
Merisa memasuki kamar Clara, dia membekap wajah Clara menggunakan bantal. Clara meronta mencoba terlepas.
Di tempat rahasia Robin yang tengah bersama Anuya. Satu per satu poto Morina di bakar di api yang berwarna abu. Ya, Anuya menaruh sesuatu di atas tungku api yaitu batu berwarna merah.
"ini tidak akan langsung bekerja tapi suatu saat di waktu yang tepat wanita dalam poto ini akan merasakan sesuatu di dalam tubuhnya. Kira-kira kita bisa melihat reaksinya sekitar dua hari terhitung dari hari ini"
"jika memungkinkan anda harus membawakan sesuatu barang yang berharga bagi wanita ini dengan begitu kita bisa bermain lebih leluasa" ucap Anuya tersenyum simpul
"barang berharga bagi Morina?" gumam Robin mengelus-elus dagunya
Mendengar nama Morina Anuya sedikit kaget.
"Morina..." batin Anuya menatap lekat poto
"kapan aku harus membawa benda itu?" tanya Robin yang menyadarkan Anuya dari lamunan
"ah... eng... itu.... terserah anda saja. Bukankah lebih cepat lebih baik?" ucap Anuya yang masih berpikir keras
"apa kita sudah menuju kesepakatan?" tanya Anuya
"kesepakatan?" ucap Robin mengerutkan dahinya
"setiap barang yang aku keluarkan untuk melancarkan tujuanmu anda harus membayar yang sudah disesuaikan" ucap Anuya yang berhenti membakar poto Morina dan menyelipkan satu lembar poto ke dalam saku celananya
"ah... tentang itu kau tenang saja. Tentu saja aku sudah mengerti sebelum kau datang ke rumah ini" ucap Robin
"aku ingin sejumlah uang untuk batu merah itu"
Batu Merah yang ada tungku perapian adalah batu yang berada di bawah pohon. Untuk mendapatkannya harus menebang pohon itu seorang diri selama empat hari empat malam.
"berapa yang kau inginkan?"
"empat ratus juta"
"empat ratus juta???" ucap Robin kaget mengingat kondisi perusahaannya yang masih belum stabil
"itu bukan harga yang mahal. Aku memberikan anda harga minimum. Jika tidak sanggup aku akan membawanya kembali" ucap Anuya mengambil batu merah di tungku perapian yang masih menyala dengan tangan kosong
"dan aku akan pergi"
"baiklah, baiklah aku akan memberikannya"
"berikan aku uang cash" ucap Anuya yang menaruh kembali batu merah itu ke atas tungku perapian
__ADS_1
"anakku, Merisa yang akan memberikannya padamu. Jadi jam delapan malam kau ikut dengannya untuk mengambil uang itu"
"baiklah. Terima kasih, tuan" ucap Anuya sedikit membungkukkan tubuhnya
Di dalam kamar Clara, Merisa melepaskan bantal itu. Terlihat Clara wajah panik, semakin pucat, mata melotot dan nafas terengah-engah.
"kak Merisa..."
"heh jangan panggil aku kakak dengan mulut menjijikanmu itu" ucap Merisa menunjuk wajah Clara yang terduduk di kasur
"dengar, Clara aku pasti akan mengakhiri nyawamu dengan tanganku sendiri. Tapi di waktu yang tepat. Sangat tepat" ucap Merisa tersenyum licik
Merisa berbisik ke telinga Clara membuat Clara kaget membulatkan kedua matanya sempurna dan berkaca-kaca.
Merisa membalikkan badannya langkah kakinya terhenti saat lengannya di pegang Clara.
"aku mohon katakan padaku yang sebenarnya, kak. Aku berhak mengetahuinya" ucap Clara dengan tatapan penuh harap
"kau tanyakan saja pada mamah. Dia pasti lebih mengetahuinya daripada aku" ucap Merisa
"tapi aku bingung harus bertanya seperti apa. Mamah pasti akan menyembunyikannya dariku. Jika tidak bagaimana bisa dia tidak mengatakannya padaku puluhan tahun ini" lirih Clara yang masih menatap Merisa dengan penuh harap
"itu urusanmu. Berusahalah. Jangan selalu disuapi terus dan duduk manis di ruangan ini. Jika kau mengetahui lebih jelas aku harap kau segera keluar dari kehidupan keluarga kami. Mati mungkin lebih baik. Tapi mati secara perlahan akan lebih menyenangkan" ucap Merisa yang membuat Clara meneteskan air matanya
"cengeng. Oh iya, aku ingin memberitahumu satu hal lagi. Kekasihmu, Yashbi telah menikah dengan wanita lain yang jauh lebih muda dan pastinya lebih cantik darimu" ucap Merisa melemparkan usb ke atas kasur
Usb yang sudah diprogram hingga tersambung ke kehidupan Yashbi yang di jalani saat ini. Ya, Merisa menyewa seorang hacker agar dapat mempermainkan Clara.
Clara beranjak dari kasur dan menyambungkan usb ke sebuah layar berukuran sedang. Dan terlihat Yashbi tidur bersama Ashana di kamar hotel.
Deugh
"ini.... ini tidak... tidak mungkin" ucap Clara menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya tidak berhenti mengalir bebas
"Yash, Yashbi... kenapa kau melakukannya?" lirih Clara yang tidak berhenti menangis
"tidak, dia tidak mungkin melakukan hal ini padaku" gumam Clara
Hubungan Clara dan Yashbi memang sangat dekat satu sama lain sedekat apapun Yashbi tidak pernah menyentuh Clara. Sama halnya antara hubungan Ashana dan Indra mereka berjanji untuk menjaganya hingga pernikahan nanti.
Tiba-tiba saja Clara teringat sebuah cincin yang terakhir kali Yashbi berikan saat sebelum berpisah.
"aku harus meminta penjelasan padanya tapi... bagaimana aku keluar dari rumah ini" ucap Clara melihat pelayan yang selalu berada di sampingnya dan teringat kejadian kemarin di mana Robin melakukan sesuatu pada poto Morina
__ADS_1
"kenapa ayah melakukan hal seperti itu?"
Ingatan Clara berputar, merasa janggal dengan sikap ayahnya, Robin melakukan ritual-ritual.
"apa ada hubungannya dengan ritual itu?"
Ya, Clara kerap kali melihat Robin melakukan Ritual. Dai menjadi mengetahui semenjak di kurung.
Clara belum mengetahui identitas Yashbi dan ayahnya, Robin.
"apa ini ada hubungannya dengan kesehatanku?"
"apa kau bisa memberikan hasil tes kesehatanku?" ucap Clara meminta pada pelayan yang selalu bersamanya
"aku berhak sangat berhak mengetahui apa jenis penyakit yang ada di dalam tubuhku, bukan?" desak Clara
"tu...tunggu aku akan mengambilnya" ucap pelayan yang tertegun dengan ucapan Clara yang menjadi sedikit berani
Pelayan beranjak meninggalkan kamar dan menemui Robin. Mereka berpapasan di lorong dan si pelayan memberitahukan apa yang Clara inginkan.
"aku sudah menyiapkannya. Kau ambil di laci kamarnya. Aku sudah menyimpannya di sana" ucap Robin
Si pelayan kembali ke kamar Clara mengambil amplop di dalam laci dan memberikannya pada Clara.
Clara segera membuka dan membacanya. Seketika kedua matanya membulat sempurna.
"ini... aku...bagaimana bisa mengidap penyakit seperti ini?"
Robin mendatangi Clara. Merasa kesal melihat reaksi Clara.
"kenapa? bukannya kau ingin mengetahuinya? itu hasil tes kesehatan dari rumah sakit terbesar dan terbaik di kota ini jadi tidak mungkin keliru"
"apa ini ada hubungannya kenapa dia menikahi wanita lain?aku sudah mengetahuinya jika Yashbi menikah dengan wanita yang jauh lebih muda dariku"
Robin mengerutkan dahinya.
"baguslah kau sudah mengetahuinya. Sebaiknya kau tidak perlu mencarinya dan menemuinya lagi"
"tidak. Aku akan menemuinya dan meminta penjelasan darinya. Aku tidak mungkin melepasnya begitu saja
Robin sangat emosi mendengar ucapan Clara.
" aku ingin menemuinya. Jadi kumohon biarkan aku keluar dari rumah ini. Aku janji aku akan kembali lagi. Aku hanya ingin bicara dengannya. Meminta penjelasan darinya. Itu saja." ucap Clara penuh harap
__ADS_1
Robin berusaha menahan emosi dengan mengepalkan tangannya. Rencana Robin terancam gagal. Robin ingin melakukan seolah-olah menemukan Clara dan meminta tebusan pada Robin, meminta biaya pengobatan Clara dengan memberikan hasil tes kesehatan itu dan memperalat Clara dengan mendekati Yashbi dan meminta stempel milik perusahaan Yashbi untuk sebuah dokumen yang dia curi.
Robin mencuri sebuah dokumen di saat terakhir bertemu dengan ayah Yashbi, Sidero di sebuah mansion.