
Di Mundu Berezia, tempat Zeys...
Zeys yang sedang duduk bersantai di kursi ala-ala kayangan (hanya imajinasi saja seperti Hua Cheng). Zeys di kelilingi binatang dengan berbagai macam.
"di dunia manusia sebagian besar yang memiliki hati dan pikiran tulus dan suci hanya kaum wanita. Ini tidak berubah sama sekali sejak dulu"
Seseorang yang tidak terlihat keberadaannya ikut menimpali ucapan Zeys.
"karena wanita memiliki sifat welas asih sebelum mereka terlahir ke dunia itu"
"kau kenapa selalu mengikutiku semenjak aku mendirikan Mundu Berezia ini? biar kulihat. Euumphh... Jika kau memperluas duniaku dunia kalian akan terkikis dan hancur, benar?"
"jangan menebak yang sulit kau ketahui"
"hhhhh aku menebaknya berarti sejuta persen itu kebenaran"
"kau ingin menguasai dunia manusia dengan memberikan perwujudan ke setiap sifat yang melekat yang sudah mendarah daging pada manusia itu sendiri. Tapi kali ini aku ikut campur dengan pekerjaan kalian. Aku tidak ingin melihat wanita di dunia sana menderita" ucap Zeys beranjak berdiri dari kursinya
"kaum kami tidak bisa menghentikan apa yang anda lakukan karena diluar kemampuan kami"
"baguslah. Sepertinya tuanmu mempertimbangkan banyak hal dan cukup pintar. Aku menyukainya. Kami akan bertemu di parade dunia di mana Mundu Berezia dan Satan's World. Aku harap pertemuan pertama ini cukup berkesan"
.
.
.
.
Yang dimaksud Parade adalah pertemuan dua dunia, Satan's World dan Mundu Berezia. Semenjak adanya Mundu Berezia sesepuh Satan's World merasa terganggu karena tidak bisa mempermainkan dunia manusia seenaknya seperti sebelumnya. Mengingat kekuatan Zeys lebih kuat. Tentu saja lebih kuat karena dapat membangun dunianya sendiri. Jika Parade itu berakhir dengan peperangan maka akan berdampak juga terhadap dunia manusia. Manusia akan hilang kendali saling membunuh satu sama lain bahkan memakan manusia lainnya.
.
.
.
Kembali ke kamar hotel, keadaan yang sudah sedia kala. Yashbi menarik lengan Ashana dengan kasar.
__ADS_1
"sa.... sakit" lirih Ashana namun Yashbi tidak memperdulikannya
Yashbi menitah Ashana untuk duduk di atas kasur dengan tatapan tajam.
"duduk" ucap Yashbi datar
Yashbi mengambil kotak p3k dari lemari di dapur dan mengobati luka yang didapati di tubuh Ashana.
"tidak perlu. Biar aku saja" tolak Ashana beranjak dari kasur berdiri sejajar dengan Yashbi yang memegang kotak p3k
"memangnya kau bisa melakukannya? tanganmu tidak akan bisa menjangkau luka yang berada di punggungmu" ucap Yashbi ketus
"memangnya kau mau melihatnya? aku juga tidak ingin kau melihatnya. Apa ini akal bulusmu agar bisa melihatnya?" ucap Ashana mencoba menggoda Yashbi
"terserah kau saja. Obati lukamu atau makhluk lain akan mendatangimu hanya karena bau darahmu" ucap Yashbi memberikan kotak p3k itu ke tangan Ashana dan pergi begitu saja
"makhluk yang akan datang hanya karena mencium bau darahku? apa maksudnya? aku akan menanyakannya" gumam Ashana bergegas menuju kamar mandi dan mengobati lukanya yang hanya dapat di jangkau oleh tangannya
Di balkon, Yashbi tengah menghubungi sopir memastikan keadaan Morina.
"bagaimana keadaannya?"
"sudah jauh lebih tenang, tuan. Setelah lampu padam nona Morina tidur kembali dana saat ini saya masih berada dalam kamarnya untuk berjaga-jaga " jawab sopir
"ba... baik"
Sambungan telepon terputus Yashbi mematikannya secara sepihak.
Yashbi tengah bersantai memikirkan kejadian yang sudah berlalu. Seperti Ashana dapat melihat makhluk lain, darah dan air mata dapat mendatangkan Zeys.
"di dalam buku yang ditulis ibu saat itu menjelaskan bahwa dirinya bertemu dengan seseorang yang memiliki wujud sangat rupawan. Tidak ada yang dapat menyamainya. Seseorang yang bernama Zeys"gumam Yashbi memijit pangkal hidungnya
" setiap mereka bertemu saat itu ibu menangis tanpa henti frustasi dan menyayat bagian tubuhnya dengan pisau kecil karena sikap ayah yang dingin dan acuh. Selalu pulang dalam keadaan mabuk dan wangi parfum wanita"
"Zeys menemui ibu saat ibu dalam keadaan menangis dan terluka"
"apa hubungannya dengan Ashana? apa Zeys ini makhluk penggila wanita?apa ada sangkut pautnya dengan menghilangnya jenazah istri pertamaku dan jenazah ibuku?"
"aku harus segera menemukan buku itu. Buku yang tiba-tiba menghilang saat aku memegangnya" ucap Yashbi tersenyum simpul
__ADS_1
Buku yang dimaksud Yashbi adalah buku petunjuk yang ditulis ibunya tentang Zeys. Saat itu Yashbi menemukannya dan baru membacanya beberapa halaman namun menghilang dalam sekejap. Mencari seisi rumah tapi tidak menemukannya.
Ashana yang sudah selesai mengobati lukanya beranjak naik ke atas kasur dan menarik selimut. Tubuhnya sudah merasa baikan setelah berhujan hujanan. Mata yang sudah berat sudah tidak dapat ditahan lagi. Ashana pun tertidur.
Beberapa saat kemudian, Yashbi menyusulnya menaiki ranjang yang sama. Yashbi mengerutkan dahinya melihat dua bantal guling tepat di tengah-tengah kasur.
"percuma saja" ucap Yashbi menyingkirkan dua bantal guling itu sembarang arah
Mereka tidur berdua di ranjang yang sama.
.
.
.
.
Di kamar Ashana, Lani tidak dibiarkan keluar oleh dua orang suruhan Yashbi yang berdiri di daun pintu. Lani berusaha membuka pintu menggerak-gerakan engsel pintu namun tidak terbuka. Jendela yang tadinya terbuka sekarang dalam kondisi tertutup rapat. Pintu yang terhubung ke pintu lainnya pun terkunci. Lani mulai panik dan gelisah. Mondar mandir berusaha agar cepat keluar dari ruangan itu.
"buka, cepat buka pintunya" teriak Lani
"aku akan melaporkan kalian karena melakukan penyekapan" ucap Lani namun kedua orang itu hanya terdiam menatap lurus ke depan
"baiklah. Kalau kalian masih tidak ingin membukakan pintunya. Aku akan melakukan sesuatu yang pastinya yang akan kalian sesali"
Lani mengambil botol yang pecah (botol yang digunakan untuk melukai Ashana) melukai nadinya dan berteriak. Tapi usahanya nihil kedua orang itu tetap saja terdiam.
aaaaaaaaarrrrghhhh
Teriak Lani menatap pintu berharap terbuka namun pintu itu sama sekali tidak tanda-tanda untuk terbuka.
"sial. Mereka keras kepala sekali" ucap Lani dengan wajah pucat pasi karena darah yang keluar cukup banyak dari nadinya
Lani menyobek seprei kasur Ashana dan melilitkan sobekan itu ke nadinya untuk menghentikan aliran darahnya yang terus keluar.
"ini pasti ulah Yashbi. Awas saja aku akan memberi perhitungan lagi terhadap gadis kecil itu. Luka yang dia dapatkan tadi tidak seberapa" ucap Lani menahan sakit memegangi pergelangan tangannya menyandarkan tubuh di tembok
Lani mencari alat yang dapat digunakan untuk membuka pintu di sekitar kamar. Dan dia berhasil menemukan beberapa kunci dalam satu gantungan di lemari baju Ashana. Sesaat langkahnya terhenti saat melihat buku terbuka di dalamnya ada gambar seseorang yang dikelilingi berbagai macam hewan.
__ADS_1
"indah sekali. Apa gadis kecil itu yang menggambarnya? sepertinya tidak mungkin. Mana mungkin gadis sepertinya bisa menggambar sedetail ini" gumam Lani membawa buku itu
Lani mencoba semua kunci itu. Dan berhasil keluar melalui pintu yang saat pertama kali dia masuk.