
Di pelataran hotel yang di tempati Yashbi dan Ashana, terlihat mobil mewah memasuki kawasan hotel. Seorang laki-laki yang tidak kalah jauh rupawan dari Yashbi turun dari mobil mewah itu dengan pakaian formalnya diikuti seorang asisten laki-lakinya bernama Deri. Laki-laki rupawan itu yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas ya, dia adalah Sandi Gristal, teman dan sahabat Ashana yang menyukai Ashana sedari dulu.
"apa benar ini tempatnya?" tanya Sandi mengedarkan pandangannya
"benar, tuan. Di sini diadakan pertemuannya. Bantu aku sebisamu. Kau tahu kan ini baru pertama kalinya untukku" ucap Sandi tegas melangkahkan kaki masuk ke dalam hotel
Seorang pelayan hotel menghampiri dari jarak kejauhan dia sudah tahu siapa laki-laki yang baru datang itu setelah melihat pin yang dikenakan Sandi tepat di sebelah kanan dadanya yang berbentuk gurita dengan warna emas.
"silahkan, tuan sebelah sini"ucap pelayan dengan ramah
" apa sudah ada yang datang? "tanya Sandi melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya
Jam 08.30
" belum ada siapapun, tuan. Karena kita datang lebih awal"ucap Deri yang merasa sdikit takut jika Sandi akan marah padanya
"baguslah. Aku tidak ingin mereka memberikan kesan jelek padaku di mana baru kali ini aku mengikuti meeting dengan perusahaan ternama" ucap Yashbi duduk di sebuah ruangan yang hanya ada mereka berdua
Sembari menunggu Sandi, merogoh ponselnya dan melihat layar wallpaper dengan poto Ashana Terukir senyuman di wajahnya.
Deri melihat hal itu membuatnya merasa canggung.
"apa tuan mau saya buatkan secangkir kopi?" tawar Deri
"kau lupa. Aku tidak bisa meminum kopi. Kau ingin semua isi perutku keluar" ucap ketus Sandi menganggap ucapan Deri adalah gangguan
"jika begitu saya permisi. Sebelum meeting di mulai saya akan langsung kembali"
"permisi? apa aku mengijinkanmu keluar ruangan ini tanpa ijinku?" ucap Sandi dingin tanpa melihat ke arah Deri. Matanya terpokus dengan wallpaper ponsel miliknya
Deri menghentikan langkah dan terdiam.
"Deri, apa kau melupakan pekerjaanmu? pekerjaanmu sudah selesai?"
Deri mulai gelagapan.
"eng... anu... tuan. Ma.... maksud, tuan?" tanya Deri terbata
__ADS_1
"kau memang sudah tua, Deri" ucap Sandi beranjak dari kursi
"kau sudah menemukan orang yang dapat menyembuhkan ayahku. Bagaimana? apa kau sudah mengingatnya?"
"s... saya sudah menemukannya. Hanya saja..." ucap Deri terhenti merasa ini akhir dari hidupnya bagaimana dia bisa melupakan tugas sangat penting yang diberikan tuannya. Ya, Deri memang belakangan ini memiliki banyak tugas setelah tuan besar atau ayah dari Sandi yang tiba-tiba sakit dan tidak tahu jelas apa penyakitnya karena di lakukan pengecekan kesehatan secara keseluruhan baik-baik saja
Sandi menatap tajam Deri.
"ada rumor jika ada dua orang yang bisa mengobati manusia secara non medis dan rata-rata yang telah diobati pulih kembali seperti sedia kala"ucap gugup Deri
" lalu? "
" baru informasi itu yang saya dapatkan, tuan. Maka dari itu saya belum siap melaporkan pada anda karena informasinya belum begitu terlalu jelas. Tapi setelah pekerjaan ini selesai saya akan kembali membawa informasi yang anda inginkan"
"kau tahu kondisi ayahku seperti apa saat ini? aku tidak ingin waktu terbuang percuma. Lakukan apa yang harus kau lakukan tapi jangan pergunakan waktu dengan seenakmu" ucap ketus Sandi memegang erat ponselnya
Sandi yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dipaksakan harus mengurus perusahaan ayahnya yang tiba-tiba saja sakit tidak penyebabnya apa. Karena Sandi anak tunggal dan tidak memiliki sanak saudara dia harus melakukannya sendirian mengingat ibunya pun sudah lanjut usia dan pokus mengurus suaminya yang terbaring tidak berdaya di tempat tidur. Ibu dari Sandi begitu tulus merawat sang suami memenuhi kebutuhannya dari A sampai Z.
Sandi dan Deri yang harus pergi ke hotel tempat meeting itu dari pagi-pagi buta karena jarak kota yang di tinggali menuju hotel itu berjarak lumayan jauh mereka tidak sempat mengisi perut mereka. Bunyi perut mereka secara bersamaan.
Kruuuuk
Kruuuuk
Sandi berjalan di depan sementara Deri mengekori.
"di mana kita bisa mendapatkan makanan?" tanya Sandi
"tuan, mau saya belikan di supermarket terdekat atau rumah makan. Tapi kalau rumah makan jam segini belum buka" ucap Deri
Sandi menoleh dengan tatapan tajam mengerti apa yang dimaksud tuannya itu.
Deri menghampiri resepsionis menanyakan tempat untuk mendapatkan sarapan. Selesai mendapatkan informasi Deri segera menghampiri Sandi yang berdiri tak jauh darinya.
" kita bisa ke rooptop, tuan"
"aku sangat tidak menyukai melakukan sesuatu yang pertama kali harus kulakukan"
__ADS_1
Ya, Sandi sangat tidak suka melakukan sesuatu hal yang pertama kali dalam hidupnya karena membuatnya akan terlihat bodoh.
Sandi dan Deri memasuki lift. Lift berhenti di lantai sepuluh dan dua pasang manusia ke dalam lift yang sama. Sandi membelalakan matanya melihat Ashana bersama seorang laki-laki yang tidak lain adalah Yashbi, suaminya.
"Ash... Ashana" ucap Sandi
Ashana menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
"Sandi..." ucap Ashana yang memperhatikan seksama penampilan Sandi yang terlihat keren di matanya
"apa yang kau lakukan di sini?" tanya mereka serempak. Tawa pun pecah diantara mereka berdua
Yashbi menyaksikan mereka dengan tatapan tidak suka.
"kau terlihat keren dengan penampilan seperti ini. Tapi bagaimana bisa kau memakai pakaian seperti ini? apa kau sedang cosplay? ayo katakan padaku" ucap Ashana yang menyikut-nyikut lengan Sandi
"Ashana, ayo jalan. Kita harus segera sarapan" ucap Yashbi merangkul pinggang kecil Ashana
Sandi menatap tangan Yashbi yang berada di pinggang Ashana kemudian menoleh ke arah Deri.
"oh ya. Kau benar. San, apa kau juga akan sarapan?"
Sebelum Sandi menjawabnya, Yashbi terlebih dahulu menarik lengan Ashana dan berjalan cepat hingga tubuh Ashana terseok-seok.
Sandi memandangi punggung mereka yang sudah menjauh.
"jelaskan" ucap dingin Sandi
"dia maksud saya wanita itu telah menikah tempo hari saya memberikan informasi ini beserta poto sebagai bukti, tuan. Dan laki-laki yang saat ini bersamanya adalah suaminya dan juga yang nanti akan bersama kita" ucap Deri yang badannya merasa panas dingin berharap Sandi tuannya tidak melakukan hal yang dapat menggagalkan kerja sama antara perusahaan Sandi dan Yashbi
"setelah sarapan..." ucapan Sandi terhenti saat memasukkan sebuah permen dengan rasa mint coklat ke dalam mulutnya. Dan Deri mengetahui apa yang akan dikatakan Sandi selanjutnya
"kita tetap menjalani meeting dengannya tapi hasilnya kita lihat saja. Akan aku sesuaikan dengan moodku" ucap Sandi dingin lebih dingin dari sebelumnya
Deri mengenal nafas kasar.
"jika seperti ini perusahaan tidak akan berjalan baik, tuan besar" batin Deri menatap punggung Sandi
__ADS_1