Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Pulang dan makan bersama


__ADS_3

Yashbi perjalanan menuju pulang dengan menggunakan mobilnya dan seseorang yang menjadi sopir pribadinya. Dia berhenti dari jarak jauh menuju rumah Ashana. Melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil membawa parcel buah dan sekantong coklat. Yashbi tidak memiliki firasat jika makhluk pasien barusan yang diobati akan mendatangi Ashana jadi dia melangkahkan kaki dengan santai. Sekilas ingin membuang parsel buah dan coklat itu namun diurungkan teringat jika wanita masih mudah akan menyukai hal-hal manis.


"apa dia akan akan menyukainya?"


"jika tidak mudah saja tinggal buang ke dalam tong sampah"


Sesampainya di depan rumah membuka pagar dan membuka pintu masuk. Wajah Yahsbi seketika berubah ekspresi melihat seorang wanita duduk bersama Ashana.


"siapa?"


Ashana menoleh. Jam menunjukan pukul 19:00. Ya, Yashbi mengobati pasien wanita muda lebih cepat seharusnya jam 20.00 namun, dia berniat pulang lebih cepat.


"su... sudah makan?" ucap Ashana menghampiri Yashbi yang melangkah masuk ke dalam rumah


Mata Yashbi dan Lan saling bertemu.


"sudah kuduga laki-laki yang ada dihadapanku saat ini adalah jodohku" batin Lani


Lani melemparkan senyuman hangat untuk Yashbi dan Ashana melihatnya merasa jika senyuman Lani belum pernah dia lihat sepanjang hari ini padahal mereka menghabiskan cukup banyak waktu berdua.


Yashbi yang lupa dengan perkembangan fisik Lani tidak mengetahui siapa wanita asing yang ada dihadapannya saat ini tapi berbeda dengan Lani, dia tahu betul Yashbi karena orang suruhannya memotret setiap waktu ke waktu tentang Yashbi. Tidak pernah terlewatkan.


Lani beranjak dari kursi duduknya dan menghampiri mereka tidak lepas senyuman menghiasi wajahnya.


"halo, aku tetangga baru disebelah rumah ini. Namaku Lani" ucap Lani mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Yashbi


"oh, Yashbi" sahut Yashbi singkat


"apa kau su... sudah makan?" tanya kembali Ashana


"belum" ucap Yashbi meninggalkan dua wanita itu dan menuju dapur


Yashbi menuju westafel mencuci kedua tangannya. Lani menawarkan hand senitizer.


"kau dari luar jadi sebaiknya memakai ini juga" ucap Lani


Yashbi tidak menjawab tapi memakai hand senitizer yang ditawarkan Lani.


Yashbi duduk di meja makan disusul Lani. Ashana menyiapkan makan untuk Yashbi namun dia menolaknya.


"kau makan saja. Aku bisa sendiri" ucap Yashbi


Lani mendengar ucapan Yahsbi hanya tersenyum simpul. Mereka makan bersama sesekali Lani menoleh ke arah Yashbi dengan senyuman tipis.


"kau memasak lobster ini?" tanya Yashbi


"aku yang memasaknya. Selain ikan dan sayuran ini (menunjuk masakan Ashana) menu makan lainnya aku yang memasaknya" ucap Lani


Ashana memperhatikan menunggu Yashbi apa yang akan katakan. Yashbi tidak meresponnya dan kembali melanjutkan makannya. Beberapa saat kemudian dia mengambil ikan yang di masak Ashana seketika mimik wajah Ashana terlihat cemas dan disadari Yashbi.


"kenapa dengan wajahmu?" tanya Yashbi


"sebaiknya kau jangan memakan ikan itu" ucap Ashana


"ini masakanmu?" tanya kembali Yashbi


"euumphh" Ashana menganggukan kepalanya


"aku akan memakannya kau tidak mungkin kan menaruh racun di dalamnya" ucap Yashbi memasukkan potongan ikan ke dalam mulutnya

__ADS_1


"tentu saja. Aku tidak mungkin berbuat tega seperti itu. Meski kau sudah tua aku tidak ingin menjanda secepat ini" ucap Ashana


Yashbi mengerutkan dahinya.


"maksudku aku tidak mungkin tega meracuni suamiku yang sudah tua ini" ucap Ashana yang mengembangkan mulutnya yang penuh dengan makanan


"makanlah sedikit - sedikit aku tidak akan merebut makaannamu" ucap Yashbi yang selesai makan dan menyimpan alat makannya yang kotor ke westafel


Lani beranjak dari kursi menyusul Yahsbi.


"biar aku saja yang mencucinya" ucap Lani mengambil piring bekas makan Yashbi


"baiklah" ucap Yashbi melangkah menghampiri Ashana yang masih melanjutkan makannya


Ashana pura-pura tidak memperdulikan mereka.


"makanmu lambat sekali. Cepat habiskan makanmu" ucap Yahsbi yang berdiri dengan sebelah tangan di meja dan sebelah tangan lagi di sandaran kursi Ashana


"memangnya ada apa?aku biasa makan seperti ini mengunyah makanan sampai halus agar badanku tidak cepat gemuk" ucap Ashana gugup


Bagaimana tidak gugup bau keringat Yashbi yang tercampur parfum miliknya membuat Ashana kesal sekaligus senang.


Yashbi mengambil parcel buah dan sekantong coklat yang dia letakkan tadi saat membuka sepatunya di atas buffet. Kembali menuju meja makan.


Ashana membereskan meja makan sementara Lani mencuci piring.


"duduklah" ucap Yashbi sambil menepuk salah satu kursi agar Ashana duduk di sampingnya


"kau suka makanan yang manis" ucap Yahsbi mengeluarkan coklat dari dalam kantong


"kau membelinya? kau tidak mungkin membeli barang yang tidak kau sukai meskipun teman dekatmu menyukainya kau tidak mungkin membelinya" celetuk Lani yang ikutan duduk diserang mereka


Ashana yang terlihat senang melihat coklat dengan jumlah banyak. Dia memang menyukai coklat tapi tidak sering memakannya karena harganya yang mahal baginya.


"kau tahu aku ingin sekali membeli coklat rasa green tea tapi mengingat harganya mahal jadi aku harus menabung dulu untuk bisa membelinya" ucap Ashana sambil membuka salah satu bungkus coklat varian green tea


Ashana menawarkan pada Lani namun ditolaknya.


"aku tidak memakan coklat. Dokterku bilang coklat green tea tidak baik untukku"ucap Lani


Lani membuka parcel buah tanpa ijin dahulu.


" aku ingin memakan anggur ini saja"ucap Lani sambil berjalan menuju westafel dan mencuci setangkai anggur lalu menaruhnya dipiring kecil


" kau menyukai anggur hijau jadi makanlah"ucap Lani menawarkan pada Yashbi


"dari ucapanmu dari tadi kau seperti mengenaliku. Apa kita saling kenal?" tanya Yashbi dengan tatapan dingin pada Lani. Tatapan yang tidak pernah ditunjukkan padanya sebelumnya


Lani kembali duduk dengan perasaan gugup takut sekali jika Yahsbi tidak ingat dengannya.


" a... aku Lani... "ucap Lani gugup sehingga tidak mampu meneruskan kalimatnya


" aku tahu kau Lani tadi juga kau sudah menyebutkan namamu. Aku masih memiliki telinga dan tidak tuli"ucap Yashbi


"jangan galak seperti itu. Dia jadi ketakutan" ucap Ashana dengan mulut mengunyah coklat


"apa kau sama sekali tidak mengingatku?" tanya Lani


Yashbi mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"aku Lani temanmu kecil dulu. Dan saat dewasa nanti kita akan menikah karena perjanjian kedua orang tua kita" jawab Lani dengan mata mulai panas


Yashbi menghela nafas kasar.


"aku mengingatnya. Tentu saja dari awal tadi melihatmu ketika tersenyum padaku aku tahu betul jika itu temanku Lani, teman masa kecil"ucap Yashbi


Sesaat suasana hening.


" kau datang ke tempat ini dan menjadi tetangga kami. Cukup menarik"ucap Yashbi


Deugh


" apa maksudmu, Yash? "tanya Lani yang meremas bajunya


" saat kita kecil dulu setidaknya aku tahu sedikitnya tentangmu, Lan"


"kau akan melakukan apapun untuk hal yang kau inginkan. Tidak peduli terhadap orang disekitarmu akan merasa rugi atau tidak kau akan terus maju menabrakan diri dikerumunan banyak orang"


"tapi kau juga tidak peduli jika merasa sakit berada di sekitar orang yang bersikap kejam karena kau menginginkannya juga"


Lani mendengar jika Yashbi akan menikahi Ashana empat hari lagi dari seseorang kepercayaannya yang menyerahkan poto Ashana. Lani menyuruh orang kepercayannya itu untuk mencari alamat rumah Ashana. Berniat menjadi tetangga dan memberikan perhitungan sebelum pernikahan dengan harapan pernikahan itu tidak terjadi. Namun, Yashbi tidak kalah cekatan untuk pertama kali menginjakkan kaki disekitaran menuju rumah Ashana melihat orang kepercayaan Lani. Tahu betul apa yang akan dilakukan oleh teman masa kecilnya itu jadi dia memajukan pernikahannya dan tertutup.


"namun aku kalah cepat darimu, Yash. Kau menikahinya lebih cepat"ucap Lani


" kapaaaaaan??? "teriak Lani


" kau melakukannya dengan sengaja? hah"


"kau tidak ingin aku menganggumu?hah"


"kau tidak ingin melihatku?"


"jawaaaaaaabbbb" teriak kembali Lani sambil menatap tajam Ashana


Ashana menjatuhkan coklat yang dipegangnya merasa takut dengan Lani yang berubah drastis.


Yashbi merangkul pundak Ashana.


"kau pergi ke kamarmu. Aku ingin bicara dengannya" ucap Yashbi sambil mengambil coklat yang dijatuhkan Ashana


Ashana beranjak dari kursi dan melangkah menuju kamarnya namun, dihadang Lani.


"sebaiknya kau lihat dan perhatikan apa yang akan kami bicarakan" ucap Lani menyilangkan kedua tangannya didadanya


"sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian berdua. Aku tidak ada hubungannya" ucap Ashana


"tentu saja ada hubungannya karena kau menikah dengannya harusnya saat ini yang menikah dengannya adalah aku. Aku Lani Filancy" tegas Ani dengan nada meninggi


Yahsbi segera berdiri didepan Lani dan membelakangi Ashana dengan punggung lebarnya.


"dia tidak ada urusannya dengan kita. Apa kau masih percaya jika jodoh akan terjadi karena suatu perjanjian?" tanya Yashbi dengan menatap tajam


"kau mendapat keyakinan itu darimana, Lani? berhentilah berpikir seperti anak-anak lagi. Kau sudah berumur tiga puluh enam tahun. Dan memiliki seorang anak. Apa kau melupakan statusmu sekarang ini? kau seorang single parents yang harus pokus merawat anakmu" ucap Yahsbi


Ya, benar status Lani saat ini seorang janda yang memiliki anak laki-laki berumur tiga tahun. Saat ini anaknya di rawat oleh kedua orang tua Lani yang berada di Jepang. Mengingat Lani seorang ibu yang tidak memiliki tanggung jawab jadi dia hanya ingin pokus kembali merawat dirinya sendiri layaknya masih seorang gadis dulu.


"hah kau meledekku yang mengharuskanku pokus merawat anakku lalu, lalu kau bagaimana? apa kau sudah merawat anakmu dengan baik? tentu saja tidak kau malah menikah dengan anak kecil ini. Kau menikmati hidupmu sekarang bukan" ucap Lani dengan nada meninggi


Deugh

__ADS_1


"anak? jadi laki-laki ini memiliki seorang anak" batin Ashana yang menatap punggung lebar Yashbi


__ADS_2