Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 40


__ADS_3

Di dalam mobil, Yashbi duduk dikemudi dan Ashana berada di jok samping. Jalan yang di lalui berbeda dan asing di mata Ashana.


"kau akan membawaku ke mana?" tanya Ashana tanpa melihat ke arah Yashbi


"ke rumahku" jawab Yashbi dingin


Ashana memicingkan matanya.


"dengar. Kau harus melakukan sesuatu setibanya di sana"


"apa yang harus kulakukan?"


"kau harus berpura-pura menjadi seorang pelayan di rumahku. Selama ini aku belum pernah menyewa satu pelayan dalam hidupku karena aku sama sekali tidak mempercayai mereka" ucap Yashbi dingin dengan wajah datar


Deugh


"kau membawaku ke rumahmu hanya untuk melakukan itu?"


"euumphh..."


"apa untungnya bagiku? dari awal aku setuju dengan pernikahan ini lalu sekarang kau dengan seenaknya memintaku untuk menjadi pelayan di rumahmu. Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu." ucap Ashana menghela nafas kasar


"pernikahan yang terjadi diantara kita bukan hanya aku saja yang terlibat tapi..." ucapan Yashbi terhenti


"tapi... tapi apa?" tanya Ashana dengan menaikkan sedikit nada bicaranya


"apa kau menikmati dan merasa senang mengatur hidup seseorang seenaknya? aku tidak menyangka. Umurmu tidak mencerminkan sikapmu, bapak Yashbi" ucap tegas Ashana segera memalingkan wajah ke arah jendela mobil dan menatap keluar


Ashana menahan bendungan air mata yang berada di kelopak matanya.


Yashbi hanya terdiam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menancap gas mobil. Memegang erat kemudi mobilnya.


Yashbi tidak mungkin menjelaskan kenapa dia menikah dengan Ashana. Jika dia mengatakan yang sejujurnya bisa saja salah satu atau keduanya mati Yashbi dan Ashana. Terlihat jelas raut wajah Yashbi bingung, kesal dan marah.


"katakan saja apa yang kau inginkan katakan"


"tentu saja. Jangan kau pikir karena perbedaan umur kita cukup jauh kau bisa seenaknya padaku. Tapi... aku... aku juga tidak ingin menjadi seorang..." ucap Ashana terhenti karena Yashbi memotong pembicaraannya


"kita buat perjanjian secara resmi. Setelah tiba di rumahku kau hanya perlu melakukan yang kukatakan tadi"ucap Yashbi dingin dan menoleh ke arah Ashana yang menangis menghadap ke arah jendela mobil dan terlihat oleh Yashbi


" kau hanya perlu bertahan enam bulan, Ashana. Setelah itu kau bisa lepas dariku"

__ADS_1


"apa maksudmu dengan perjanjian resmi?"


"setelah keadaan kondusif kita akan menemui seorang pengacara. Kau hanya perlu mengatakan apa yang kau inginkan dariku selama pernikahan enam bulan ini. Selama aku bisa aku pasti akan memenuhi keinginanmu"


"ya. Akan aku lakukan apa yang kuinginkan"


"baguslah. Setidaknya kau tidak merasa dirugikan selama enam bulan bersamaku" ucap kembali Yashbi dingin


Deugh


Setiap ucapan yang dikeluarkan dari mulut Yashbi selalu berhasil membuat Ashana tidak berdaya seolah tahu secara tidak langsung Yashbi mengatakan untuk jangan menaruh perasaan di pernikahan ini.


.


.


.


.


.


.


Yashbi mengambil mantel yang berada di jok belakang dan memakaikannya pada tubuh Ashana.


"harusnya lukamu tadi diobati jadi tubuhmu tidak akan menggigil seperti ini" ucap Yashbi mematikan tombol ace mobil


Ashana hanya terdiam tidak berani memandang ke arah Yashbi. Ya, dia sedang mengubur dalam-dalam perasaan terhadap laki-laki yang ada di sampingnya saat ini.


Tangan Yashbi menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Ashana yang tertunduk dan pandangan mereka bertemu.


"setelah menangis sebaiknya kau jangan tidur. Kepalamu akan terasa berat saat bangun nanti" ucap Yashbi yang kersa sedikit gugup


Ashana segera menepis tangan Yashbi.


"apa ini bentuk perhatian? jika iya jangan lakukan lagi. Jika bukan aku akan menerimanya sebagai saran" ucap Ashana yang segera memalingkan wajahnya


Dengan sikap Ashana ini membuat Yashbi terpancing emosi dan kesal. Dia memegang kedua belah pundak Ashana, memaksanya untuk menghadap ke arahnya. Tatapan mereka saling bertemu. Tatapan Ashana yang kaget dan tatapan Yashbi dingin.


"kau mulai menyukaiku, Ashana?" tanya Yashbi

__ADS_1


"tidak" jawab singkat Ashana


"katakan sekali lagi?" tanya Yashbi mencoba mencari kebohongan dari wajah dan mata Ashana namun tidak menemukannya


"aku tidak menyukaimu" tegas Ashana


Tangan Yashbi yang memegang semakin erat ke dua belah pundak Ashana. Ashana yang menahan rasa sakit.


"lepaskan. Sakit"


Yashbi mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak. Wajah mereka saling berdekatan hanya berjarak satu senti.


Bibir Yashbi segera ******* bibir Ashana yang kecil dan tipis. Beberapa saat mereka berciuman. Yashbi dan Ashana dengan nafas beradu.


Terlihat Ashana meneteskan kembali air matanya dan membuat Yashbi cukup terkejut. Baru kali ini wanita yang diciumnya menangis biasanya wanita yang setelah dicium Yashbi akan merasa senang dan meminta imbalan.


"kenapa kau menangis? apa kau ingin aku memberikan imbalan untukmu? bukankah selumnya..." ucapan Yashbi terhenti karena satu tamparan melayang ke arah pipi Yashbi


Plaaaak


"lakukan saja terhadap wanita yang kau sukai dan dicintai. Jangan jadikanku pelampiasan. Imbalan? apa kau mampu memberikan imbalan itu setelah aku mengatakannya? sepertinya tidak" ucap Ashana menyeka air matanya dan melempar mantel sembarang arah


Sikap Ashana seperti ini membuat Yashbi terdiam seribu bahasa. Kondisi jalan yang masih macet total Yashbi, memutuskan untuk menyewa hotel terdekat.


Di antar keduanya tidak ada pembicaraan sama sekali. Tiba di kamar yang di pesan pandangan Ashana dibuat terkejut betapa tidak pemandangan yang indah tepat di depan matanya sendiri saat ini. Melihat reaksi Ashana membuat Yashbi sedikit bernafas lega.


Yashbi menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi dia terus teringat kejadian tadi di mana dirinya mencium Ashana. Ada perasaan bersalah tapi merasa senang juga. Dia merasa jika itu adalah ciuman pertama untuk Ashana.


"polos dan lugu" gumam Yashbi yang berada di bawah guyuran air shower


Di dalam kamar ada seseorang yang mengantarkan pakaian untuk mereka dan Ashana yang menerimanya.


Ashana memisahkan pakaian untuk Yashbi dan dirinya. Untuk pakaian Yashbi dia di simpan di atas kasur sementara pakaian untuk dirinya dia bawa dan di simpan di dekat balkon. Turun Hujan masih lebat membuat Ashana memutuskan untuk hujan-hujanan. Balkon yang luas dan terdapat kolam renang serta lampu yang terang.


Ashana hujan-hujanan seperti anak kecil mengelilingi kolam renang, memainkan air hujan dengan wajah tersenyum lebar. Pandangan Ashana terhenti saat melihat mainan yang bisa mengeluarkan gelembung.


"kenapa ada mainan anak kecil?" ucap Ashana menghampiri mainan itu dan mengedarkan pandangannya


"tidak mungkin di kamar hotel ini ada anak kecil kecuali penyewa sebelumnya" gumam Ashana mengambil mainan itu dan memainkannya


Benar saja, gelembung keluar jumlah banyak setelah Ashana menekan salah satu tombol yang ada di mainan itu. Senyum yang merekah menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Dari dalam kamar, Yashbi yang telah selesai melakukan ritual mandinya dengan memakai handuk kimono melihat ke arah keberadaan Ashana sesaat senyuman terbit di wajah Yashbi.


Yashbi kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


__ADS_2