
Begitu Yamuna sampai di tengah-tengah koridor ruang Ben, dan dirinya sendiri. Terlihat Cadman berdiri dengan wajah suram, di samping kiri ada Yasmin, dan Ben tertunduk takut.
“ Kamu kenapa datang ke sini? ” tanya Yamuna, tangannya menekan tombol laju kursi rodanya. Kursi roda melaju, dan berhenti tepat di hadapan Cadman.
“ Aku datang ke sini karena aku sudah tidak memiliki pekerjaan di kantor. Dan aku juga datang ke sini karena aku cemas, siapa yang akan mendorong kursi roda kamu! ” tatapan tajam mengarah pada Ben, dan Yasmin, “Dan saat aku datang ke sini! Berani sekali kalian berdua bermesraan, sedangkan Istriku berjalan sendirian di belakang kalian!” sambung Cadman, memarahi Ben dan Yasmin.
“ Sudah…sudah. Kenapa kamu marah kepada Ben? Yasmin ‘kan juga sedang hamil, dan dia juga butuh perhatian dan pengawasan dari Ben, ” bela Yamuna mencoba menenangkan hati Cadman.
“ Benar, aku juga sedang hamil, ” sambung Yasmin lirih, tangannya mengelus perut buncitnya.
“ Kalian berdua masuklah, dan selamat menikmati makan siang, ” perintah Yamuna lembut.
“ Baik, terimakasih Yamuna, ” sahut Yasmin langsung semangat. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Ben, membawa Ben masuk ke dalam ruangan Ben.
“Kamu jangan terlalu memanjakan Yasmin, dan Ben. Bisa-bisa mereka nanti besar kepala,” omel Cadman terdengar cemburu.
“ Karena tidak memiliki adik, ‘kan tidak masalah memanjakan anak orang. ”
“ Ya sudahlah, terserah kamu aja! ” Cadman membelai puncak kepala Yamuna, “ Kamu pasti sudah sangat lapar 'kan? ”
“ Iya, kamu kok tahu? ”
“ Tentu saja aku tahu, ” Cadman berjalan ke belakang kursi roda Yamuna, menggenggam genggaman dorongan tangan kursi roda, “Sekarang mari kita masuk, dan makan,” ajak Cadman, ia mendorong kursi roda menuju ruangan Yamuna.
Sesampainya di dalam, Cadman membantu Yamuna untuk turun dari kursi roda, membantu Yamuna duduk di sofa. Perut sudah mulai membesar, sedikit menyulitkan Yamuna untuk bangkit, berdiri, dan berjalan. Untung Cadman selalu siap siaga.
Yamuna, dan Cadman sudah duduk di sofa, di atas meja sudah tersedia banyak menu kotak makanan berbagai macam rasa dan Restauran. Merasa makanan di beli Cadman terlalu banyak. Yamuna menekan tombol di bawa meja miliknya. Tombol pemanggil darurat untuk memanggil Ben, sudah terpasang di setiap sela tersembunyi. Menit selanjutnya, Ben, dan Yasmin sudah berdiri di depan pintu.
“ Ada apa nona muda? ” tanya Ben kuatir.
__ADS_1
“ Apa kalian sudah selesai makan? ”
“ Sudah, ini sudah menjadi satu dengan anak kami, ” sahut Yasmin, kedua tangannya mengelus perut buncitnya.
“ Kebetulan Cadman membeli sangat banyak makanan, dan ada makanan pencuci mulut juga. Aku minta, kalian ikut makan bersama kami, ya? ” ajak Yamuna setengah memohon, tatapannya terlihat tulus memandang Yasmin, dan Ben.
“ Kebetulan sekali, perutku masih lapar, ” sahut Yasmin tanpa menolak, Yasmin memegang tangan Ben, membawa Ben langsung mendekati sofa, dan duduk berhadapan dengan Yamuna.
Malu akan tingkah Yasmin, Ben menegur Yasmin dengan lembut, “ Kamu tidak boleh makan terlalu banyak. Kamu tidak ingat apa kata Dokter, jika anak kita sudah sangat besar di dalam. Entar kamu kepayahan….”
“ 1 bulan mendekati tanggal lahiran, aku pasti akan mengurangi makan. Aku janji! ” sela Yasmin serius. Tenggorokannya terus menelan saliva hendak keluar dari mulutnya, saat melihat menu makanan terlihat enak, dan harumnya cukup menggoda perut.
“ Karena semua sudah lapar, mari baca doa, dan makan! ” ajak Yamuna.
Setelah Yamuna, Yasmin, Ben, dan Cadman selesai membaca doa. Mereka menyantap makanan sudah tersaji di atas meja, di selingi canda-tawa. 20 menit kemudian, mereka sudah selesai makan. Ben membantu Cadman, membuang bekas tempat kotak makan mereka ke tong sampah berada di samping lift. Setelah itu mereka kembali menuju ruangan milik Yamuna. Baru saja mau masuk ke dalam ruangan Yamuna, ada seorang pria memanggil Cadman.
“ Tuan Cadman, ” panggil Muranne.
“ Mau apa Anda kemari? ” tanya Cadman dingin.
“ Tentu saja saya sedang melakukan kerja dengan Istri, tuan! ” sahut Muranne tenang.
Cadman melirik ke Yamuna, sedang berbincang dengan Yasmin di dalam. Lalu mengalihkan lirikannya ke Muranne, “ Apa Anda sedang menipu Istri ku? ” tanya Cadman penuh selidik.
“ He he he….untungnya tidak jadi. Saya sudah ketahuan duluan oleh Istri, Anda, ” sahut Muranne jujur.
“ Baguslah, aku pikir Anda mencoba ingin menipu Yamuna. ”
“ Kalau saya berhasil menipunya, gimana? ” tanya Muranne sedikit bercanda.
__ADS_1
“ Tentu saja, tuan akan tahu akibatnya, ” sahut Cadman dingin, tatapan menusuk menatap lekat wajah panik Muranne.
“ He he he, saya hanya bercanda, ” ucap Muranne gugup.
“ Jadi kenapa tuan datang ke sini? ” tanya Cadman sekali lagi karena tidak puas.
“ Bukannya saya sudah bilang, saya ke sini karena saya sedang melakukan kontrak kerja sama Endorse dengan Istri tuan. ”
“ E-endorse? ”
“ Iya, saya menawarkan Endorse baju hamil, dengan bahan super kualitas tinggi untuk nona muda, dan temannya yang cantik itu. Apa tuan tidak tahu? ” sahut Muranne.
Dahi Cadman mengernyit, sejak kapan Yamuna mau menjadi model Endorse. Cadman langsung mengabaikan Muranne, ia balik badan, kakinya masuk ke dalam ruangan Yamuna, dengan wajah suram. Muranne sendiri, terus berteriak memanggil nama Cadman, dan ikutan masuk ke dalam.
Cadman berdiri di samping sofa diduduki oleh Yamuna, “ Kenapa kamu mau menjadi model Endorse? ” tanya Cadman dingin.
Sejenak Yamuna melirik ke Muranne dengan tatapan tajam, detik selanjutnya menatap wajah dingin Cadman dengan tatapan memelas. Yamuna mengambil tangan Cadman, dan menciumnya berulang kali, “Aku melakukan itu karena ingin memiliki foto saat hamil dengan memakai baju berkualitas tinggi, dan aku orang pertama yang memakainya. Tapi kalau kamu tidak mengizinkan, maka aku akan memulangkan uang mukanya, dan membatalkan kontrak itu,” jelas Yamuna sendu, matanya berkaca-kaca, menatap nanar mata Cadman.
“ Bukannya kita sudah banyak melakukan sesi foto saat kamu hamil, dan mengenakan baju yang bagus. Dan apa uang yang selalu aku berikan setiap bulan itu kurang? ”
Yamuna menggeleng, ia pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Cadman. Yamuna berusaha duduk dengan wajah sedih. Muranne sendiri setelah mendengar penolakan Cadman, wajahnya berubah menjadi pucat, keringat dingin mengalir dari wajahnya. Hatinya mulai gundah, memikirkan di mana lagi mencari tempat pemotretan, dan model sebagus Yamuna dan Yasmin. Kalau kontrak ini di batalkan.
Tidak ingin membuat Yamuna bersedih, dan anak di dalam kandungannya ikutan bersedih. Cadman berulang kali narik nafas, tangannya mengelus puncak kepala Yamuna.
“ Baiklah, kamu bisa melakukan apa saja asal itu positif. Kamu juga jangan bersedih, katanya kalau Ibunya bersedih, anaknya juga ikutan sedih di dalam, ” bujuk Cadman.
“ Jadi kamu mengizinkan aku?! ” tanya Yamuna semangat.
Cadman mengangguk.
__ADS_1
Anggukan Cadman langsung merubah semua ketegangan di wajah Muranne, dan Yasmin. Setelah bujuk membujuk, rayu-merayu. Yamuna, Yasmin, Ben, Cadman, Muranne, dan Two, sudah berada di ruang studio pemotretan.
Yamuna, dan Yasmin sudah berganti pakaian, memakai baju hamil untuk pergi ke acara pernikahan. Polesan mack up nya juga di buat elegan, sesuai dengan baju. Setelah semua siap, pengambilan gambar pun di mulai. Cadman, dan Ben hanya bisa diam, dan memantau Istri-istri mereka dari jauh. Hal itu pun berlangsung selama kurang lebih 2 jam.