
"kau datang menemuiku hanya ingin melampiaskan amarahmu? lucu sekali, Lani" ucap Yashbi mengeraskan rahangnya
"pergilah sebaiknya kau kembali pulang. Tidak enak bertamu lama-lama"ucap kembali Yashbi
Yashbi merasakan jika akan datang seekor makhluk.
" cepatlah. Tunggu apalagi atau aku harus menyeretmu dengan paksa"ucap Yahsbi geram
Yashbi khawatir jika makhluk itu akan mendatangi dan menempel ditubuh Ashana. Karena bekas ular kemarin saja masih terlihat (hanya terlihat oleh Yashbi).
" jangan sampai aku mengeluarkan kata-kata kasar hanya untuk mengeluarkanmu dari sini" ucap Yashbi dengan mata yang semakin menakutkan dari sebelumnya
Lani berjalan melangkah menuju arah pintu dan menoleh ke arah Ashana yang hanya terdiam memandanginya. Mata mereka saling bertemu namun tidak pembicaraan dari keduanya. Ashana merasa bingung apa yang harus dikatakan mengingat situasi jika Lani marah seperti ini karena pernikahan dirinya dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Seketika segumpalan hitam berukuran besar masuk kedalam tubuh Ashana.
"ayo kita ke kamar. Aku ingin mandi" ucap Yashbi melangkah menuju arah tangga
Ashana hanya terdiam mematung. Karena merasa aneh tidak ada jawaban Yashbi segera mendekatinya benar saja mata Ashana menjadi warna merah dan tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Melihat hal itu Yashbi segera menggendong Ashana dan menuju kamar. Dia baringkan Ashana di atas kasur.
"aish, ini kedua kalinya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Sebelumnya dia (mantan istri) tidak pernah terjadi apapun jika aku mengobati seorang pasien"
"tapi anak kecil ini..." ucap Yahsbi menatap Ashana mata mereka saling bertemu
Yashbi merapalkan mantra dan menaburkan garam hitam di atas kasur di sekitar Ashana dan menyiramkan air dari botol ke atas garam tadi yang sudah ditabur.
Yashbi merasa sedikit bersalah sudah dua kali hal ini terjadi dan dia belum bisa mencegahnya. Dia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada seseorang.
Merasa badannya sudah dipenuhi keringat dan lengket dia bergegas pergi ke kamar mandi membersihkan badannya.
Di atas kasur Ashana yang masih terpejam dengan posisi terlentang.
Di dalam kamar mandi, Yashbi melihat sabun mandi yang habis terakhir pakai saat mandi tadi pagi.
"anak kecil itu tidak membelinya lagi?"
Yashbi mengedarkan pandangannya melihat di rak ada sebuah botol bertuliskan sabun daun sirih dan tanpa pikir panjang lagi dia memakainya ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"wanginya berbeda dari sebelumnya. Tidak apa-apa lah yang penting badanku memakai sabun percuma kalau mandi tapi tidak memakai sabun"
"Tapi kenapa tidak berbusa?" ucap Yashbi heran
Padahal menuangkan cukup banyak ke sabut mandi tetap saja tidak berbusa. Dia menghabiskan setengah botol dari botol bertuliskan sabun sirih itu.
Setelah selesai mandi, dia kembali ke dalam kamar untuk melihat keadaan Ashana yang masih tertidur. Karena kasurnya kecil dan basah Yashbi memilih tidur di lantai beralaskan selimut.
"badanku terasa kesat"
Yashbi memejamkan matanya.
Esok harinya, pagi yang cerah...
Ashana membuka matanya perlahan merasa kepalanya berat seperti orang yang mabuk. Merasa badannya basah dan lengket.
"kenapa ini?" ucap Ashana heran
"kasur yang kutiduri kenapa basah dan lengket?"
"aaaaaaaaarrrrghhhh"
"kenapa kau menginjaknya?" tanya Yashbi marah
"ma... maaf aku tidak sengaja" jawab Ashana malu
"tidak sengaja. Apa kau tidak lihat?" tanya kembali Yashbi
"tidak. Aku tidak melihatnya sungguh. Kenapa kau tidur di bawah sana?" tanya Ashana
"bagaimana bisa aku bisa tidur di kasur itu. Kau lihat kasur ini basah" ucap jelas Yashbi menunjuk kasur
"aku heran kenapa kasur ini basah dan juga lengket?" ucap Ashana
"karena cuaca panas aku akan menjemurnya" ucap Ashana kembali sambil mengambil ujung kasur berniat untuk menjemurnya
__ADS_1
"kau ngompol, Ash jadi kasurmu basah" ucap Yashbi
"hah apa kau bilang? ti.. tidak mungkin aku ngompol di kasur" ucap tegas Ashana
"kau kan anak kecil jadi mungkin saja melakukan hal itu. Sudahlah aku harus bekerja" ucap Yashbi menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya
Setelah keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapinya Yashbi, mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyerahkan pada Ashana yang sedang membersihkan kolong ranjang menggunakan sapu dan lap pel.
" ini ambillah. Belilah keperluan mandi dan yang lainnya" ucap Yashbi
Mata Ashana berbinar melihat uang cukup banyak bagi dirinya.
"cepat ambil" ucap tegas Yashbi
Ashana hanya mengambilnya semua dari tangan Yashbi. Menghitung terlebih dulu. Lalu dia mengambil beberapa lembar saja dan sisanya dikembalikan ke tangan Yashbi.
"kenapa tidak semuanya?" tanya Yashbi heran
"ini lebih dari cukup. Jangan menghamburkan uangmu kau harus merawat dan mengurus anakmu. Jadi aku tidak mau anakmu nanti kekurangan. Uang ini cukup untuk seminggu. Aku akan membantu menghemat juga" ucap Ashana sambil mengepel kolong ranjang
Yashbi sesaat terdiam lalu pergi.
"baiklah. Aku pergi" ucap Yashbi
Ashana mengantarkan mengekori Yashbi sampai depan pintu.
"kau tidak perlu memasak, mencuci apapun yang berkaitan denganku ok" tegas Yashbi
Ashana hanya terdiam sementara Yashbi berjalan keluar.
Awalnya Yashbi memang tidak ingin Ashana melakukan pekerjaan sesuai layaknya seorang istri. Saat memakan masakan kemarin malam dia hanya menghargai perasaan Ashana karena sudah memasakannya dan melihat keberadaan Lani.
Setelah kepergian Yashbi, Ashana melihat ke dalam setiap ruangan rumah tidak melihat keberadaan ibunya.
"ibu tidak pulang? dia pergi ke mana?" ucap Ashana yang mengkhawatirkan ibunya yang tidak pulang semalam
__ADS_1