Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Rahasia Keluarga Clara


__ADS_3

Ayah Clara, Robin berdiri membelakangi Merisa dan istrinya, Novi. Mereka berada di ruang tengah.


"kita harus rahasiakan keadaan anak itu" ucap Robin


"sampai kapan? ini sudah dua bulan. Kita tidak akan mungkin menunggunya" ucap Novi, resah


"sebaiknya kita serahkan saja Clara ke rumah sakit jiwa" ucap Merisa, santai sambil menopang kaki


"bagaimana kau bisa mengatakan hal itu, Mer? padahal adikmu itu sangat baik terhadapmu apapun yang kau inginkan dia selalu turuti" ucap Robin, membalikan badannya dan bicara nada tinggi


"atau kita kasih tahu saja kekasihnya itu apa yang sebenarnya terjadi" ucap Merisa, wajah tanpa dosa


Keluarga Clara sedang bimbang anaknya yang mendadak gila dan perusahaannya dalam kondisi kolaps. Membuat Robin harus putus asa betapa tidak Clara anak yang disayanginya berbeda dengan Merisa meskipun terlahir dari rahim yang sama tapi watak mereka sangatlah berbeda jauh.


"sementara waktu biarkan saja begini. Aku akan menyelamatkan perusahaanku terlebih dulu dengan cara memeras Yashbi" ucap Robin yang memandang lurus


Diwaktu yang bersamaan, Clara mendadak hilang kewarasan dan perusahaan kolaps. Investor terbesar perusahaan milik keluarga Clara adalah Yashbi. Semenjak Clara hilang Yashbi memberhentikan aliran dana yang mengalir ke perusahaan kekasihnya itu. Setidaknya Yashbi mencurigai hilangnya Clara ada ikut andil keluarganya sendiri.


Di dalam kamar Robin dan Novi duduk di kasur bersandar ke tepi ranjang.


"berapa nominal yang akan kau tulis?" tanya Novi melihat suaminya memegang dua cek kosong yang diberikan Yashbi tempo lalu


"aku berpikir jika menulis nominal banyak apa dia tidak akan curiga terhadap kita apalagi karena telah menyembunyikan Clara. Tapi jika kita memberitahu keadaan Clara tambang besar kita akan menghilang begitu saja" ucap Robin, cemas


"kau benar sayang, sajauh ini laki-laki itu memberikan semua itu pada kita karena cinta mati terhadap anak kita" ucap Novi bangga


"kita harus hati-hati agar dia tidak mengetahui keadaan Clara seperti apa. Memangnya kau mau kita kembali ke titik nol lagi" ucap Robin menarik selimutnya hingga ke dada


"idih tidak mau lah. Mamah tidak mau hidup susah lagi seperti dulu. Sekali saja kita mengalami kehidupan mengerikan seperti itu" ucap Novi menggelengkan kepalanya


Kehidupan keluarga Clara sebelumnya terbilang mapan. Robin merintis usahanya dengan baik menggunakan kesempatan yang ada tanpa ada yang terlewatkan satu kali pun. Robin terbilang pengusaha terbaik pada masanya hingga mempertemukan dirinya dengan ayah Yashbi, Gerard Hilman. Gerard yang memiliki ambisi dan obsesi terhadap suatu hal.


Ya, Gerard Hilman memiliki kekayaan turun temurun dan tidak akan mungkin ada yang mampu menyainginya. Sekali jentikan jari pengusaha yang baru seumur jagung akan dilibas habis jika dia menginginkannya.


Pertemuan antara Robin dan Gerard memang biasa saja. Namun, siapa sangka jika Gerard akan membuat perusahaan milik Robin bangkrut hanya dalam sehari setelah pertemuan mereka.


Tentu saja, Robin ingin sekali balas dendam. Dendam belum terelasasikan Gerard Hilman meninggal. Saat mengetahui putrinya, Clara menjalin hubungan dengan anak dari Gerard Hilman, Robin mendukung sejuta persen. Dan perusahaan Robin mulai bangkit kembali setelah Yashbi memutuskan untuk menjadi investor terbesar.


Di dalam kamar lain, Clara sedang terbaring di kasur memandangi atap langit-langit, kulit pucat, rambut gelombang mengkilap dan tubuh kurus.

__ADS_1


"Yash... kau di mana? apa kau mencariku? tenang saja aku baik-baik saja. Aku tahu apa pekerjaanmu selain menandai tangani dokumen-dokumen itu. Aku takut, takut sekali... Yash" lirih Clara memeluk kedua lututnya, meringkuk


Oleh kedua orang tuanya Clara masih dirawat dengan baik dan terjamin segala kebutuhannya.


Merisa masuk ke dalam kamar Clara tanpa permisi.


"sampai kapan kau akan seperti ini?" ucap Merisa kesal


Clara mengabaikannya.


"hei, hei kau tuli?" ucap Merisa berusaha membangunkan adiknya dengan menggunakan kakinya yang mengenai betis kurus Clara


"sudah gila, tuli lagi"ucap Merisa ketus


" ah... kalau begini mana mungkin laki-laki itu akan bertahan denganmu. Dia pasti akan melirik wanita lain. Dan salah satunya adalah aku"ucap Merisa bersedakep


"bicara denganmu sama saja bicara dengan patung. Bikin muak"ucap Merisa sambil berjalan keluar dan membanting pintu kamar


Seketika Clara membuka matanya karena kaget dengan suara keras pintu. Clara bersikap seperti itu terhadap keluarganya salah satunya kakaknya karena ada alasan tersendiri.


"aku ingin mengetahui apa yang kalian sembunyikan. Tidak dianggap di rumah sendiri... hah. Muak selalu menjalankan sesuatu yang bukan karena keinginan sendiri" lirih Clara


Di pasar ikan...


Lani berusaha memancing amarah seorang Ashana namun tidak membuahkan hasil. Lani sengaja menumpahkan baskom berisikan ikan laut kebaju seragam Ashana hingga bau amis. Ashana hanya membalas dengan senyuman.


"apa kau baik-baik saja? aku tidak sengaja, benar tidak sengaja" ucap Lani yang pura-pura membantu membersihkan baju seragam Ashana


"aku baik-baik saja" ucap Ashana sambil senyum tipis


"apa kau akan memasak semua ini?" tanya Ashana melihat tas belanjaan Lani yang terdapat banyak ikan laut


"ya kau benar aku akan memasak semua ini. Mengingat Yashbi sangat menyukai ikan laut" jawab Lani santai


"dulu saat kami bermain seharian di rumahnya beberapa lemari es miliknya dipenuhi ikan laut dan juga mangga. Dua makanan itu yang setia menemani hidupnya hingga saat ini" ucap Lani dengan senyum sumiringah merasa puas karena berpikir Ashana tidak tahu apapun tentang Yashbi


"kalian kan baru bertemu lagi. Bisa saja makanan ataupun hal apapun yang dulu sukai berubah. Bisa saja itu terjadi mengingat kita ataupun dia hanya manusia. Manusia tidak akan bisa lepas dari kata perubahan" ucapan Ashana merasa puas dapat menjawab kembali


Mereka yang berjalan menyusuri pasar, bersampingan.

__ADS_1


"aku harus segera pergi. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan" ucap Ashana yang melangkah sedikit cepat


"kau benar-benar akan pergi ke sekolah dengan seragam seperti itu? kalau aku jadi kau, aku tidak akan mau. Tidak mungkin kan kita belajar di ruangan kelas dengan bau amis itu dapat menganggu teman sekelasmu" ucap Lani lantang karena Ashana sudah beberapa meter di depannya


"tenang saja. Aku membawa baju ganti. Jangan khawatirkan aku. Sebaiknya kau khawatirkan dirimu sendiri" ucap Ashana menoleh ke arah Lani dan terlihat di belakang Lani ada wanita paruh baya berlari ke arahnya


Wanita paruh baya itu pemilik, penjual ikan laut tadi dan meminta ganti rugi pada Lani karena telah menumpahkan satu baskom ikan laut. Lani di marahi, diomeli habis-habisan.


Ashana dari kejauhan melihat hal itu dan tertawa. Seketika tawanya terhenti karena Yashbi berdiri di hadapannya dengan pakaian kasualnya dan topi hitam guna menutupi luka malam tadi yang belum pulih.


"a... ada apa?" tanya Ashana heran


Yashbi menyerahkan kartu pelajar milik Ashana.


"kau melupakannya" ucap Yashbi datar


Yashbi merasa kesal karena melihat Ashana tertawa sedangkan selama dengan dirinya Ashana selalu memasang tampang takut, kesal, ketus dan pokoknya menyebalkan kesan untuk Yashbi. Eeeeh tapi kesan imut juga ada saat Ashana tertidur.


"bukan melupakannya tapi tertinggal" ucap Ashana memasukkan kartu pelajar ke dalam tasnya


Ashana mengabaikannya dan melangkahkan kaki diwaktu bersamaan Yashbi menarik lengannya.


"harusnya kau mengatakan sesuatu untukku" ucap Yashbi


Ashana mengerutkan dahinya.


"cepat katakan"ucap tegas Yashbi


Ashana berpikir hal lain. Ya, memikirkan kalimat yang harus diucapkan layaknya suami istri.


" aish.... kau tuli?cepat katakan, Ashana "ucap Yashbi


" sa..... sayang "ucap Ashana terbata, wajah memerah


" a... apa? "ucap Yashbi grogi


" sudahlah. Banyak gangguan sekali hari ini"ucap Ashana menepis kasar tangan Yashbi yang memegang lengan kecilnya


Ashana melangkah menjauh. Yashbi memandangi punggung Ashana yang semakin menghilang.

__ADS_1


Dari arah lain, Lani menyaksikan mereka.


" sialan. Harusnya aku yang menikah dengan Yashbi. Karena aku lebih lama mengenalnya"ucap Lani menghentakkan kakinya


__ADS_2