Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Pasien Yashbi


__ADS_3

Seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Yashbi dan Yashbi mempersilahkan untuk masuk.


"kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Doni


Yashbi mengabaikan pertanyaan temannya itu.


Doni duduk di hadapan Yashbi dengan kedua kaki menyilang.


"ada apa kau datang kemari?" tanya Yashbi


Doni sebagai aksi balas dendam ikutan mengabaikan pertanyaan Yashbi.


Yashbi melemparkan pena ke arahnya.


"seharusnya kau melemparkan sejumlah uang bukan pena ini" ucap Doni


"diotakmu hanya uang, uang dan uang. Sial" ucap Yashbi


"kemarin kau mengobati orang itu, kan?" tanya Doni


"euumphh... tadi pagi"


"iya iya tadi pagi, aku lihat dia sudah bisa berjalan perlahan" ucap Doni memberitahukan kondisi pasien yang diobati tadi pagi


"baguslah" Yashbi mengadahkan kepalanya ke langit-langit ruangan, bersandar ke kursi miliknya


"kenapa? wajahmu seperti memperlihatkan tidak mendapatkan sesuatu hal besar" tanya lagi Doni


Yashbi menghela nafas kasar.


"kenapa wanita itu bisa melihat makhluk lain. Makhluk yang menempel dipasien yang kuobati?" tanya Yashbi dengan tatapan bingung dan herannya


"a... apa maksudmu?wanita?siapa? " Doni balik bertanya


Yashbi mengerutkan dahinya.


"wanita yang kunikahi beberapa jam lalu" ucap Yashbi dingin wajah dinginnya


"hah"


"tidak mungkin kau menikahi wanita yang bahkan belum menyelesaikan pendidikannya" ucap Doni


"aku dan Ashana sudah menikah malam tadi jam 23.37"ucap Yashbi yang menatap temannya


" kau gila! "ucap Doni dengan lantang


"waktu itu kau mengatakan akan menikahinya empat hari kemudian kenapa jadi secepat ini?" tanya Doni kebingungan melihat Yashbi yang bertindak seperti anak kecil biasanya temannya ini akan bertindak ketika berpikir berulang kali alias berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu


" aku menikahinya entah tahu kenapa. Aku juga merasa heran dengan diriku sendiri. Tapi kau tenang saja aku tidak akan menyentuhnya sedikitpun. Karena aku menghargaimu sebagai pamannya. Tentu saja kau menganggapnya sebagai anakmu sendiri jadi aku tidak mungkin melakukan hal layaknya suami istri " ucap Yashbi dengan enteng


Doni mendengar ucapan temannya merasa geram bagaimana bisa temannya berpikir sangat egois seperti sekarang ini. Ya karena Doni adalah adik dari ayah Ashana dan Doni sudah menganggap Ashana seperti anaknya sendiri. Dia memperkenalkan Yashbi pada Ashana semata-mata percaya jika Yashbi tidak mungkin menyakiti dan mengecewakan keponakannya itu. Terlebih lagi mengetahui jelas tabiat ibunya yang gila harta dan mengincar daun muda setelah memergoki suaminya(kakak Doni) berselingkuh berkali-kali tepat di depan matanya.


Doni tadinya berniat mengeluarkan Ashana dari rumah itu agar tidak di jual pada lelaki hidung belang oleh ibunya sendiri. Namun, kenyataan berkata lain mempercayakan Ashana pada Yashbi tidak jauh berbeda menyerahkannya pada lelaki hidung belang.


Doni sejenak memejamkan matanya, dadanya yang bergemuruh dan menggigit bibir bawahnya. Bagaimana nasib pernikahan keponakannya dengan lelaki yang ada di hadapannya saat ini?


"kau tidak perlu marah dengan keadaan ini, Don. Bukankah kau menginginkan aku menikahinya jadi jangan marah seperti itu. Apa kau sudah lupa jika kau yang mempertemukannya denganku?hah" ucap Yahsbi yang mengetahui jika Doni menahan amarahnya


"ya kau benar tadinya daripada kau memikirkan terus wanita tidak tahu diri itu. Lagian kau setuju dengan usulku karena ada sesuatu juga dan membutuhkan Ashana" ucap Doni sambil tersenyum tipis

__ADS_1


"aku tidak tahu alasanmu begitu cepat setuju dan menikahinya. Yang aku tahu sahabatku ini tidak mungkin menyakiti dan mengecewakannya" ucap kembali Doni


"hah, kau terlalu menaruh harapan padaku, Don. Tidak secepat itu aku bisa melupakannya tapi aku akan mencobanya perlahan agar pernikahan ini bukan main-main " lirih Yashbi


Doni yang tadinya geram tapi diurungkan setelah ucapan terakhir sahabatnya.


"jangan terlalu menaruh harapan disini itu siapa? ayolah Yash kau harus bisa melupakannya lagian tidak ada kabar ataupun batang hidungnya ibarat kau memiliki kekasih hantu, transparan" ucap Doni kesal


"ck!


" aku sudah mengatakan aku akan mencoba membuka diri untuk anak kecil itu"ucap Yashbi


"ok, ok"


"Yash, jam delapan malam nanti kau harus mengobati seseorang di poto ini" ucap Doni menyodorkan ponselnya memperlihatkan seseorang


"persiapkan barang yang harus kubawa" titah Yashbi dengan memegang dagunya menatap lurus ke arah depan


Doni merasa bingung melihat respon Yashbi setelah melihat pasien yang harus diobati.


"kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Doni yang mengambil garam hitam di sebuah lemari yang tidak jauh dari mereka


"keponakanmu" ucap Yashbi datar


"ada apa dengan Ashana?" tanya kembali Doni wajah penuh tanda tanya sambil meletakkan seplastik kecil garam hitam


"dia didatangi makhluk itu dan bisa melihatnya. Makhluk yang aku keluarkan dari seorang tubuh pasien yang kuobati kemarin" jelas Yashbi beranjak berdiri


Doni sontak kaget matanya melotot sempurna.


"bagaimana bisa secepat ini? sejauh ini yang bisa melihat makhluk itu hanya kau saja dan aku sendiri"


"kau jaga dia sebaik mungkin meskipun saat ini tidak ada perasaan tapi aku harap kau bersikap bijak mengingat wanita kecil itu terlibat dengan hidupmu"


.


.


.


.


.


.


Sementara di rumah Ashana, di dapur...


Ashana dengan wajah yang terukir senyum lebar menyiapkan makan malam untuk kedatangan Yashi. Jam menunjukkan 18.00.


"aku tidak tahu kapan dia pulang?"


Ashana melihat handphonenya dan benar saja tidak ada nama kontak sang suami. Menghela nafas kasar.


"hah kita tidak mungkin bertukar nomor telepon secepat ini. Mengingat pernikahan ini hanya..." Ashana tidak meneruskan kalimatnya


"tapi aku akan berusaha untuk menerima keadaan dan kenyataan yang terjadi. Setidaknya itu bisa membuat perasaanku sedikit lega dan tidak terbebani"


"Lani akan datang kembali dan membawa makanan yang dia masak. Dia mengatakan ingin makan bersama dan saling mencicipi masakanku dengan masakan miliknya"

__ADS_1


Ashana melihat hasil masakannya sendri membuat cengengesan sendiri tampilan masakan yang tidak menarik sama sekali.


"apa dia mau memakannya?"


Matanya memandang pokus pada ikan yang sedikit gosong. Tidak lama kemudian bel pintu berbunyi Ashana segera membukanya dan ternyata Lani. Dan benar saja dia membawa masakannya sendiri. Mereka masuk ke dalam dapur. Dengan cekatan Lani menyiapkan makanan yang dia bawa. Menu yang terlihat bermacam-macam dan cukup mewah. Ya dia membawa steak sirloin, pihak cam kee, Black watermelon dan lobster.


Mata Ashana berbinar melihat makanan yang dibuat oleh tetangganya itu dia menelan ludahnya sendiri.


"ini hanya menu biasa yang sering kami makan" ucap Lani yang terlihat bangga membandingkan masakannya dengan Ashana


"pasti ini mahal, Lan"


"tidak, pasti rasa masakan kita sama-sama enak" ucap Lani yang sedikit menyindir


Ashana hanya tersenyum kaku.


"mana mungkin rasanya sama dilihat bagaimanapun menu masakan kami berbeda" batin Ashana


"apa kita bisa makan sekarang?" tanya Lani


Ashana terlihat berpikir.


"jika kau tidak keberatan aku ingin menunggu suamiku pulang setelah itu kita makan bersama. Sekalian perkenalan untuk tetangga baru" ucap Ashana


"ah kau benar juga. Ternyata kau sudah menikah kukira kau masih gadis" ucap Lani


Mereka menuju ruang tv jaraknya yang tidak jauh dari dapur. Duduk saling bersampingan dan bercerita ngalor ngidul. Lani memiliki maksud tersembunyi mendatangi rumah Ashana. Ya, Lani adalah teman masa kecil Yashbi sejak mereka berumur delapan tahun dan kedua orang tua mereka sudah menjodohkannya namun, keadaan tidak mendukung Lani saat berumur sepuluh tahun harus keluar negeri melanjutkan pengobatannya karena penyakit yang dideritanya. Malam tadi, Lani baru kembali ke Indonesia dan menempati rumah barunya melihat sosok teman sekaligus jodohnya itu dari balik jendela. (Yashbi yang berada di depan rumah Ashana, bersama Ashana dan ibu).


Lani sedikit gugup mengingat ucapan Ashana yang sudah memiliki bersuami. Dia menepis pikirannya sendiri yang tertuju pada Yahsbi adalah suami Ashana.


"tidak mungkin dia mau menikah dengan bocil ini" batin Lani menatap dalam ke arah Ashana yang tengah bercerita


Seketika Ashana menghentikan pembicaraannya merasa Lani terus menatap dirinya yang membuatnya risih.


"Lan, ada apa? apa kau lapar? jika begitu kita makan saja duluan" ucap Ashana


"ah tidak. Aku bukan lapar hanya saja takjub jika dilihat lebih dalam lagi kau ini ternyata lumayan cantik" ucap Lani dengan perasaan sedikit tidak ikhlas mengucapkan hal itu pada Ashana


Ashana langsung tersipu.


"dasar bocil dipuji gitu aja langsung merasa senang" batin Lani


.


.


.


.


.


.


Di rumah pasien yang terbilang sederhana, pasien wanita yang masih muda tengah duduk menghadap tv dengan tatapan kosong. Seorang ibu yang tidak lain pemilik rumah menyambut kedatangan Yashbi. Tanpa membuang waktu Yashbi menghampiri wanita muda yang berada di ruang tv dan menaburkan garam hitam disekelilingnya sembari merapalkan mantra.


Beberapa saat seekor makhluk menampakkan diri dengan bentuk seperti wewe g*mbel dan berukuran besar memenuhi ruangan tv. Yashbi merapalkan mantra seketika makhluk itu menghilang dengan bersamaan tv pecah.


Dwaaaarrr

__ADS_1


Wanita muda itu tersadar tatapan matanya kembali normal dan dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Sebagai ucapan terima kasih ibu dari wanita muda itu memberikan sebuah parsel buah dan sekantong coklat.


__ADS_2