Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 94


__ADS_3

Yashbi terlihat kebingungan kenapa Ashana membawa ke tempat itu.


"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Yashbi yang berada tidak jauh dibelakang Ashana.


Ashana berbalik badan.


"ayo kita akhiri hubungan ini. Hubungan yang seharusnya tidak ada" ucap Ashana dengan menahan kesal. Bagaimana teganya Yashbi membohongi orang tuanya terutama ayahnya yang saat itu tengah kondisi antara hidup dan mati tetapi Yashbi dengan tanpa hati memanfaatkan keadaan tersebut dengan menikahi Ashana akan sembuh total penyakit yang diderita ayahnya.


"kau sudah mengetahui semuanya" ucap santai Yashbi.


Ashana mengerutkan dahinya.


"lambat laun kau pasti akan mengetahuinya. Aku memang menikahimu karena memang ada tujuanku sendiri" ucap Yashbi seraya menghela nafas kasar.


"tapi pada saat itu pun aku harus menikahimu untuk syarat sembuhnya ayahmu meski tidak berlangsung lama. Karena memang aku tidak mengetahui ajal seseorang. Menyangkut tentang ajal itu bukan urusan manusia biasa sepertiku aku hanya berusaha apa yang sudah menjadi tugas dan pekerjaanku. Berpikirlah Ashana. Kau jangan mengambil kesimpulan hanya dari satu sisi saja" ucap Yashbi berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada saat mengobati ayah Ashana.


"mungkin kau tidak akan mempercayainya. Sebelum ayahmu tiada dia membicarakan tentangmu padaku. Dia mengatakan jika aku harus menikah dan menjagamu. Apa kau tahu bagaimana bingung dan sulitnya aku pada saat itu?" ucap Yashbi menatap lurus ke depan dimana ada bukit yang dihiasi lampu yang berasal dari rumah warga.


Posisi mereka sejajar. Sesekali Ashana melihat kearah Yashbi yang tengah bicara.


Ashana teringat saat masih kecil ayahnya pernah mengatakan" kau jangan gegabah mencari pasangan hidup nanti. Ayah akan ikut campur perihal jodohmu itu. Bagaimana pun batin seorang ayah terhadap anak wanitanya tidak akan pernah salah. Meski ayah sudah tiada ayah tetap menjagamu didunia sana."


Deugh


" bagaimana, apa kau mempercayaiku? " tanya Yashbi menoleh ke arah Ashana. Angin sepoi-sepoi mengibaskan rambut Ashana yang terlihat cantik.


" kali ini aku percaya padamu."


Yashbi mengulas senyum.


"tapi ada satu syarat?" ucap Ashana seraya menoleh kearah Yashbi dan pandangan mereka saling beradu. Sejenak hening.


"syarat?" tanya heran Yashbi.


"ya, aku ingin pernikahan kita dipublikasikan setelah aku lulus sekolah nanti."


"baiklah. Aku akan melakukannya."


"setidaknya aku dapat pengakuan walaupun setelah itu kekasihmu akan kembali dan aku akan terbuang."


"aku hanya ingin menikmati waktuku menjadi seorang istri sungguhan."


"apa ini salah satu permintaanmu yang kutanyakan tempo hari?."

__ADS_1


"bukan. Untuk permintaan itu aku belum memikirkannya."


"pantas saja. Selain itu apalagi yang kau inginkan?."


Ashana terlihat berpikir. Jari telunjuk didagunya.


"entahlah. Sudah kubilang aku belum memikirkannya. Mungkin aku akan memikirkannya saat waktu yang terdesak."


"Ashana, apa kau mulai mencintaiku?" celetuk Yashbi membuat Ashana terdiam seperti patung.


Deugh


"biasanya wanita akan melakukan apapun pada seseorang yang dia sukai dan cintai" ucap Yashbi yang memang memperhatikan sikap Ashana dari awal hingga saat ini. Mulai dari tidak adanya perlawanan sama sekali jika Yashbi bersikap seenaknya bahkan menyuruhnya menjadi pelayan dirumah Yashbi sendiri Ashana melakukannya.


Ashana mengehela nafas kasar.


"jika kau tahu jawabannya kau tidak perlu bertanya lagi" ucap Ashana yang terlihat gugup.


Yashbi tersenyum simpul.


Yashbi teringat jika dirinya sudah tidak lagi merapalkan mantra pada Ashana (merapalkan mantra sembari memandang potonya). Mantra itu akan bekerja dua tiga hari jika tidak merapalkannya lagi maka kegunaan mantra itu akan hilang dengan sendirinya.


"kurasa kau tidak memiliki perasaan seperti itu. Kau hanya takut berada didekatku saja. Tuh buktinya tubuhmu gemetar seperti itu" ucap Yashbi menenangkan Ashana.


Yashbi merasa sejak awal bertemu dengan Ashana dirinya merasa janggal. Setiap merapalkan mantra untuk Ashana saat itu juga dirinya menjadi ikut apa yang dirasakan Ashana.


Ashana hanya menoleh.


"aku akan mewujudkan keinginanmu untuk mempublikasikan pernikahan kita. Kelulusanmu tinggal dua bulan lagi. Apa aku bisa meminta hakku sebelum itu?" tanya Yashbi yang kikuk menggaruk belakang kepala yang sama sekali tidak gatal.


"kau mengatakan ingin menjadi seorang istri walaupun hanya dalam waktu sementara" ucap kembali Yashbi membuat Ashana malu saat mendengarnya.


"kita bulan madu" ucap jelas Yashbi.


Yashbi bingung sendiri dengan sikapnya saat ini. Benar jika dirinya terlalu lama disamping Ashana dirinya menjadi hilang kendali. Mungkin ini alasan Yashbi selalu menjauhi Ashana.


Dibalik pohon seseorang mendengar pembicaraan mereka. Meremas kuat benda yang ada ditangannya hingga benda itu tidak lagi berbentuk.


"****!!!" gumam seseorang itu. Dan beranjak dari balik pohon meninggalkan tempat itu. Dengan wajah yang terlihat jelas kesal dan cemburu yang membakar hati.


Dari kejauhan Jaka celingak celinguk mencari tuan mudanya. Saat melihat tuan muda datang dari arah lain Jaka terlihat lega dan sumiringah.


"tuan..."

__ADS_1


Sandi hanya menatap tajam Jaka seperti ingin membunuhnya.


Mata Jaka tertuju pada permen rambut nenek yang berada ditangan Sandi yang sudah tidak berbentuk.


"anda sengaja melakukannya" ucap Jaka terbata.


"jangan bicara atau aku akan menjahit mulutmu" ucap pedas Sandi.


Jaka tahu betul jika Sandi berucap pedas layaknya cabai bubuk ai"a maka Sandi saat itu sedang dalam posisi sangat marah.


"tuan..." ucap Jaka menyodorkan tablet memperlihatkan kondisi orang tua Sandi saat itu.


Sandi yang duduk dikursi teras menatap layar tablet dengan tatapan sendu.


Tujuan Sandi mendatangi Ashana selain ingin bertemu Ashana dia, juga ingin memastikan dan meyakinkan apa pekerjaan Yashbi selain pengusaha dan pebisnis.


Memang saat kejadian diatap hotel itu tempo hari membuat Sandi belum yakin dengan apa yang dia lihat padahal dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Yashbi saat itu.


Dan terhalang gengsi yang gengsi untuk meminta tolong pada Yashbi jadi Sandi selalu menunda-nunda untuk menghubunginya. Mengingat jika Yashbi adalah suami dari wanita yang dia sukai sedari dulu.


Padahal kondisi orang tua Sandi terutama ayahnya sangat memprihatinkan. Begitu juga ibunya yang setia menunggu kesembuhan suaminya dia hanya duduk termenung sambil menyulam duduk dikursi goyang disamping suaminya yang tidak bisa bergerak sedikit pun mata melotot keatas namun nafasnya masih normal. Perlengkapan medis terpasang diseluruh tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, Ashana dan Yashbi kembali ke rumah saat beberapa langkah akan melangkah ke teras rumah Ashana, terdiam sejenak memperhatikan Sandi yang tampak cuek dan acuh.


"Sandi..." panggil Ashana lembut. Sandi pun menoleh ke arah pasangan suami istri itu.


"Ashana, aku akan kembali pulang besok pagi" celetuk Sandi yang padahal awalnya dia tidak ingin mengatakan hal itu. Terlintas kejadian tadi yang membuatnya terbakar cemburu dan kedatangan mereka berdua memantik kembali rasa cemburu itu.


Jaka yang terlihat cemas dengan tuan mudanya.


Tatapan Ashana terpaku pada permen rambut nenek yang berada di samping Sandi.


"apa ini untukku?" ucap Ashana menghampiri dan meraih permen rambut nenek itu. Masih ada satu permen rambut nenek yang masih layak. Ashana teringat jika Sandi pun menyukai permen rambut nenek itu lalu membaginya.


"ini... sayang sekali" ucap Ashana melihat permen rambut nenek yang dua lagi sudah tidak berbentuk.


"sepertinya ada meremasnya kuat. Terlihat sekali ada bekas rematan tangan"


Sandi terlihat panik.


"makan saja untukmu. Aku sudah memakannya saat tadi membelinya" ucap bohong Sandi.


Ashana hanya tersenyum lebar.

__ADS_1


"terima kasih. Terima kasih kau sudah jauh-jauh datang untuk melihat keadaanku. Kau lihat sendiri aku baik-baik saja. Hanya saja..." ucapan Ashana terhenti diwaktu bersamaan ibu berteriak sangat kencang mereka pun berhamburan menghampiri ibu yang berada dalam kamar.


Sementara Yashbi berada paling belakang dia berjalan dengan santai tahu betul apa yang sedang terjadi. Disamping itu juga Yashbi menahan rasa cemburunya melihat interaksi mereka berdua barusan. Ashana dan Sandi.


__ADS_2