
Yasmin, dan Ben kini sudah sampai di rumah baru pemberian Yamuna, dan Cadman. Ben, dan Yasmin berdiri di samping mobil mereka, wajah mereka tercengang saat melihat rumah mewah mengimbangi rumah Yamuna.
“ Ben, i-ini beneran kado dari Yamuna dan Cadman? ” tanya Yasmin masih tak yakin.
“ Saya juga tidak yakin. Apakah nona muda akan memotong gaji saya nanti. Kalau memang benar, lebih baik saya pulang ‘kan saja kunci rumah ini, ” ucap Ben tak yakin.
“Biar aku telepon. Jika memang benar Yamuna ingin bermain-main dengan kado pemberiannya, maka aku akan menghajarnya,” gerutu Yasmin, tangannya meraih ponsel dari dalam tas tangannya, menekan nomor Yamuna. Namun, Yamuna langsung menolak panggilan telepon Yasmin, dan memilih mengirim pesan WA.
^^^Isi pesan WA Yamuna : ^^^
‘ Aku tahu maksud panggilan telepon kamu ke aku. Aku harap kamu tidak perlu banyak berkomentar. Hadiah rumah itu memang sudah kami pikirkan matang-matang, dan hadiah itu juga adalah tanda terima kasih Cadman, dan aku untuk Ben, atas kerja kerasnya. Bukan atas kerja keras kamu! Ingat! Jangan berkomentar apa pun. Malam ini adalah malam pertama Ben untuk melakukan hal seperti itu, dan selamat mengambil keperjakaan Ben. ’
Itulah pesan WA Yamuna.
Yasmin mengulas senyum penuh makna saat membaca kalimat terakhir. Yasmin menyimpan ponselnya kembali ke tas tangan miliknya, mengalihkan pandangan ke Ben masih berdiri dalam wajah bingung.
“ Apa kata nona muda? ” tanya Ben melihat Yasmin sudah selesai dengan ponsel miliknya.
“ Yamuna bilang jika dirinya benar-benar memberikan hadiah rumah ini karena kamu sudah sangat berkerja keras untuk nya, ” sahut Yasmin, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Ben, “Karena hari sudah malam, mari kita masuk, dan segera istirahat” ajak Yasmin.
“ Iya, tapi lepaskan dulu genggaman tangan kamu. Membuat saya tidak nyaman, ” ucap Ben datar.
“ Baiklah, ” sahut Yasmin, ia melepaskan genggaman tangannya.
Ben berjalan menuju rumah, di susul Yasmin di belakangnya. Ben membuka pintu rumah, begitu pintu rumah terbuka lebar, Ben, dan Yasmin terkejut melihat isi di dalam rumah tersebut. Terlihat sofa berkualitas bagus di ruang tamu, beberapa lukisan terpajang di dinding, dan masih banyak benda lainnya sudah menghiasi rumah baru pemberian Yamuna ke Ben.
“ Apa tidak salah lihat ini? ” gumam Ben masih tidak yakin, kedua tangan mengucek kedua kelopak matanya.
“ Yamuna dan Cadman memang sangat baik. Aku jadi merasa sangat bersalah mengingat semua kejahatan yang pernah aku lakukan kepadanya, ” Yasmin terlihat sedih mengingat dirinya dulu pernah jahat kepada Yamuna, tapi Yamuna malah membalas kejahatan Yasmin dengan kebaikan beribu kali lipat.
__ADS_1
“ Kalau sudah menyesal, lebih bagus mulai sekarang kamu harus tetap menjadi orang yang baik, dan bermanfaat buat orang lain. Meski menjadi orang yang baik itu tidaklah mudah, ” ucap Ben memberi semangat.
“ Iya, ” sahut Yasmin mengangguk.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 21:45 malam, tubuhnya juga terasa lelah. Ben mengunci pintu rumah, dan mengajak Yasmin untuk beristirahat. Sesampainya di lantai 2, Ben membuka pintu kamar utama.
“ Silahkan masuk, ” Ben menahan handle pintu, menyuruh Yasmin masuk ke dalam kamar.
Yasmin masuk, bibirnya tersenyum malu-malu. Bukannya mengerti dari maksdu senyum malu Yasmin, setelah Yasmin masuk ke dalam kamar, Ben malah menutup pintu kamar, dan berjalan menuju kamar nomor 2.
“ Loh! Kok dia menutup pintu kamar, dan malah pergi tanpa mengucapkan apa pun kepadaku? ” gumam Yasmin bingung, tangannya menarik handle pintu.
Yasmin terkejut saat melihat Ben sudah tidak ada di depan pintu kamarnya, dan malah memilih masuk ke kamar nomor 2.
“ Loh! Kok…nggak benar ini. Masa sudah menikah tetap tidur sendiri-sendiri. Aku harus geret dia untuk mau tidur bersamaku, ” gerutu Yasmin.
Yasmin berjalan cepat di koridor menuju kamar nomor 2. Tanpa mengetuk pintu, Yasmin masuk ke dalam kamar. Ben sedang membuka baju terkejut melihat kedatangan Yasmin. Ben buru-buru mengambil baju, dan celananya untuk di pakai kembali. Namun, Yasmin langsung masuk, mendekati Ben, menahan tangan Ben untuk tidak memakai bajunya kembali.
“ I-ingat, ta-tapi saya masih belum siap untuk tidur bersama kamu. Sekarang biarkan saya memakai baju, dan celana. Rasanya tidak sopan kalau saya hanya memakai boxer di depan kamu!” pinta Ben setengah gugup.
Yasmin tidak menggubris permintaan Ben. Yasmin melangakah, mendekati Ben, membuat mereka berdiri saling berhadapan.
“ Ka-kamu menjauh lah dari hadapan ku, ” pinta Ben gugup.
Jantung Ben berdegup kencang, aliran darahnya mengalir begitu deras di seluruh tubuhnya. Ben juga terlihat susah payah menelan salivanya, saat Yasmin mulai mendekatkan dua gunung kembarnya ke bidang dadanya.
“ Aku ingin menghabiskan malam pertama dengan indah bersama kamu, ” ucap Yasmin, tangannya mulai menjalar di punggung Ben.
“ Ja-jangan, a-aku masih belum siap untuk melakukan hal itu kepada kamu. Lebih baik kita tunda dulu, ” tolak Ben gugup.
__ADS_1
Yasmin menghentikan langkah kakinya, memandang wajah panik Ben, “ Apa kamu tidak memiliki nafsu? ” tanya Yasmin dengan wajah cemberut.
“ Tentu saja saya punya. Saya ini adalah lelaki yang normal, tapi saya tidak bisa melakukannya sekarang. Jadi saya minta keluarlah dari kamar ini, ” sahut Ben tenang.
“ Aku tidak mau tidur sendiri, aku mau tidurnya sama kamu! ” rengek Yasmin, kedua tangannya melepaskan dress dari tubuhnya, menjatuhkannya ke lantai, dan Yasmin langsung melompat naik ke atas ranjang dengan tubuh berbalut pakaian dalam, membuat Ben spontan menutup kedua matanya.
“ A-apa yang kamu lakukan, dan kenapa kamu tidak memakai pakaian? ” tangan Ben mencoba meraih baju dress milik Yasmin tergeletak di atas lantai. Ben juga melangkah mendekati ranjang untuk memberikan dress milik Yasmin, “ Cepat pakai, tidak bagus seorang wanita tidur tanpa baju. ”
Yasmin tidak menjawab, sekilas segaris bibir terlihat di wajah cantiknya. Pikiran jahatnya mulai bermain saat melihat Ben mengulurkan tangan dengan mata terpejam.
“ Baiklah! ” sahut Yasmin semangat, tangannya menarik tangan Ben, dan akhirnya tubuh Ben kini terjatuh di atas tubuhnya.
“ A-apa yang kamu lakukan? ” tanya Ben panik, ia tak sadar jika kedua tangannya sedang mendarat di 2 gunung kembar Yasmin.
“ Gitu dong, pendaratan yang bagus, ” puji Yasmin, tak ingin Ben melepaskan tangannya dari 2 gunung kembar miliknya, Yamuna menahan tangan Ben, dan mengajari Ben untuk memegang dengan benar, “ Kata Yamuna kamu masih belum pandai, maka aku akan mengajari kamu Suamiku! ”
‘ Kok kenyal ya? ’ tanya Ben dalam hati, dan mulai melupakan penolakannya sendiri untuk tidak melakukannya malam ini. Kedua tangan Ben tiba-tiba menjadi lancar melakukannya sendiri.
“ Nah..be..begitu, ta..tapi ja…jangan terlalu bersemangat..aaa! ”
Mendengar suara aneh di kalimat terakhir Yasmin, Ben langsung terlonjak kaget. Ia turun dari ranjang, menatap kedua telapak tangannya, “ Apa yang sudah saya lakukan, ” gumam Ben, masih terdengar oleh Yasmin.
“ Yang kamu lakukan adalah benar. Mari kita lanjutkan dengan hal lainnya, ” ajak Yasmin mulai menggoda, tangannya mengulur ingin menyentuh titik terlihat menojol tegang di tubuh Ben. Namun, Ben langsung menepis tangan Yasmin.
“ Jangan lanjutkan lagi, saya masih belum tahu cara mainnya, ” tolak Ben.
Ben segera berlari keluar kamar, meninggalkan Yasmin di ranjang.
“ Ternyata begini rasanya menikah dengan lelaki yang masih perjaka dan belum tahu melakukan apa pun. Malu-malu gimana gitu. Jadi gemes! ” gumam Yasmin gemas melihat ekspresi polos Ben.
__ADS_1
...Bersambung ...