
Di dalam kelas, Ashana masih menulis sementara Indra berada di toilet. Seketika semut-semut jumlah sangat memenuhi ruangan kelas. Ashana terdiam mematung kaget perlahan beranjak dari kursi.
"ini... ini apa hal yang sama dengan ular waktu itu?" batin Ashana
Kaca jendela pecah.
Brak
Kawanan semut memasuki ruangan kelas.
"to... tolong aku. Siapapun tolong aku" ucap Ashana perlahan berjalan mundur mendekati kaca jendela yang pecah namun langkahnya terhenti kawanan semut yang mengepung dari segala arah
Yashbi menghubungi Doni berkali-kali namun tidak ada jawaban. Doni masih merasa kesal dan marah terhadap sikap Yahsbi yang seenaknya terhadap keponakannya.
"sial. Ke mana dia?"
Ashana mematung, sebagian tubuhnya merasa perih terkena pecahan kaca, keringat memenuhi sleuurh tubuhnya.
"ini akhir hidupku? ya, setidaknya aku bisa berguna untuk semut-semut ini" ucap Ashana yang merasa tidak harapan. Di dalam kepalanya tidak teringat siapapun. Yang dingatnya hanya hubungan buruk dengan ibunya setelah ayahnya meninggal, kehormatan yang hilang dalam hitungan detik yang dijaga selama tujuh belas tahun, pernikahan dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya, demi pernikahan setidaknya rela berhenti sekolah meski sampai tidak terjadi.
Di rumah ibu Ashana yang jauh dari keramaian kota,
Ibu sedang berbicara dengan suami, ayah Ashana. Suami tercintanya dapat terlihat setelah Doni menyalakan sebuah dupa tepat di tengah-tengah rumah itu. Ayah hanya bisa terlihat oleh ibu karena jodoh sampai maut yang memisahkan. Posisi mereka ibu membawakan makanan dan minuman di atas baki saling berdiri berhadapan.
"aku melakukan kesalahan" ucap ibu sambil menahan bendungan air matanya
"anak kita... anak kita" ucap ibu terbata-bata
"aku... aku mengorbankan kehidupan anakku, anak kita" lirih ibu
Ayah hanya menampakkan dirinya dan tidak dapat bicara sepatah katapun.
"aku berpikir kau akan sembuh dalam jangka waktu lama. Namun, takdir berkata lain.." ucap ibu sambil terduduk di lantai makanan dan minuman berjatuhan ke lantai bersamaan
"aku sudah membuat janji dengannya. Jika janji itu aku ingkari maka anak kita akan mati. Aku tidak ingin hal itu terjadi"
"tidak, tidak... itu tidak akan aku biarkan terjadi"
Ibu berusaha meraih lutut ayah namun tidak bisa dipegang.
"bantu.... bantu aku" ucap ibu sambil nangis sesegukkan
Di sekitar ruangan Doni melihat ibu Ashana.
"apa... apa yang harus kulakukan? aku tahu dia tidak ingin menikahi laki-laki itu"
Ibu menangis histeris membayangkan kehidupan anak semata wayangnya.
Doni bergegas menghampiri.
"bi, bi tenanglah"ucap Doni membantu ibu beranjak dan memapahnya menuju sebuah kursi yang tidak jauh dari sana
Ayah masih berdiri dan tersenyum ke arah ibu. Sesaat ibu mulai tenang.
Ayah perlahan menghilang bersamaan dengan Doni mematikan dupa itu.
" minumlah"ucap Doni menawarkan segelas minuman
Gluk
Gluk
__ADS_1
"dia baik-baik saja? aku ingin menemui laki-laki itu pasti dia bisa melakukan sesuatu tanpa harus meneruskan pernikahan ini" ucap ibu
"dan aku ingin memastikan sesuatu padanya. Dia kan laki-laki berpengalaman jadi tidak mungkin menganggap pernikahan ini main-main walaupun harus dilakukan karena sebuah persyaratan untuk menyembuhkan suatu penyakit"
"aku akan menyampaikan padanya. Kapan kau akan menemuinya?" ucap Doni
"aku akan menghubunginya" ucap ibu
"menghubunginya? sejak kapan kalian..." ucapan Doni terpotong
"kemarin dia menghubungiku untuk mengijinkan Ashana kembali ke sekolah"
Mendengar ucapan ibu membuat Doni membulatkan matanya sempurna. Yashbi memperdulikan hal yang tidak penting untuknya.
"Don,aku sudah menjadi ibu yang gagal sangat gagal dan tidak pantas untuk diakui" lirih ibu kembali meneteskan air matanya
"tolong jaga dia. Aku tidak berani memperlihatkan diriku sendiri dihadapannya. Seharusnya aku saja yang mati" ucap ibu merasa frustasi memikirkan Ashana
.
.
.
Di rumah Clara, Robin tengah bicara dengan seseorang di ruangan yang sangat gelap. Seseorang yang tidak terlihat hanya bisa dilihat oleh Robin sendiri. Robin mengetahui jika Yashbi bukan manusia biasa pada umumnya. Karena menemukan fakta jika nenek moyang Yashbi dan ayahnya adalah seorang yang bisa menyembuhkan penyakit gila. Pada tahun tertentu tidak di dapatkan rumah sakit jiwa dan orang-orang yang mengidap depresi atau kejiwaan ternyata ada dua orang yang bekerja mengobati mereka secara sukarela.
Perasaan iri, dengki dan serakah bersarang, mendarah daging di Robin dan membentuk seseorang yang saat ini tengah bicara dengannya dalam kegelapan.
"anak itu pasti akan mati saat ini juga"
"bagus. Lebih cepat lebih baik. Dengan begitu aku bisa segera menguasainya. Dia hidup sendirian hanya dengan seorang anak perempuannya. Urusan itu gampang aku bisa mengatasi anaknya tanpa bantuanmu"
Robin tidak menyadari jika setiap kali gagal melancarkan rencananya akan berdampak pada Clara yang akan bertindak seperti orang gila. Karena Robin lebih menyayangi Clara dibandingkan Merisa.
Jam makan malam di kediaman Clara, mereka makan bersama bertiga sementara untuk Clara diantarkan oleh asisten rumah tangga.
"bi, bawa nona Clara ke sini"
Novi dan Merisa sontak kaget membulatkan matanya sempurna.
"kita satu meja dengan orang gila" ucap Merisa merasa tidak senang
Merisa sangat senang jika adiknya ini gila terus menerus dengan begitu bisa leluasa mendekati dan mendapatkan Yashbi.
"sudahlah, yah biarkan saja dia di kamarnya. Bagaimana jika tiba-tiba kambuh dan merusak acara makan malam ini" ucap Merisa kembali, kesal karena ayahnya tidak merespon sama sekali
"benar, sayang. Biarkan saja Clara makan di kamarnya saja daripada nanti tiba-tiba kambuh. Aku tidak ingin dia terluka. Kau tahu kan bagaimana jika sedang berada tidak sadar diri" ucap Novi
"kau benar juga" ucap Robin
"Mer, kau temani adikmu makan di kamarnya" ucap Robin menatap ke arah Merisa
Merisa terpaksa melakukannya dan beranjak dari kursi membawa sepiring makanan dengan wajah cemberut tanpa mengatakan sepatah katapun.
Jika Robin sudah menatapnya dengan tatapan tajam itu artinya perintah jika tidak dilakukan akan mendapatkan hukuman.
.
.
.
__ADS_1
Sebelum perjalanan menuju rumah ibu Ashana, Doni dan Lani melakukan kesepakatan. Mereka berniat memisahkan Ashana dan Yashbi. Mereka masih duduk santai di gazebo halaman belakang rumah Lani.
"aku ingin kita melakukan sesuatu" ucap Doni dengan pandangan lurus ke depan
"melakukan sesuatu?" tanya Lani heran mengerutkan dahinya
"kau... kau jangan bilang ingin melakukan sesuatu layaknya sepasang..." ucapan Lani terpotong
"bukan seperti itu"ucap Doni tegas
" lalu? "tanya kembali Lani menahan malu
" kita lakukan sesuatu agar mereka terpisah "ucap Doni menoleh ke arah Lani
" mereka? maksudmu Yashbi dan wanita itu? "ucap Lani merasa terpesona karena jika dilihat sedekah ini Doni lumayan cakep
" ya "
" kau menyukai wanita itu dan aku menyukai Yashbi keadaan ini cukup menguntungkan. Kalau begitu aku akan mengikutimu"ucap Lani tanpa ragu dan berpikir lagi
Lani masih menyukai Yashbi meskipun tidak bertemu puluhan tahun lalu.
" akan aku pikirkan apa rencana yang harus dilakukan setelah itu aku akan segera memberikan kabar" ucap Yashbi beranjak berdiri namun lengannya dipegang Lani
"kau mau ke mana?" tanya Lani
"aku harus pulang. Ada tempat yang harus kukunjungi" ucap Doni
"sebentar lagi. Temani aku. Aku masih kesal jika ingat sikapnya tadi" ucap Lani
Doni melangkahkan kaki menatap langit yang hitam pekat tanpa ada satu bintang.
"langitnya gelap sekali" ucap Doni
"langit pun mendukung suasana hatiku" ucap Lani menyusul berjalan menuju ke arah Doni
"kau tahu keberadaan laki-laki sialan itu?" ucap Doni emosi yang tiba-tiba teringat wajah Ashana
"tentu saja meskipun aku jauh darinya aku tahu dia berada di mana. Itu cukup mudah untuk dilakukan" ucap Lani
"menyewa seseorang atau memasang cctv di setiap sudut?" tanya Doni
"tentu saja menyewa orang dengan bayaran cukup mahal. Kau tahu aku rela menghabiskan sebagian besar uangku hanya untuk dirinya" ucap Lani kesal
"kau wanita yang cukup berambisi"
"tidak, tidak itu tidak benar. Aku sama sekali tidak ingin menjadi wanita seperti itu. Yang kulakukan semua karena aku mencintainya" ucap Lani sambil menghela nafas kasar
"bagaimana jika yang kau lakukan ini sia-sia?" tanya Doni
"yang kulakukan ini adalah bentuk usaha. Sekecil apapun usahanya pasti akan ada hasil yang terbentu" ucap Lani percaya diri
"kuberitahukan kau satu hal"
"apa?"
"laki-laki itu sedang bimbang dan saat ini berada ditahap antara menyukai atau tidak" ucap Doni
Lani terdiam sejenak.
"menyukai dan mencintai memiliki arti berbeda jauh" ucap Lani berusaha agar tidak sakit hati sendiri jadi dia mengatakan kalimat yang setidaknya mengobati perasaannya
__ADS_1
"beritahu aku, bagaimana mereka bisa disituasi saat ini?" tanya Lani penasaran