
Kembali ke tempat Ashana, dia mendapati luka di kejur tubuhnya akibat pecahan kaca kusangking takut dan berusaha mencari jalan keluar dia tidak memperdulikan rasa sakit.
"aku harus mencari jalan keluar" ucap Ashana dengan nafas terengah-engah
Segerombolan semut itu semakin mendekat bersamaan kaki Ashana melangkah mundur tanpa disadari tubuhnya sudah berada ditembok dekat kaca jendela yang pecah. Ashana menoleh ke bawah.
"aku harus melompat. Aku pasti bisa" ucap Ashana mengepalkan tangannya
Segerombolan semut itu berhenti disatu titik bersamaan dengan Yashbi menahan seekor semut besar yang menindih tubuh ayah Salfa. Pekerjaan Yashbi seperti ini menguraskan tenaga dan pikiran. Keringat seukuran biji jagung berjatuhan.Kondisi kedua tangan Yashbi melepuh seperti terbakar.
"sial. Dia lama sekali" ucap Yashbi kesal Salfa tidak kunjung datang
Yashbi melukai leher, lengan dan mulut ayah Salfa hingga mengeluarkan darah.
"maafkan aku. Anakmu lambat sekali" ucap Yashbi
Salfa menemukan sirih hitam tepat di bawah sejajar dengan ruang kelas Ashana. Salfa menyadari ada seorang wanita yang akan siap berlompat. Ya, melompat dari lantai enam.
"oh tidak. Murid itu ingin bunuh diri" ucap Salfa sambil merogoh ponselnya dan memanggil bantuan
"aku sangat tidak menyukai jika ada orang yang melakukan bunuh diri tepat di depan mataku" ucap Salfa kesal
__ADS_1
Saat Salfa menatap kembali ke arah Ashana, Ashana sudah berada di udara lalu datang seseorang menolongnya menangkap tubuhnya di udara. Seseorang dengan pakaian ala-ala kahyangan tapi sebelah wajah hitam pekat, mata teduh, rambut hitam pekat dan wangi menyejukkan tapi menusuk. Itulah gambaran di mata Ashana.
Saat melompat Ashana sedang dalam posisi pasrah jika di dalam kelas dia akan mati tak tersisa di makan semut-semut itu dan jika melompat setidaknya dia bisa dikebumikan dengan cukup baik. Dengan sifat pasrahnya ini membuat seseorang yang berwujud lain dari Yashbi muncul dan menyelamatkannya. Dia yang tidak memiliki nama akan muncul disaat-saat tertentu saja dan akan hilang begitu saja sesuai perilaku si pemilik yaitu Yashbi.
Di tempat Yashbi dia menyadari sesuatu keluar dari dalam tubuhnya.
"dia tidak akan muncul begitu saja kecuali ada sesuatu yang mendesak dan memang harus dilakukan. Jangan-jangan gadis kecil itu... " batin Yashbi
Yashbi ingin sekali segera menyelesaikan pekerjaannya dan menyusul ke tempat Ashana berada.
Diwaktu bersamaan, Indra yang kembali ke ruangan kelas di mana Ashana berada dia dikagetkan dengan suara ambulans dan benar saja ambulans itu berada di depan sekolahnya dan melihat Ashana di atas brankar diikuti seorang wanita yaitu Salfa. Tanpa pikir panjang Indra segera menuruni anak tangga dan menyusulnya.
"hei, wanita muda apa kau juga bisa melihatnya? kau bukan ingin bunuh diri tapi ingin menyelamatkan diri dari makhluk itu. Aish...kau mengingatkanku dulu" ucap Salfa
"lalu, laki-laki tadi yang menolongmu diudara seperti burung. Apa kalian saling mengenal? baiklah, aku tidak akan bertanya padamu akan aku tanyakan langsung padanya" ucap Salfa melihat kartu pelajar milik Ashana
"namamu Ashana. Nama yang sangat indah. Aku harus pergi. Kau pasti akan baik-baik saja" ucap Salfa
Ucapan Salfa barusan didengar oleh Indra yang berada di balik pintu.
"makhluk? laki-laki di udara seperti burung?" gumam Indra
__ADS_1
Salfa pergi meninggalkan Ashana. Kemudian Indra menyusul masuk dengan wajah cemas dan sangat khawatir.
"apa yang terjadi, Ash? aku meninggalkanmu sebentar hanya untuk pergi ke toilet tapi kau penuh luka seperti ini" ucap Indra berkaca-kaca
Indra memang masih sangat mencintai Ashana tapi dia tidak ingin bersikap egois. Akan menerima apapun yang dilakukan dan dikatakan Ashana karena hubungannya dalam keadaan saat ini akibat ulahnya sendiri.
Salfa dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumahnya. Saat tiba di kamar sang ayah memberikan sirih hitam itu terlihat raut wajah Yashbi sangat serius menempelkan daun sirih hitam di beberapa titik seluruh tubuh ayah Salfa.
"dengan wujud lain kau menolong wanita muda itu pasti kalian saling mengenal tidak mungkin dia menolong begitu saja. Ya, namanya Ashana. Dia wanita muda yang sangat cantik hanya dengan melihatnya pandangan, hati dan pikiran kita terasa sejuk. Aku menyukainya. Aku akan berteman dengannya"ucap Salfa menyilangkan kedua tangan di dadanya menatap ke arah Yashbi yang pokus mengobati ayahnya
Salfa menyadari tangan temannya itu terluka.
"tanganmu terluka" ucap Salfa mengambil kotak p3k di dalam laci nakas
"kau jangan mengangguku. Apa kau tidak lihat apa yang sedang kulakukan?" ucap Yashbi ketus
"baiklah. Jika sudah selesai temui aku di ruang tengah" ucap Salfa melangkahkan kaki keluar kamar karena sudah tahu dengan sifat temannya itu jadi dia lebih baik meninggalkannya seorang diri daripada kena ucapan yang tidak berperasaan
Di rumah sakit, Indra tidak berniat menghubungi atau mendatangi Yashbi. Dia berniat mencuri kesempatan dalam kesempitan. Dia akan menunggu Ashana hingga sadarkan diri.
"Ash, maafkan aku. Aku ingin berduaan lebih lama denganmu. Ini hal yang memalukan, benar kan? tidak apa-apa aku tidak akan melakukan apapun terhadapmu. Aku hanya ingin berdua seperti ini" lirih Indra memegang tangan Ashana dan tidur di samping brankar
__ADS_1