
Di tempat Sandi waktu yang bersamaan.
Sandi menyuruh Jaka dan anak buah lain untuk membenamkan tusuk sate di atas permukaan tanah disekitar rumahnya yang berukuran sangat besar.
Beberapa anak buah terdengar bisik-bisik menggerutu.
Sementara tidak jauh dari mereka Sandi memperhatikan mereka dengan raut wajah yang tidak tergambarkan.
Bagaimana mungkin dia menghancurkan rumah yang ditempatinya sejak kecil bersama orang tuanya. Rumah yang memiliki banyak sekali kenangan.
Sandi menghela nafas kasar menghidupkan sebatang rokok yang sedari tadi dia mainkan.
Kembali ke tempat Jaka beserta anak buah lainnya. Mereka membenamkan tusuk sate satu demi satu.
"untuk apa kita melakukan ini?" tanya salah seorang yang memang penasaran saat ditugaskan hal tersebut.
"sudah lakukan saja. Jangan banyak protes" ucap Jaka.
"ini aneh sekali. Apa kalian merasakan hal sama denganku? lalu, aku mendengar jika tuan akan menghancurkan rumah ini"
Jaka teringat wajah Sandi yang tidak semangat sejak Yashbi menyuruhnya untuk menghancurkan rumahnya. Bahkan, didepan wanita pujaannya (Ashana) dia bersikap tidak biasanya (saat kejadian di rumah ibu dan ayah angkat Ashana).
Jaka melihat kearah makhluk berwujud monyet yang mengungkung rumah Sandi. Makhluk itu semakin membesar dari sebelumnya.
Ada kejadian aneh dimana air yang keluar dari dalam tanah mengeluarkan bau sangat tidak sedap bahkan beberapa anak buah Sandi pingsan ditempat.
Mereka buru-buru menyelesaikan tugas sebelumnya.
Dan berlari menghampiri Sandi yang sedang duduk di kamar orang tuanya.
Drap
Drap
Jaka tanpa mengetuk pintu membuka pintu kamar begitu saja membuat Sandi terperanjat.
"ada apa?" tanya Sandi mengerutkan dahinya.
Jaka dengan nafas masih terengah-engah diikuti beberapa orang anak buah dibelakangnya.
"itu.... tuan...." jawab Jaka terbata.
Sandi beranjak mendekati Jaka.
"dari setiap tusuk sate yang kita benamkan ke tanah keluar air yang baunya sangat busuk. Sama seperti air di kamar mandi"
__ADS_1
Untuk memastikan Sandi pergi keluar ke teras rumah untuk memastikannya.
Deugh
Air yang keluar dari dalam tanah terlihat semakin deras. Seperti banjir.
Sandi memerintahkan Jaka dan anak buah lainnya untuk memindahkan orang tuanya ke lorong bawah tanah.
"cepat! kerahkan mereka untuk memindahkan orang tuaku ke lorong bawah tanah" bentak Sandi.
Tanpa banyak bicara Jaka melakukannya.
Jaka dan anak buahnya sudah bergerak memindahkan orang tua Sandi. Sandi memasuki kamar orang tuanya membawa hasil sulaman ibunya kedalam sebuah keranjang.
Ibunya memang sangat menyukai menyulam. Dia pernah mengatakan pada Sandi hasil sulamannya berikan pada seorang yang kau cintai dihari spesialnya.
Sandi bergegas menyusul anak buahnya.
"apa yang terjadi sebenarnya?"
Merasa lama menuju lorong bawah tanah. Sandi baru tersadar jika dirinya sedari tadi hanya berputar-putar di tempat yang sama.
"ada apa denganku? tenanglah Sandi. Kau tidak mungkin mati dengan mudah. Kau masih memiliki banyak hal yang harus kau lakukan. Salah satunya..." ucapan Sandi terhenti mengingat wajah Ashana.
Dia kembali semangat melangkahkan kakinya kembali.
Bayangan itu mendekati Sandi. Perlahan semakin ukurannya semakin mengecil seperti bayangan manusia.
"k... kau"
"aku harus memenuhi tugasku" ucap makhluk itu.
"tugas?" ucap Sandi berjalan mundur beberapa langkah.
"ya, dunia manusia saat ini memang mengerikan tapi keberuntungan selalu berpihak padanya dibandingkan dunia lainnya"
"maksudmu?"
"seharusnya aku menjemput kedua orang tuamu sejak hari itu. Hari dimana kita bertemu"
Deugh
"tapi, saat kau hadir dan menggantikan pekerjaan kedua orang tuamu. Aku melihat mereka berubah. Apa kau mengerti maksudku?"
"kedua orang tua yang merindukan anaknya. Untuk menahan rindunya kedua orang tua itu melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan begitu saja sehingga menarik keluar seekor makhluk yang seharusnya tidak memperlihatkan dirinya dan mencelakai manusia lain"
__ADS_1
Kedua orang tua Sandi merindukan Sandi yang beberapa tahun tinggal di villa dekat dengan rumah ayah dan ibu angkat Ashana. Sandi tinggal di villa itu bermaksud agar lebih dekat dengan Ashana. Orang tuanya yang selalu datang setiap minggu dan merayunya untuk kembali ke rumah Sandi, tidak menggubrisnya. Menolaknya.
Setiap penolakkan dari Sandi membuat kedua orang tua Sandi membenci anaknya sendiri bahkan anak lain yang seumuran dengannya.
"tapi saat manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri mereka sering kali tidak menyadarinya dan melewatkan itu semua dengan begitu mudah"
"apa kedua orang tuaku akan mati tepat dihari ini?"
Makhluk itu tidak menjawab.
Sandi menyugar rambutnya.
"jika itu memang terbaik lakukan. Tapi..."
"untuk urusan lain aku tidak bisa membantu"
Ternyata makhluk itu sudah mencabut nyawa kedua orang tua Sandi terlihat ruh/jiwa mereka berada di samping makhluk itu.
Sandi yang dapat melihatnya tidak bisa menahan kesedihan yang memang dia rasakan saat pertama kali mengetahui kondisi kedua orang tuanya.
Sandi berjalan melangkah mendekati ruh/jiwa kedua orang tuanya. Matanya yang mengeluarkan cairan bening membasahi kedua pipinya.
Bruggg
Menjatuhkan keranjang yang berisikan hasil sulaman ibunya.
Mereka saling berpelukkan.
__________
Kenapa Sandi bisa melihat makhluk bayangan hitam itu?.
Karena Sandi sama halnya dengan Anzel yang memiliki mata bathin hanya saja Sandi tidak menyadarinya hingga saat ini dan dia berpikir pertama melihat makhluk bayangan hitam itu hanyalah kebetulan. Ya, Sandi hanya melihatnya persekian detik.
___________
Sandi sampai di sebuah ruangan bahwa tanah. Seperti ruangan lain pada umumnya. Jaka dan anak buah lainnya terlihat menundukkan kepalanya.
"setelah semua selesai urus pemakaman untuk kedua orang tuaku" ucap Sandi lirih. Tubuhnya merosot ditengah-tengah kedua orang tuanya yang terbaring kaku.
____________
Sandi mendekati sebuah tombol yang berada ditembok dan menekan tombol itu. Seketika rumah Sandi ambruk, hancur.
_____________
__ADS_1
Di tempat Yashbi....
Zeys tersenyum lebar karena mengetahui makhluk terdahulu satu per satu meninggalkan dunia manusia.