
Di jalan menuju pulang, Lani menuju perjalanan pulang dalam keadaan mabuk berjalan sempoyongan memegang satu botol minuman. Menggerutu sepanjang jalan sesekali berteriak seperti orang gila.
"aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku tidak peduli jika itu harus mempertaruhkan nyawaku sendiri atau bahkan orang terdekatku. Aku sama sekali tidak peduli" ucap Lani tertawa terbahak berjalan sempoyongan rambut acak-acakan
Dalam benaknya terlintas sesuatu yang akan dia lakukan terhadap Ashana saat ini juga.
"aku... aku akan memberinya sedikit pelajaran pada gadis kecil itu. Ya, dia Ashana... kau harus kuberi sesuatu yang akan membuatmu sedikit tertekan setidaknya. Beraninya kau bersenang-senang diatas penderitaanku. Sejak dilahirkan tidak ada seorangpun yang berani melakukan hal itu"ucap Lani sangat kesal
Di rumah Yashbi tepatnya di kamar Morina dia, sedang menyuapi anak semata wayangnya dengan makanan kesukaannya yaitu sup bakso dicampur rumput laut. Tatapan yang kosong membuat Yashbi khawatir karena takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Saat seseorang dalam keadaan tubuh yang tidak sehat disertai tatapan kosong dan beban pikiran terlalu berat tentu saja akan mengundang makhluk lain untuk mendekatinya parahnya bisa memasuki tubuh si seseorang itu untuk dijadikan wadah.
Di seberang sana, Robin sedang memberi pakan ikan kesayangannya tengah bicara dengan seseorang melalui ponsel miliknya.
"oh begitu. Baguslah. Dengan begitu aku bisa melakukannya sesuai dengan rencana yang sudah kubuat. Setidaknya orang yang berada dekat dengannya aku harus menyingkirkannya satu per satu" ucap Robin tersenyum licik
"kau membutuhkannya secepatnya karena pekerjaanmu cukup bagus dengan baik hati aku akan mengirimimu jumlah yang sesuai" ucap kembali Robin mematikan sambungan ponsel dan terlihat di layar ponsel melakukan transfer pada salah satu nomor rekening atas nama Zeno Filanga
Robin melangkahkan kaki menuju satu ruangan yang hanya dia yang mengetahuinya. Ruangan rahasia miliknya. Di mana ruangan itu tersembunyi di sebuah bingkai poto keluarga yang cukup besar. Menekan tembok di balik bingkai poto terbukalah sebuah ruangan rahasia miliknya yang bernuansa hitam dan putih.
Mengambil setumpuk poto berukuran sebesar buku tulis. Poto yang bergambarkan Morina dengan berbagai pose dan kondisi.
"Yashbi, ini baru permulaan. Kau tahu uang yang telah cair dari kertas cek milikmu hanya bisa mengganti sebagian kecil kerugian perusahaanku. Ah mungkin kau tidak tahu apa yang sudah ayahmu dahulu lakukan padaku dan keluargaku. Aku sangat ingin melihatmu hancur tanpa sisa. Dengan begitu aku bisa hidup damai "ucap Robin yang menatap poto Morina
" aku sudah mengambil anakku, Clara dari sisimu dan ternyata kau masih mampu bertahan hingga sekarang ini. Kuakui kau sangat hebat "ucap Robin kembali yang tidak disadari Clara berada di dekat tembok di mana bingkai poto keluarganya berada
Clara berdiri dengan tubuh gemetar setelah mendengarkan ucapan ayahnya sendiri.
" ja... jadi ayah melakukan hal ini sengaja? menginginkan kami berpisah? tapi kenapa? seberapa dendam kau padanya?" lirih Clara dengan mata yang melotot sempurna menahan air mata yang berada di kelopak matanya
__ADS_1
Robin menaruh beberapa poto Morina di atas kaca anti panas dan pecah lalu di bawahnya dinyalakan setungku api. Api yang berada dalam sebuah wadah.
Kembali di mana keberadaan Yashbi dan Morina. Di dalam kamar Morina, Yashbi menyelimuti tubuh anaknya hingga dada dan mengecup dahinya dengan rasa sayang yang teramat dalam.
"kau akan baik-baik saja. Besok kau akan kembali pulih seperti sebelumnya" ucap Yashbi memandangi anaknya
"ibu... ibu jangan pergi. Jangan tinggalin Morina. Morina takut. Takut sekali. Aku ingin ikut denganmu. Janji Morina berjanji tidak akan membuatmu kesulitan. Ibu bawa Morina" lirih Morina yang masih dengan tatapan kosong
Seketika mata Morina menghitam dan Yashbi tahu betul jika ada seseorang yang telah berbuat jahil terhadap anaknya. Dia segera ke kamar mandi dan membasuh wajahnya lalu kembali lagi ke sisi Morina duduk di tepi ranjang menggenggam kedua tangan Morina erat, memejamkan mata dan merapalkan mantra lebih cepat dari sebelumnya. Karena merasa panas yang luar biasa di tubuhnya Morina gelisah keluar keringat seperti sudah mandi. Dalam hitungan detik ujung rambut hingga kaki basah kuyup dan Yashbi tetap berusaha tenang dalam keadaan seperti itu. Dia memberikan rasa dingin pada tubuh anaknya dengan rapalan mantra yang diucapkannya. Yashbi melakukan hal itu hingga tiga jam. Tangan yang sudah tidak mampu menggenggam tangan anaknya. Sama halnya dengan Morina seluruh tubuh Yashbi basah kuyup merasakan panas dan dingin pula.
"sampai mana kau akan bertahan Yashbi. Ini sudah beberapa jam berlalu" ucap Robin menghadap poto Morina yang berada di atas kaca anti pecah dan panas serta api di bawahnya
"ini baru awal Yashbi" ucap kembali Robin menaburkan sesuatu ke api itu hingga api berubah hitam
Morina berteriak "panaaaasssss" bangkit dari kasurnya segera berlari ke arah kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower namun tidak ada reaksi apapun. Berkali-kali berteriak panas. Membuat Yashbi panik berusaha menenangkan anaknya.
Tatapan mereka saling bertemu namun tatapan Morina beda sekali melotot tajam. Menghempaskan tubuh Yashbi. Dalam keadaan seperti itu kekuatan seseorang akan bertambah berkali lipat.
"Morinaaaa... tunggu"
Mereka melakukan aksi saling kejar-kejaran. Morina menuruni anak tangga dan dua kali terjatuh.
Sopir yang berada di depan pintu melihat ke arah keramaian itu.
"tutup semua pintu dan kunci" perintah Yashbi
Tanpa banyak pertanyaan si sopir menutup semua pintu hanya dengan menekan tombol yang berada di dekatnya.
__ADS_1
Yashbi segera memeluk Morina. Jantung yang berdegup kencang karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap anak semata wayangnya.
Yashbi merapalkan mantra mendekap erat pelukannya karena Morina berusaha melepaskan pelukkan ayahnya itu.
Dalam pengucapan rapalan mantranya Yashbi berbisik "Morina Aldgrisfa binti Yashbi Dzon" seketika Morina bersikap tenang dan perlahan tangannya membalas pelukan Yashbi, memeluk punggung ayahnya. Tangispun pecah.
"panas, panas, panas sekali tubuhku" ucap Morina
Yashbi mengabaikan ucapan anaknya. Rapalan mantra yang keluar dari mulutnya semakin cepat lalu kaca anti pecah dan panas yang berada di hadapan Robin pecah, remuk.
Di waktu yang bersamaan, Lani berada di halaman depan rumah Ashana dia memecahkan botol ke tembok halaman melangkah maju menuju pintu rumah.
Sementara Ashana berada di dapur telah menyelesaikan makannya seperti biasa wujud lain dari Yashbi menemaninya. Wujud lain dari Yashbi beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu. Dia berdiri tegak di depan pintu seolah sedang menghalangi sesuatu yang akan masuk ke dalam rumah.
Triiiing
Triiiing
Triiiing
Bel pintu rumah berbunyi.
Ya, wujud lain dari Yashbi bisa menghalangi suatu benda tapi tidak bisa membuat suara, bunyi menjadi tidak terdengar.
Ashana segera melangkahkan kaki ke arah pintu tapi wujud lain dari Yashbi menghalanginya. Ashana pun merasa heran tapi dia bersikekeh untuk membuka pintu itu. Terjadi saling adu tatap. Dua bola mata mereka saling bertemu. Bola mata Ashana mengisyaratkan agar untuk menyingkir. Ya, wujud lain dari Yashbi pun menyingkir. Saat pintu terbuka, Lani tanpa awahan segera mengarahkan botol yang pecah itu ke wajah Ashana namun tidak mengenainya karena wujud lain dari Yashbi menghalangi dengan tubuhnya sendiri. Sementara Ashana terjatuh ke belakang.
Lani merasa heran jelas-jelas tadi dia mengarahkan botol pecah itu ke arah wajah Ashana dan yakin pasti mengenainya. Dia mencobanya lagi tapi langkahnya terhenti karena terhalang tubuh wujud dari Yashbi.
__ADS_1
Wujud lain dari Yashbi menoleh ke arah Ashana yang terduduk di lantai dengan wajah yang ketakutan. Ashana segera beranjak dan berlari ke arah tangga untuk mencari persembunyian.