
Yahsbi menuju perjalanan pulang, dia kali ini tidak menggunakan mobil dan sopir yang biasa mengantarnya. Padahal saat ini dalam keadaan mabuk. Dia melangkah jalan kaki dengan sempoyongan. Berkali-kali menabrak orang lain dan berakhir dengan makian. Dalam pandangannya bayangan Clara selalu menghantuinya dan menyebut namanya berulang kali dengan mulut yang bau akan alkohol.
"Clara"
Malam hari...
Ashana yang sudah berbelanja keperluan mandi dan dapur. Dia menatanya dengan tersusun rapi. Sesaat matanya terpaku melihat sabun pembersih miliknya tidak berada di tempat sebagaimana mestinya.
"perasaan aku belum memakainya" batin Ashana
Sontak kaget saat isi sabun pembersih itu tinggal sedikit lagi. Ya, Ashana mengumpulkan uangnya untuk membeli sabun pembersih itu karena harganya lumayan mahal untuk ukuran kantong saku miliknya.
"ish... apa ada yang memakainya? mana mungkin di rumah ini hanya ada aku dan ibu. Ibu seharian ini tidak pulang" kembali batin Ashana pikirannya yang terpokus dengan sabun pembersih miliknya yang tiba-tiba tinggal sedikit lagi
"tumpah?" melihat ke lantai kamar mandi yang masih kering
"sudahlah nanti aku bisa membelinya lagi"
Ashana bergegas untuk memasak namun sesaat langkahnya terhenti saat mengingat ucapan Yahsbi untuk tidak memasaknya lagi untuknya.
"aku ingin menjadi istri yang baik meskipun keadaan saat ini tidak mendukung. Ya, karena pernikahan terpaksa ini. Aku tidak mau harus ribut dan cek cok melulu dengan ibuku. Hubunganku dengannya sangat buruk lima tahun ini dan semenjak ayah meninggal hubungan kami lebih dari buruk "Ashana tersenyum miris mengingat hubungannya dengan ibunya
Ashana memasak dengan menu cukup mewah karena dengan uang yang diberikan Yashbi dia bisa membeli apapun tanpa harus memikirkan terlebih dahulu mengingat kondisi keuangan.
Ting
Ting
Bel rumah bunyi
Ashana bergegas segera membuka pintu dan yang berada di depan pintu saat ini adalah Indra dengan pakaian casualnya. Memang Indra sangat tampan mengingat dia salah satu kandidat mojang perwakilan sekolahnya.
"hai" sapa Indra dengan senyum lebarnya
"a.. ada apa? ini sudah malam. Apa kau sudah lupa aku tidak mungkin keluar di malam hari" ketus Ashana yang masih memakai celemek
"kau sedang memasak untuk suamimu?" tanya kembali Indra melangkahkan kakinya ke dalam rumah Ashana
__ADS_1
"aku tidak mengijinkanmu masuk" Ashana dengan nada ketusnya
Indra sangat merindukan Ashana saat ini apalagi di sekolah dia tidak bisa menemuinya. Kabar Ashana berhenti sekolah mendadak mendapat respon kurang baik dari murid lainnya. Mereka menyangka jika Ashana hamil di luar nikah dan menjadi simpanan sugar dady.
Indra mendengar ucapan itu dari teman-teman sekolahnya membuatnya geram. Kenyataannya Ashana tidak seperti itu. Dia mengatakan yang sebenarnya namun diurungkan niatnya. Teringat hubungannya yang sudah putus dan kejadian saat Yashbi ingin menikahinya malam itu.
"suamimu belum pulang. Setidaknya aku bisa sedikit bicara denganmu, Ash" mata Indra penuh harap, berharap Ashana tidak menolaknya
"stop. Kau duduk di sini" titah Ashana agar Indra duduk di kursi dekat bupet sepatu
Karena ingin bertemu dan menahan rindu beberapa hari lalu membuat Indra mengalah dan duduk di kursi yang ditunjuk Ashana.
Indra melihat Ashana membuka celemeknya dan menyimpan di tempatnya dan juga mencuci tangan di westafel. Pemandangan itu membuat Indra sedikit tersenyum membayangkan jika dirinya lah yang harusnya menjadi suami Ashana saat ini.
Ashana melangkah dengan wajah datar dan duduk di seberang Indra.
"kau sedang memasak?" tanya Indra dengan menatap dalam Ashana
"euumphh... katakan saja apa yang ingin kau katakan? setelah itu cepatlah keluar dari rumahku" titah Ashana
"Ash, aku tahu aku salah padamu tapi sumpah aku melakukannya di luar kendali. Saat itu aku dalam pengaruh minuman beralkohol jadi..." kalimat Indra terpotong
"ya, aku memang salah. Tapi aku janji akan berubah,Ash. Aku janji" ucap Indra dengan sorot mata yang tidak berpaling terus menatap Ashana
"kenapa kau melakukan ini? kau sudah tahu bukan jika aku sudah menikah jadi janjimu itu simpan saja untuk wanita lain"
"kau memutuskan hubungan yang terjalin lima tahun dan menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak kau kenal? hah... jangan bercanda" ucap Indra yang nada bicaranya mulai meninggi membuat Ashana mendongakkan kepalanya
"aku tahu kalian menikah bukan rasa saling suka tapi ada hal lain yang mengharuskan kalian menikah. Ashana, kau menikah dengan laki-laki itu dengan alasan bisa memperbaiki hubunganmu dengan ibumu"
"baguslah jika kau mengetahuinya. Akhirnya pikiranku terbuka jika ibuku menginginkan yang terbaik untukku. Bukankah begitu setiap orang tua terhadap anaknya?" ucap Ashana yang menahan nafasnya karena terpancing emosi
"kalian memiliki alasan masing-masing untuk menikah. Tapi, apa Tuhan akan merestui pernikahan seperti ini? di mana dua insan yang mempermainkan tali ikatan pernikahan" ucap Indra kesal menopang kakinya
"a... apa maksudmu?" tanya Ashana
"kau tidak tahu bukan jika suamimu menikah denganmu agar kekasihnya keluar dari persembunyian. Kekasih suamimu itu menghilang sekitar dua bulan lalu dan dia mencarinya hingga saat ini" ucap Indra sedikit puas namun sedih melihat reaksi Ashana yang di luar perkiraan
__ADS_1
Ashana matanya yang memanas tidak dapat menahan bendungan air mata yang keluar dan membasahi pipinya yang putih bersih.
"Ashana, aku mengatakan hal ini karena memang memiliki bukti" ucap Indra menyodorkan ponsel miliknya membuka rekaman suara
Terdengar pembicaraan Yashbi dan Doni di sebuah kedai di mana saat itu ada Indra yang posisinya dekat dengan mereka. Indra melihat poto Ashana yang dikeluarkan dari saku Yashbi. Dan akhirnya Indra memberanikan diri menguping pembicaraan mereka dan merekamnya. Dan ternyata kedai itu adalah milik teman Indra.
"kau hanya ingin membicarakan hal ini, kan? ebiaknya kau pergi, cepat pergilah" ucap Ashana yang tidak berani menatap ke arah Indra
Indra beranjak dari kursi menghampiri Ashana dan ke dua lutut di lantai, dua tangan memegang tangan tangan Ashana yang gemetar.
"aku tidak ingin kau terjebak dengan pernikahan sialan ini. Jadi aku akan menyelamatkanmu, Ash" ucap Indra dengan perasaan yang campur aduk
Indra merasa kasihan dengan Ashana karena dia tahu jika Ashana ingin melanjutkan sekolahnya lebih tinggi lagi dan bercita-cita memiliki panti asuhan dan penampungan hewan liar. Ashana sangat menyukai anak-anak dan binatang.
"aku tidak akan meminta hubungan kita kembali. Aku akui memang laki-laki baj*ngan karena sudah mengambil kehormatanmu secara paksa. Namun, aku tidak ingin melihatmu terjebak dipernikahan ini. Kau bisa menikah dengan orang yang memiliki persamaan sama satu sama lain bukan dengan berbagai alasan masing-masing "ucap Indra penuh harap
Indra memang masih mencintai, menyayangi Ashana tapi dia bukan tipe laki-laki egois pada umumnya. Jika seorang yang dicintainya tidak merasa nyaman apalagi dengan sikapnya Indra, tidak akan menahan seorang itu untuk tetap bersama dengannya.
"kehormatanku sudah tidak kumiliki lagi jadi untuk apa aku merasa paling so suci dan tersakiti. Sebaiknya kau pergi, dra. Akhirnya aku tahu kenapa laki-laki itu tiba-tiba menikahiku secepat ini bahkan lebih cepat dari kliatan cahaya, hah" ucap Ashana yang melepaskan genggaman tangan Indra
"aku berterima kasih padamu karena sudah memberitahuku. Semenjak pernikahan itu aku selalu berpikir kenapa laki-laki mapan, tampan dan gagah mau menikah dengan anak kecil sepertiku"ucap kembali Ashana yang menangis
Indra mengusap pipi Ashana dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
"jodoh? ya ini mungkin yang dikatakan orang jodoh itu tidak tahu datang dari arah mana bahkan bisa dari tempat kotor sekalipun" ucap Indra untuk menenangkan Ashana
.
.
.
Di waktu yang bersamaan, Yashbi yang tengah dalam keadaan mabuk dia menyeret seorang wanita yang dikiranya adalah Clara padahal wanita lain. Dia menyeret wanita itu ke dalam gang sempit dan menciuminya dengan paksa hingga bagian pundak bajunya sobek akibat wanita itu berusaha melawan. Beberapa orang teman wanita itu memergoki temannya diperlakukan tidak senonoh dan akhirnya Yahsbi dipukuli teman dari wanita itu.
Yahsbi yang terlihat babak belur dan pakaian kotor berusaha berdiri dan berjalan sempoyongan.
"s... sial. Akan aku buat perhitungan denganmu, Clara. Kau berani sekali kabur dariku" ucap Yashbi dengan punggung tangan mengelap sudut bibir yang berdarah
__ADS_1
Yashbi berjalan sempoyongan dan mengucapkan kalimat tidak jelas sepanjang jalan pulang. Saat sampai di rumah Ashana dia, melihat Ashana tengah bersama Indra yang meratapi nasib (itu menurut pandangan Yashbi)