
Ashana yang terbaring di brankar menatap langit-langit ruangan. Membayangkan apa yang sedang terjadi di kehidupannya saat ini. Teringat apa yang terjadi belakangan ini. Berawal kematian bapaknya berakibat hubungannya dengan sang ibu tidak akur dengan alasan sang ibu tidak menyetujui hubungan Ashana dan Indra. Hubungan mereka buruk selama lima tahun. Lalu, terenggutnya kehormatan yang selama ini dijaganya dan direnggut oleh seorang yang tidak lain adalah Indra. Rasa kecewa Ashana berada dilevel tertinggi dan memilih mengakhiri hubungannya dengan Indra walaupun sudah terbilang lama selama lima tahun. Dan bertemunya dirinya dengan Yashbi. Dipaksa menikah dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya. Namun, mengingat kesalahan Indra yang fatal dan tidak bisa dimaafkan membuat Ashana hilang harapan. Ashana menyetujui pernikahan dirinya dengan Yashbi karena paksaan dari sang ibu. Dan dalam diri Ashana mungkin saja dengan menikahi laki-laki pilihan sang ibu hubungannya dengan sang ibu akan membaik. Tapi...
Ashana tersenyum miris tanpa terasa meneteskan air mata membasahi pipinya yang pucat.
Selain masalah kehidupan yang terjadi belakangan ini dia juga memikirkan apa yang akan dilakukan untuk kehidupan selanjutnya.
Ashana beranjak dari brankar mengambil pena dan buku memo di dalam laci nakas.
Ashana menulis beberapa apa yang akan dia lakukan selanjutnya untuk melanjutkan kehidupan. Dia berpikir tidak mungkin terus bersama dengan Yashbi. Bagaimana pun saat wanita itu kembali posisi dia akan ditendang kapan saja.
Tetesan air mata Ashana membasahi buku memo.
"apa pantas orang yang memiliki dosa besar sepertiku berharap kehidupan lebih baik dari ini? aku melakukan hal menjijikan dengan laki-laki yang tidak lain dia adalah laki-laki yang selama ini aku kagumi dan panutanku setelah tidak adanya mending ayah. Mungkin ini hukumanku karena lancang sekali menyamakan laki-laki itu dengan ayah"gumam Ashana dengan sesegukan.
"ayah, maafkanku. Aku seorang anak yang tidak tahu diri. Kau pasti marah memiliki anak sepertiku. Maafkanku. Kau pasti melihat posisiku yang menyedihkan ini"
💫💫💫💫💫💫
Anzel mengantarkan Doni ke ruangan rahasia Yashbi. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka.
Anzel merasa kesal dengan Doni karena menikahkan Ashana dengan Yashbi. Padahal dia tahu sebenarnya bukan kesalahan Doni sepenuhnya.
"ruangan ini... dia masih menggunakannya?" tanya Doni yang meringis menahan sakit karena pembusukannya sudah menyebar lebih dari sebelumnya.
Anzel tidak menggubrisnya.
"jika membutuhkan sesuatu anda bisa memanggilku" ucap datar Anzel.
Doni mengedarkan pandangannya.
"tentu aku akan memanggilmu. Karena di rumah sebesar ini hanya ada kau dan aku"
"kalau begitu tolong ambilkan air minum untukku"
Anzel membalikkan badan dan mengambil air minum di mini bar.
Gluk
Gluk
Gluk
Pandangan Doni terpaku pada kue yang ada di atas meja ya, kue buatan Ashana sisa semalam yang tidak dihabiskan Yashbi.
"berikan kue itu padaku"
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Anzel meraihnya dan menyodorknannya.
Kreek
"ini pasti buatan anak itu" ucap Doni dengan senyum mengembang.
Doni dengan antusias menceritakan tentang Ashana saat masih kecil dihadapan Anzel.
Anzel mendengar hal itu dari mulut Doni membuat dirinya kesal. Dia mengepalkan tangannya.
"anak kecil yang suci dan cantik. Pertama kali aku dan kakakku melihatnya kami langsung menyukainya. Dia berdiri entah berapa lama di teras depan rumah karena kakinya bengkak cukup besar dan wajah pucat serta bibir kering"
"karena takut terjadi sesuatu kami segera membawanya ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya"
"untung saja keberuntungan kehidupan masih berada ada dalam dirinya"
"setelah diselidiki ternyata anak itu datang dari kota sebelah ya, pada saat itu kota sebelah mengalami bencana alam yang mengerikan. Seluruh penduduk kota itu menghilang tanpa jejak dan hanya anak itu yang berhasil selamat"
"kami memutuskan untuk merawatnya hingga saat ini dia berada di rumah besar ini tanpa harus tinggal lagi di bubuk itu. Setidaknya saat dewasa wanita itu hidup dengan layak dan lebih baik dari kami" ucap jelas Doni menatap lurus dengan senyuman tipis.
"bagaimana kau bisa yakin jika hidupnya layak dan baik?" tanya Anzel yang sedari tadi menahan perasaan kesalnya.
Pertanyaan Anzel membuyarkan lamunan Doni.
"karena aku percaya terhadap sahabatku. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang membuat seorang wanita menitikan air matanya. Mengingat masa lalu yang terjadi padanya"
"akan aku perlihatkan anda sesuatu yang menarik mungkin akan menarik kembali ucapan barusan"
Anzel memperlihatkan ruangan Ashana dan kondisi Ashana di layar tablet. Ashana yang sedang menangis dan menulis sesuatu.
Deugh
Deugh
Deugh
"Ashana..." lirih Doni dengan tangan yang akan meraih tablet dari tangan Anzel namun, Anzel segera menjauhkannya.
"biar aku katakan. Kalian memang merawatnya sedari kecil hingga saat ini tapi apa kalian yang berhak menentukan perjalanan kehidupan seseorang? hah"
"memangnya kalian siapa? jawab!!!" bentak Anzel dengan emosi berapi-api.
Doni tertegun. Dia hanya menundukkan kepalanya.
"kalian menjerumuskannya ke kehidupan yang kalian buat sendiri tanpa mengetahui dia bahagia atau tidak" ucap Anzel dengan nafas tersenggal-senggal.
__ADS_1
Melihat reaksi Anzel membuat Doni berpikir siapa Anzel ini?
Kenapa dia sangat marah saat melihat Ashana menangis?
Anzel berbalik badan dan menoleh.
"anda sebenarnya mengetahui jika pernikahan ini tidak ada apa-apanya. Begitu juga tuan Yashbi. Sebenarnya apa yang akan kalian lakukan?"
"ingat tuan Doni. Apa kau tidak berpikir pintar penduduk wanita di kota ini hilang misterius dengan membawa masalah mereka masing-masing. Masalah dengan laki-laki yang berhubungan dengan mereka. Anda jangan mencarinya terlalu jauh. Lihat dan telitilah yang terjadi disekitarmu"
"oh ya.. apa ini ada sangkut pautnya dengan tuan Yashbi sendiri? aku baru menerka-nerka saja. Jadi kau tidak perlu khawatir" ucap Anzel pergi begitu saja.
Sementara Doni ambruk di atas kasur perlahan memejamkan mata.
"kakak... Ashana... maafkanku, maaf" lirih Doni.
💫💫💫💫💫💫
Di tempat Yashbi, di rumah Ashana yang hancur akibat ledakan. Dia menjinakkan cendrawasih yang terdiam dengan menyentuh kedua kakinya. Cendrawasih itu seketika berubah menjadi kecil dan menghilang.
Yashbi berkeringat cukup banyak. Dari arah jalan terlihat Morina dan Lani yang turun dari mobil.
"kenapa kalian ada di sini?" tanya Yashbi tanpa melihat mereka.
Sebelumnya, Morina dan Lani di dalam mobil berniat pulang tapi laju mobilnya terhenti dan melihat cukup banyak orang di daerah jalan itu. Lalu pandangan mereka terpaku pada seorang laki-laki yang berdiri tinggi menjulang ya, dia adalah Yashbi.
Lani berpura-pura syok dan khawatir. Padahal Yashbi sudah tahu jika yang meledakkan rumah Ashana adalah Lani.
"sebaiknya kalian pulang"
Langkah kaki Yashbi berhenti di hadapan Morina. Yashbi menatapnya dari ujung kaki hingga rambut.
"apa kau baik-baik saja?"
Morina hanya menundukkan kepalanya.
Yashbi melanjutkan langkahnya melewati Morina.
"setelah ini. Datanglah keruanganku" bisik Yashbi dengan pandangan lurus ke depan.
Lani berusaha menyumbang langkah kaki Yashbi yang panjang.
"Yashbi... tunggu. Bagaimana.... bagaimana dengan wanita itu? apa dia baik-baik saja?" tanya Lani dengan wajah liciknya.
Yashbi menoleh dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti menjaganya dengan baik" ucap Yashbi dan segera masuk ke dalam mobil yang sedari tadi menunggunya.