
Nelly dan Merisa berada di meja makan. Duduk berseberangan.
"apa yang ayah akan lakukan pada laki-laki kampungan itu?" ucap Merisa mengejek Anuya
"entahlah. Aku harap ayahmu tidak melakukan hal yang dapat membuatnya menyesal" ucap Nelly mengolesi roti gandum dengan selai cokelat
"apa maksudmu, mah?" tanya heran Merisa
"ya, aku tahu yang ayahmu lakukan berdampak terhadap adikmu, Clara. Kondisinya saat ini itu akibat ulah ayahmu" ucap Nelly
"aku tidak mengerti" ucap Merisa menatap Nelly intens
"seharusnya aku tidak mengatakan hal ini padamu. Tapi aku..." ucapan Nelly terhenti. Matanya yang mulai berkaca-kaca
"tapi aku tidak bisa memendamnya sendirian. Aku sudah tua menanggung semuanya" lirih Nelly
Merisa terlihat kebingungan menggaruk dahi yang sama sekali tidak terasa gatal.
"makanlah lebih dulu. Nanti akan aku tunjukkan padamu sesuatu. Setelah melihatnya mungkin kau akan berubah pikiran tentang apa yang selama kau pikirkan tentang ayahmu" ucap Nelly menyeka air mata di sisi kelopak matanya
Saat ini yang Nelly rasakan adalah perasaan penyesalan karena menikah dengan Robin. Sebelum mengenal Robin Nelly lebih dulu mengenal ayah Yashbi, Sidero. Mereka dekat satu sama lain layaknya sepasang kekasih. Nelly bekerja sebagai asisten manajer di perusahaan Robin karena kecantikannya membuat Robin jatuh cinta saat pandangan pertama. Nelly perlahan mulai berubah sikap terhadap Sidero menjadi sangat arogan dan kasar hingga menuntut agar Sidero mendapatkan sejumlah uang dalam waktu tertentu.
Menyadari perubahan sikap Nelly Sidero berbohong ada urusan keluarga. Tanpa sepengatahuan Sidero mengikuti Nelly dan melihat dengan kedua matanya sendiri Nelly tengah bermesraan dengan seorang laki-laki di dalam mobil mewah. Merasa dikhianati dan frustasi Sidero mengunjungi sebuah cafe dan mempertemukannya dengan ibu Yashbi, Rahayu. Rahayu saat itu sedang mengunjungi cafe miliknya.
Sidero yang sudah menenggak beberapa sloki minuman dengan harga terbilang mahal tidak mampu membayar mengingat kondisi finansialnya. Dan terjadilah keributan antara Sidero dan pelayan cafe.
Keributan yang terjadi diantara mereka terdengar sampai ke telinga Rahayu yang saat itu berada di cafe tersebut. Dia segera bergegas menghampiri dan memberikan pilihan untuk Sidero antara menjadi pelayan cafe miliknya tidak dibayar sama sekali dalam jangka waktu empat bulan atau dilaporkan ke pihak berwenang karena tidak berniat membayar barang yang sudah diambil. Tentu saja Sidero memilih pilihan pertama. Dia bekerja dengan rajin. Seiring berjalannya waktu mereka sering bertemu dan bicara satu sama lain.
Hubungan Sidero dan Nelly akhirnya kandas Sidero memilih untuk mengakhiri hubungan mereka. Meski sudah mendapat yang sudah lebih dari segalanya dari Sidero tidak membuat Nelly terbersit sedikitpun untuk mengakhiri hubungannya dengan Sidero. Bisa dikatakan Sidero memutuskan hubungan dengan Nelly secara sepihak. Ya, dengan keadaan seperti itu membuat Nelly bertindak nekad.
Seiring berjalannya waktu mereka hidup menikah dengan pilihan masing-masing. Awal pernikahan perjalanan kehidupan yang normal berbulan madu ke berbagai negara yang diinginkan. Apalagi Rahayu sangat memanjakan Sidero. Baru kali ini Rahayu memiliki seseorang yang sangat dekat dengan dirinya mengingat dulu ayahnya kerap kali meninggalkan dirinya sendiri di rumah mewahnya. Pulang-pulang sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Dua tahun menikah, Nelly mengetahui apa kegiatan rutin yang dilakukan oleh Robin. Karena tidak biasa awalnya membuat Nelly risih. Jam 18.00 Robin akan menyalakan lilin di bagian rumah tepatnya sudutnya utara. Jam 00.00 Robin akan menyalakan dupa beraroma melon. Jam 06.00 Robin akan mematikan ruangan secara bergantian misalkan hari ini kamar Merisa hingga jam 12.00 siang besoknya kamar Clara. Jam 12.00 Robin akan meminta pelayan untuk memasarkan menu yang menurutnya aneh misalkan ikan goreng dicampur cuka dan bunga kertas.
__ADS_1
Nelly berada dalam kamar Clara dia, terlihat gelisah saling berhadapan dengan Clara.
"apa yang akan Robin lakukan?aku sangat takut sekali kejadian itu akan terulang lagi" batin Nelly
"Clara, apa kau baik-baik saja?" ucap Nelly memegang punggung Clara, tatapan mereka saling bertemu. Sementara pelayan yang menemani Clara pergi meninggalkan mereka agar bisa leluasa bicara satu sama lain
"mah, apa mamah bisa mengeluarkanku dari sini?" ucap Clara penuh harap
"memangnya kenapa? apa kau merasa bosan. Jika memang iya mamah akan menemanimu untuk jalan-jalan keluar" ucap Nelly membelai rambut Clara
"akan aku pikirkan. Aku ingin pergi keluar sendiri tidak dengan siapapun"
Nelly mengerutkan dahinya.
"apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"tentu saja. Tanyakan saja"
Belum sempat menjawab Clara sudah bertanya kembali dengan pertanyaan lainnya yang memenuhi kepalanya selama ini.
" Yashbi bagaimana keadaannya? aku merasa dia sudah melupakanku"lirih Clara
"aku merindukannya"ucap Clara memandang lurus ke depan sambil memeluk kedua lututnya
Nelly tertegun mendengar ucapan anaknya itu. Dia berusaha untuk bersikap tenang.
"aku akan menjawab pertanyaanmu satu persatu. Jadi dengarkan baik-baik" ucap Nelly
"keadaanmu saat ini sedang tidak dalam kondisi baik jadi butuh beberapa waktu untuk memulihkan kondisimu. Penyakit yang kau derita kami tidak bisa memberitahunya. Kau haru mengerti, kami tidak ingin kondisimu drop setelah mendengarnya" ucap Nelly menatap lembut Clara
Di daun pintu, Merisa menyaksikan mereka betapa irinya perasaannya saat itu hingga mengepalkan tangan dan menatap tajam ke arah Clara.
"akan aku rebut semua yang ada didirimu, Clara" batin Merisa
__ADS_1
"benarkah? pantas saja tubuhku merasa lelah sekali padahal tidur cukup dan makan pun seperti biasanya. Setiap hari aku harus memoles pewarna bibir agar tidak terlihat pucat. Pasti memalukan jika tiba-tiba Yashbi datang menemuiku"ucap Clara beranjak dari kasur menuju laci meja rias mengambil pewarna bibir yang selalu dia gunakan
"sebenarnya Yashbi sering datang untuk melihat kondisimu"
"waaahh benarkah? " ucap Clara yang seketika bersemangat dengan mata berbinar
"tentu saja benar. Hanya saja saat kau sedang tertidur. Karena tidak ingin menganggu waktu istirahatmu jadi dia hanya melihatmu dan duduk di sisi ranjang" ucap Nelly terpaksa berbohong
Senyum bahagia terukir di wajah Clara. Dia meraba sisi ranjang.
"apa dia duduk di sini?"
"ya. Kadang pindah di kursi riasmu"
"sampai kapan dia akan melakukannya? apa hatinya tidak terketuk untuk segera menghentikan tindakan bodohnya. Jangan sampai Clara..." batin Nelly
.
.
.
.
.
Nelly beranjak meninggalkan kamar Clara yang sedang tertidur dengan wajah pucatnya. Saat sampai depan pintu Nelly, kaget memegang dadanya karena ada Merisa.
" k... kenapa kau di sini? bukannya pergi ke Mall? "tanya Nelly yang berjalan melintasi Merisa
" saat di depanku kau terlihat jelas membencinya tapi saat aku tidak ada kau bersikap manis padanya. Apa maksudmu, mah? "tanya Merisa bibir bergetar
Merisa sangat tidak menyukai Clara apalagi jika kedua orang tuanya memperhatikan lebih. Tersirat di hati dan pikirannya untuk membunuh Clara namun beberapa kali diurungkan karena belum menemukan waktu yang tepat.
__ADS_1