
1 Minggu sudah berlalu. Yamuna terlihat sudah kembali sehat, meski sesekali ia kadang bermimpi tentang perbuatan tak senonoh mendiang Zahfar. Ben juga terlihat tampak segar, perban di kepalanya juga sudah di lepas. Hanya saja ada sedikit kebotakan di puncak kepalanya karena harus di jahit.
Karena Cadman sedang melakukan rapat pagi bersama dengan klien baru di Perusahaannya. Yamuna akhirnya di antar oleh Yoan ke Perusahaan Yamuna. Mobil Yoan kini sudah berhenti tepat di gerbang pintu masuk Perusahaan.
“ Pa, aku pergi dulu. Jika Papa butuh sesuatu telepon saja aku, ” pamit Yamuna, tangannya mengambil tangan kanan Yoan, dan memberi salam di punggung tangan.
“ Kamu tenang saja. Papa hanya ingin katakan, terimakasih sudah kembali melupakan masalah kamu. Aku sekarang jadi senang, saat melihat menantu sekaligus putri ku sudah kembali ceria. Kalau gitu aku pamit dulu, aku pun mau pergi ke Perusahaan untuk mengurus beberapa Dokumen sempat tertunda, ” sahut Yoan ikutan pamit.
Yamuna turun dari mobil, lalu melambaikan tangannya kepada Yoan sudah berjalan meninggalkan Perusahaan miliknya. Yamuna berbalik badan, kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat Yasmin sedang berdiri di depa teras perusahannya. Yamuna melangkah cepat mendekati Yasmin.
“ Kenapa kamu berdiri di sini? ” tanya Yamuna menghentikan langkah kakinya di samping Yasmin.
“ Aku ingin berjumpa dengan Ben. Aku ingin mengutarakan isi hatiku kepadanya, ” sahut Yasmin bergumam.
“ Eh…mengutarakan isi hati? ” tanya Yamuna bingung.
“ Iya, sejak aku merawat Ben. Ada bulir-bulir cinta yang sudah tumbuh di hatiku. Aku sangat ingin mengutarakannya kepada Ben, agar Ben bisa tahu isi hatiku, ” sahut Yasmin jujur, tangannya memegang dadanya.
“ Apa kamu tidak malu menyatakan perasaan kamu kepada seorang pria yang tidak menyukai kamu? ” tanya Yamuna menyakinkan perasaan Yasmin.
“ Lebih baik aku patah hati dengan kejujuran yang nyata. Daripada aku patah hati dengan kejujuran yang belum pernah aku utara kan, ” sahut Yasmin terdengar yakin.
“ Baiklah, aku yakin pasti Ben sudah hadir. Jadi mari aku bantu kamu untuk bertemu dengan Ben, ” ajak Yamuna masuk ke dalam Perusahaan.
“ Serius kamu mau membantu ku untuk bertemu dengan Ben? ” tanya Yasmin terdengar senang.
Yamuna mengangguk, “ Tentu saja. Mari, ” ajak Yamuna kembali, ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan. Di susul Yasmin dari belakang.
__ADS_1
“ Yamuna, kenapa kamu masih mau berbuat baik kepadaku? padahal aku dulu ‘kan jahat sama kamu! ” tanya Yasmin sedikit malu jika mengingat perbuatannya kepada Yamuna dulu.
“ Jangan berkata seperti itu. Semua manusia itu memang jahat. Meski wajah mereka berkedok seperti Malaikat, ” sahut Yamuna.
Yamuna dan Yasmin berhenti di depan pintu lift.
“ Iya juga ya. Jika di pikir-pikir, kamu juga jahat sama aku. Kamu sudah merebut Cadman dari kehidupanku. Aku pikir wajah polos, dan baik seperti kamu tidak akan tertarik merebut calon tunangan orang lain, ” tuduh Yasmin.
“ Aku ini cinta pertama Cadman, jadi wajar saja jika dia lebih memilih aku daripada kamu. Coba kamu bayangkan, jika suatu saat nanti kalian menikah, dan Cadman masih terus mengejarku. Aku juga jadi tertatik padanya, terus kami berselingkuh di belakang kamu. Kami juga sering tidur bareng. Terus, kami akan memiliki anak diam-diam. Apa kamu mau diselingkuhi seperti itu?! ” tanya Yamuna tanpa memberikan Yasmin kesempatan untuk berbicara.
“ Menyeramkan, ” gumam Yasmin, tangannya memegang dadanya, tatapan aneh menatap wajah datar Yamuna.
Ting!
Pintu lift terbuka. Kedua bola mata Yasmin langsung berbinar terang saat melihat ternyata Ben di dalam lift tersebut.
“ Sabar, jika kita ingin memiliki seseorang memang harus sedikit berjuang,” sambung Yamuna menyemangati Yasmin, tangannya memukul pelan punggung Yasmin.
“ Hantarkan aku ke ruangannya, ” pinta Yasmin serius.
“ Baik, ” sahut Yamuna.
Setelah lift dinaiki Ben sudah sampai di ruangan mereka. Yamuna, dan Yasmin gentian masuk ke dalam lift, lalu menekan nomor 2. 5 menit kemudian lift Yamuna, dan Yasmin sudah berada di lantai 2.
“ Mari, ikut aku, ” ajak Yamuna ketika sudah keluar dari lift.
Dengan langkah ragu Yasmin keluar dari lift, “Apa kamu yakin Ben akan menemui ku. Aku takut Ben akan malu jika bertemu dengan ku nanti,” gumam Yasmin malu-malu.
__ADS_1
“ Hei…hei, apa-apan ini. Bukannya tadi kamu sangat ingin bertemu dengan Ben, ” Yamuna mendekatkan bibirnya ke daun telinga Yasmin, “ Apa kamu yakin ingin pulang? Ben itu sangat tampan, baik, lugu. Meski tampangnya terlihat playboy. Tapi Ben sebenarnya kolot dengan hal-hal dewasa. Gimana jika ada salah satu karyawan wanita ku menyukainya, dan terus mengajarinya tentang semua hal dewasa yang ingin kamu ajarkan kepadanya? Aku tidak bisa bayangi jika semua hal dewasa yang kamu pikirkan akan dilakukan oleh wanita lain, ” sambung Yamuna membuat wajah Yasmin memerah menahan cemburu.
“ Tidak! Tidak ada yang bisa merebut Ben dari genggaman tangan ku, ” Yasmin memutar posisi berdirinya menghadap Yamuna, tatapan suram, dan tangannya mengepal di tunjukkan untuk Yamuna, “ Dulu aku sudah merelakan Cadman buat kamu. Tapi sekarang aku tidak akan merelakan wanita lain merebut Ben dariku! ” sambung Yasmin terdengar tegas.
“ Ouh…semangat cinta yang luar biasanya, ” puji Yamuna sembari memberi tepuk tangan.
“ Jadi dimana ruangannya? ” tanya Yasmin.
“ Tuh! Tepat di depan ruang kerja ku, ” tunjuk Yamuna ke arah ujung koridor. Dimana hanya ada ruangan kerja Yamuna, dan Ben.
“ Eh…kenapa di sini hanya ada ruangan kamu, dan Ben? ” tanya Yasmin bingung. Saat melihat ruangan kerja Yamuna depan-depanan. Membedakannya hanya dinding ruang kerja Yamuna di kelilingi kaca, sedangkan Ben semua dinding kacanya bertutup.
“ Bukannya enak kalau memiliki ruangan hanya ada aku dan Sekretaris. Kami bisa bebas melakukan apa saja, dan berbicara apa saja, ” sahut Yamuna sedikit jahil. Membuat Yasmin langsung menatap penuh tanya.
“ Bukannya kamu bilang Ben itu polos. Hal apa saja yang sudah kamu ajarkan kepadanya? ” tanya Yasmin histeris.
“ Banyak hal, ” ucap Yamuna sengaja menggantung ucapannya. Kakinya perlahan melangkah menuju ruangannya, membuat pikiran Yasmin bertambah kalut.
“ Hei...kenapa kamu menggantung ucapan kamu! Aku belum selesai, ” teriak Yasmin, ia melangkah cepat mengikuti Yamuna sudah berada jauh di depannya.
“ Tanya saja sendiri, hal apa saja yang sudah aku lakukan kepada Ben, ” sahut Yamuna, ia sedikit melirik ke belakang, lalu melanjutkan ucapannya, “ Kami juga hampir tidur bersama, loh. Bukan itu saja, Ben juga pernah melihat aku berganti pakaian. Wajah manisnya yang berubah menjadi merah tak bisa aku lupakan sampai saat ini. ”
Yasmin mempercepat langkah kakinya, wajahnya memerah seperti terbakar api cemburu, detak jantungnya juga berubah menjadi cepat saat memikirkan kebohongan Yamuna.
“ Yamuna…..”
...Bersambung ...
__ADS_1