SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 124. Mau apa kamu?


__ADS_3

Yasmin, dan Yamuna sudah berada di ruang rawat inap VVIP. Di dalam ruangan sudah ada Yoan, dan Ben masih setia menunggu kedatangan Yamuna.


" Yamuna, kamu tidak ada yang terluka 'kan? " tanya Yoan mencemaskan Yamuna, dan cucu di dalam kandungannya.


" Tidak Pa, yang terluka hanya Cadman saja, " kepala Yamuna tertunduk, " Gara-gara aku, Cadman jadi terluka, " sambung Yamuna lirih, derai air mata bergulir membasahi kedua pipinya.


" Sudah jangan menyalahkan diri sendiri, yang terpenting semua sudah selamat. Walau terluka, tapi masih bisa sembuh, " ucap Yoan ingin menenangkan Yamuna.


" Benar kata Papa. Sudah jangan menangis lagi, " bujuk Cadman lembut.


Yoan menatap Ben, berdiri di samping ranjang kiri Cadman, " Gimana tentang Farran? " tanya Yoan dingin.


" Sudah di tangkap, " sambung Yasmin angkat bicara.


Yoan memutar posis berdirinya menghadap Yasmin, " Yasmin, terimakasih sudah menjaga menantu ku dengan baik, " Yoan berterima kasih tulus.


" Sama-sama, " sahut Yasmin singkat.


" Ben, boleh kamu temani aku ke luar sebentar? " tanya Yoan serius.


" Tentu saja boleh, tuan besar. "


Yoan menatap wajah lelah Yasmin, " Yasmin, aku pinjam Ben sebentar. Buat kamu, silahkan istirahat dulu, " pinta Yoan, tangannya mengarah ke sofa panjang.


" Jangan lama-lama minjam Suami ku, dan jangan buat dia celaka! " pesan Yasmin tegas.


" Yasmin, tuan besar ini adalah mertua dari....."


" Mertua dari Yamuna, terus kamu Sekretaris nya. Aku tidak peduli, aku dan mereka juga sama kok! kamu juga sama, " sela Yasmin tak suka karena di bantah.


" Iya-ia, aku tahu kalian berdua masih pengantin baru. Dan kamu juga sudah 3 hari nggak ketemu Ben. Sekali ketemu dapat kejadian seperti ini, " ucap Yoan mewakili perasaan Yasmin.


" Hem..." dengus Yasmin kesal, kedua tangan di lipat di depan dada.


Melihat Yasmin kesal, Ben mendekati Yasmin, dan berdiri di hadapannya, " Lain kali jangan bersikap kasar seperti ini, " bujuk Ben, tangannya membelai puncak kepala Yasmin.


Yasmin mengangguk.


"Saya pergi dulu, kamu istirahat dulu di sana," pamit Ben, sekilas mengecup dahi Yasmin.


Yamuna, Cadman, dan Yoan terkejut melihat kemesraan Ben. Baru kali ini mereka melihat Ben bisa menjadi mesra dan tidak malu melakukannya di depan umum.

__ADS_1


Apakah Ben sedang mabuk?


Sadar jika ini tidak sedang di rumah, Ben segera menjauh dari Yasmin. Wajah Ben terlihat memerah menahan malu, langkahnya juga buru-buru keluar dari dalam ruang rawat inap Cadman. Yasmin sendiri terdiam, tangannya memegang dahi, bekas kecupan Ben.


" Kalau gitu Papa pergi, " pamit Yoan, bibirnya bergetar menahan tawa.


" Hati-hati, Pa, " sahut Yamuna, dan Cadman serentak.


Yoan berjalan pergi keluar ruang rawat inap Cadman. Sesampainya di depan ruangan, wajah Yoan berubah menjadi serius, dan juga suram.


" Kita mau kemana tuan besar? " tanya Ben, berdiri di hadapan Yoan.


" Ke tempat Farran di tahan! "


" Baik, tuan besar, " sahut Ben patuh.


Yoan pun berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Ben di belakang Yoan.


' Kenapa tuan besar mendadak ingin bertemu dengan Farran. Jangan bilang kalau tuan besar akan.....tidak mungkin, bagaimana mungkin tuan melakukan itu di tempat seperti itu. Ben...kamu harus berhenti mengkhayal hal buruk, ' gumam Ben dalam hati.


Sesampainya di parkiran, Ben, dan Yoan bertemu dengan Chandra.


"Malam, " sahut Yoan singkat.


" Presdir, saya ingin menyampaikan pesan dari teman Anda yang berada di Luar Negeri. Pesan itu adalah tentang Dara, alias Yuyun. Wanita itu katanya sudah berakhir di Neraka, dan Presdir tidak perlu kuatir akan keselamatan nona muda Yamuna. Dan satu lagi, saya juga sudah membasmi mantan mertua nona muda, Caden, " Chandra menyampaikan pesan baik dari teman Yoan.


Ben mendengar hal itu merinding, jantungnya seperti ingin lepas saat mendengar suara Chandra. Apa lagi saat melihat sorot mata tajam Chandra, benar-benar seperti seorang psikopat. Walau berwajah tampan tetap saja mengerikan.


Merasa di tatapan terlalu dalam oleh Ben, Chandra mendekatkan dirinya, berdiri di hadapan Ben.


" Kenapa menatap ku seperti itu? ingin aku makan juga? " bisik Chandra di telinga Ben, ketakutan Ben pun semakin bertambah.


" Jangan menakut-nakuti Ben. Ben ini adalah orang baik, " tegur Yoan.


Chandra mundur satu langkah, " Saya tahu Presdir, tapi pria satu ini menggemaskan, " sahut Chandra, bibirnya menyeringai menatap wajah pucat Ben.


" Chandra! " panggil Yoan meninggikan nada suaranya.


" Saya permisi Presdir, " pamit Chandra sopan, sorot mata tajamnya memandang wajah pucat Ben.


" Kamu takut? " tanya Yoan.

__ADS_1


" Sangat tuan. Pria itu sangat mengerikan, " sahut Ben jujur.


" Tidak perlu takut, Chandra itu aslinya baik. Sekarang mari antar aku ke tempat Farran, " ajak Yoan kembali.


Ben segera berlari, membuka pintu mobil penumpang belakang. Setelah Yoan masuk dan duduk nyaman, Ben berlari kecil menuju pintu kemudi, dan masuk. Menit selanjutnya mobil ditumpangi Yoan, dan Ben, pergi meninggalkan parkiran rumah sakit, menuju kantor pihak berwajib.


Sepanjang perjalanan menuju rutan, Yoan hanya diam di belakang, menyandarkan kepalanya di kursi, dan memejamkan kedua matanya.


Karena hari mulai gelap, dan jalanan juga sedikit sepi karena jam pulang kerja sudah lewat. Mobil di tumpangi Ben, dan Yoan pergi dengan bebas hambatan.


1 jam pun sudah berlalu, mobil Ben, dan Yoan memasuki gerbang kantor pihak berwajib. Mobil sudah terparkir rapih di tempat parkir. Ben segera turun, berjalan kecil, membuka pintu penumpang belakang.


" Tuan besar, kita sudah sampai, " ucap Ben.


Yoan turun, berdiri di samping Ben.


" Apa ini tempatnya? " tanya Yoan, pandangannya mengarah ke bagian luar kantor pihak berwajib.


" Benar tuan besar, tuan Farran masih di sini. Masih di interogasi, " sahut Ben.


" Kalau gitu mari kita masuk, dan selesaikan masalah dia, " ajak Yoan.


Yoan melangkah terlebih dahulu, di susul Ben berjalan di belakang. Begitu sampai di dalam pintu kantor pihak berwajib, terlihat beberapa pihak berwajib menyambut kedatangan Yoan.


" Selamat malam, Presdir Yoan, " sapa salah seorang pihak berwajib dari 3 pihak berwajib.


" Malam, " sahut Yoan singkat, dan tegas.


" Apa Presdir ingin bertemu dengan Farran? " tanya pihak berwajib kembali.


" Tentu, dimana dia? "


" Mari saya antarkan, " ajak pihak berwajib.


Ketiga pihak berwajib berjalan terlebih dahulu, menuntun Yoan, ke ruangan tempat Farran sedang di interogasi. Tak butuh waktu lama, pihak berwajib, Yoan, dan Ben sudah sampai di sebuah lorong gelap, terdapat pintu besi, ruangan kedap suara, dan hawanya terasa sangat lembab.


" Silahkan masuk Presdir, " ajak pihak berwajib, tangannya membuka pintu untuk Yoan.


Yoan, dan Ben pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan gelap, dan hanya ada 1 lampu gantung yang menemani Farran di dalam.


" Mau apa kamu?! "

__ADS_1


__ADS_2