Yoan sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri, meletakkan Koran hangat di pagi hari di atas meja, “Kamu tidur di mana semalam?” tanya Yoan.
“ Kantor, ” sahut Cadman singkat.
“ Kenapa kamu tidak pulang ke rumah? ” tanya Yoan penuh selidik.
“ Bagaimana aku bisa pulang, jika Istriku saja tidak mempercayaiku. Jadi lebih baik aku mencari bukti, dan menunjukkannya kepada Yamuna, agar dia bisa memanfaatkan ku. Daripada aku pulang dan membujuknya untuk mempercayai ku, ” sahut Cadman datar. Ia berhenti di depan sofa, dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang, sebelah Yoan.
Yoan mendekati Cadman, dan menarik lengan Cadman untuk bangkit dari tidur nya, “Daripada kamu tidur di sini, lebih bagus kamu mandi dulu, dan bujuk Yamuna untuk mau makan. Soalnya dia dari tadi malam tidak ada makan sama sekali,” perintah Yoan.
“ Apa! Yamuna belum ada makan sama sekali dari tadi malam? ” ucap Cadman histeris, ia langsung bangkit, dan berlari menuju lantai 2, kamarnya.
Sesampainya di lantai 2, Cadman mengetuk pintu kamar, dan memanggil Yamuna. Tapi Yamuna tidak menjawab. Cemas dengan keadaan Yamuna di dalam, Cadman langsung masuk. Ketika sudah berada di dalam kamar, ia tidak menemukan Yamuna, baik di atas ranjang, ataupun di dalam ruang kamar nya.
“ Yamuna…Yamuna! kamu di mana sayang?! ” teriak Cadman, kakinya berjalan menelusuri ruang kamarnya, dan membuka pintu kamar mandi. Kedua mata Cadman membesar saat melihat air dalam bak mandi sampai tumpah, dan terlihat ada tangan Yamuna pucat menggantung keluar dari dalam bak mandi berisi air bak penuh, sedangkan tubuhnya tenggelam di dalam air. Cadman berlari masuk ke dalam, “ Yamuna! ” teriak Cadman masuk ke dalam bak mandi, saat melihat Yamuna seperti ingin mengakhiri hidupnya.
Byur!!
Cadman mengangkat tubuh Yamuna dari dalam bak mandi, dan langsung memeluk tubuh polos Yamuna terasa dingin.
“ Apaan sih! ” ketus Yamuna, ternyata masih hidup dan sehat. Tangannya mendorong bidang dada Cadman untuk melepaskan pelukannya Cadman.
“ Ka-kamu tidak mati? ” tanya Cadman bingung, kenapa Yamuna masih terlihat segar dan sehat, padahal tadi tangannya terlihat pucat, dan tubuhnya saat di peluk juga terasa dingin.
Pertanyaan bingung Cadman ternyata membuat Yamuna tersinggung. Belum lagi kelar masalah tentang kesalahpahaman perselingkuhan Cadman semalam, eh! Sudah mendengar dari mulut Suami sendiri seperti menginginkan ia mati. Pertanyaan, ‘kamu tidak mati?’ seperti mengisyaratkan, kenapa kamu masih hidup, padahal aku senang jika kamu mati. Itulah pikiran Yamuna saat ini setelah mendengar pertanyaan Cadman.
“ Oh, jadi kamu ingin aku mati?! ” tanya Yamuna, ia berdiri dan berkacak pinggang di hadapan Cadman sedang duduk di dalam bak mandi.
“ Ti-tidak, a-aku pikir tadi kamu ingin bunuh diri, ” sahut Cadman lembut, ia menjelaskan pikirannya. Namun, Yamuna salah paham kembali.
“ Jadi kamu ingin aku bunuh diri, karena kamu ketahuan selingkuh. Iya?! ”
“ Ya-Yamuna, ti-tidak seperti itu, ” ucap Cadman berusaha meluruskan pikiran Yamuna.
“ Jadi, apa?! ”
__ADS_1
‘ Haih, harus bilang apa lagi aku. Ternyata wanita kalau sedang marah semua yang kita ucapkan serba salah. Aku bingung harus mau berkata apa lagi, mau bilang A, takut F J Q H I, yang di cerna Yamuna, ’ batin Cadman bingung, ia menengadah ke atas. Bibirnya menyeringai manis saat melihat tubuh polos Yamuna, ‘ Aku tahu apa yang harus aku lakukan, ’ sambung Cadman dengan pikiran nakalnya.
“ Sayang, aku minta maaf, ” ucap Cadman, ia memeluk tubuh polos Yamuna sedang berdiri di hadapannya, dan meletakkan wajahnya di bagian depan titik tumpu Yamuna. Membuat wajah Yamuna memerah, aliran darah, dan jantung langsung berubah.
“ A-apa yang kamu inginkan? ” tanya Yamuna panik.
“ Aku akan buktikan kepada kamu kalau aku tidak selingkuh, ” Cadman menarik tubuh Yamuna, dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
“ A-aku tidak perduli, ” gumam Yamuna pelan, tapi Cadman masih bisa mendengar suaranya.
Cup!
Cadman memagut bibir Yamuna. Semakin lama semakin dalam, membuat lidah menari-nari di dalam.
‘ Apa dia sedang membujukku. Tidak akan aku biarkan. Aku harus mempertahankan harga diriku, ’ batin Yamuna, ia tersadar jika hal ini adalah perbuatan Cadman untuk meminta maaf kepadanya.
“ Jangan sentuh tubuh ku, dengan tangan kotor kamu! ” tolak Yamuna kasar, membuat Cadman terkejut.
“ Yamuna, kenapa kamu sangat mudah tertipu dengan perkataan Iblis itu? ” tanya Cadman sendu.
Tanpa banyak bicara, Cadman bangkit dari bak mandi, ia berjalan dengan seluruh tubuh, dan baju basah menuju kucuran shower. Sesampainya di dalam, Cadman membuka semua bajunya, dan memutuskan untuk mandi saja, tanpa menjelaskan semua kejadian sesungguhnya kepada Yamuna, sebelum ia menunjukkan rekaman aslinya.
‘ Kenapa Cadman jadi diam. Melihat dari raut wajahnya ia sepertinya tulus mengatakan jika dia tidak melakukan apa pun dengan Subandari. Dan kenapa aku juga langsung percaya dengan kebohongan Subandari, padahal aku sangat tahu siapa Subandari. Kenapa aku jadinya merasa kasihan kepada Cadman. Apa aku coba percaya saja, ’ batin Yamuna dengan penuh kebimbangan.
Yamuna keluar dari dalam bak mandi, ia berjalan menuju kucuran shower, dimana Cadman sedang membersihkan tubuhnya dengan busa melimpah, dan air hangat mengalir deras. Yamuna memeluk tubuh Cadman dari belakang, membuat Cadman tak menyadari kedatangan Yamuna terkejut, dan segera mematikan kran.
“ Aku akan coba percaya sama kamu, ” gumam Yamuna, ia menyatukan dahinya ke punggung Cadman.
Cadman memutar arah berdirinya, “Terimakasih,” ucap Cadman, ia memegang dagu Yamuna, dan memagut bibir ranum Yamuna.
Permintaan kata maaf pun berlanjut dengan aksi menyatukan diri di bawah derasnya semburan air dari kucuran shower. Setelah merasa puas, dan hati sama-sama sudah menjadi lega. Cadman dan Yamuna membersihkan diri mereka, lalu keluar dari dalam kamar mandi, dengan wajah terlihat bahagia, meski sedikit canggung.
Setelah selesai memakai baju, dan Cadman juga sudah membantu Yamuna untuk mengeringkan rambutnya. Cadman mengambil ponsel miliknya, dan memutar rekaman CCTV, menunjukkan kedatangan Subandari, dan menunjukkan aksi perbuatan senonoh dari Subandari kepada Cadman.
Merasa bersalah karena langsung terhasut oleh perkataan Subandari, Yamuna menarik kedua tangan Cadman sedang berdiri di hadapannya, dan mencium kedua punggung tangan Cadman. Detik selanjutnya Yamuna menengadah, menatap dengan tatapan penuh penyesalan karena sudah terhasut.
“ Maaf kan aku, ” ucap Yamuna meminta maaf.
__ADS_1
“ Aku juga minta maaf sama kamu. Tapi, sekarang kamu sudah paham kan, dan tidak akan menuduh ku seperti mantan suami kamu itu, Farran? ”
“ Tidak, aku minta maaf karena sudah menyamakan kamu dengan Farran, ” ucap Yamuna malu-malu, ia juga menunduk karena tidak sanggup melihat wajah tulus Cadman.
“ Tidak masalah, ” sahut Cadman, sekilas ia mengecup kening Yamuna. Cadman berdiri, dahinya mengernyit, memikirkan sesuatu, “Kalau gitu siapa yang memberitahu dia tentang perbuatan Iblis itu?” sambung Cadman penasaran.
“ Aku pikir kamu? ” tuduh Yamuna kembali.
“ Tidak, aku mana mungkin seperti itu. Dan aku buka type pria yang mudah menjelekkan pasangan ke orang lain, ” jelas Cadman mengenai dirinya sendiri.
“ Aku tanya Yasmin, ia bilang, ‘walaupun aku wanita yang pernah berbuat buruk, dan tak suka kepada kamu. Tapi aku bukan wanita yang bisa membuka aib mantan musuhku! Aku tidak seburuk itu. Paham!. Itu kata Yasmin, ” sambung Yamuna menceritakan isi percakapan singkat dari via telepon.
“ Jadi, siapa yang memberitahu Subandari? ”
“ Iya- ya, jadi siapa dalang di balik kebocoran hal buruk yang menimpa ku? ” sambung Yamuna ikutan bingung.
Cadman membungkukkan sedikit tubuhnya, kedua tangannya memegang kedua lengan Yamuna, “ Sudah, kita tidak usah memikirkan hal itu. Kita serahkan saja sama Ben, dan juga Chandra yang masih menuntaskan kekacauan yang di buat oleh Subandari, ” ucap Cadman lembut, ia ingin menenangkan kegelisahan di dalam diri Yamuna.
“ Ben? Apa Ben mengetahui pertengkaran kita? ” tanya Yamuna bingung, setahu ia, tidak ada memberitahu Ben tentang masalah itu.
“ Aku pikir kamu yang memberitahu Ben. Soalnya kemarin aku lihat dia menelepon Chandra, dan marah-marah kepada Chandra, ” jelas Cadman mendengar sekilas percakapan Ben, dan Chandra.
“ Ben itu memang Sekretaris ku yang hebat. Bisa mengetahui isi hatiku, ingin peluk dan cium dia, ” gumam Yamuna senang, membuat Cadman terlihat cemburu.
“ Ka-kamu tidak boleh di cium, dan di peluk oleh pria manapun. Kecuali, aku! ”
“ Ben itu Sekretaris ku. Ben juga terlihat sangat lugu, dan polos dalam hal apa pun. Jadi tidak masalah kalau aku memeluk, dan memberi ciuman padanya. ”
Cup!
Cemburu dengan pujian Yamuna, Cadman kembali memagut bibir Yamuna. Lalu melepaskannya.
“ Jangan lakukan itu, jika kamu tidak ingin aku hukum dengan aksi-aksi baru ku yang akan membuat kelelahan, ” ancam Cadman dengan pikiran nakalnya.
Yamuna hanya diam, dan mengangguk patuh. Namun, bibirnya terlihat tersenyum.
...Bersambung...
__ADS_1