Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 38


__ADS_3

"dia berniat mencelakaiku" ucap Ashana cemas dan panik


Ashana segera mengunci pintu kamarnya. Jantung yang berdegup kencang. Nafas terengah-engah.


Di rumah Yashbi, Yashbi tengah membaringkan Morina di atas kasur dengan wajah yang tampak lelah.


"Morina, aku tidak akan membiarkanmu hilang di dalam kehidupanku begitu saja. Kejadian itu tidak akan terulang lagi. Aku janji" lirih Yashbi menggenggam tangan Morina


Si sopir yang melihat dari daun pintu melangkahkan kaki menghampiri tuannya.


"tuan, bagaimana jika kita menyewa pelayan dari yayasan?" ucap sopir meskipun tahu tuannya akan menjawab seperti apa tapi si sopir tetap keukeuh menyarankan hal tersebut


"tidak, aku tidak ingin hal itu terjadi lagi" ucap Yashbi tanpa melihat ke arah sopir


"tapi jika seperti ini terus kesehatan anda akan terganggu. Maaf bukan saya.... " ucap sopir terhenti, khawatir dengan keadaan tuannya


"kau jangan khawatir dengan keadaanku. Aku akan berusaha semampuku agar kejadian itu tidak terulang lagi" ucap Yashbi beranjak dari sisi Morina


"jemput wanita itu dan berikan ini padanya" ucap kembali Yashbi mengambil selembar kertas dan pena di dalam laci nakas, menuliskan sesuatu di atas kertas itu


"jangan banyak bicara dengannya. Berikan saja kertas ini dia pasti akan mengerti" ucap Yashbi memberikan kertas itu pada si sopir dengan tatapan dingin dan si sopir mengerti dengan arti tatapan tuannya itu


Si sopir segera melangkahkan kaki keluar dari kamar dan menuju rumah Ashana.


Di kamar Ashana sedang mondar mandir terlihat sangat gelisah.


"aku harus bagaimana? apa yang harus kulakukan?" gumam Ashana


"bisa saja aku melawannya hanya saja dia pasti akan terluka berat dan di bawa ke rumah sakit" ucap Ashana tampak berpikir

__ADS_1


Saat masih sekolah dasar Ashana pernah memukul teman sekelasnya perempuan. Dia selalu menganggu dan menjahili Ashana setiap harinya. Suatu saat Ashana hilang kesabaran dan memukul wajah teman sekelasnya itu dan harus dibawa ke rumah sakit karena pingsan tidak sadarkan diri dua hari.


Lani yang masih mencoba untuk masuk ke dalam rumah.


"ada apa ini? kenapa aku tidak masuk padahal pintunya terbuka?" ucap Lani yang masih setengah mabuk kondisi berantakkan


Sementara wujud lain dari Yashbi separuh badannya menghilang dari kaki hingga perut. Karena menggunakan kekuatannya cukup besar untuk bisa menahan seorang manusia. Menghadapi seorang manusia sebanding dengan lima makhluk lain cukup menguras kekuatan wujud lain dari Yashbi.


Lani terus berkali-kali membenturkan tubuhnya ke arah wujud lain dari Yashbi ini. Meski keringat sudah seukuran biji jagung dia sama sekali tidak berniat menyerah.


Lani mengedarkan pandangan mencari jalan lain untuk bisa masuk ke dalam rumah Ashana. Tidak berapa lama dia melihat sebuah pintu dan segera beranjak melangkahkan kaki ke pintu itu.


"aku akan memberikanmu sedikit pelajaran gadis kecil. Bukankah seharusnya anak kecil sepertimu diharuskan mendapatkan pelajaran lebih banyak daripada orang dewasa" ucap Lani yang masuk ke dalam pintu itu karena pintu tidak terkunci


"aku tidak akan membuatmu mati, Ashana. Paling tidak membuat wajahmu cacat. Ya, aku sudah berbaik hati padamu" ucap Lani dengan senyuman licik di wajahnya. Mengusap botol yang sudah pecah dengan jari jemarinya sendiri hingga mengeluarkan darah


Ya, Lani seorang wanita psikopat selama ini dia berbohong soal penyakitnya.


Seketika tawanya pecah menggema di ruangan yang dimasukinya dengan minim pencahayaan.


Wujud lain dari Yashbi mendatangi Ashana di dalam kamar dengan wujud yang hanya setengah dari tubuhnya membuat Ashana kaget membulatkan matanya sempurna.


"tubuhmu? apa terjadi sesuatu? apa dia yang telah melakukannya?" tanya khawatir Ashana menatap Yashbi dengan penuh rasa khawatir


Wujud lain dari Yashbi hanya tersenyum hangat dan menghilang dari pandangan Ashana.


Ashana melihat gambar wujud lain dari Yashbi yang dibuatnya sendiri. Dan menggambar ulang wujud lain dari Yashbi dengan pemandangan yang berbeda dari sebelumnya. Dengan gerakan tangan yang lihai pensil yang menggores kertas kosong terlihat sebuah gambar Yashbi tengah berdiri di bawah bulan purnama dan beribu ribu bintang. Ashana merasa aneh kenapa dia bisa menggambar hal itu padahal seingatnya sebelumnya dia tidak pandai menggambar. Tapi kali ini dia menikmati tiap goresan pensil di atas kertas putih berukuran sedang.


Lani yang terus melangkahkan kakinya dia menemukan kembali satu pintu tanpa berpikir lagi dia segera memasukinya dan ternyata pintu itu terhubung ke kamar Ashana langsung.

__ADS_1


"aku menemukanmu, Ashana" ucap Lani yang membuat Ashana seketika menghentikan aktivitas menggambarnya


"ba... bagaimana bisa kau berada di sini?" ucap Ashana terbatas kusangking takut


Pandangan mereka bertemu. Lani menatap senang karena bisa menemukan Ashana secepat ini.


Tanpa basa basi Lani menyerang Ashana. Kamar yang tadinya rapi kini terlihat acak-acakan. Botol pecah itu mengenai beberapa bagian tubuh Ashana hingga mengeluarkan darah.


"kau tenaga saja aku hanya ingin memberikanmu pelajaran. Bisa saja dengan pelajaran ini kau bisa menghadapi kehidupanmu lebih damai" ucap Lani yang tersenyum lebar mengejar ke sana kemari Ashana


"hentikan, hentikan. Sebaiknya kau hentikan" ucap Ashana naik ke atas ranjang mencari momen tepat untuk lompat dari jendela kamarnya


"hentikan. Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu. Momen ini aku sudah menantikannya saat pertama kali kita bertemu"


"aku tahu saat ini Yashbi tidak bersama denganmu jadi aku bisa melakukan hal ini tanpa gangguan"


"tidak mungkin kan aku melakukannya di depannya? bisa-bisa dia jauh dariku. Dan kau tahu aku melakukan hal ini hanya ingin mengambil hak ku ya hak ku. Yashbi adalah hak ku jadi siapapun tidak boleh memilikinya selain aku" ucap Lani melangkah mendekati Ashana yang berdiri di atas kasurnya mendekat ke sebuah jendela kamarnya


Ashana tanpa ragu segera melompat tepat di bawah ada Yashbi yang berdiri dan menangkap tubuh Ashana. Pandangan mereka saling bertemu.


"apa yang terjadi?" tanya Yashbi


Sebelumnya, Yashbi mengurungkan niat memberi perintah si sopir untuk menjemput Ashana dan dia ingin melakukannya sendiri. Saat Yashbi melangkahkan kaki ke halaman depan rumah melihat pecahan botol minuman dan pintu depan terbuka. Matanya membulat sempurna melihat Ashana yang akan melompat dari jendela kamar. Dan firasat Yashbi Ashana saat itu sedang berusaha untuk menyelamatkan dirinya dan benar saja.


Ashana meringis kesakitan saat tangan Yashbi menyentuh luka yang di dapat dari botol pecah yang Lani bawa itu.


"kau terluka?" tanya Yashbi menurunkan Ashana memperhatikan seluruh tubuh Ashana dari ujung rambut hingga kaki


"tubuhmu terluka cukup banyak. Kita ke rumah sakit"

__ADS_1


"tidak perlu" ucap Ashana melangkah mundur menjaga jarak dari Yashbi


"tidak perlu? apa kau gila?tubuhmu butuh pengobatan"ucap kesal Yashbi melihat kembali ke arah jendela dan terlihat Lani menatap ke arah mereka dengan tatapan penuh kebencian


__ADS_2