SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 149


__ADS_3

3 minggu kemudian, tepat hari Sabtu, Yoan dan Mia melangsungkan pernikahan. Pernikahan diadakan dengan sangat sederhana. Dengan tamu undangan dari 2 belah pihak, dan beberapa karyawan, rekan kerja terdekat saja hadir di acara pernikahan Yoan dan Mia, di adakan rumah Mia.


Chandra datang ditemani Geulis, berjalan mendekati Yoan dan Mia, sedang duduk di kursi, tak jauh dari meja akad.


Chandra menarik kursi di hadapan Yoan, buat Geulis, lalu menarik kursi sebelahnya untuk ia duduk. Setelah duduk, Chandra menyandarkan tubuhnya di kursi, pandangannya menatap lurus ke Yoan.


“ Wah..selamat menempuh hidup baru dengan wanita yang lebih muda dari Presdir Yoan, ” ucapan selamat seperti berbicara dengan kawan atau sahabat sendiri dari Chandra untuk Yoan, Papa dari Presdir tempat ia bekerja.


Chandra memang tidak ada takut-takutnya.


“ Terimakasih, kamu kapan lagi? ” Yoan balik bertanya, pandangan melirik ke Geulis.


“ Hei, pertanyaan macam apa itu! kasar sekali pertanyaan Presdir. Mau kapan saya menikah itu urusan saya. Bukan urusan Anda, ha ha ha…daripada Presdir, sudah tua dan tinggal di kubur aja masih bisa memikirkan kenikmatan dunia. Ha ha ha, awas encok! ” sindir Chandra tak takut.


Bukannya marah kepada Chandra, Yoan hanya menarik nafas panjang, tangan diletakkan di depan dahi, kepala menggeleng.


Mia dan Geulis, hanya diam, melihat perdebatan kedua pria menurut mereka aneh.


“ Haai…gini kalau memiliki Sekrestari yang tak takut apa pun. Ingin di ancam, sudah pasti aku juga balik di ancam. Ingin aku jahit mulutnya, sudah pasti dia akan menjahit atau membuang mulut ku nantinya. Sudahlah, ikhlas 'kan saja dia mau ngomong apa, ” gumam Yoan masih di dengar oleh Chandra, dan lainnya.


Geulis penasaran dengan gumaman baru saja dilontarkan oleh Yoan, memberanikan diri bertanya kepada Yoan, “ Mohon maaf Om…”


“ Eh…Om..Presdir Yoan di panggil Oom sama gadis polos, ha ha ha. Bukan Om-om lagi, Presdir Yoan sebenarnya adalah seorang Kakek tua! ” sela Chandra kembali mengejek Yoan, sembari terkekeh geli.


“ Emang lucu ya, bang? ” tanya Geulis polos.


Chandra sedari tadi tertawa renyah tiba-tiba terdiam, pandangannya menatap Yoan, Mia, Yamuna, dan Cadman baru saja tiba sedang menertawakanya. Lalu pandangan Chandra beralih ke wajah Geulis masih melihat Chandra dengan wajah datar.


“ Apa tidak lucu dek? ” Chandra mengarahkan jari telunjuknya ke Yoan, duduk di hadapannya, “ Lelaki itu memang sudah menjadi seorang Kakek, adek ingat Joryan ‘kan? Anak nona muda Yamuna? ” sambung Chandra mengingatkan Geulis.


“ Ingat, ” angguk Geulis.


“ Nah, Presdir ini Kakeknya. Jadi lucu aja kalau seorang Kakek menikah dengan wanita lebih muda dari nya, ” jelas Chandra di sela tawa sumbangnya. Namun, tawa itu terhenti saat melihat Geulis masih tetap berwajah datar, dan kini sedang menatap lurus ke Yoan dan Mia.


“ Menurut Geulis itu hal wajar. Di Desa Geulis malah banyak kok seorang Kakek menikah dengan anak gadis, ” Geulis menatap Chandra, “ Jadi menurut Geulis hal itu tidak lucu bang, ” sambung Geulis datar.


“ Iya deh nggak lucu, ” gumam Chandra lesu.


“ Ha ha ha…tumben nggak marah. Biasanya kalau ada seorang wanita yang mematahkan dan nggak mengiyakan ucapan Chandra, wanita itu sudah di tinggal atau Chandra akan membuang nya jauh dari muka bumi ini! ” celetuk Cadman.


Chandra langsung melirik Chandra duduk di sebelah nya dengan tatapan suram. Cadman sendiri hanya geleng-geleng. Takjub melihat Sekretaris tingkat dewa nya mendadak lemah di depan gadis polos.


Geulis mendengar hal itu langsung teringat dengan ucapan Chandra 3 minggu lalu. Ucapan terlihat serius dari wajah Chandra saat mengatakan jika gimana Chandra khilaf, melakukan perbuatan hal itu kepadanya. Tatapan Chandra terlihat serius benar-benar membuat otak kecil Geulis selalu mengingat nya.

__ADS_1


Tidak ingin membuat Chandra bertukar pikiran ingin mengembalikannya ke Desa. Geulis langsung memutar posisi duduknya miring ke samping, kedua tangan memegang tangan Chandra.


“ A-abang, Ge-Geulis tidak bermaksud menyinggung perasaan abang. Tapi memang nyata nya hal itu tidak lucu, karena di Desa sudah banyak Kakek, atau nenek-nenek, menikah dengan yang lebih muda lagi. Bahkan mereka juga memiliki pendamping hidup lebih dari satu, ” jelas Geulis gugup.


“ Sudah jangan terlalu di pikirkan, saya tidak marah kok. Saya hanya bingung aja, kok bisa saya menurut dengan wanita seperti adek, ” Chandra berdiri, “ Jangan di pikirkan ucapan saya yang tadi, sekarang mari kita makan. Habis itu kita kembali pulang, soalnya saya masih ada janji dengan seseorang, ” ajak Chandra ingin makan, karena cacing di dalam perut terus berteriak-teriak.


“ Apa mau pergi lagi dengan teman wanita abang? ” tanya Geulis lirih, tatapan berubah menjadi sendu.


“ Tentu saja, kenapa dek? ” Chandra balik bertanya.


“ Oh…ayo kita pergi ambil makanan bang. Kebetulan Geulis juga lapar, ” ajak Geulis mengalihkan pembicaraan, merubah mimik wajahnya menjadi ceria.


Chandra dan Geulis pun pergi menuju meja hidangan berada samping pintu masuk.


Yamuna sendiri, ia terus memperhatikan gelagat Geulis. Gelagat dan raut wajah wanita seperti memiliki rasa suka kepada lawan jenis.


Tapi, apa mungkin Geulis beneran suka dengan Chandra? hal itu membuat Yamuna terus bertanya-tanya dalam hati. Jika diberi kesempatan dan waktu pas untuk berdua dengan Geulis, Yamuna akan menanyakan langsung, agar rasa penasarannya hilang.


“ Kamu kenapa dari tadi melihat Geulis? ” tanya Cadman mengagetkan Yamuna.


“ Eh….kamu sadar nggak? Sepertinya Geulis memiliki rasa kepada Chandra, ” ucap Yamuna pelan, pandangannya masih terus mengarah pada Geulis dan Chandra berjalan ke arah mereka.


“ Aku kurang tahu sih. Aku tidak pernah memperhatikan, mendalami, dan menerka-nerka perasaan wanita lain, selain kamu, ” sahut Cadman sembari tersenyum manis menatap wajah cemberut Yamuna, sedang menatapnya.


Tak lama Chandra dan Geulis datang, duduk di kursi mereka tadi. Bukan Chandra namanya kalau tidak kepo, dan mengkritik seseorang dengan mulut tajamnya.


Melihat wajah Yamuna cemberut. Chandra mulai berpikir untuk membuat suasana hati pasangan suami-istri itu semakin panas. Chandra pun mulai menyusun rencana dan mengajukan pertanyaan itu kepada Yamuna atau Cadman.


“ Tuan muda, kenapa dengan wajah nona muda? Jika tuan muda sudah tidak suka lagi dengan nona muda. Sebaiknya lepaskan saja, agar nona muda bisa memilih, dan mendapatkan orang yang lebih baik lagi, ” ceplos Chandra sedikit bergurau.


“Kamu ngomong apaan sih. Mau aku pecat?!”


“ Pecat saja, entar saya kasih surprise untuk bisnis tuan muda. Berani? ” sahut Chandra santai sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Tidak suka melihat candaan Chandra kembali dengan terlalu berlebihan. Geulis pun menegur Chandra.


“ Abang, tidak baik berbicara seperti itu kepada orang yang sayang sama kita. Dan sudah memperkerjakan kita dengan baik. daripada abang terus berbicara yang tidak-tidak, lebih baik abang habisi dulu makanannya, ” omel Geulis, menatap Chandra serius.


“ Iya deh, saya makan aja, ” sahut Chandra patuh.


Kepatuhan Chandra sontak saja membuat Yoan, Mia, Cadman, dan Yamuna, terkejut. Apa-apaan ini, dari tadi Chandra selalu patuh kalau di nasehati oleh Geulis. Apa Chandra ada rasa dengan Geulis.


“ Ehem, Chandra. Apa kamu menyukai Geulis? ” tanya Cadman to the point.

__ADS_1


Chandra sedang asik mengunyah mie rebus, tersedak.


“ Uhuk…uhuk…”


“ Minum bang…cepat minum sebelum abang mati tersedak, ” ucap Geulis polos memberi minum kepada Chandra.


Chandra pun langsung meminumnya. Namun, Yamuna dan Mia tertawa geli saat mereka mendengar perkataan polos Geulis saat sedang memberikan minum tadi.


Chandra segera meletakkan gelas minumnya di atas meja, menatap tajam ke arah Cadman.


" Pertanyaannya nggak lucu tahu. Geulis sudah saya anggap seperti adik sendiri, " jelas Chandra.


" Yakin? Geulis ini kalau di poles dikit cantik loh! " goda Cadman kembali.


" Yakinlah! daripada sama saya, seorang pria tidak benar. Lebih bagus Geulis berbahagia dengan pria lain! " celetuk Chandra, tangannya memasukkan kembali mie rebus ke dalam mulutnya.


" Benar kata abang Chandra. Walaupun Geulis sudah di poles, Geulis bukan type wanita seperti yang sering di bawa abang ke rumah, " sambung Geulis.


" Berapa banyak wanita yang di bawa Chandra ke rumah? " tanya Cadman penasaran.


" Nggak bisa di hitung. Cuman kadang Geulis itu tidak mengerti kenapa abang selalu membawa wanita-wanita ke dalam kamar tamu. Tak lama abang dan wanita itu masuk ke kamar, Geulis pasti selalu mendengar suara...aa...."


" Stop! jangan lanjutkan dek! " bisik Chandra, tangannya membungkam mulut Geulis dengan cepat.


Yamuna, Cadman, dan Yoan, hanya menggeleng. Mereka bertiga sudah tahu gimana Chandra, jadi jika mendengar cerita Geulis, Cadman, Yamuna, dan Yoan , sudah tidak terkejut lagi.


Tak terasa, kini hari mulai sore, Yoan dan Mia mengantar tamu dan keluarga ingin pulang sampai di depan gerbang rumah. Setelah semua tamu pulang. Tinggal Yamuna, Cadman, Chandra, dan Geulis berdiri di samping masing-masing mobil mereka.


" Kalian mau pulang juga? " tanya Yoan, menghampiri Yamuna, Chandra, Cadman, dan Geulis.


" Iya Pa, kasihan Joryan di tinggal seharian sama Bibi Ratna, " Yamuna mengambil tangan Yoan, dan Mia, mencium punggung tangan, lalu balik mundur ke belakang.


" Kalau gitu hati-hati, dan terimakasih ya, " ucap Mia.


" Sama-sama, " sahut Cadman dan Yamuna serentak.


" Kami juga pamit pulang, dan selamat malam pertama. Dan ingat! awas encok! " celetuk Chandra.


" Haih...iya lah! " hela Yoan terdengar pasrah.


Menit selanjutnya mobil dinaiki Yamuna, Cadman, Chandra dan Geulis, berjalan perlahan keluar dari gerbang rumah. Tinggallah Mia, dan Yoan di depan gerbang.


" Mari masuk! " ajak Yoan, tangannya mengulur ke arah rumah.

__ADS_1


__ADS_2