
Yashbi yang berada di dalam mobil mengemudi seorang diri. Dia tengah menghubungi seseorang.
"bagaimana? apa kau sudah menemukannya?" tanya Yashbi dengan nada datar dan tegas.
"ya, tuan. Sesuai perintah. Kami sudah mendapatkan wanita itu. Tapi..."
"tapi kenapa? katakan" tanya Yashbi dengan penekanan.
"wanita itu tidak sadarkan diri"
Di dalam mobil Yashbi membulatkan matanya sempurna.
"ta... tapi tenang tuan. Kami tidak melakukan apapun padanya. Sepertinya dia hanya syok terhadap seorang lelaki"
"apa maksdumu? katakan jangan berbelit-belit"
"intinya wanita ini tidak pernah disentuh bahkan bicara dengan seorang laki-laki yang diluar anggota keluarganya"
"pisahkan mereka di ruangan terpisah. Ok" ucap Yashbi menutup sambungan telpon secara sepihak.
Sesaat Yashbi teringat dengan ucapan Zeys yang mengatakan jika tubuh yang dimasuki Zeys adalah wujud lain dari dirinya (Yashbi) dan warna hitam ini adalah sebagai tanda jika Yashbi tidak memperlakukan dengan layak pasangan yang sesungguhnya. Pasangan yang terikat tali pernikahan. Jika berperilaku seperti itu terus menerus maka warna hitam ini akan memenuhi wujud lain dari Yashbi dan Yashbi yang sesungguhnya akan lenyap tanpa tersisa. Dan ini adalah kutukan yang dijadikan hukuman oleh Zeys dengan meminta bantuan kekuatan macan hitam.
...*****...
Pagi hari, pukul enam pagi. Di dalam ruangan Ashana...
Anzel tengah membantu Ashana membereskan barang-barangnya.
Ashana meraih paper bag dan menatap dalam poto dirinya bersama keluarganya yang selama ini merawatnya. Poto dengan kondisi setengah menghitam karena ledakan itu.
Anzel meminta ijin untuk keluar sebentar.
"kau tunggu di sini jangan kemanapun, ok" titah Anzel terhadap Ashana.
Ashana hanya mengangguk pelan.
Setelah perginya Anzel, Ashana membuka pintu kamar mandi dan di dalam kamar mandi sana ada Zeys (wujud lain dari Yashbi) yang tengah duduk di wc duduk.
"lama sekali" ucap Zeys.
Ashana hanya tersenyum tipis.
"ma... maaf. Aku... tidak bermaksud" ucap Ashana terbatas menatap Zeys heran karena warna hitam yang menyelimuti tubuhnya semakin bertambah.
Zeys menyadarinya.
"ini... kau tidak perlu khawatir karena tubuh ini bukan milikku"
Ucapan Zeys membuat Ashana mengerutkan dahinya.
"ya, memang benar tubuh ini bukan milikku. Akan aku buktikan" ucap Zeys dengan panuh keyakinan.
Zeys keluar dari wujud lain dari Yashbi.
Kedua mata Ashana membulat sempurna.
"ini... kalian..." ucap Ashana menutup mulut dengan satu tangannya.
__ADS_1
Deugh
"jangan-jangan dia..."
"kalian... siapa?" tanya Ashana dengan raut wajah kebingungan.
"kau bisa melihatnya?" tanya Zeys dengan sedikit ragu.
"ya, kalian ada dua. Yang satu ini yang selalu membantuku" ucap Ashana mendekati wujud lain dari Yashbi.
"tunggu, tunggu. Kau salah mengira" ucap Zeys menahan pergerakan Ashana agar jangan mendekati lagi wujud lain dari Yashbi.
"akan aku beritahu satu hal. Yang selalu membantumu adalah aku bukan dia" ucap Zeys dengan kesal.
"kenapa? kalian ini kan sama saja. Satu sama lain"
"a... apa maksdumu?" tanya Zeys tidak terima.
"dilihat bagaimana pun kalian ini sama aja"
Ashana mengarahkan mereka untuk menghadap cermin.
"lihatlah. Kalian ini memang sama saja. Kalaupun berbeda menurutku..." ucap Ashana terhenti menatap kembali wujud lain dari Yashbi dengan warna hitam yang semakin bertambah.
Ashana memegang setiap inci warna hitam itu dengan perasaan dalam.
"hei, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, aku harap kau tidak merasakan kesakitan sedikit pun"
Dari arah luar Yashbi melihat mereka,terutama melihat aksi Ashana yang begitu lembut menatap dan mengusap wajah wujud lain dari Yashbi.
Dan Yashbi tersipu.
Melihat Yashbi bereaksi seperti itu membuat Zeys tersenyum simpul.
"harusnya kau bisa memperlakukan wanita yang ada di sampingmu saat ini dengan baik"
"apa yang kau katakan?" tanya Ashana menoleh ke arah lain (keberadaan Zeys).
Melihat Ashana seperti itu membuat Yashbi berpikir ada orang selain mereka. Dia segera melangkahkan kakinya tanpa bersuara. Namun saat mengedarkan pandangan tidak ada siapapun selain dirinya sendiri, Ashana dan wujud lain dari dirinya.
"dia tidak bisa melihatku. Aku tidak akan mengijikannya sebelum dia memperlakukan wanita dengan baik" ucap Zeys melangkah mundur, menjaga jarak dari Yashbi.
Pandangan Yashbi dan Ashana saling beradu.
"apa yang kau lakukan? cepat kemasi barang-barangmu" ucap ketus Yashbi.
Wujud lain dari Yashbi hanya menatap pada sang pemilik. Dan menghilang begitu saja di hadapan mereka.
"lain kali aku akan menemuimu. Jika merindukanku pejamkan matamu dan bayangkan wujud diriku. Dengan begitu aku akan datang padamu" bisik Zeys di telinga Ashana dan membuat Ashana terperanjat, kaget.
"ada apa?" tanya Yashbi.
Ashana hanya menggelengkan kepalanya.
Yashbi beranjak melangkahkan kakinya menjauh dari kamar mandi.
"lain kali jangan menyentuh apapun dan siapapun secara sembarangan. Kau tidak tahu makhluk apa yang ada di dekatmu itu baik atau tidak" ucap Yashbi bentuk peringatan. Tapi, Ashana terlihat tersenyum lebar mendengarnya. Dia merasa jika Yashbi memperhatikannya.
__ADS_1
"kau jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin merasa repot harus mengobatimu dan menyingkirkan makhluk itu. Karena pekerjaan itu jauh lebih berat daripada duduk sambil menatap layar"
Ashana berjalan mengekori Yashbi.
"jadi, saat pertama aku melihat ular, gumpalan asap hitam dan laki-laki barusan... apa itu ada sangkut pautnya dengan pekerjaanmu?" tanya Ashana dengan penuh hati-hati.
"euuumphh" jawab singkat Yashbi.
Ashana menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tidak gatal. Dia ingin sekali bicara panjang lebar dengan Yashbi mumpung berada di luar rumah. Entah kenapa jika berada di rumah Yashbi, Ashana tidak bisa bergerak dan bicara bebas.
"aku beritahu, pekerjaanku bukan hanya di kantor saja. Ada satu pekerjaan yang mengharuskanku melakukannya seorang diri. Pikiran, hati dan tenagaku semuanya terkuras untuk pekerjaan satu ini"
Yashbi duduk di sofa panjang. Diikuti Ashana duduk di sebelahnya.
Yashbi menceritakan tentang keluarganya yang memiliki kekuatan semacam cenayang, paranoid dan paranormal. Yang bisa melakukan pekerjaan itu hanya ada dua orang yaitu Zeys Mengesha dan Yashbi. Sementara yang lainnya, digunakan untuk kesenangan diri sendiri yang bersifat sementara (perselingkuhan, pengkhianatan terhadap pasangan).
Kondisi Yashbi saat ini pun tidak bisa dipungkiri jika dirinya memiliki sifat itu. Hanya saja masih terhalang oleh pekerjaan yang dia lakukan yaitu menyembuhkan manusia lain dari makhluk yang menganggunya.
Ashana mendengarkan cerita Yashbi dengan seksama tanpa berkedip. Memeluk kedua lututnya dan wajah bertumpu di atas kedua lututnya menghadap ke arah Yashbi yang sedari tadi bercerita tentang dirinya.
Yashbi penasaran karena Ashana tidak bersuara sedikit pun dan dia pun menoleh. Pandangan mereka beradu.
Di mata Yashbi kali ini Ashana terlihat seperti anak kecil lucu dan menggemaskan.
Yashbi tersenyum tipis namun, tidak terlihat oleh Ashana.
"kau mendengarkanku, kan?" tanya Yashbi.
"tentu saja. Aku tidak menyangka jika kau menanggung beban seberat itu"
Yashbi pun tidak lupa menceritakan kedua wanita yang menghilang di dalam hidupnya yaitu ibunya dan istri sekaligus ibu dari Morina.
Mendengar hal itu Ashana merasa bersalah dengan kondisinya saat ini. Apalagi mengetahui jika Yashbi menikahinya karena mencari kekasihnya, Clara.
Ashana memegang punggung tangan Yashbi yang berada di atas sofa.
"bagaimana jika membantumu?" tawar Ashana tulus.
"membantu? apa maksdumu?" tanya Yashbi.
"kita cari sampai ketemu kekasihmu itu. Mungkin aku bisa menemukannya biasanya sesama wanita akan saling mengetahui satu sama lain"
Yashbi menatap hangat Ashana.
"tapi... setelah dia kembali maka kau harus menceraikanku. Meski pernikahan ini mainan dan hal bodoh tapi bagiku pernikahan ini sakral. Bagaimana?" ucap Ashana mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"jika kau setuju... kau harus menjabat tanganku. Jika tidak..." ucapan Ashana terhenti karena Yashbi menjabat tangan Ashana memegangnya erat.
Lalu, Yashbi menarik tubuh Ashana kedalam pelukannya. Dia pun tidak mengerti dengan sikapnya seperti ini terhadap Ashana.
Ucapan Ashana barusan membuat dirinya menemukan ketenangan di dalam dirinya.
Dari arah pintu luar Anzel datang menghampiri dengan nafas terengah-engah diikuti Doni dari belakang
"tuan..."
Yashbi dan Ashana melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah suara yang memanggil.
__ADS_1
Yashbi menatap nyalang ke arah kedua laki-laki yang baru saja datang.