
Di dalam mobil Ashana dudu di bangku penumpang dan Anzel mengemudi.
"apa anda ingin ke rumah anda terlebih dahulu?" tanya Anzel yang melihat Ashana di kaca spion depan.
"iya. Jika tidak merepotkanmu. Ada beberapa keperluanku yang harus kuambil" jawab Ashana dengan duduk tidak nyaman karena merasa tidak enak dengan posisi duduknya saat ini. Seperti majikan dan sopirnya.
Anzel menyadari hal itu. Mengetahui apa yang Ashana pikirkan.
"kenapa duduknya seperti itu? tenang saja dan buat anda senyaman mungkin"
"sepertinya kau berbakat jadi cenayang selain menjadi:a seorang sopir"
"aku ingin sekali duduk di kursi depan tapi kau melarangku" imbuh Ashana menghela nafas kasar.
"jujur saja ini pertama kalinya bagiku. Duduk di mobil mewah dan duduk manis seperti ini. Ini terlalu berlebihan untukku. Kau tahu buka di mana aku berada dan tempat asalku"
"kenapa anda bertanya seperti itu? anda seharusnya berada duduk di kursi itu sekarang mengingat..." ucapan Anzel terhenti kala Ashana memberi untuk menghentikan ucapannya.
"stop, stop. Jangan bicara lagi tentang pernikahan kami. Kau tahu betul seperti apa pernikahan yang terjadi di antara kami" ucap Ashana dengan raut wajah kecewa.
"apa anda merasa kecewa, marah atau... ?" tanya Anzel yang tahu perubahan raut wajah Ashana saat membicarakan tentang pernikahannya dengan Yashbi.
"kau tahu sendiri bagaimana pernikahan kami terjadi. Jadi tidak perlu menjawab bagaimana perasaanku saat ini" jawab Ashana ketus.
Anzel menekan hedseat wareless yang selalu terpasang ketika dia sedang bekerja.
"ada apa?"
"oh baik. Aku sudah melakukannya. Tinggal menunggu jawabannya. Beritahukan saja pada tuan.... aku sedang melakukannya tanpa harus diberitahukan lebih dahulu oleh karena itu naikkan gajiku untuk bulan ini dan seterusnya" ucap Anzel mematikannya secara sepihak.
Di lampu merah, terlihat dua badut dengan kostum kelinci dan kepala bintang. Pandangan Anzel dan Ashana terpaku pada dua badut itu. Salah satu badut mendatangi setiap kendaraan yang berhenti di lampu merah.
Saat mobil yang di kendarai Anzel, Anzel memberikan sejumlah uang. Meski tidak terlihat wajahnya karena tertutup kostum tapi badut itu sangat merasa senang.
"memberikan uang sebanyak itu" gumam Ashana yang masih terdengar jelas, oleh Anzel.
"itu salah satu badut langganku. Aku menyukai kostum, yang dia gunakan" ucap Anzel sambil tersenyum lebar.
"kaus menyukai kelinci?"
"tidak, aku menyukai bintang. Ya, aku menyukai kostum bintang yang dia gunakan"
"oh ya aku baru ingat. Saat obrolan kita malam tadi aku bisa menyimpulkan jika kau ini sangat menyukai bintang. Benar bukan? "
__ADS_1
"tepat sekali"
Mereka sampai di rumah Ashana tapi Anzel memarkirkan cukup jauh dari rumah.
"dan aku akan memarkirkan mobil di sini saja" ucap Anzel memarkirkan mobil ke dalam gang yang hanya cukup satu mobil.
"kenapa kau memarkirkannya di tempat ini?" tanya Ashana heran.
"sejak awal kami datang ke rumahmu. Tuan memerintahkan
untuk memarkirkan mobilnya di tempat ini. Jika aku melanggarnya bisa-bisa dia marah besar. Dan dia memiliki salah satu sifat yang tidak menyukai perubahan. Hal apapun yang dia sudah tetapkan tidak akan bisa dirubah walau hanya sebesar satu butir tanah"ucap Anzel yang sudah lihai , terbukti memarkirkanz dengan sangat terlihat rapi.
Ashana mendengar ucapan Anzel hanya mampu mengehela nafas kasar.
Mereka berjala bersampingan. Tanpa mereka sadari ada seseorang telah mengawasi kedatangan mereka dari layar cctv di mana orang tersebut sedang berada di ruang guru.
Lani sedang duduk berhadapan dengan seorang guru laki-laki yang tidak lain adalah wali kelas Ashana.
"bagaimana,pak ?saya sudah memberitahu anda tentang salah satu murid di sekolah ternama. Tidak mungkin jika karena satu murid akan berdampak untuk seluruh sekolah termasuk guru-guru di sini"
Lani memfitnah Ashana mengatakan pada kepala sekolah di mana tersebut jika Ashana bekerja sebagai wanita yang tidak benar alias menjajakan tubuhnya untuk setiap laki-laki hidung belang dan terlebih lagi Lani mengatakan jika saat ini Ashana menjadi simpanans laki-laki kaya. Lani memperlihatkan beberapa poto kebersamaan Ashana dan Yashbi di mana bagian poto Yashbi yang tidak terlihat begitu jelas.
"kami akan menyelidiki terlebih dahulu dan tidak bisa memutuskannya dengan gegabah. Mengingat Ashana adalah salah satu murid yang berprestasi dan memiliki bakat melebihi dari murid berprestasi lainnya"ucap guru itu dengan memegang poto yang diperlihatkan oleh Lani.
Lani memulai dramanya. Dia menitikan air mata palsunya.
Guru terlihat mengerutkan dahinya.
"karena suami saya salah satu korbannya. Dia meninggalkan saya dan seorang anak hanya demi gadis kecil itu" ucap Lani dengan air mata derasnya.
Mendengar hal itu si guru pun merasa iba sekaligus menahan kesal terhadap Ashana. Dengan melihat dan pernyataan Lani membuatnya lebih yakin jika Ashana sesuai dengan apa yang dikatakannya.
******
Lani keluar dari ruang guru dengan senyuman liciknya. Karena jam istirahat Lani menghampiri sekumpulan murid yang sedang beristirahat di lorong kelas. Dia memberikan poto-poto Ashana dan Yashbi yang tidur di kamar hotel dengan gambar Yashbi diblur.
Ponsel Lani berdering menandakan panggilan masuk.
, Z,,
📱Morina
"halo"
__ADS_1
X
"aku sudah sampai di Cafe Holly"
"ok, tunggu. Sebentar lagi. Aku sedang di jalan"
Sambungan terputus.
"sekarang tinggal mengurus satu anak kecil lagi. Dia tidak akan serewel si Ashana. Karena anak kecil ini sudah sedikit lebih jinak" gumam Lani meninggalkan sekolah Ashana dengan senyuman lebar.
Murid sekolah tersebut terpana melihat kecantikan Lani. Ya, memang diakui Lani ini sangat cantik meski pakaian yang sederhana namun kesan mewahnya masih tetap terlihat.
Lani adalah anak seorang artis dan pengusaha terkenal di luar negri sana. Kesibukan orang tuanya membuatnya memiliki kepribadian yang menyimpang yaitu obsesi terhadap sesuatu yang diinginkan. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan hal yang diinginkannya.
Sebelum memutuskan untuk menemui Yashbi, Lani dan kedua orang tuanya terlibat cek cok. Orang tua Lani tidak mengijikannya. Namun, Lani bersikekeh ingin menemui dan memiliki Yashbi hingga akhirnya dia nekad memukul bagian belakang kepala kedua orang tuanya hingga keduanya koma sepuluh hari.
Setelah terbangun dari komanya orang tua Lani mendapat ancaman dari anaknya sendiri, Lani akan membeberkan aib ayah dan ibunya ke depan publik jika masih melarang dirinya untuk bertemu Yashbi.
Dengan menggunakan taksi online Lani menuju Cafe Holly untuk bertemu Morina.
💫💫💫
Di halaman depan rumah Ashana,
Ashana terlihat kaget melihat tanamannya berantakan dan beberapa bagian tembok roboh.
"apa yang sudah terjadi?" gumam Ashana
Anzel mengerutkan dahinya. Teringat jika anak buahnya lupa membereskan kekacauan yang sudah terjadi.
"apa ini ulah binatang buas?" tanya balik Anzel yang pura-pura kaget dan heran.
"binatang buas? mana mungkin. Di tempat ini jauh dari hutan dan sudah bertahun-tahun aku tinggal di sini baru kali ini terjadi hal seperti ini"
"sudahlah. Kau tidak perlu berpikir keras untuk hal yang sama sekali tidak kau ketahui" ucap Anzel merangkul bahu Ashana agar segera masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di ruang tengah, Ashana menghentikan langkahnya.
"jika tidak keberatan bisakah kau menunggu di sini? aku akan ke kamarku. Kau mengerti kan?"
Anzel hanya tersenyum.
"melihat kejadian yang ada di halaman depan rumahmu mana bisa aku membiarkanmu sendirian walaupun saat ini berada di rumahmu sendiri"
__ADS_1
Ucapan Anzel membuat Ashana merasa tersipu.
Jauh di dalam lubuk hatinya dia berharap Yashbi yang saat ini bersamanya. Tapi kenyataannya tidak begitu Ashana, segera menepis harapan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Semakin takut akan melukai dirinya sendiri karena sebuah harapan.