
Ashana melepaskan genggaman tangan Anzel yang berada dilengannya.
"tidak apa-apa. Pasti akan segera berakhir dan baik-baik saja" ucap Ashana dengan penuh kelembutan.
Ashana tahu jika Anzel mengkhawatirkannya tersiray jelas dimatanya.
"Ashana, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" tanya Doni yang tidak kalah mengkhawatirkan Ashana yang sudah dianggap seperti anak sendiri.
Yashbi yang sedang tertidur disofa panjang diruang kerjanya karena pengaruh dari Clara pula. Saat ini Yashbi hanya mematuhi ucapan Clara sejak awal tadi bertemu. Layaknya robot.
Kembali lagi keberadaan Ashana, Anzel dan Doni serta Clara dan Robin.
"aku sudah mengatakannya bergerak sedikit pun energi kehidupan kalian akan terhisap dengan mudah"
"apa benar yang kau katakan? kenapa aku tidak begitu yakin dengan ucapanmu" ucap Ashana santai.
Sejak melihat Clara Ashana memang tidak merasakan ketakutan walau hanya sedikitpun.
"pada dasarnya makhluk ini sama halnya seperti kita"
Ashana terus melangkah mendekati makhluk itu. Ya, makhluk itu yang berbentuk ular itu memakai sebuah kalung berliontinkan cermin.
"apa maksudmu?" tanya Clara sedikit cemas.
"ah... lupakan. Aku tidak ingin lagi bicara denganmu"
"tuan Robin.. sepertinya kau memberitahukan semua apa yang telah terjadi. Kau terlalu banyak bicara. Jika seseorang banyak bicara hal yang tidak penting apa yang terlebih dahulu harus dipotong? lidah, mulut, mencabut paksa seluruh giginya atau menghilangkan kepalanya sekaligus? apa yang akan kau pilih, tuan Robin? " tanya Clara dengan posisi mensejajarkan dengan Robin yang terduduk lemas karena sedari tadi darah dari pahanya tidak kunjung berhenti.
Seketika mulut Robin memuncratkan darah cukup banyak. Clara memotong lidahnya.
Robin berwajah pucat sangat pucat namun, tersenyum kearah Clara.
"sekarang kau tidak bisa berbicara sepatah katapun" ucap Clara. Ya, diwaktu yang sama lidah Clara pun terluka dan mengeluarkan darah dari mulut namun tak sebanyak Robin. Terasa sakit memang namun, Clara memulihkan kembali lidahnya.
Ashana, Anzel dan Doni tercengang menyaksikannya.
Ashana berhadapan dengan makhluk yang berwujudkan ular hitam pekat dan mata yang hitam pula dengan ukuran sangat besar.
Namun, Clara merasa janggal jika ular miliknya tidak bereaksi apapun terhadap Ashana.
"apa yang terjadi?" gumam Clara menatap pokus kearah Ashana.
Ashana memposisikan diri sejajar dengan liontin cermin yang berada diular itu. Tentu saja dengan perasaan tegang dan takut luar biasa.
"aku tidak akan menyakitimu. Apa kau menyukai tempat ini? jika begitu jangan berbuat ulah" ucap Ashana seraya dengan senyuman hangatnya. Membuat ular itu terdiam dan sedikit menundukkan kepalanya.
Kedua mata Clara melotot sempurna.
"dia... wanita ini...jangan-jangan..." batin Clara.
__ADS_1
"jika kau tidak berbuat aku akan memberimu imbalan. Tapi bukan memberikan energi kehidupan kami. Aku akan memberikan hal lain untukmu"
Ashana menatap dirinya dipantulan cermin dengan penuh konsentrasi. Membayangkan binatang yang berada disekitar Zeys.
"aku tidak tahu siapa yang akan aku panggil tapi aku minta tolong dan mohon datang sekarang juga. Salah satu dari kalian " batin Ashana.
Clara terlihat cemas dna gelisah. Dia akan memasuki dimana Ashana, Anzel dan Doni berada namun, dia tidak bisa memasukinya karena sipemilik yaitu ular hitam itu menghalanginya. Tanpa Clara sadari.
Clara berpikir jika Ashana lah yang melakukannya.
Anzel dan Doni saling bertatapan.
Seketika ular lain muncul tepat berada dibelakang Ashana. Yaitu ular pertama kali memperlihatkan wujudnya dihadapan Ashana.
"kau sudah berani sekali memanggilku" ucap si ular itu.
Mereka tercengang melihat si ular bicara pada Ashana.
Ashana membalikkan tubuhnya mengarah ke ular yang baru saja dia panggil.
Ular milik Clara terlihat marah. Berkali-kali berdesis hingga kaca jendela pecah dan tembok retak.
"aku mengerti kenapa kau memanggilku kesini, wahai manusia"
"sudah cukup lama kita tidak bertemu, Zag"
Karena sudah menganggu manusia Zig diberi hukuman oleh Zeys yaitu dilarang menemui Zag dan harus membantu Ashana kala diwaktu yang tepat.
"saat kau muncul pertama kali dihadapanku aku tahu kau sedang kebingungan" ucap Ashana melihat kearah kedua ular itu secara bergantian.
Mata Zag semakin menghitam. Berbeda dengan mata Zig yang terlihat berkaca-kaca seperti terngenang air jernih.
"apa kalian bisa menyelesaikannya ditempat lain?" tanya Ashana.
"Zig..." ucap lembut Ashana.
Mata Zig seolah merespon.
"aku janji akan memberikan sesuatu yang kau inginkan"
"sebaiknya kau jangan berjanji apapun padanya. Dia bukan lagi Zig yang dulu"
Mendengar ucapan Zag Ashana hanya tersenyum.
Kedua ular itu menghilang. Dan sangkar yang mengurung Ashana, Anzel dan Doni pun menghilang.
Ashana dengan berani mendekati Clara.
"aku sama sekali tidak mengenalmu tapi mendengar beberapa penggal cerita tentangmu aku sedikit mengetahui siapa kau ini" ucap jelas Ashana.
__ADS_1
Clara menatap Ashana dengan tajam.
"kau jangan bersikap sombong dulu. Hanya karena bisa bicara dengan kedua ular busuk itu"
"aku bisa saja melenyapkan kalian sekaligus"
Clara menatap Anzel, Doni, Robin secara bergantian.
"dimulai darimu" ucap Clara sinis.
Clara merapalkan mantra.
Beberapa saat kemudian, tidak terjadi apapun terhadap Ashana. Luka sedikitpun tidak ada.
Clara semakin dibuat heran dengan keberadaan Ashana.
Karena memikirkannya sedari tadi membuat Clara merasa prustasi.
Tanpa ragu dia melukai Robin (tanpa menyentuh) melukai seluruh tubuhnya hingga tercabik-cabik.
Doni pun merapalkan mantra sedari tadi namun tidak berpengaruh terhadap Clara.
Robin tergeletak dipermukaan lantai dengan bersimbah darah.
"pamaaaan, apa yang harus kulakukan?" bentak Ashana yang tidak tega melihat kondisi Robin.
Anzel hanya terdiam karena dia bingung dengan kondisi saat ini. Tapi, dia bisa melihat wujud asli dari Clara.
"dia... wanita ini...jadi saat dia hilang kendali wujud aslinya akan terlihat" batin Anzel.
Anzel menyadari jika Ashana, Doni ataupun Robin tidak mengetahui wujud asli Clara.
Clara terus melukai Robin tanpa menyentuhnya begitu juga tubuh Clara pun ikut terluka. Namun, dia hanya tertawa dan berteriak bergerak kesana kemari seperti orang gila.
Doni menghampiri Ashana dan membisikan sesuatu.
"tapi..." ucap Doni terhenti dan menatap Ashana.
"tapi... apa paman?"
"mungkin bisa saja kau yang terluka saat selesai merapalkannya"
"aku akan melakukannya"
"sebaiknya kita membiarkan..." ucapan Doni kembali terhenti.
"membiarkannya padahal kita bisa menolongnya. Apa itu yang paman lakukan selama ini?" celetuk Ashana.
"aku memang anak kecil yang tidak tahu apapun. Tapi, beberapa kali aku pernah ikut bersama paman untuk mengobati mereka yang tidak bisa diobati bahkan disembuhkan oleh dokter mana pun"
__ADS_1