
Yashbi menatap makanan dan minuman di meja sampingnya. Dia pun beranjak dari tidurnya dan duduk mengusap wajahnya kasar.
"siapa yang membuat ini? dia? euumphh..." ucap Yashbi meraih cangkir berisikan teh dan meminumnya.
"enak..."
Lalu dia meraih satu butir kue dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"enak..."
Tanpa permisi Morina masuk ke dalam ruang kerja di mana ayahnya, Yashbi berada.
"papah..." ucap Morina yang cukup lantang mengagetkan Yashbi yang tengah menikmati kue buatan Ashana. Sehingga terbatuk.
Uhuk
Uhuk
Morina menyodorkan cangkir berisikan air untuk diminum Yashbi.
"apa aku mengagetkanmu?" ucap Morina tanpa dosa duduk di hadapan Yashbi. Mata Morina menatap patung yang ada di sampingnya Yashbi.
"papah masih memeluk patung itu? beruntung sekali wanita itu sangat dicintai dan disayangi olehmu" ucap Morina merasa iri. Ya, Morina akan merasa iri jika ada wanita yang dekat dengan Yashbi. Meski wanita itu seorang pelayan sekalipun.
"apa maksud ucapanmu, Morina? aku juga sangat menyayangimu melebihi siapapun. Kau tahu itu" ucap Yashbi santai.
"benarkah? bagaimana kau bicara seperti itu sedangkan setiap tidur kau selalu memeluk patung itu dibandingkan aku" ucap Morina dengan senyum simpul yang sulit diartikan.
Tanpa disadari Morina mengambil kue buatan Ashana dan memasukkan ke dalam mulut. Dan celetuk dia mnegatakan sangat enak hingga beberapa kali dia memakannya. Padahal sebelumnya dia tidak menginginkan kue yang dibuatkan Ashana dan melemparnya begitu saja.
"kau menyukainya?" tanya Yashbi mengalihkan topik pembicaraan.
"euumphh..." jawab singkat Morina.
"kue dan minuman ini pelayan baru kita yang membuatnya" ucap Yashbi yang sebenarnya sudah tahu apa yang sudah dilakukan Morina, anaknya. Ya, Morina kerap kali tidak suka jika ada pelayan wanita di rumahnya. Berbagai cara dia pasti akan membuat pelayan itu merasa tidak betah dan berakhir mengundurkan diri.
Morina hanya terdiam memandangi Yashbi.
"katakan ada perlu apa sehingga kau datang kemari? kau datang menghampiri pasti ada sesuatu yang ingin kau sampaikan" ucap Yashbi dengan menaikkan satu alisnya.
Morina berdehem.
"aku ingin pergi keluar"
__ADS_1
"keluar? ada perlu apa hingga kau pergi keluar? seharusnya kejadian kemarin menjadikan pelajaran untukmu, Morina" ucap Yashbi yang sedikit menaikkan nada bicaranya.
"a.. aku tidak akan menemui laki-laki lagi"
"lalu?"
"aku ingin bertemu tante Lani. Dia sudah kembali ke sini. Kenapa papah tidak memberitahuku?"
"kau sudah mengetahuinya. Jadi untuk apa aku memberitahumu"
"hubungan kami kan cukup dekat. Dia selalu menjadi temanku semenjak ibu meninggal dan papah selalu sibuk bekerja tidak ada waktu untukku. Jadi sudah sewajarnya jika aku menemuinya" imbuh Morina meyakinkan Yashbi untuk memberikannya ijin keluar "
Ya, memang hubungan Morina dan Lani cukup dekat setelah meninggalnya dan hilangnya ibunya, sekaligus istri Yashbi. Mereka saling terhubung melalui sosial media satu sama lain. Ya, Lani sejak kecil hingga saat ini memang ingin sekali menjadi pendamping hidup Yashbi. Tapi Yashbi...
"kapan kau akan menemuinya?" tanya Yashbi santai memijit antara kedua alisnya.
"besok. Ya besok aku ingin menemuinya. Lagipula kami sudah berjanji akan bertemu di salah satu cafe di dekat mall" ucap kembali Morina.
Yashbi terlihat tampak berpikir.
"baiklah. Tapi satu syarat kau pergi bersama salah satu sopir tidak ada bantahan. Kau tahu aku tidak menerima bantahan dari siapapun" tegas Yashbi yang sangat mengkhawatirkan kondisi Morina.
"apa adalagi yang ingin kau katakan?" tanya Yashbi yang melihat Morina masih terdiam diposisi semula.
"baik akan aku katakan tapi janji dulu kau tidak akan memarahi siapapun" ucap Morina mengacungkan jari kelingking mengisyaratkan perjanjian.
"pelayan baru itu sepertinya menjalin hubungan dengan sopir sekaligus kepercayaanmu" ucap Morina dengan nada sedikit berbisik.
Deugh
"mereka terlihat cukup dekat dan terlihat seperti sepasang kekasih. Bukankah di rumah kita di larang keras ada hubungan antara pegawai satu dan pegawai lainnya?"
Ya, Morina teramat sangat tidak menyukai Ashana karena Ashana terlihat sangat cantik dibandingkan dirinya. Kulit putih mulus, pipi sedikit chubby, bulu mata lentik dan mata yang bersih jernih membuat rasa iri ya semakin mencuat-cuat.
" jangan salah bicara, Morina. Jangan sampai itu terjadi kau tahu akan seperti apa akibatnya" ucap Yashbi penuh penekanan.
Morina beranjak berdiri dan meraih lengan kekar Yashbi.
"akan aku perlihatkan. Ikut denganku"
Morina menarik lengan Yashbi menuntunnya ke lorong (keluar dari ruangan itu) dan langkah mereka terhenti di sebuah jendela yang berukuran sangat besar. Dari jendela itu menampilkan pemandangan yang sangat mengesalkan di mana terlihat Anzel menyelimuti Ashana yang tertidur di bangku panjang. Tatapan Anzel terlihat sangat menyukai dan menyayangi Ashana menurut pandangan Yashbi saat ini.
Yashbi mengepalkan tangannya hingga kukunya menancap di telapak tangan dan rahangnya mengeras. Reaksi sang ayah di luar dugaan Morina, merasa jika Yashbi memiliki hubungan yang tidak biasa dengan pelayan wanita itu yang tidak lain Ashana.
__ADS_1
"kau kembali lah ke kamarmu" ucap ketus Yashbi yang beranjak melangkah meninggalkan Morina begitu saja dan menuju ruang kerjanya kembali.
Yashbi mengambil ponselnya yang terletak di atas meja menghubungi Anzel. Yashbi menatap ke arah layar cctv yang terhubung ke laptopnya terlihat Anzel dan Ashana.
"sepertinya pekerjaanmu selesai lebih cepat. Apa kau lupa harus melapor padaku? atau kau lupa karena sedang mengurus kekasih baru? hah" ucap geram Yashbi di sambungan ponsel Anzel.
Anzel hanya tersenyum simpul. Mengetahui arti kalimat barusan yang terucap dari mulut Yashbi.
******
Yashbi melihat di layar cctv memundurkan waktu beberapa menit sebelumnya.
Sebelumnya, Ashana dan Anzel masih di bangku panjangnya di halaman belakang rumah Yashbi. Mereka menikmati waktu mengobrol berdua. Ashana menyuguhkan makanan dan minuman yang dibuatnya untuk Anzel.
"kau yang membuat ini?" tanya Anzel dengan mulut penuh kue.
Ashana menahan tawanya melihat Anzel seperti anak kecil.
"euumphh..." jawab singkat Ashana.
Seketika wajah Ashana murung dan ketara sekali di mata Anzel.
"ada apa? kenapa wajahmu seperti itu?"
Ashana hanya menggelengkan kepalanya.
Anzel seperti sudah mengetahui apa yang dipikirkan Ashana.
"kue dan minuman rasanya sangat enak. Aku sangat menyukainya. Mulai saat ini dan seterusnya kau harus membuatkannya untukku" imbuh Anzel mendapat reaksi diluar dugaan di mana mata Ashana berbinar dan dua sudut bibirnya tersungging terlihat sangat senang.
"benarkah? baiklah... aku akan membuatkan khusus untukmu" ucap Ashana dengan satu tangan mengepal dan diacungkan ke atas.
Mereka tertawa bersama.
"sudah cukup larut. Sebaiknya kau segera tidur di kamarmu" titah Anzel.
"tidak aku tidak mau. Aku ingin tidur di sini saja. Di dalam sana terlalu menakutkan untukku dan nafasku seolah-olah sesak. Entah tahu kenapa. Aku juga tidak mengerti" jelas Ashana.
"baiklah. Terserah padamu. Jangan salahkanku jika nanti kau masuk angin"
"tenang saja. Tubuhku sangat kuat. Kuat melebihi adukan semen untuk bangunan sebuah rumah" ucap Ashana dengan nada bisik.
Anzel tertawa renyah menanggapi candaan Ashana.
__ADS_1
******
Yashbi bersiap menceramahi Anzel.