
Sebelumnya...
"paman, tolong regangkan kedua lenganmu" ucap Ashana lembut.
"apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Anzel yang sedari tadi memperhatikan Ashana.
"aku membutuhkan alat tulis"
"aku akan mengambilnya"
"biar aku saja. Aku akan mengambil buku gambar milikku didalam mobil"
Ashana bergegas melangkahkan kaki keluar dari ruangan diikuti Anzel.
Anzel tidak melepaskan pengawasannya terhadap Ashana karena ada Clara diantara mereka. Anzel sangat mengkhawatirkan kondisi Ashana.
Didepan pintu ruang kerja Yashbi langkah kaki Ashana terhenti begitu juga Anzel. Karena kondisi pintu sedikit terbuka Ashana bisa melihat kemesraan mereka.
Ashana sadar diri tahu posisinya saat ini. Selintas dalam pikirannya seharusnya dia meminta menyudahi pernikahan konyol ini. Tapi saat ingin mengucapkannya bibirnya kelu.
Anzel segera menutup pintu ruangan kerja Yashbi.
"sebaiknya kita segera mengambilnya" celetuk Anzel membuat Ashana terperanjat.
Mereka pun menuju mobil.
Kembali saat ini...
Robin masih meregangkan kedua lengannya kedepan.
Ashana menggambar apa yang ada dilengan Robin yang membentuk puzzle. Dengan lihai menggerakkan tangannya.
" apa yang kau (Robin) ceritakan dan apa yang kuceritakan sepertinya ini ada sangkut pautnya mengarah terhadap wanita itu" ucap Doni dengan pandangan lurus kedepan.
"saat dia melakukan hal itu terhadap istriku (Robin mengingat apa yang terjadi pada Nelly yang dibunuh didepan matanya tanpa menyisakan sedikitpun kecuali darah yang mengenai wajahnya) jika selama ini aku membesarkan seorang iblis" ucap Robin dengan mulut bergetar.
"lalu, gurumu... apa kita bisa menemuinya sekarang juga?" tanya Anzel.
"tidak mungkin kita melakukannya setelah dia memberikan dan mengajariku sebuah mantra dia sudah tidak ada disampingku. Aku sudah mencarinya selama enam bulan tapi tidak membuahkan hasil" ucap kecewa Doni.
"dan lebih anehnya lagi aku lupa lupa ingat dengan wujudnya"
Ashana selesai menggambar yang ada dilengan Robin.
__ADS_1
"cepat sekali" serempak Doni dan Anzel mengatakannya.
Anzel tahu betul jika Ashana tidak pandai menggambar. Dia berpikir jika selama ini Ashana berusaha sangat keras.
Doni meraih buku gambar itu namun, tanpa sengaja dia membuka halaman lain dimana adanya gambar Zeus beserta binatang-binatang. Kedua mata Doni melotot sempurna.
"ini..."
"apa kau mengenalnya?" tanya Doni dengan penuh kebingungan membuka halaman lainnya.
Terlihat gambar Zeus yang dibuat oleh Rahayu ibu Yashbi.
"bagaimana kau mendapatkan buku ini, Ash?" tanya kembali Doni.
Ashana mulai bicara jika dia menemukan buku gambar itu begitu saja keberadaannya tidak jauh dari rumah ayah dan ibunya.
Doni menatap Ashana lekat.
"buku ini sebelumnya milik ibu Yashbi, Rahayu ya nama beliau Rahayu" ucap Doni.
"jadi buku ini yang dia cari" ucap Anzel mengangkat satu alisnya.
"tuan mencarinya karena sebelum meninggal ibu menyuruhnya menyimpannya siapa tahu suatu saat menjadi petunjuk saat akan adanya kejadian besar" ucap Anzel merebut buku gambar itu. Melihat dari halaman awal hingga gambar puzzle yang dibuat Ashana.
Anzel melangkahkan kaki menuju lukisan yang di buat Rahayu juga. Memang mirip sekali bahkan dengan gambar Zeus yang dibuat Ashana.
"berarti kalian bertemu orang yang sama"
Anzel menghampiri Ashana.
"Ashana, kau bertemu orang ini?dimana? kapan?" pertanyaan bertubi-tubi dari Anzel.
Ashana menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"aku bertemu dengannya..." ucapannya terhenti karena melihat Clara tiba-tiba berada didekat Robin.
"kau..."
Doni dan Anzel mengarah kearah pandangan kemana Ashana memandang.
Mereka cukup terkejut bagaimana bisa Clara masuk dan mengetahui ruangan itu.
"apa yang kalian bicarakan? kalian terlihat sangat menikmatinya" ucap Clara mengitari tubuh Robin yang berdiri tegang.
__ADS_1
"seharusnya aku melenyapkanmu saat itu juga, papah...ah tidak... ayah...ah tidak juga... paman... tidak, tidak..." ucap Clara memegang dagunya sendiri.
"setelah aku memutuskan untuk kembali ketujuan awalku datang kedunia ini saat itu juga aku, memutuskan tidak akan memanggilmu dengan sebutan yang dilakukan beberapa tahun ini"
"akan aku katakan yang sejujurnya aku berada diantara kalian itu adalah sebagian renacanku, tuan Robin. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya berada ditengah-tengah ikatan keluarga manusia"
"memuakkan dan menj*jikkan itu yang kurasakan selama ini namun aku tidak bisa berbohong jika aku cukup menikmatinya. Saat kau memanggil namaku dengan penuh kelembutan dan perasaan sayang yang tersampaikan untukku hingga aku tidak bisa melenyapkan dengan leluasa"
"akan aku perlihatkan pada kalian apa yang kukatakan barusan"
Ditangan Clara ada sebuah ujung tombak lalu dia menusukkan ujung tombak itu pada paha Robin. Robin menjerit.
Anzel, Ashana dan Doni tercengang.
Bersamaan dengan itu Clara memperlihatkan pahanya yang sama persis terluka seperti paha Robin.
"jika aku melukai laki-laki tua ini maka diriku sendiri pun akan terluka tapi aku tidak menginginkan hal itu jadi aku memberi dia pilihan untuk membunuh dirinya sendiri"
"anehnya ketika dia melukai dirinya sendiri tidak berakibat apapun padaku"
"itu terjadi karena ikatan manusia yang terbentuk sejak aku masuk diantara kalian"
Ucapan Clara menusuk Ulu hati Robin tetap saja Robin menyayangi Clara seperti anaknya sendiri. Malahan lebih menyayangi Clara dibandingkan Merisa.
Clara mengurung mereka (Anzel, Ashana dan Doni) dan didalamnya ada seekor makhluk yang menyerap energi kehidupan disekitarnya. Seekor makhluk berbentuk ular besar berwarna hitam pekat dengan mata hitam pula.
"jika kalian bergerak satu inci maka makhluk itu akan semakin mudah menyerap energi kehidupan kalian hingga habis"
"sebenarnya kalian berada didalam sana pun energi kehidupan kalian terserap hanya lambat saja"
Anzel menatap Ashana. Berpikir jangan sampai Ashana mati secepat ini. Dan juga memikirkan bagaimana caranya keluar dari sana. Lalu, mengalahkan Clara.
"anak kecil yang baru lahir tidak akan mungkin bisa mengalahkanku dengan mudah. Kecuali..." ucapan Clara terhenti kala teringat Zeus.
Ashana teringat jika saat pertama kali menggambar Zeus beserta binatang lainnya. Binatang itu berbicara padanya jika suatu saat kau membutuhkanku panggil saja aku tapi kau harus menghadapa sebuah cermin yang mengekspos seluruh tubuhmu dan bayangkan diantara kami siapa yang kau inginkan dengan bagitu kami akan datang. Ingat kau harus berkonsentrasi penuh.
Ashana melangkah perlahan jelas ada ketakutan dalam dirinya bagaimana pun dia menghadapi seekor makhluk yang berukuran sangat besar dan memiliki kekuatan menyerap energi kehidupan.
Anzel mencekal lengan Ashana.
"jangan bergerak. Apa kau tidak mendengar apa yang dia katakan?" ucap Anzel kesal.
"aku ingin melakukan sesuatu. Aku tidak mungkin diam saja. Apa kau ingin kita mati sia-sia oleh makhluk itu?" ucap Ashana lembut namun dengan tatapan mata penuh yakin jika kali ini dia bisa melakukan sesuatu.
__ADS_1
Dalam diri Ashana saat ini dipenuhi rasa penyesalan pertama saat-saat terakhir ayahnya yang menginginkan bersamanya namun Ashana tidak memenuhinya karena harus bersekolah lalu ibunya yang tiba-tiba hilang tanpa kabar seharusnya Ashana pergi mencarinya tapi dia malah sibuk memperhatikan Yashbi. Ya, Karena beberapa hari hidup bersama Yashbi dia merasa timbul perasaan lain yaitu jatuh cinta. Berbeda sekali dengan perasaannya pada Indra.