
Di rumah Yashbi keadaan rumah Yashbi sudah roboh sebagian. Morina terbangun dari tidurnya beranjak dari kursi merasakan getaran hebat.
"a...ada apa ini?" gumam Morina mengedarkan pandangan terlihat langit-langit, tembok pada rapuh. Berlari kearah pintu namun terkunci tidak bisa dibuka. Terlihat jelas wajah Morina ketakutan serta panik. Dia segera membereskan kaset yang masih tersimpan didalam dvd. Berkali-kali memanggil Yashbi.
Guncangan bangunan rumah semakin terasa karena keberadaan Yaebud semakin dekat.
Morina bersembunyi dibawah meja yang ada disekitar ruangan itu.
Ikatan batin antara anak dan orang tua memang luar biasa. Yashbi dan Ashana spontan merasakan kehadiran Morina. Pertarungan mereka sesaat terhenti. Meski lumayan berjauhan pandangan Ashana dan Yashbi saling beradu.
"kenapa kau berhenti? bukankah kau ingin secepatnya membunuhku?" tanya Clara dengan nada tinggi membuyarkan lamunan Ashana.
Clara mengambil beberapa tusuk konde dan menjadilah pedang. Secepat kilat pedang itu mengarah pada Ashana namun karena, Ashana lihai berlari dia berhasil menghindari beberapa pedang dan dengan sigap mendekati Yaebud.
Yashbi yang menyadari jika Ashana mendekati kearah Yaebud segera menahannya dengan menarik lengannya.
Yashbi merasa pergerakannya semakin lincah dan tubuhnya terasa ringan.
"berhenti. Jangan mendekatinya" ucap Yashbi dengan wajah yang terlihat jelas khawatir.
"ada apa?" ucap Ashana mengerutkan dahinya.
Yashbi menatap kearah dimana Yaebud menghisap habis pohon, batu, tanah dan benda lainnya dan Ashana pun mengikuti arah tatapan Yashbi.
"itu semua perbuatan makhluk ini. Jadi kau jangan terlalu dekat dengannya. Untuk sekarang tidak perlu khawatir aku sudah menghentikan pergerakannya. Tapi entah sampai kapan bisa menahannya" ucap Yashbi yang masih memegang erat lengan Ashana. Dia tidak ingin melepaskannya.
"apa kau bisa melepaskannya?" tanya Ashana dengan lembut meski meringis sakit dilengannya.
Spontan Yashbi melepasnya.
"ah... maaf" ucap Yashbi dengan tak kalah lembut. Tatapan Yashbi beralih kelengan Ashana yang memerah.
Yashbi mengelus-elusnya. Ingatan mereka berdua berputar dimana pertemuan pertama kali mereka di pinggir jalan salinh bertabrakan karena Karnellita mengejar seekor kucing yang kabur. Tubuh Karmellita yang terjatuh namun tidak dengan Yashbi yang berdiri kokoh. Karmellita memegangi hidung ya yang terasa sakit Yashbi berjongkok menyamakan posisi dan menegelus hidung Karmellita.
"apa kau mengingat pertemuan pertama kita?" tanya Yashbi seraya mengelus-elus lengan Ashana.
"ya. Aku sudah mengingatnya baru-baru ini beberapa jam lalu" jawab Ashana yang menatap lekat Yashbi kepala menunduk pokus mengelus lengan Ashana.
*Ashana tidak lenyap atau menghilang karena yang membuka identitasnya bukan dirinya sendiri melainkan Zeys*
__ADS_1
"apa kau mau menceritakan apa yang terjadi padamu dan laki-laki yang bernama Zeys?" tanya Yashbi berharap jika Ashana mau menceritakan semuanya dari awal dihidupkannya kembali.
Ashana hanya mengangguk kecil.
"oh ya, oh ya cinta kalian bersemi kembali" ucap Clara yang merusak suasana mereka.
Clara berjalan mendekati Yashbi dan membelai lembut rahang Yashbi.
"ternyata cintamu untukku hanya sementara" ucap Clara menatap Yashbi lekat.
"ah tapi tidak apa. Karena saat itu aku tidak benar-benar mencintaimu aku hanya ingin sedikit bermain bersama seorang manusia lelaki yang memiliki banyak uang dan kekuasaan di tempat ini. Ternyata aku tidak mendapat dan merasa apapun. Yang aku tahu jelas tentang manusia yang sudah memiliki banyak benda itu mereka akan lupa diri dan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya lebih banyak lagi, banyak lagi dan banyak lagi" ucap jelas Clara diiringi tawa lepas.
"sebaiknya kita melanjutkan pertarungan kita, nona Kar-me-llita" ajak Clara dengan senyum liciknya. Entah mengapa Clara merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Ketika melihat Yashbi dan Karmellita.
"pertarungan? aku yang akan bertarung denganmu. Jangan berani menyentuhnya walau seujung jari pun" ucap Yashbi penuh tekanan. Yashbi tidak ingin Ashana mendapatkan luka sedikit pun ditubuhnya.
"kenapa kau melakukannya? ini tugasku. Aku yang harus menyelesaikannya" ucap Ashana meyakinkan. Dia berpikir jika orang lain yang mengambil alih perannya maka Zeys akan membatalkan perjanjian dengannya. Itu yang ditakutkan Ashana.
"aku tidak akan membiarkanmu melawan iblis ini. Kau tahu kan apa itu iblis?" ucap Yashbi dengan nada meninggi membuat Ashana sontak kaget.
"dengar, Ashana. Aku saja yang melawannya kau diam saja atau bila perlu bersembunyi di tempat yang aman" ucap Yashbi yang sangat khawatir terjadi apa-apa terhadap Ashana dan dia tidak tahu Yaebud akan terlepas dari akar pohon (serat) inti bumi.
"tidak akan terjadi apapun padaku. Aku pastikan itu" ucap Ashana kembali seraya memberanikan diri menatap sorot mata Yashbi yang penuh cinta yang ditujukan hanya pada Ashana yang tidak lain adalah Karmellita.
Clara jengah melihat kedekatan mereka menyerangnya dengan beberapa pedang yang diselimuti api mengarah kearah mereka.
Yashbi mendekap tubuh Ashana agar terhindar dari pedang itu dan tepat sekali apa yang dilakukannya.
____________
Di tempat Zeys dan Brone.
Zeys terlihat menikmati sekali pertarungannya. Beberapa kali dia tertawa lepas.
Zeys memiliki kemampuan yang sulit sekali diprediksi membuat Brone kewalahan.
"kau tidak berubah sama sekali. Kau menghidupkanku kembali hanya untuk melayanimu bertarung" ucap Brone sinis.
Zeys tidak berucap apapun dia terus saja menyerang Brone brutal. Sekeliling mereka hancur tanpa sisa.
__ADS_1
Zeys mengeluarkan sabit yang sama persis bentuknya dengan sabit yang diambil Anuya dan Avril dari dalam Yaebud.
Ya, Zeys diam-diam mengambil menukar sabit itu sama halnya seperti menukar tubuh Karmellita.
Deugh
"k...kau apa selama ini bertujuan mengambil benda itu?" tanya Brone kaget sekaligus cemas. Bagaimana tidak sabit itu bisa menghancurkan seluruh dunia ini termasuk Satan's World, Dunia manusia bahkan Dunia Atas. Jika sabit itu bersatu dengan sang bintang yaitu Canis Major.
Zeys tersenyum smirk.
" ya kau benar. Setelah kupikir-pikir lagi alangkah lebih baik jika aku membangun dan mendirikannya kembali. Aku akan mengubah seluruh makhluk hidup terutama manusia menjadi lebih baik dari sekarang ini. Maka dari itu untuk mencapai hal itu mereka harus lebih dulu mati dan aku akan menghidupkannya kembali sesuai yang kuinginkan "
" dengan apa yang kulakukan duniamu Satan's World tidak perlu lagi bergonta-ganti kepimpinan. Dengan begini kau, manusia hidup di dunianya masing-masing "ucap Zeys jelas panjang lebar.
Sepanjang di Dunia manusia Zeys jadi paham betul jika prilaku manusia sakarang ini lambat laun akan tetap menghancurkan dunianya sendiri, tempat manusia berpijak. Maka dari itu Zeys berencana melenyapkan manusia dan menghidupkan kembali sesuai keinginannya.
____________
Di rumah Silfa, Anuya tengah melakukan ritual untuk memulihkan kembali kedua orang tua Silfa dengan cara menidurkannya didalam peti mati yang berisikan setengah air.
"apa ini akan baik-baik saja?" tanya Silfa dengan wajah jelas sangat takut dan khawatir.
"kau tenang saja. Aku sudah berjanji padamu. Apa aku pernah mengingkari janjiku?" ucap Anuya yang membuat kondisi diantara mereka menjadi canggung.
"a... aku percaya padamu. Lakukan saja. Tapi aku akan tetap disini mengawasimu"
Anuya hanya tersenyum. Dia memulai ritualnya. Dia berdiri memakai diantar kedua orang tua Silfa. Mulai merapalkan mantra beberapa saat terlihat air seperti mendidih. Air yang tadinya jernih berubah biru cerah secara perlahan. Ya itu kekuatan Anuya yang mengalir kedalam air itu hingga dengan mudah bisa diserap oleh kedua tubuh orang tua Silfa. Tubuh kedua orang tua Silfa seolah menyerap air itu hingga habis tidak tersisa.
Lalu, tiga jam berlalu. Anuya berhasil menyelamatkan hidup kedua orang tua Anuya.
Tapi, tiba-tiba tubuh Anuya merasa lemas dan kembali kewujud semula. Silfa mendekati Anuya.
"Anuya...." ucap Silfa dengan spontan memeluk Anuya.
"terimakasih, terimakasih banyak kau sudah mau menolong mereka" ucap Silfa yang sangat senang kedua orang tuanya terbangun dalam keadaan baik-baik saja berkat Anuya.
Namun, Silfa merasakan Anuya hanya terdiam saja dan tidak merespon pelukannya. Silfa melerai pelukannya. Terlihat Anuya memejamkan matanya layaknya orang mati. Anuya mati dalam keadaan berdiri.
Seketika Silfa pingsan saat itu juga.
__ADS_1