
Sandi membawa Ashana ke tempat jajanan di sebuah sekolah dasar. Terlihat jelas mata Ashana berbinar sangat menyukai jajanan sekolah dasar itu.
"aku tahu kau pasti menyukai jajanan anak kecil seperti ini. Dulu juga kau selalu membeli makanan ini" Sandi melepaskan tangannya dari lengan Ashana dan melangkah menuju tempat permen kembang gula yang dapat dibentuk aneka ragam
Ashana terlihat antusias dan bergegas mendekati Sandi.
"kenapa penjual di sini belum juga pulang?" tanya Ashana merasa heran karena para penjual belum pulang meskipun hari sudah gelap
"mereka mencari tambahan, Ash. Kebutuhan yang meningkat setiap harinya mengharuskan mereka bekerja lebih keras lagi" jawab Sandi
Wajah dan tatapan Ashana tidak bisa berbohong merasa iba karena beberapa penjual sudah terlihat sepuh.
"San..." Ashana memegang ujung baju Sandi
"euumphh aku tahu tenang saja. Apa aku harus melakukan seperti sebelumnya?" tanya Sandi
Saat sekolah menengah pertama mereka dihadapkan kondisi sama seperti saat ini. Sandi dan teman yang lainnya membantu para penjual dengan menjajakan ke setiap orang yang dilalui, jalan raya, ke setiap jalan lainnya dan sisanya dibeli oleh Sandi dan temannya.
"kau akan memanggil teman-temanmu?" tanya Ashana yang sudah memesan gulali dengan bentuk burung phoenix
"tidak, aku yakin mereka sudah tidak mau lagi melakukan hal yang sama seperti sebelumnya jadi aku akan memborong semua barang dagangan semua penjual di sini" ucap Sandi dengan mudah
Mendengar ucapan tersebut Ashana cukup kaget dan matanya melotot.
__ADS_1
"apa kau gila? bagaimana kau bisa menghabiskannya?kau tidak mungkin kesetanan, kan?" tanya Ashana panik
Sandi tertawa
"apa aku segila dan seperti setan bisa menghabiskan semua ini. Dengar, aku akan membeli barang dagangan mereka tapi tidak membawanya hanya membayar jumlah sesuai barang dagangan yang di bawa hari ini" ucap Sandi sambil tersenyum hangat
"oh begitu. Aku kira kau bisa menghabiskan semua makanan ini" ucap Ashana menutupi rasa malu dengan memalingkan wajahnya
"coba tiup (permen burung Phoenix yang dipegang Ashana" ucap Sandi
Ashana menurut begitu saja dan meniupnya. Benar saja mengeluarkan bunyi seperti peluit
"kita seperti kembali ke jaman anak-anak dulu" ucap Ashana yang tidak bisa membendung rasa senangnya
"bentuk apalagi yang kau inginkan, Ash?" tanya Sandi
"apa saja yang penting bisa mengeluarkan bunyi seperti burung Phoenix ini" jawab Ashana
Sandi memesan beberapa gulali dengan bentuk yang berbeda dan terpenting mengeluarkan bunyi. Sesaat melihat ke arah Ashana yang sedang meniup gulali berbentuk Phoenix itu.
"Ashana, aku semakin menyukaimu. Aku memutuskan tidak akan mengungkapkan perasaanku tapi disaat waktu yang tepat aku akan datang kembali dan menikahimu jadi tunggulah aku" batin Sandi
Mang gulali memberikan pesanan Sandi dan menyodorkannya. Benar saja gulali itu bermacam-macam bentuk lucu ayam, burung, singa, bebek, angsa dan kucing.
__ADS_1
Sandi mendekati Ashana.
"ini pesananmu, Ash" ucapan Sandi mengagetkan Ashana yang sedang asik meniup gulali Phoenix itu
Dari arah lain terlihat seorang laki-laki berkaca mata menaiki mobilnya melihat ke arah mereka. Menurut dari segi pandangannya Ashana dan Sandi terlihat seperti sepasang kekasih.
"hah... anak kecil itu sudah berani. Lihat saja aku akan membuatmu sedikit merasa kapok dengan tindakan mu sekarang ini" ucapnya memegang erat kemudi
Kembali ke tempat Ashana dan Sandi.
"Ash, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Keretaku datang jam delapan malam ini" ucap Sandi dengan jelas penuh rasa kecewa
"kau tenang saja aku bisa pulang sendiri. Selama ini aku selalu pulang dan pergi sendiri jadi jangan khawatir. Sebaiknya kau segera ke tempatmu takutnya ketinggalan kereta nanti malah ribet lagi" ucap Ashana dengan menampilkan senyum terbaiknya
"baiklah. Kau jaga diri baik-baik. Saat aku kembali lagi kau harus mempersiapkan dirimu karena berbagai kemungkinan akan terjadi" ucap Sandi
Sandi mengecup puncak rambut Ashana.
Ashana merasa bingung, malu sekaligus tersipu.
"bye" ucap Sandi mengusap pipi Ashana
Ashana hanya terpaku terdiam tanpa membalasnya.
__ADS_1
Dari arah lain seorang laki-laki yang sama memperhatikan mereka dan menghela nafas kasar.
"awas saja. Aku akan bergerak secepat mungkin" ucapnya