Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 60


__ADS_3

Sedari tadi Ashana berada tidak jauh dari ruang kerja Yashbi tidak sengaja dia mendengar ucapan Yashbi yang menyentil hatinya (sebelum Anzel pergi, masih berbicara dengan tuannya). Ashana mengibas-ngibas tangan ke arah wajahnya berupaya agar tidak menangis.


"tidak, aku tidak boleh menangis. Sejak kau sudah mengetahuinya dan mengerti Ashana" ucap Ashana pada dirinya sendiri.


"bahkan menjadi pelayan di rumahnya kau mampu Ashana" ucap Ashana kembali sembari senyum getir.


Suara lantang yang tidak jauh dari keberadaan Ashana.


"heh pelayan" suara wanita yang sedang di masa pubertas, Morina dengan langkah perlahan mendekati Ashana.


"apa kau tuli?" bentak Morina yang kesal karena Ashana hanya berdiam diri saja.


Seketika Ashana terperanjat.


"apa ada yang anda butuhkan?" ucap Ashana terbata. Bentakan Morina membuyarkan lamunan Ashana.


Morina tersenyum merendahkan.


"kau bisa membuat makanan dan minuman agar tubuhku tidak merasa lelah? cepat buatkan segera" titah Morina tegas.


Saat Morina melangkah beberapa langkah menjauh darinya Ashana teringat sesuatu memberanikan diri membuka mulutnya dan berkata,


" ma... maaf. Tapi di dapur sama sekali tidak bahan dan saya lihat tadi tidak ada apapun selain air putih dan makanan tadi "


Morina menoleh dengan tatapan tidak suka.


"ck! lalu apa gunanya kamu di sini? kau tinggal pergi belanja. Ayahku pasti memberikan uang padamu, bukan? atau kau bisa memakai uangmu sendiri setelah itu meminta ganti padanya" ucap Morina dan pergi begitu saja.


Ashana yang mendapat ucapan itu dari seorang anak pubertas hanya bisa menghela nafas kasar. Dengan langkah gontai dia menuju kembali ke dapur. Mencari kembali barang kali ada bahan makanan yang bisa dia olah. Namun, alih-alih mencari di seluruh sudut dapur tidak menemukan apapun. Hembusan angin dari jendela memasuki ruangan spontan Ashana melihat keluar jendela. Matanya berbinar melihat banyak sekali rempah-rempah yang tertanam dengan rapi dan beberapa pohon buah.


Dia segera keluar menuju tanaman itu. Mengambil beberapa rempah yang bisa diolah menjadi makanan dan minuman.


Dari balkon kamar Yashbi melihat ke arah Ashana yang sedang mencabuti beberapa tanaman rempah. Dia mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"apa yang akan dia lakukan?" gumam Yashbi.


Senyuman Ashana terlihat menawan saat itu di mata Yashbi. Seketika Yashbi merasa tidak karuan terutama di dalam dadanya.


"aku harus segera tidur" ucap Yashbi meregangkan tubuhnya dan menuju ruangan itu mencium mesra patung yang terlihat mirip sekali dengan Clara.


Beberapa saat menatap puzzle yang acak-acakan di baju yang berada di patung itu. Padahal sebelumnya Yashbi mengatakan jika dia mengetahui Clara di rumah orang tuanya itu hanya gertakkan saja. Dan Yashbi mendapatkan jawabannya. Terlihat senyuman simpul di wajahnya.


Yashbi tidak mengetahui kemunculan Ashana di rumahnya memberikan petunjuk keberadaan Clara melalui puzzle di baju patung itu.


"Clara aku pasti menemukanmu dan kita akan hidup bersama" lirih Yashbi. Menjatuhkan tubuhnya di kasur yang ada di ruangan itu dan memejamkan matanya.


******


Sementara di jalan, Merisa, Robin dan Anuya berada dalam mobil Merisa yang dalam kondisi rusak di bagian kaca jendela yang pecah.


Merisa dan Anuya sudah dalam keadaan membaik lain halnya dengan Robin dia terus meringis kesakitan karena tembakan Yashbi tadi.


Robin menyuruh Merisa membawanya ke suatu tempat.


Anuya terlihat senyum simpul di wajahnya.


"dari awal bertemu aku sudah yakin jika anda ini bukan orang asing, tuan Robin"


Robin mengernyitkan dahinya. Keringat sebiji jagung menghiasi wajah ketiputnya.


"apa maksudmu?" ucap Robin terbata.


Anuya memberikan senyuman lebar sebagai jawaban.


Merisa menyaksikan interaksi mereka merasa bingung dan heran karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Tempat yang di maksud Robin dan Anuya adalah tempat pemujaan atau di sebut Yaebud. Yaebud adalah pemujaan untuk mendatangkan benda yang di anggap mulia di dunia ini yang dielu-elukan setiap manusia yang tidak lain adalah Uang.

__ADS_1


Tempat Yaebud memiliki bangunan sama halnya dengan mansion lainnya hanya yang membedakannya tata letaknya saja.


Saat sampai di tempat Yaebud, mereka segera membawa masuk. Merisa terlihat berpikir keras karena udara yang terasa sangat berbeda jelas sebelum dia memasuki halaman Yaebud dan setelahnya. Bulu kuduknya yang merinding dan nafas terasa berat namun masih bisa di tahan agar tidak pingsan.


"tempat apa ini, pah? sebaiknya kita ke rumah sakit atau ke dokter yang sudah menjadi kepercayaan keluarga kita. Bukan mendatangi tempat seperti ini" gerutu Merisa.


Robin yang dipapah Anuya merasa kesal mendengar omelan Merisa belum lagi sakitnya tidak kunjung reda yang didapat dari tembakan Yashbi tadi. Meski darah sudah berhenti mengalir.


"kau tahu apa, Merisa? sejauh ini yang kau pikirkan hanya uang, uang dan uang saja tanpa memperdulikan keadaanku" ucap Robin kesal.


"jika kau tidak ingin ikut dengan kami. Sudah pergi saja. Lagipula aku tidak membutuhkanmu"


Ucapan Robin barusan melukai perasaan Merisa. Tanpa berpikir lagi Merisa membalikkan badan berniat meninggalkan Robin begitu saja. Langkahnya terhenti saat mendengar kembali ucapan Robin.


"kau ambil uang yang ada di kamarku. Aku tidak perlu memberitahumu berapa pin kotak itu. Karena aku yakin kau sudah mengetahuinya. Setelah kau mengambilnya berikan pada mereka agar masalahku selesai satu per satu"


Robin meski memiliki penyakit hati namun, dia tidak sampai hati menelantarkan dan lepas tanggung jawab begitu saja terhadap karyawan yang sudah lama bekerja untuknya.


Di dalam mobil, Merisa sangat kesal. Memukul kemudi dengan kedua tangannya. Belum sampai menikmati kekayaan Yashbi tapi dia sudah harus jauh terhempas.


"kenapa anda bersikap seperti itu?" tanya Anuya yang masih memapah tubuh Robin.


"kau akan tahu dan mengerti saat sudah memiliki anak dan juga istri. Aku tidak mungkin membahayakan nyawa mereka. Ya, meskipun yang kulakukan ini untuk mencapai kebahagiaan bersama"


Ucapan Robin membuat Anuya berpikir karena tidak langsung mengerti. Namun, memikirkannya beberapa saat senyum tipis di wajahnya terbit.


Ya, Robin sedang menjalankan tugas sebagaimana seorang ayah. Dia ingin melindungi anak dan istrinya.


Saat di depan pintu yang berukuran besar, seseorang menyambut kedatangan mereka. Dia merentangkan kedua tangannya.


"akhirnya kau datang padaku, Robin" ucap seorang laki-laki dengan senyuman puas.


Laki-laki itu melangkah mendekati Robin.

__ADS_1


"aku yakin terjadi sesuatu padamu. Euumphh... biar kutebak"


"kau sepertinya kalah hanya menghadapi bocah ingusan itu" ucap laki-laki itu menatap rendah Robin.


__ADS_2